Soeharto Smiling General, Dulu Dibenci Sekarang Dirindukan

Tahun 1970-an hingga awal 1980-an gerakan mahasiswa di seluruh Jawa selalu mengarahkan sasaran kritikannya kepada pemerintah di bawah Presiden Soeharto.

Kala itu kebencian mahasiswa terhadap Soeharto tak sedikitpun menyisakan rasa hormat dan simpati. Antipati dan penolakan terhadap “Bapak Pembangunan” ini merebak di seluruh pulau Jawa dengan berbagai sumpah serapah ala mahasiswa.

Bahkan Ketua Dewan Mahasiswa ITB, waktu itu, Hery Achmadi, memberikan nama putranya dengan “Gempur Soeharto”. Saking tidak sukanya “orang-orang” yang berlabel “agen pembaharuan” kepada sosok jenderal yang murah senyum ini.

Dari Mesid Salman ITB, ada Bang Imad, panggilan akrab dari Imaduddin Abdul Karim. Putra Langkat yang kemudian menjadi guru besar jurusan Elektro, Fakultas Teknik ITB ini, suka bersafari keliling kampus di pulau Jawa. Setiap isi ceramahnya selalu menyuarakan sikap anti-Soeharto, tanpa tedeng aling-aling.

Pak Harto

Pak Harto bersama keluarganya di awal periode menjadi Presiden RI

ITB ibarat benteng bagi mahasiswa anti-Soeharto. Lomba pidato mahasiswa mirip Pak Harto, yang bertujuan mengolok-olok pribadi Soeharto, dibubarkan paksa dengan panser yang dimasukkan tentara ke kampus tersebut. Seperti suasana siap tempur; berperang melawan mahasiswa.

Spanduk dan poster menghujat Soeharto dibersihkan dari kampus rindang tersebut. Ceramah-ceramah di Mesjid Salman selalu dimonitor, karena bisa membakar semangat mahasiswa.

Bang Imad menjadi sosok idola bagi mahasiswa pergerakan di jaman itu. Di kampus mana pun dia ceramah selalu dipenuhi oleh mahasiswa yang kian militan.

Gerakan mahasiswa di Yogyakarta

Di Yogyakarta, kampus UGM dan IKIP Negeri yang sekarang bernama Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menjadi titik-titik kumpul dalam menyiasati setiap gerakan dan perjuangan melawan pemerintah tirani.

Soeharto selalu dibidik sebagai target yang harus diganyang. Bukan hanya pribadi Pak Harto, keluarganya pun selalu masuk dalam kategori tiran yang tak luput dari “serangan gencar”.

Di UI, Hariman Siregar, Dipo Alam dan Theo Sambuaga menjadi momok di mata Soeharto dan keluarganya. Bahkan Titiek yang kuliah di IPB tidak luput dari cercaan mahasiswa.

Buletin Pak Salem BA, yang diasuk Panusuk Eneste, milik Dema UI, menjadi media yang sangat digemari mahasiswa pejuang kala itu. Mesjid Arief Rahman Hakiem, –nama dari seorang Pahlawan Ampera–, dari KAMI UI, yang terletak di dalam kampus UI di Salemba Raya, adalah jiwa bagi mahasiswa militan. Nyaris tidak ada mahasiswa yang “suka” pada Soeharto dan keluarganya.

Mahasiswa rela melukai ujung jarinya hanya sekadar untuk menunjukkan kebenciannya dengan menoreh tanda tangan darah di atas lembaran kain putih yang dibentangkan. Sebagai manifestasi rasa benci yang sudah memuncak ke ubun-ubun.

Banyak hal yang dilakukan selama Pak Harto memerintah, tapi selalu saja salah di mata mahasiswa dan kelompok “Antisoeharto”.

Baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Seperti yang dilakukan Ali Sadikin dan kawan-kawan serta Sri Bintang Pamungkas ataupun Bang Imad. Pendek kata sumpah serapah dan kesalahan atas kondisi negara yang dianggap antidemokrasi, diarahkan kepada Soeharto.

Peran L. B. Murdani

Yang paling rentan terhadap gaya represif pemerintah adalah kelompok Islam. Setiap kegiatan berbau Islam selalu dicurigai. Ekstremitas umat Islam memang sengaja dibangkitkan melalui operasi kontraintelijen. Islam harus dibuat marah semarah-semarahnya sehinggga menjadi reaksioner.

Yang paling berperan untuk memojokkan dan “mengerjai” umat Islam adalah sosok LB Murdani. Jenderal yang bernama lengkap Ludwijk Benardus Murdani ini memang mendapat peran yang sangat besar dalam mengendalikan keamanan negara. Apa pun yang dilakukannya selalu dianggap sebagai perlindungan terhadap Soeharto dan stabilitas negara.

Murdani memainkan taktik dua mata pisau dalam menjalankan misinya. Setiap memberangus gerakan Islam dia memberikan alasan bahwa islam merongrong kesahihan pemerintahan Soeharto, anti-Pancasila. Pribadi Soeharto dipersonifikasikan dengan ideologi dan konstitusi negara.

Pak Harto pun sangat percaya atas segala laporan intelijen yang sengaja diskenariokan LB Murdani dan kawan-kawan. Pak Harto menjadi musuh Islam; karena kelompok Islam diskenariokan, seakan-akan, memusuhi Soeharto.

Kepercayaan Pak Harto sangat niscaya, karena beberapa petinggi TNI lainnya seperti Soedomo, Maradin Panggabean dan lainnya selalu ikut membenarkan dan mendukung setiap laporan yang ada.

Puncaknya adalah ketika Murdani dan kawan-kawan melaporkan kepada Pak Harto bahwa Prabowo sedang merencanakan melakukan “kudeta” dan ingin mengambil alih kekuasaan dari tangan mertuanya tersebut.

Dampaknya, Prabowo tergusur dari lingkaran dalam Cendana dan memilih mengasingkan diri dalam waktu beberapa lama ke luar Indonesia.

Taktik agitasi Murdani selalu mujarab meyakinkan presiden. Target tersembunyi Murdani adalah mendapat kepercayaan dari Pak Harto untuk menjadi wakil presiden mendampingi Presiden Soeharto.

Belakangan “borok” Murdani dan kawan-kawan terkuak juga. Insting Pak Harto terlambat membaca gelagat tidak baik selama ini. Murdani selalu bermain api dengan membenturkan umat Islam dengan Pak Harto.

Jenderal Tri Soetrisno

Penempatan Tri Sutrisno sebagai wakil presiden mementahkan semua mimpi-mimpi Murdani dan kawan-kawan. Bukan hanya pribadi Murdani yang tersisih, akan tetapi seluruh jaringan intelijen yang berafiliasi di bawah kendali Murdani sebelumnya, dipreteli Pak Harto.

Peran Tri Soetrisno, perwira tinggi alumni Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad), Bandung, sebagai wakil presiden ikut memadamkan bara api yang telah dinyalakan Murdani. Mata rantai antara barisan Murdani dan perwira muda, ikut diputuskan agar terhindar dari pengaruh buruk. Hasilnya memang Murdani dan kawan-kawan terpelanting dari lingkaran kekuasaan.

Tapi itu pun bukan akhir dari “tingkah laku” buruknya untuk selalu “mangganggu”. Dengan sisa-sisa kekuatan Murdani melakukan operasi senyap dalam mencetus terjadinya Tragedi 27 Juli 1997, yang banyak memakan korban. Soeharto yang tidak ingin PDIP dipimpin Mega, harus berhadapan dengan invisible man -Murdani- yang bermanuver untuk membenturkan kader PDIP dengan pemerintah.

Tragedi berdarah ini menempatkan Mega “seakan-akan” sebagai korban tindakan represif pemerintah. Hasil dari kesan penzholiman ini cukup baik, yang dibuktikan dengan kemenangan PDIP dalam pemilu pertama pascareformasi pada tahun 1999.

Belakangan ini Soeharto kembali dirindukan oleh sebagian masyarakat. Kepemimpinan Soeharto selama 32 tahun lemah di sisi kehidupan demokrasi, tapi stabil dari sisi keamanan dan perekonomian.

Demokrasi Pancasila

Jika Soekarno menerapkan “demokrasi terpimpin”, maka Soeharto mengembalikan kehidupan politik dalam bentuk “demokrasi pancasila”. Demokrasi ala Soeharto masuk dalam kategori “demokrasi terkendali”. Ada kehidupan demokrasi tapi tetap dalam pengendalian pemerintah.

Konsep penyederhanaan jumlah partai merupakan salah satu aspek dalam demokrasi model ini. Sistem multipartai sebelumnya yang tidak efektif, difusikan menjadi hanya hanya partai. Dengan demikian memudahkan pengendalian.

Stabilitas terjaga, pembangunan berjalan baik dan kehidupan masyarakat lebih aman. Tidak sulit mendapatkan kebutuhan sehari-hari, karena harga pasar selalu mendapat perhatian melalui peran Badan Urusan Logistik (Bulog).

Sangat wajar bila saat ini sosok Soeharto dirindukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Kerinduan yang bukan tanpa alasan, melainkan atas bukti sejarah, bahwa pada era itu, di dalam negeri kondisi Indonesia sangat baik. Pembangunan tetap berjalan, harga-harga terkendali, nilai rupiah stabil dan mudah memperoleh lapangan pekerjaan.

Di luar, dalam pergaulan internasional, Indonesia memiliki wibawa yang kuat, disegani dan memberikan pengaruh positif dalam menciptakan perdamaian dunia…**.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *