Prahara Cinta Pragya Aurora Dalam Dentingan Lonceng Cinta

Di Indonesia sejak dulu film India selalu mendapat tempat di hati penggemarnya. Hampir semua kota yang ada bioskop pasti akan memutar film-film India untuk memenuhi hasrat dari masyarakat penggemar. Bahkah ada bioskop yang khusus hanya memutarkan film ini saja dan tidak pernah sepi penonton.

Indonesia ladang empuk bagi film-filn impor. Dari mana saja. Setelah media televisi begitu pesat berkembangnya, seakan sinetron dan drama asing silih berganti mengambil waktu penggemarnya. Setelah sekian lama ditinggal oleh telenovela yang berlatar belakang latin, kini giliran Korea, Turki dan India yang mengambil tempat di hati pemirsa televisi.

Beberapa televisi swasta rebutan menayangkan film dari negeri-negeri tersebut. Tapi yang menarik belakangan adalah kehadiran seri drama India yang begitu gencar. Bahkan satu perusaan televisi bisa menayangkan beberap judul sekaligus dalam sehari.

Salah satu yang menyita perhatian pemirsa televisi saat ini adalah Lonceng Cinta yang dalam bahasa aslinya berjudul aslinya “Kumkum Bahgya”. Hingga saat ini Lonceng Cinta telah ditayangkan lebih dari 200 episode. Namun tak menyurutkan pemirsa untuk terus menanti dan mengikutinya episode demi episode berikutnya.

Pragya dan Abhi dalam seri drama sinetron Lonceng Cinta, lugu dan berkarakter

Pragya dan Abhi dalam seri drama sinetron Lonceng Cinta, lugu dan berkarakter

Saling memperkuat

Setiap hari penonton dalam bahagia dan kesal. Antara antagonis dan protogonis dibuat dalam suasana kalah menang secara berganti. Karena seperti biasanya, sama seperti seri drama lainnya yang pernah tayang, selalu hadir intrik di tengah cinta.

Setiap saat selalu ada pengganggu yang membawa prahara. Menghambat, membenci dan menzalimi orang baik; merusak hubungan dan menghancurkan keluarga.

Memang konspirasi kejahatan yang dibangun tidak akan pernah mencapai kemenangan sesungguhnya. Mengalahkan sementara adalah bumbu penyedap yang membuat pemirsa kesal dan marah. Dan bahkan sampai memaki-maki pemeran antagonisnya. Secantik apa pun dia, dan sebaik apapun kepura-puraan dia.

Kejahatan yang dibungkus niat baik,akan terkuak jua. Tetap saja pemirsa akan membela seorang istri atau kekasih yang sedang “dikerjai”. Itu lazimnya yang dapat ditemui dalam alur cerita seri drama apa pun.

Peran yang sempurna

Yang menarik dari Lonceng Cinta adalah cara acting Pragya dan Abhi. Keduanya seperti ditakdirkan sangat sepadan dalam satu ikatan asmara berhias bunga-bunga indah. Mereka membawa peran sempurna dalam ukuran drama seri televisi. Saling memperkuat untuk menghasil sebuah hasil yang baik dalam peran yang diberikan sutradara kepada masing-masing.

Penampilan mereka mengalir begitu saja tanpa dibuat-buat. Terkesan membawa peran dengan santai, bahkan jauh dari serius dan tanpa beban. Tidak banyak bintang yang mampu memainkan seperti ini. Banyak yang dibuat-buat dan dalam bentuk ekspresi yang berlebihan sepert dipaksa.

Pragya dan Abhi seperti mendapat kebebasan untuk beracting, menyesuaikan dengan karakter sosok yang lugu. Gampang diombang ambing dan terkadang bimbang.

Mereka berdua memberikan suasana yang selalu menarik bagi pemirsa. Penampilan mereka ditunggu hari demi hari, untuk mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya.

Dan bagaimana akhir dari ceritanya. Padalah hampir pasti bahwa, bagaimana pun jua si baik pasti akan “dimenangkan” di ujung kisah nantinya. Sedang si jahat harus gigit jari kalau tidak celaka.

Berpenampilan konservatif

Pragya yang juga seorang model India, bermain cukup ciamik di sini. Wajahnya yang cantik dan polos selalu tampil lebih konservatif untuk ukuran kota besar semisal New Delhi.

Akan tetapi di sini pulalah letak keanggunan seorang wanita terhormat, yang tampil apa adanya namun menyimpan pesona dan kecerdasan di atas rata-rata. Memiliki karakater yang kuat dan digambarkan sebagai pekerja keras.

Di luar kegiatan shooting, di samping sebagai model, sosok Pragya (Sriti Jha) merupakan sosok yang berpendidikan cukup baik. Sriti menyelesaikan kuliahnya di Srivenkateswara College, New Delhi, yang merupakan lembaga pendidikan tingkat bachelor dan sarjana di bawah afiliasi perguruan tinggi prestisius di India: University of Delhi.

Sementara itu Abhishek (Shabbir Ahluwalia), adalah aktor India yang pernah meraih pendidikan dari College Park, University of Maryland, Amerika Serikat.

Sedikit urakan

Peran Abhishek sebagai bintang rock, banyak ditopang oleh posturnya yang sangat baik dan dan juga gayanya yang sedikit urakan. Keduanya menampilkan diri secara polos dan lugu sehingga mengundang senyam senyum penonton yang sedang menikmatinya.

India memang sedang membanjiri televisi swasta di Indonesia. Satu ciri baru yang dapat ditemukan dalam beberapa serial drama sinetron India kali ini adalah penampilan aktornya yang berotot. seperti sudah menjadi tren di India setiap bintang wajib menempa diri di dalam gymanasium untuk membentuk tubuhnya agar kelihatan lebih atletis dan berisi

Dengan tidak mengabaikan peran bintang lainnya seperti Purab (Arjit Taneja) dan Aliya (Shikha Singh) serta para pendukung lainnya, penampilan dua bintang layak meraih Zee Rishtey Award sebagai Artis Favorit, Best on Screen Jodi dari Star Guild Award dan Best Couple dari Indian Telly Award.

Akhirnya memang serial drama ini memang mengasyikkan untuk disaksikan. Paling tidak sekadar untuk selingan di saat makan malam bersama keluarga.

Pencapaian setiap karya, modal utamanya adalah kerja sama yang baik antarseluruh kru, bintang, produser dan juga dukungan dana serta tentu saja keseriusan untuk bertekad menghasilkan yang terbaik bersama-sama. Indonesia seharusnya bisa…**.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *