Laki-laki Pecundang Cuma Berani Memukul Istri

Di alam semesta ini senantiasa dijumpai fenomena laki-perempuan; jantan-betina dan kuat-lemah. Laki-laki dan jantan adalah lambang kekuatan dan keperkasaan. Memiliki kemampuan untuk melindungi; menjaga dan memberikan rasa aman. Perempuan adalah lambang kelembutan dan kelemahan. Memiliki kemampuan untuk bersabar dan bisa menerima apa adanya. Kodarat aslinya begitu.

Laki-laki yang memukuli perempuan atau istri merupakan orang yang lupa diri; tidak mengenal dirinya sendiri; tidak mengetahui bahwa dia adalah makhluk perkasa yang dianugerahkan kekuatan. Yang memperoleh kemampuan secara fisik dibandingkan perempuan.

Laki-laki yang suka memukuli perempuan yang lemah, adalah lambang pecundang, penakut, bacul dan rendah budi dari seorang laki-laki. Beraninya hanya pada istri; hanya pada perempuan. Seharusnya lawan yang sepadan baginya adalah laki-laki juga, bukan perempuan, apalagi istri. Padahal perempuan adalah bagian dari tulang rusuknya dari mana perempuan diciptakan.

Secara tersirat dpat dihayati, bahwa menyakiti istri sama dengan menyakiti salah satu dari tulang rusuknya sendiri. Tapi banyak laki-laki yang berani pada perumpuan adalah fenomena yang dapat dijumpai dan terjadi di tengah masyarakat; di belahan bumi di mana saja.

Laki-laki pecundang

Suami pecundang kerap bertindak kasar kepada istrinya

Banyak istri yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Suami yang berjenis kelamin laki-laki bisa sampai hati menyakiti istrinya sendiri; ibu dari anak-anaknya.

Lupa kodrat sebagai pelindung bagi perempuan. Sebaliknya menjadi ancaman bagi istrinya. Menjadi monster dalam rumah tangga; manjadi momok yang sangat menakutkan.

Istri yang lemah harus menghadapi suami yang kuat. Sudah jelas pasti kalah dan tak berdaya. Tapi tidak disadari oleh laki-laki dungu seperti itu. Dia merasakan, menang melawan istri adalah prestasi yang memuaskan; bukan memuakkan. Sehingga setiap kali kesel dan “kalah” dalam pergaulan sasaran amarahnya adalah istri.

Kepada laki-laki jelas dia tidak berani. Namanya saja pecundang. Biar kelihatan menang, ya, lawan perempuan saja. Pasti menangnya. Kalau lawan dengan sesama laki-laki sudah pasti bonyoknya.

Peran Ibu

Perempuan adalah fundamen rumah tangga. Di tangannya lah masa depan anak-anak kita dipersiapkan. Istri yang sibuk mengurusi seluruh keperluan keluarga selalu menyempatkan diri untuk mengurus buah hatinya. Kasih sayang Ibu dapat merangsang pertumbuhan kecerdasan dan empati dalam diri anak.

Sosialisasi dalam lingkungan keluarga adalah titik awal dari perkembangan anak. Dan ini bukan dilakukan oleh laki-laki, melainkan oleh seorang Ibu. Bila Ibu dilemahkan oleh sikap arogan seorang suami, maka bisa terjadi peran Ibu dalam rumah tangga akan berpengaruh pada pendidikan anak.

Meskipun seorang Ibu selalu berusaha tegar, akan tetapi dia tidak selalu dapat mengeluarkan kemampuan maksimalnya untuk memberikan pendidikan bagi anaknya. Secara psikis dia mengalami tekanan yang luar biasa, meskipun tidak pernah ditampakkan di depan anaknya.

Laki-laki yang suka memukul istri di rumah, biasanya adalah laki-laki yang “kalah” di tengah pergaulan. Di lingkungan dia berada, dia selalu merasa minder dan tertinggal. Bahkan tidak mendapat tempat layaknya seorang teman yang disenangi. Di dalam pergaulan dia tidak pernah menonjol dan cenderung salalu menjadi follower. Tak sekalipun pernah berada di depan.

Istri adalah sasaran kompensasi untuk menunjukkan kelebihhannya yang tidak diperoleh di luar. Di luar sana, laki-laki yang suka marah-marah dan memukul istri biasanya dia akan dengan mudah ditaklukkan oleh, katakanlah, oleh seorang wanita idaman lain. Cenderung mengeluarkan segenap potensi yang dia miliki, untuk mebuktikan bahwa dia adalah pribadi yang bertanggung jawab, pengertian dan penuh perhatian. Tetapi itu di luar rumah.

Hal demikian tidak mungkin pernah dilakukan terhadap istrinya yang setia menunggunya di rumah. Istri hanya sebagai pelapis yang tidak memiliki hak untuk menentukan apa-apa. Termasuk untuk mendapatkan perhatian dari suami, apalagi untuk menyuarakan isi hatinya atau sekadar memberikan saran.

Saran istri adalah ibarat angin lalu yang tidak perlu didengarkan apalagi dipertimbangkan. Lebih mementingkan orang lain dari pada keluarga sendiri. Dia bisa bersikap santun, ramah dan lembut di hadapan orang lain, tapi tidak bagi istrinya.

Di luar dia ingin selalu tampil perfect di lingkungannya berada, tapi tak terlalu peduli untuk bersikap manis kepada istri dan anak-anaknya. Jarang terbersit dalam hatinya untuk menjadi suami dan ayah yang baik di rumahnya sendiri. Tapi selalu berpenampilan santun dalam menghadapi orang lain di luar sana.

Pengabdian istri

Apa pun upaya istrinya untuk mengabdi secara total kepadanya, tetap saja tak akan membuat dia ramah dan berlaku manis. Istri selalu menjadi tempat pelampiasan kekesalannya ketika dia menghadapi masalah. Ketika dia “kalah” dalam merebut perhatian di lingkungan teman-temannya.

Dalam agama diajarkan bahwa suami tidak boleh kalah dari istri. Tidak boleh diatur-atur oleh istri. Istri wajib taat pada suami sebagai kepala rumah tangga. Tapi memukul dan menganiaya istri bukanlah tabiat orang beragama. Istri harus mendapat perlindungan dari suami. Menafkahi dan menjaga perasaannya dari kata-kata dan tindakan yang menyakitkan.

Rumah yang disediakan suami harus menjadi tempat yang paling aman bagi seorang istri dalam berbakti kepada keluarga. Melayani suami dengan baik, mendidik anak-anaknya, memelihara kehormatannya, menutupi aib keluarga serta menjaga harta benda yang dimiliki bersama.

Tugas istri sesungguhnya tidaklah ringan. Hampir semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawabnya untuk diselesaikan. Kadang tidak mengenal waktu istirahat. Kehadiran seorang suami yang baik, bukan hanya sekadar menjadi panutan, tetapi juga harus menjadi pelindung, tempat mencurahkan isi hati dan menerima kasih sayang. Memeluk, mencium dan bercengkerama dengan istri akan menjadi obat penenang bagi istri dan menghilang semua kelelahan fisik yang dirasakannya setiap hari.

Setiap suami harus membuka mata hatinya lebar-lebar agar dapat mengetahui peran istri yang sedemikian besar, dan sungguh berat. Istri adalah teman, istri adalah sahabat, istri adalah adik yang harus diperhatikan dengan baik, dibimbing dan diperlakukan bak seorang anak kecil.

Akan tetapi ini akan sulit terjadi karena sebagian suami atau laki-laki yang suka bertindak kasar kepada perempuan adalah seorang psikopat. Laki-laki semacam ini akan menjadi monster di dalam rumah tangga, ataupun di lingkungan kehidupannya bersama wanita.

Kekasaran yang dilakukannya sepenuhnya dalam keadaan sadar. Adakalanya seorang psikopat akan menikmati apa yang sedang diperbuatnya sebagai sesuatu yang hebat. Karena di tempat lain dia tidak akan pernah menjumpai kehebatan dirinya. Padahal sesengguhnya dia adalah pribadi pecundang yang selalu kalah di bawah bayang-bayang orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *