Belajar Keteladanan dari Seorang yang Bersahaja

Dalam dua minggu belakangan media sosial ramai-ramai menyoroti kasus meninggalnya tiga orang mahasiswa dalam Pendidikan Dasar The Great Camping (TGC) XXXVII untuk menjadi anggota Mapala (Mahasiswa Pencnta Alam) UII. Acara dilaksanakan di lereng Gunung Lawu, Karang Anyar, Jawa Tengah.

Kasus jadi merebak, karena banyak pers yang menatap persoalan ini dari sudut pandang mereka sendiri tanpa check ‘n’ recheck. Sebagian besar adalah pers yang berbadan besar yang memiliki sumber daya manusia intelektual.

Sayangnya predikat tersebut tak mampu membuat seseorang bersikap objektif. Melihat bersoalan dari luar jendela, kemudian memuatnya dengan improvisasi dan ilustrasi sendiri. Dengan bahan yang sedikit, mengembangkan pendapatnya menurut logika masing-masing.

Selalu terkesan ada kandungan agenda setting yang menunggangi pers mainstream semacam ini. Kendati seorang intelektual tidak boleh berbohong, namun ini sepertinya “terabaikan”. Intelektual boleh melakukan kesalahan; tapi intelektual yang “tolol” pasti tega membohongi pembaca, dan terlebih-lebih membohongi nuraninya sendiri, demi menjaga misi pers yang diembannya.

Rektor UII Yogyakarta

Rektor UII dan Wakil Rektor I, II dan III, membawa keteladanan bagi insan akademis

Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, merupakan universitas swasta tertua di Indonesia. Lembaga pendidikan tinggi yang berlokasi di Yogyakarta ini didirikan pada 8 Juli 1945 —sebulan sebelum deklarasi kemerdekaan RI—, oleh para intelektual muslim masa itu, antara lain: Dr. Muhammad Hatta (Wakil Presiden Pertama Indonesia), Mohammad Natsir, Mohammad Roem, dan K.H. A. Wachid Hasyim. indian generic levitra

Dari semula bernama Sekolah Tinggi Islam (STI), kemudian sejak tanggal 3 November 1947 berganti nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII).

Dr. Sardjito

Awal kebangkitan UII terjadi ketika berada di bawah kepemimpinan (rektor) Prof. Mr. Kasmat Bahuwinangun (1960-1963) dan Prof. Dr. dr. M. Sardjito (1964-1970). Nama yang terakhir ini, kemudian diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terletak di kompleks kampus UGM; RSUP Dr. Sardjito.

Sejak awal tahun 1990-an PTS ini sudah memiliki kampus terintegrasi di Jalan Kaliurang KM. 14.5, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Dengan jumlah mahasiswa saat ini yang mencapai lebih dari 20.000, PTS ini mampu menempatkan diri pada ranking ketiga terbaik di Yogyakarta setelah Universitas Gajah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta. Dan merupakan perguruan tinggi swasta (PTS) terbaik di wilayah ini.

Pencapaian prestasi ini dilalui melalui jalan panjang nan berliku, penuh keringat, kerja keras dan doa. Sampai akhirnya menjadi kampus perjuangan yang dicintai mahasiswa dan alumninya serta menjadi kebanggaan umat Islam.

Berita tentang tragedi kemanusia yang menyebabkan gugurnya Muhammad Fadhli, Syaits Asyam dan Ilham Nurpadmy, telah mumbuncahkan semangat persatuan di kalangan mahasiswa beserta stakeholder-nya. Ada rasa kebersamaan yang terbangun, ketika pers mainstream menceritakan hal-hal yang tidak diketahuinya secara gamblang.

Bermodal sedikit info, berani mengembangkan cerita ngalor-ngidul dengan “nada” memojokkan lembaga dan “orang-orang”nya. Menyadari ada gelagat tidak baik begini, lantas dijawab dengan aktif melalui media sosial yang dimiliki masing-masing mahasiswa UII. Sama rasa dan sama “di-dholim-i”, membuat solidaritas mahasiswa dan stakeholder terpanggil seketika.

Bukan hanya pers, wakil rakyat yang tak mengerti persoalan pun curi panggung untuk unjuk gigi di tempat yang salah. Entah dari fraksi mana; dan entah apa maksudnya. Yang penting ikut komentar meskipun bukan di ranah yang akrab dengan dirinya.

Melawan “tinta” dengan “tinta”

Di tengah simpang siur berita yang tidak berimbang, mendorong sang rektor menyatakan pengunduran diri yang kemudian diikuti oleh Dr. Abdul Jamil, SH., MH., Wakil Rektor III, yang membawahi Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama.

Ini berita pilu yang bertindihan. Kesedihan kehilangan rekan, masih mengabung, malah harus merasakan “orang tua” yang mereka hormati, pamit mundur dari jabatannya, sebagai manifestasi tanggung jawab sebagai pimpinan tertinggi di kampus hijau tersebut. Keputusan rektor menjadi antiklimak dari persoalan yang telah menjadi bola salju ini.

Perlawanan yang dilakukan anak-anak UII melalui media sosial, membungkamkan pers berbadan besar yang tidak objektif. Melawan “tinta” dengan “tinta” ditunjukkan “anak-anak” dengan penuh semangat dan taktis.

Hasilnya memang UII bukannya tambah mengecil, sebaliknya semakin mengundang kekaguman dari masyarakat umum yang berada di luar keluarga almamater UII; dari para aktivis kampus; dari orang-orang yang antikekerasan.

Tanggapan mahasiswa mendukung rektor bukanlah untuk mentoleransi terjadinya kekerasan. Akan tetapi dengan suara bulat sepakat menolak adanya tindak kekerasan, dan mempertahankan salah satu putra terbaik di lingkungannya sambil memikul tanggung jawab bersama-sama atas tragedi ini.

Kondisi ini paradoks dengan apa yang pernah terjadi di lain tempat. Bila di sana, mahasiswa berkumpul menyatukan suara untuk menurunkan rektor, maka di sini justru untuk memberikan dukungan moral terhadap sosok yang sudah dianggap sebagai “orang tua” mereka.

Namun ibarat kata pepatah, “anjing terus menggonggong; kafilah terus berlalu”. Pers terus membuat berita subjektif, tapi simpati terus datang mengalir.

Tak banyak yang percaya lagi pers-pers model begini, yang sama sekali, meskipun menguasi pasar informasi melalui grup yang dibangunnya, tapi pada kenyataannya miskin objektivitas.

Gentlement action

Meskipun akhirnya Rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc. mundur, itu bukanlah tanpa alasan. Ada pertimbangan yang dalam, yang telah dilakukannya melalui kontempelasi di hadapan “Yang Maha Pengatur” semesta alam.

Apa yang terjadi selalu dan pasti tak lepas dari skenario sang “Maha Pencipta”. Termasuk daun yang gugur dan pasir-pasir yang bergerak ditiup angin; serta musibah dan bencana yang menimpa segala makhluk ciptaan-Nya. Apatah lagi sekadar “lepas” jabatan. Yang bergengsi sekali pun.

Terpisah dari hal itu semua, langkah yang diambil Pakde Har —panggilan akrab Pak rektor—, merupakan sebuah gentlement action, yang tidak semua orang mampu memeragakannya. Terlalu berat melakoni keputusan seperti ini, manakala hidup hanya diukur dari parameter manusia: prestisius dan snobbism.

Terlalu banyak manusia yang tidak “berani” melepaskan diri dari tali kekang kuda yang melilitnya, sepanjang hidupnya, di dalam hiruk pikuk dunia yang menawarkan pilihan yang penuh berhias dengan niat baik.

Apa yang diperagakan Pak Rektor di hadapan masyarakat, yang secara gamblang dapat disimak melalui dunia maya, seharusnya sudah cukup bagi siapa saja untuk mengambil hikmah, bahwa “dihargai” itu tidak semata-mata karena posisi atau jabatan yang melekat pada diri seseorang.

Ada sisi lain yang membuat keharuman dan kekaguman terhadap seseorang. Sisi itu adalah lantaran sikap hidup dan prinsip yang dipegang dan bisa menjadi panutan.

Mengambil hikmah

Melepas jabatan tidak akan menghentikan denyut jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh. Melainkan akan memerkayakan jiwa menjadi manusia seutuhnya. Mampu membebaskan diri dari segala penyakit hati yang selalu mendorong hasrat untuk selalu ingin diagungkan, dihormati dan kemudian menjelmakan diri menjadi “megaloman”.

Rektor telah meninggalkan keteladanan, meskipun bukan itu maksudnya mundur dari pimpinan tertinggi universitas kebanggaan umat Islam dan bangsa Indonesia tersebut.

Niatnya tentu saja demi kebaikan UII dan sesiapa saja yang menjadi insan akademis serta sebagai tanggung jawab moral atas apa yang terjadi tatkala ianya sedang menjadi pimpinan institusi.

Langkah ini kemudian menempatkannya sebagai salah seorang yang berjiwa besar dan menjadi salah satu yang memiliki kepribadian utuh dari sekian banyak orang-orang besar yang pernah ada.

Apa yang diperagakan sang rektor, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc., bersama rekannya, Dr. Abdul Jamil, SH., MH, telah menepis sebuah adagium kepemimpinan: tidak ada atasan yang bersalah; maka apabila suatu ketika atasan berbuat salah maka kembalilah pada ungkapan “tidak ada atasan yang bersalah”.

Sebagai seorang muslim, tentu saja ianya telah menggunakan fasilitas berupa sholat istikharah, untuk meminta pilihan yang terbaik yang harus diambilnya. Dan Tuhan memberikan pilihan baginya untuk mundur dari jabatan…**.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *