“Sesempit Itukah Cakrawalamu…?”

Ini merupakan judul tulisan Ibu Marianne Katoppo yang pernah dimuat pada sebuah harian terbitan Jakarta di tahun 1978. Artikel ini sekelumit menyinggung tentang latar sejarah dan kepahlawanan yang berlaku di Indonesia sepanjang periode sebelum kemerdekaan.

Tulisan ini kemudian diterbitkan dalam bentuk buku, oleh Sinar Agape Press, dari Grup Sinar Harapan, Jakarta. Dengan tetap menggunakan judul yang sama. “Sesempit Itukah Cakrawalamu?”.

Marianne, seorang penulis dan wartawan senior yang cukup kawakan, seperti ingin menggugat cara penulisan sejarah, yang lebih menempatkan seorang R. A. Kartini pada tempat lebih terhormat, sementara, dan seakan-akan, mengecilkan peran para “srikandi” pengharum bangsa Indonesia lainnya dalam berjuang untuk mengusir penjajah Belanda.

Bila Kartini berjuang dengan tinta dan air mata, maka para srikandi dari berbagai daerah, berjuang dengan darah, air mata dan senjata.

Cakrawalamu

Srikandi Indonesia yang berjasa bagi kemerdekaan dan kemajuan bangsa

Kartini, duduk di balik dinding rumah mewah, sebagai istri kedua dari seorang bupati, dengan makanan dan pelayanan serta waktu tidur yang cukup.

“Habis Gelap Terbitlah Terang”

Berbeda dengan para pejuang wanita lainnya yang berasal dari penjuru nusantara, yang harus mengalami kekurangan makanan, selalu berada di bawah ancaman, hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lebih aman.

Jangankan tidur untuk istirahat, sekadar duduk saja, tidak punya waktu karena terus dikejar-kejar atau selalu dalam kondisi siaga perang. Diserang atau menyerang.

Kartini selalu dicirikan berbusana kebaya dan tampil anggun. Memiliki kesempatan bernafas lega sepanjang hari. Bisa menyempatkan waktu berkorespondensi dengan sahabat penanya Rosa Abendanon, Annie Glaser, dan lain sebagainya yang tinggal di Negeri Belanda, .

Tulisan surat menyurat Kartini tersebut oleh J. H. Abendanon disusun untuk dijadikan sebuah buku yang oleh Armijn Pane, diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Goresan pena Kartini ini, di kemudian hari telah menjelmakan dirinya sebagai pahlawan wanita yang istimewa, dimana hari kelahirannya setiap tahun diperingati.

Bagaimana dengan pahlawan wanita lainnya? Sejauh ini belum pernah terjadi ada peringatan khusus untuk membesarkan dan menghargai jasa-jasa mereka. Para Srikandi nasional yang dimiliki bangsa ini hanya masuk dalam barisan pahlawan nasional lainnya yang selalu diperingati setiap tanggal 10 November.

Semangat kebangsaan

Tidak seorang pun dapat meraba-raba, sejauh mana surat seorang Kartini kepada seorang warga negara Belanda di menjelang akhir jaman penjajahan, bisa mencetuskan sebuah kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Yang banyak diketahui adalah perjuangan mengusir penjajah banyak dihiasi oleh darah dan kedukaan yang berbungkus harga diri dan patriotis.

Kemerdekaan Indonesia merupakan proses kolektif oleh seluruh pejuang yang tersebar di seluruh gugus nusantara. Tidak ada yang berdiri sendiri tanpa ada kaitan satu dengan lainnya. Meskipun pada kenyataannya, para pahlawan, yang terkadang, dipisahkan oleh periode waktu dan tempat tersebut tidak ada yang saling mengenal, satu sama lainnya.

Yang menyatukan mereka adalah semangat kebangsaan yang dibarengi tekad untuk mengusir penjajah dari bumi nusantara ini. Melepaskan belenggu penjajahan, meskipun nyawa telepas dari badan. Menjadi satu karena memiliki tujuan yang sama.

Perlawanan Cut Nyak Dhien yang tanpa kenal lelah hingga mencapai usia senja, mengakibatkan dirinya dibuang hingga lebih dari 1000 kilometer dari tanah kelahirannya; dari tanah Aceh ke daerah Sumedang, di Jawa Barat. Demikian pula perjuangan srikandi Indonesia lainnya, semuanya menimbulkan risiko kehilangan nyawa, keluarga dan harta benda.

Akan tetapi karena mengusir penjajah dan merebut kemerdekaan adalah cita-cita suci, maka harga pengorbanan tak pernah menjadi hambatan untuk menghentikan perlawanan mereka. Bagi mereka, kemerdekaan lebih mahal dari pengorbanan itu sendiri.

Peringatan hari Kartini

Peringatan hari Kartini penuh dengan pernak pernik yang memesona. Segenap anak putri selalu ingin tampil sempurnan dalam balutan kebaya yang indah sebagaimana pakaian sehari-hari seorang Kartini yang juga seorang turunan ningrat.

Bahkan diperlombakan untuk mendapatkan hadiah bagi siapa di antara peserta yang paling serasi pakaiannya, bak seorang Kartini sungguhan.

Pakaian keseharian Cut Nyak Dhien selama berperang dan tinggal di hutan belantara, jelas akan sangat berbeda. Yang satu terlihat rapi serta apik dan tampil sumringah, sedang lainnya tampak lusuh dengan wajah yang lelah, namun tetap dihiasi semangat juang yang tinggi.

Peringatan Hari Kartini adalah sebuah keniscayaan yang terus berlaku hingga kian kemari. Kondisi ini juga merupakan keniscayaan sejarah yang ditulis oleh para ahli sejarah, yang notabene-nya adalah seorang Belanda. Tentu saja sesuai selera penulisnya.

Peran Nyonya Abendanon juga melekat kuat di dalamnya, sehingga memengaruhi arah penafisran sejarah serta objektivitas, kecenderungan dan pergolakan batin para penulisnya. Seakan-akan sangat besar peran Belanda di dalam mencapai kemerdekaan Indonesia.

Nyonya Belanda ini tentu saja tak mengenal siapa sesungguhnya Cut Nyak Dhien, Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika ataupun Martha Christina Tiahahu, Maria Walanda Maramis,  serta srikandi lain yang ratusan jumlahnya.

Hari Srikandi Nasional

Bukan ingin menggugat, tapi seyogyanya perlu dipikirkan sebuah momentum hari “srikandi nasional” yang diperingati setiap tahunnya. Di mana di dalamnya juga terdapat seorang Kartini serta para pejuang wanita lainnya yang berjasa di berbagai bidang.

Tujuannya tentu saja untuk mengingat seluruh pejuang wanita indonesia yang memiliki peran besar dalam perjuangan mencapai kemerdekaan bagi tanah air tercinta ini. Bukan hanya Kartini.

Tidak ada maksud untuk mengecilkan peran Kartini dan tidak pula bermaksud menafikan apa yang telah didedikasikan Kartini kepada bangsa ini. Hanya saja diperlukan sebuah representasi pemahaman bersama untuk sepakat bahwa Kartini tidak lebih berjasa dari pada srikandi yang lain.

Masing-masing memiliki kontribusi sendiri-sendiri sesuai dengan situasi yang dihadapi pada masa itu. Kedudukan Kartini harus ditempatkan sejajar dengan pahlawan dan srikandi lainnya; tidak lebih istimewa dari yang lain dengan memeringatinya secara khusus.

Yang memiriskan, berkat buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, nama Abendanon, seorang wanita Belanda yang merupakan sahabat pena Kartini, menjadi lebih dihafal oleh anak-anak bangsa ini, dari pada pahlawan Indonesia yang sesungguhnya. Seyogyanya sejarah pun perlu berpihak kepada fakta dan nurani…**.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *