Bila Seorang Atasan Menjadi Trouble Maker

Pernahkan Anda menemukan atasan yang nyinyir; cerewet; sok pintar dan selalu menyalahkan bawahan? Jawabannya tentu saja ada yang pernah mengalami kondisi seperti ini. Karena memang tipikal manusia semacam ini dapat muncul di mana saja.

Telah banyak diceritakan bahwa dalam ruang lingkup dunia kerja biasa ditemukan atasan yang menyebalkan bagi bawahannya. Di dalam lingkungan kerja jenis apa pun dan di belahan dunia mana pun.

Atasan bebal seperti ini selalu merasa diri perfect, cerdas dan memiliki kemampuan untuk memimpin. Sayangnya dia adalah sumber dari segala masalah yang terjadi di lingkungan kerja. Sehingga memicu timbulnya sikap yang kontraproduktif dari karyawan dan bawahannya. Tapi kondisi ini tidak pernah disadari oleh yang bersangkutan.

Atasan model begini seumur-umur tidak pernah berkaca untuk introspeksi diri. Merasa tidak memiliki kekurangan apa pun terkait dengan kompetensinya sebagai pimpinan. Selalu merasa diri benar dan yang bersalah adalah bawahan; merasa superior dan tak pernah inferior.

Atasan pemarah

Atasan yang temperamental menciptakan ketegangan di lingkungan tempat kerja

Atasan begini selalu memiliki kemampuan untuk berlaku berlebihan baiknya kepada atasan yang lebih tinggi. Bahasa halusnya boleh dibilang “yes man“; kasarnya, orang sering menyebutkan “penjilat”.

Menjilat ke atasan yang lebih tinggi tapi suka membuat bawahannya tertekan oleh ucapan, sikap dan tindak tanduknya. Sikap ini bisa jadi sebagai kompensasi atas ketidakmampuannya dalam bekerja.

Tipe yes man 

Yang diandalkan sebagai senjata ampuhnya adalah sikap santun dan patuh tanpa reserve serta pandai memuji-puji atasannya. Berlaku seolah-olah telah bekerja dengan penuh disiplin dan berbuat sangat banyak bagi kemajuan perusahaan.

Ucapan-ucapannya juga bisa menciptakan suasana dalam ketegangan yang tinggi. Dan celakanya lagi sulit sekali memberi pujian kepada anak buahnya pwxhfqg. Keberadaannya ibarat stress maker yang selalu menyajikan tekanan secara psikis.

Kata-katanya sering kali dibarengi dengan sindiran yang menusuk halus, tapi menyakitkan. Sehingga seringkali kehadirannya di area kerja tidak begitu diharapkan dan karyawan selalu berusaha untuk menghindarkan diri bertemu dengannya. Kantor menjadi bagaikan neraka bagi sebagian besar karyawan

Atasan semacam ini tidak pernah memberi contoh bagaimana bekerja secara efektif dan efisien, malah kebiasaannya hanya memerintah. Dalam memberikan pekerjaan dan arahan selalu menggunakan cara-cara struktural dan terkesan menggurui. Suka memuji diri sendiri dengan prestasi yang pernah dicapainya, serta suka membanding-banding satu sama lainnya.

Manusia seperti ini, pembawaan kehidupannya kaku, tapi  supel dan mudah berbaur. Tidak mampu introspeksi untuk menilai dirinya sendiri. Sikap baiknya terasa seperti dibuat-buat, yang mudah dibaca melalui ekspresi terlihat pada dirinya

Tidak pernah mencoba untuk persuasif dan menjadikan bawahan sebagai suporter dan rekan kerja dalam mencapai satu goal, dan menyelesaikan target yang ingin dicapai sebagai tujuan bersama. “Smart boss + smart employee = profit”.

Jika biasanya trouble maker adalah berasal dari bawahan yang tidak disiplin, suka bolos, suka telat, suka malas-malasan dan tidak committed pada pekerjaan yang menjadi tangung jawabnya. Molor dalam penyelesaian tugas serta tidak memenuhi standar yang ditetapkan.

Kebajikan meraja

Abraham F. Maslow menggambarkan bahwa, “di dalam organisasi yang sehat kebajikan selalu meraja”. Selalu terbentuk lingkungan yang harmonis, saling berhubungan secara baik, hubungan atasan bawahan yang serasi, tidak ada penekanan, perintah yang struktural dan instruktif; semua diselia secara hati ke hati.

Semua lini bergerak harmonis dan saling mendukung. Tidak ada persaingan yang tidak sehat dan saling mengganjal. Kegiatan kerja terpola dengan baik, sesuai SOP dan job description yang ada. Pendekatan manusiawi menjadi pilihan utama di dalam membina bawahan.

Top-down yang dimaksudkan adalah bukan berupa perintah yang militeristik, melainkan selalu mengalir ide-ide kreatif dari atas ke bawahan dalam rangka inovasi metode dan cara kerja. Atasan harus mengenal jenis pekerjaan yang diembankan kepada bawahan, sehingga dapat mengerti tingkat kesulitan yang dihadapi bawahan dalam menunaikan tugasnya.

Sudah seharusnya atasan berperan sebagai penyelia yang baik. Mengerti kapan harus marah; seberapa besar porsi marah yang perlu diberikan; situasi lingkungan di mana dia perlu menyampaikan kemarahannya. Kemarahan harus bersifat membina, bukannya menghancurkan pribadi sehingga harus dibuat keok dan melenyapkan harga diri bawahan. Apalagi bila melepaskan kemarahan di depan rekan-rekan kerjanya yang lain.

Atasan harus memiliki kepekaan yang tinggi dalam menghadapi kondisi sesungguhnya dari anak buahnya. Bijak berpikir secara multidimensional; mampu menggunakan berbagai sudut pandang yang berbeda dalam menilai kondisi seorang karyawan yang menjadi subordinatnya.

Perlu dipahami, bukan hanya persoalan pekerjaan di kantor yang dihadapi seseorang bawahan. Banyak cabang persoalan yang menyatu dalam satu pikiran yang terus berputar. Setiap manusia selalu berada dalam proses kehidupan yang memiliki banyak dinamime dan mekanisme. Namanya hidup terus ada tantangan, rintangan, dan jatuh bangun dalam persoalan.

Pendekatan persuasif-psikologis merupakan jalan bijak yang perlu ditempuh oleh seorang atasan. Dengan jalan ini pula atasan bukan hanya berperan mengurangi tekanan yang sedang dirasakan bawahan, melainkan juga dapat menjadi motivator untuk mendorong kreativitas dan produktivitas kerja seorang bawahan.

Sulit memang, bila “watak” atasan sudah terbentuk sebagai pribadi yang tidak peka terhadap kondisi pekerjaan. Apalagi bila ianya adalah seorang suami yang selalu kalah di bawah “hegemoni” sang istri (submisif).

Pelampiasan dalam bentuk “kekuasaan” di tempat kerja, merupakan kompensasi dari ketidakberdayaan di dalam rumah. Hal ini bisa terjadi apabila seorang istri sangat dominan, mengalahkan peran suami sebagai seorang laki-laki yang menjadi penanggung jawab tertiggi di dalam rumah tangga…**.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *