Falsafah Kontroversialisme dalam Pola Kehidupan Orang Aceh

Saya tidak tahu pasti apakah judul ini benar atau tidak? Dan apakah ada aliran filsafat yang membahas tentang sikap kontroversi komunal yang dikemas atas nama keilmuan? Saya pun benar-benar tidak mengerti bagaimana tiba-tiba judul itu bisa didapat.

Ceritanya, memang ingin mengatakan bahwa orang Aceh itu sangat spesifik. Karakter, bawaan, kebiasaan dan hubungan antarpersonal juga terlihat sangat tipikal. Terkadang ada kesan “mata hu, su meutaga” dalam mengungkapkan ekspresi. Tapi sebetulnya hanya sedang seru saja. Untuk menambah kehangatan dalam berkomunikasi.

Dalam sebuah syair Aceh disebutkan bahwa: “ureung Aceh nyang jak meuprang, ureung padang nyang peugah haba; Ureung Batak nyang duek ji kanto, nyang boh ato awak Jawa“. Orang Aceh yang berperang, orang Padang yang bicara, orang Batak yang di kantor, yang jadi pengatur orang Jawa.

Entah dari mana pula syair ini bisa mengentas ke alam nyata, yang menggambarkan realita dari sebuah “sifat” orang Aceh yang suka berperang.

Rumah yang nyaman untuk didiami

Rumoh Aceh: arsitekturnya adaptif terhadap lingkungan sekitarnya. pictures viagra pills

Hampir setiap periode 17 tahun sekali selalu ada perputaran peristiwa yang berkaitan dengan bunuh membunuh. Entah itu secara vertikal ataupun konflik horizontal yang ujungnya meminta korban jiwa dan meninggalkan trauma.

Nyali

Saya masih ingat ketika terjadi sebuah kontak senjata pada masa darurat militer, bagaimana kombatan GAM tetap berdiri bebas sambil bergerak maju, mendekatkan jarak ke aparat yang dilengkapi rompi anti peluru dan berlindung di balik pepohonan.

Sementara anggota GAM hanya mengenakan kaos singlet dan bersendal jepit sambil membidikkan senjata laras panjang dan merangsek maju. Entah terbuat dari bahan apa nyali yang terpasang dalam hatinya, sehingga begitu nekad mempertontonkan sebuah batas hidup dan mati.

Chauvinistic

Bila dari luar terlihat garang, suka berperang dan bersuara rada tinggi, bukan berarti tidak ada sisi lain dalam diri orang Aceh. Ungkapan bercanda, “wajah memang perang, dik; tapi hati abang romantis”, bisa jadi sebagai gambaran bahwa ada kandungan kelembutan dalam diri pria Aceh. Tidak melulu tentang perang.

Bahwa ada anggapan orang Aceh antiasing (chauvinistic), itu bukanlah sebuah keadaan yang benar. Sejak jaman kerajaan Aceh, dataran Aceh sudah dijejaki oleh orang-orang asing yang datang dari berbagai belahan dunia. Arab, India, Turki, China, serta anak-cucu keturunan Portugis dan juga dari berbagai penjuru nusantara.

Sehingga di tiap-tiap kabupaten, sejak dulu kerap ditemukan nama kampung berdasarkan etnis: Gampong Jawa; Gampong Kleng, Gampong Cina dan sebagainya. Ataupun nama panggilan yang berdasarkan asal etnis: Teungku Batak, Nek Bugeh, Pak Said, termasuk begitu banyaknya orang Aceh yang memiliki nama (fam) keturunan Arab seperti syarifah dan habib.

Hingga sekarang warna Aceh mewakili tipikal latar belakang bangsa yang pernah berbaur di daratan Aceh. Gampang dijumpai orang Aceh yang putih mirip China, hidung mancung mirip Arab atau Turki atau India, berkulit hitam mirip Tamil, bermata biru mirip mata Portugis. will there generic viagra us

Semua itu terjadi karena adanya proses amalgamasi bangsa yang telah membentuk Aceh sejak berabad-abad yang lalu. Yang membuktikan Aceh sudah sangat terbukan sejak jaman dulu.

Apabila di kemudian hari, pada hari ini, Aceh digambarkan suka berperang, maka akan sulit mengungkapkan asal-usul sifat ini bisa melekat pada diri orang Aceh.

Daerah modal

Tidak ada kompromi terhadap penjajah Belanda, diperagakan bukan hanya oleh kaum laki-laki. Perempuan Aceh, sudah mengukir dirinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan untuk membebaskan tanah Aceh dari cengkraman penjajah. Bukan dengan tinta, tapi dengan senjata.

Hanya di tanah Aceh para jendreral dan bala tentara Belanda tidak bisa merasakan tidur nyenyak sepanjang periode perang (pendudukan); selama kurang lebih enam dasawarsa. Sejak maklumat perang Belanda terhadap Aceh Maret 1873. what color is cialis pills

Bila kemudian Aceh ditabalkan sebagai daerah modal, maka hal itu lantaran tanah rencong memang tidak pernah berhsil ditaklukkan sama sekali, hingga Belanda angkat kaki dari tanah rencong.

Adanya kantong wilayah yang masih bebas, memberikan kesempatan kepada negara ini untuk mengklaim bahwa nusantara ini belum pernah jatuh seutuhnya ke tangan Belanda.

Komunike yang dikirimkan melalui radio rimba raya Aceh, yang dapat diterima dunia internasional, sebagai bukti bahwa Indonesia belum menyerah. Ini sebagai syarat agar negeri ini bisa memperoleh pengakuan kemerdekaannya.

Cinta damai

Kelakar tentang pembentukan kata Aceh yang merupakan kependekan dari, Arab, China, Eropa, Hindustan, tidak sepenuhnya salah kaprah. Meskipun kata Aceh, seperti yang diungkapkan Prof. Dr. Aboebakar Aceh, sesungguhnya berasal dari kata “aca“, yang terucap pada saat orang-orang dari India Belakang mendarat di pantai Pidie.

Aca” yang berarti indah, merupakan ungkapan rasa kagum ketika untuk pertama kali mereka melihat pantai Aceh yang begitu permai. Seiring perjalanan waktu, kata “aca” mengalami metamorfosa berubah menjadi Aceh.

Heroisme, patriotisme dan epos, yang mengelayuti orang Aceh, tertanam dalam diri orang Aceh seperti sekarang ini, lantaran adanya pengaruh berbagai karakter yang membentuk manusia Aceh. Di samping juga kebiasaan masyarakat Aceh yang hidup dalam tantangan alam yang dialaminya di laut, maupun di dalam rimba yang ganas.

Banyak kontroversi yang timbul, bahwa, “orang Aceh” terkesan tidak bisa hidup damai. Tapi sesungguhnya itu bukan merupakan hipotesis yang bisa dibenarkan. Suku Aceh, merupakan sebuah entitas yang cinta damai. Hal yang paling sensitif yang dapat memunculkan sikap reaktif adalah manakala harga diri terusik oleh berbagai alasan. nombre generico levitra tadalafil 20 mg

Martabat merupakan faktor penting yang harus dipertahankan hingga tetes darah pengahabisan. (meskipun nyawa dan raga terpisahkan). lloyds pharmacy online cialis

Persoalan Aceh seakan tak pernah terselesaikan. Faksi politik yang terbelah dari induk Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dalam lima tahun terakhir terus bergesekan. Sudah banyak jatuh korban dari masing-masing faksi.

Jelang pilkada 2017, hubungan kedua faksi tersebut cenderung semakin memburuk. Hidup dalam tensi tinggi; saling bersiap, dan saling menyerang. Siap perang tapi tak siap damai.

Padahal ketika “jaman perang” masing-masing mereka saling menjaga dan saling menyayang. Namun itulah Aceh, tanah permai yang penuh dihiasi dengan kontroversi…**.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *