Psikologi Manajemen Irwandi Yusuf

KIP (Komisi Independen Pemilihan) Aceh –semacam KPU–, secara resmi menyatakan pasangan Irwandi-Nova, menang dalam pilgub Aceh 2017. Pemenang pilkada Aceh ditentukan berdasarkan perolehan suara terbanyak oleh masing-masing paslon, sehingga menurut ketentuan tidak ada putaran kedua.

Dari hasil perhitungan, pasangan Irwandi Yusuf – Nova Iriansyah memperoleh 37,2 persen, sementara pasangan yang diusung Partai Aceh (PA), Muzakkir Manaf – T. A. Khalid, terpaut 6 persen lebih kecil dari Irwandi-Nova, yaitu 31,7 persen suara sah yang masuk. Pelantikan gubernur dan wakil gubernur terpilih untuk masa jabatan 2017-2022 ini, direncakan akan dilakukan pada Juni 2017.

Ini merupakan kali kedua pemerintahan Aceh berada di bawah kepemimpinan Irwandi. Setelah memegang jabatan gubernur 2007-2012. Irwandi pernah mencoba keberuntungan untuk ikut dalam pilgub 2012. akan tetapi Teungku Agam yang kala itu berpasangan dengan mantan birokrat, Muhyan Yunan, harus kandas oleh keunggulan pasangan yang diusung PA, Zaini Abdullah – Muzakkir Manaf.

Banyak hal yang terjadi di era Irwandi menjadi gunernur. Beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa berprestasi serta jaminan kesehatan adalah sebagian perogram kerja yang wujud di tangan Irwandi. Sayangnya kiprah dan proaksi sang gubernur terganggu oleh polah Nazar yang tidak kooperatif sebagai wakil gubernur.

Irwandi-Zaini-Mualem

Pemandangan kekeluargaan antara Irwandi-Zaini-Mualem ini diharapkan segera terjalin kembali

Sebetulnya rapor pemerintahan Irwandi pada periode pertama tersebut adalah yang terbaik selama kurun waktu 25 tahun belakangan. Catatan merah hanya lantaran dipengaruhi kinerja wagub yang tidak antisipatif sebagai unsur pimpinan pemerintahan Aceh.

Aktivis LSM

Memang berbeda antara bagaimana mengelola LSM dan pemerintahan. Sementara aktivis LSM selalu merasa diri piawai dalam berorganisasi, maka seorang akademisi adalah pisau bermata banyak yang dapat bermanfaat multifungsi. Keilmuan yang dimilikinya cenderung fleksibel, ketika seorang akademisi berhadapan dengan tantangan yang ada di depannya.

Banyak contoh, kesuksesan para akademisi di tatar pemerintahan sebagai manajer. Majid Ibrahim atau Ida Bagus, Mantra di Bali atau Ahmad Amiruddin, di Sulawesi Selatan, adalah mantan akademisi yang kemudian berkiprah di pemerintahan, menjadi orang nomor satu di daerahnya. Meskipun tidak persis sama, akan tetapi mereka berangkat dari latar belakang sebagai pengajar di universitas.

Seorang akademisi akan sangat mudah menjelma sebagai seorang birokrat ulung yang notabene-nya adalah seorang manajer. Sementara itu seorang aktivis akan hanyut di dalam pola pikir yang terus terbawa dalam arus siasat dan taktik, layaknya seorang politikus. Bila terlambat disadari maka pola ini akan terus dibawa ke dalam sistem yang dibentangkan oleh pikirannya sendiri.

Seorang akademisi yang piawai akan mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang dibutuhkan oleh organisasi. Dimensi struktur berpikir para akademisi sangat berbeda dengan orang yang berangkat dari latar belakang aktivis. Apalagi bila memiliki kebiasaan sebagai “aktivis proposal”.

Nah, ini agak sedikit sukar untuk disembuhkan atau memang membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi. Hanya orang-orang yang memiliki komitmen kuat yang mampu mengubah kecenderungan habitual seperti ini.

Unsur GAM

Bergabung dengan GAM tidak serta merta dapat mengubah karakter dasar seorang akademisi. Organisasi GAM telah menjadi kawah tempat penggemblengan pribadi Irwandi untuk mengasah nyali, memupuk militansi, serta membangun semangat juang dan tidak mudah pasrah. Apalagi bidang yang dikuasai Irwandi adalah unit propaganda perang untuk mengacaukan konsentrasi “Jakarta” dalam kecamuk perang di Aceh.

Bahkan untuk menjalankan misi tugasnya, Irwandi dengan leluasa berdiam di Jakarta; sangat dekat dengan pusat pemerintahan dan pusat komando operasi.

Keterbukaan gaya Irwandi belum tentu cocok untuk daerah lain, terutama di pulau Jawa, tapi sangat tepat untuk meladeni karakter orang Aceh. Sikap blak-blakan yang melekat dalam dirinya justru sangat disukai masyarakat pada umumnya. Apalagi dalam pembawaannya, sang gunernur tidak memberikan sekat yang ketat dalam berkomunikasi dengan rakyat. Ini sesuatu yang “Aceh banget”.

Wibawa yang dimiliki Irwandi justru terebentuk oleh hasil kerjanya yang membuat masyarakat menghormatinya, bukan dari pencitraan.

Ada juga anggapan bahwa, Irwandi kurang akomodatif terhadap pendapat orang lain, bahkan pendapat yang berasal dari kaum intelektual Aceh sekali pun. Atau katakanlah dari institusi seperti Unsyiah, misalnya. Irwandi adalah alumnus Unsyiah, yang memiliki pola pikir yang saklek (zakelijk).

Level berpikir

Kadang memang ada hal yang berbeda dalam jalur pikiran yang dikembangkannya. Adagium “berpikir dengan kepala banyak adalah baik; tetapi dalam mengambil keputusan hanya dibutuhkan satu kepala”.

Dalam mengelola sebuah pemerintahan, yang masyarakatnya dengan latar belakang bervariasi, kadang kala memang dibutuhkan sikap otoriter. Kondisi eksternal ini menjadi salah satu faktor untuk menentukan cara bersikap seorang pemimpin.

Jangankan mengikuti arus pikiran masyarakat luas yang jumlahnya besar dan beraneka ragam, mengikuti pola pikir anggota dewan yang jumlahnya sedikit saja, bila tidak hati-hati bisa blunder.

Kondisi internal dewan (DPRA) juga sangat cemplang dalam hal level berpikir. Ada kesenjangan yang cukup signifikan antara kompetensi yang dimiliki para birokrat dan politisi di dewan. Penyamaan visi dan frekuensi harus menjadi agenda pemerintahan untuk menfasilitasi program improvement bagi setiap anggota dewan. Ini bukan suatu hal asing dan bermakna merendahkan.

Program seperti ini lazim diterapkan di segala sektor institusional, hingga di kalangan militer. Peningkatan kualitas personal secara berkesinambungan menjadi agenda wajib yang tidak dapat ditawar-tawar, tidak terkecuali terhadap anggota DPRA.

Seni manajemen Irwandi

Manajemen selalu dipraktekkan dengan bersandarkan pada “seni” untuk memimpin. Masing-masing pemimpin memiliki sisi tersendiri ketika berada pada tingkat aplikatif terhadap fungsi-fungsi manajemen, maka oleh karenanya keberadaan seni menjadi faktor penting. Irwandi memiliki seni tersendiri yang barangkali warnanya berbeda dengan yang lain.

Meski terkesan “keras” namun Irwandi memiliki seni dalam menerapkan fungsi-fungsi manajemen. “Keras” hanya mencirikan sebuah sikap dan pembawaan dari sosok Irwandi sebagai karakter dasar. Bukan berarti tidak ada celah musyawarah. Celah kompromistis Irwandi hanya dapat diperoleh apabila logika berpikir orang-orang yang terlibat di dalamnya berada dalam satu frekuensi; macthing dan ada kesepadaan chemistry.

Pemimpin yang ideal selalu memiliki bekal prinsip yang dipegangnya, agar tidak mudah terombang ambing oleh berbagai alun gelombang yang akan selalu ada apalagi di lingkaran pemerintahan yang tidak luput bersentuhan dengan kekuatan politik. Prinsip pula lah yang harus dikedepankan ketika mengambil keputusan. Prinsip bermanfaat sebagai senjata untuk menghapus segala bentuk keraguan keraguan.

Manajemen tidak membutuhkan cara-cara “peusak-h’op” yang hasilnya bukan hanya merusak citra tapi lebih dari itu akan merugikan orang lain. Bukan atas dasar “pat-pat nyang didong, didong jih keudeh…”, melainkan dengan pertimbangan “lam udep bek barang kaho, lam sago bek ta meunari. Lam teungeut meupalet lumpo, nyang palo meunyo meupalet haba“…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *