Ronaldo dan Zidane Menoreh Sejarah Dalam Final Liga Champion Eropa

Antiklimaks dari pertandingan ini bukan pada sebuah kemenangan yang direngkuh Madrid setelah membungkang Juve, 4-1, untuk kemudian menjadi juara campeones secara berturut-turut kedua kalinya.

Melainkan sebuah sandiwara Sergio Ramos yang tak elok pada menit 83.15 yang sengaja melakukan diving untuk mengirimkan Cuadrado kembali ke ruang ganti Juve di saat permainan tersisa kurang lebih 12 menit lagi.

Kartu kedua bagi pemain serbaposisi andalan Juve ini membuat “si nyonya besar” tidak mampu berbuat lebih banyak lagi dalam sisa waktu permainan.

Secara komparatif, memang ada kesenjangan tipis antara apa yang dipertontonkan Juve dan Madrid . Madrid masih sedikit di atas Juve dalam segala aspek. Andalan Juve, Mandzukic dan Higuain, sering kali kehilangan orientasi ketika berhadapan dengan tiga poros halang tangguh milik Madrid yang bermain ciamik.

UEFA Champion League Trophy

Dengan senyum bangga, sang bintang, Ronaldo, mengangkat tropi Liga Champion UEFA, setelah merebut juara untuk kedua kalinya berturut-turut

Toni Kroos, bintang internasional Jerman, mampu mengalang penguasaan lapangan tengah bersama rekannya, Modric dan Casemiro. Peran mereka membuat lapangan tengah Madrid terlalu susah untuk direbut.

Karenanya Sergio Ramos dan rekannya di barisan bawah Madrid terlihat bermain dalam keadaan yang nyaris tanpa keringat.

Koleksi 12 gol Ronaldo

Dengan koleksi 12 gol, Ronaldo menjadi bintang yang meraih sepatu emas di dalam kejuaraan ini. Dua gol yang diciptakan dalam laga final yang berkesudahan 4-1 itu, menggenapi perolehan gol profesionalnya bersama klub dengan jumlah total sebanyak 500 gol.

Namun bukan hanya Ronaldo sebagai pemain yang perlu mendapatkan tanda jempol, akan tetapi penampilan Marcelo yang “sering” meninggalkan rekan-rekannya di area pertahanan, benar-benar mengundang decak kagum.

Didukung oleh stamina dan skill yang mumpuni, Marcello, mampu mengambil peran untuk mengisi posisi sayap, sehingga persaingan untuk memanfaatkan lebar lapangan pun menempatkan Juve berada setingkat di bawah Madrid.

Secara keseluruhan pasukan Real Madrid dengan manisnya menyajikan sebuah permainan tim yang kompak. Seluruh lini bergerak harmonis, nyaris tanpa cacat. Bola berpindah dari kaki ke kaki ibarat air sungai Manzanares yang membelah Kota Madrid. Terus mengalir menuju ke hilir; tanpa henti.

Berbagai gerakan ringkas setiap setelah melepas bola membuat masing-masing pemain selalu berada pada posisi yang siap menerima bola dengan mudah. Semua terjadi di bawah pengawasan pemain Juventus yang terkadang gamang.

Penampilan Zidane

Di sisi lapangan permainan, penampilan Zidane, yang sejak 4 Januari 2016 ditunjuk sebagai manajer menggantikan Rafael Benitez, tampak semakin arif. Dingin dan selalu memperhatikan permainan anak-anak secara seksama.

Zidane yang pernah mengecewakan penggemarnya akibat drama tandukan ke dada Materazzi yang selalu mengusilinnya sepanjang permainan, seakan telah mengubur kenangan pahit yang terjadi di Piala Dunia 2006 tersebut.

Kemenangan demi kemenangan yang diraih bersama anak-anak asuhnya saat ini, sudah cukup menjadi pengobat luka yang pernah tertoreh sebelasa tahun yang silam di lapangan hijau; di depan mata orang-orang yang mencintainya.

Sebaliknya kejadian tersebut benar-benar memberikan hikmah bagi pembentukan diri yang jauh dari sensitif dan membuang jauh-jauh sifat impulsif yang merugikan karirnya di dalam industri sepakbola dunia.

Zidane kini tampil sebagai punggawa yang mampu mengaransemen komposisi permainan bola anak Madrid dengan alunan musik orchestra yang indah. Semua diramu dengan kemampuan yang dimilikinya sebagai seniman bola. Dari perpaduan soft skill dan hard skill yang seimbang.

Kemenangan untuk meraih juara dengan menghempaskan Juventus, disikapinya dengan sangat hati-hati tanpa ekspresi berlebihan. Sebelum bergabung dengan Madrid selama lima musim (2001-2006), Zidane pernah pula merengguk manisnya anggur Serie A, bersama Juventus selama lima musim pula; 1996-2001. Italia dan Spanyol adalah rumah kedua bagi Zizou setelah Prancis.

Perjalanan menuju final

Perjalanan ke final Juve, dilalui melalui perjuangan yang sangat berat. Salah satunya adalah menjinakkan Barca, dalam babak per empat final, dengan menahan 0-0 dalam pertandingan tandang, setelah sebelumnya membungkam salah satu raksasa Spanyol itu, 3-0, di kandang sendiri.

Sementara Madrid relatif tak seberat yang dialami Juve. Macan yang mulai kehilangan gigi, Bayern Munich, ditaklukkan dengan mudah. Baik dalam pertandingan tandang maupun di kandang sendiri. Hasil akhirnya juga memberikan disparitas yang lumayan signifikan; dengan aggregat 6-3.

Sekilas Juve diyakini akan mengulang sukses yang diraih pada pertandingan semifinal champion 2014/ 2015. Saat itu Juve masih diperkuat bintang international Spanyol, Alvaro Moratta, –yang pernah disepelekan Madrid dengan meminjamkannya kepada “Nyonya Besar”–, menjungkalkan klub induknya, sehingga membuat para pendukung dan pemainnya menangis bareng-bareng.

Kala itu dalam pertandingan leg pertama menundukkan Madrid 2-1, dan kemudian berakhir dengan simpulan nilai agregat 3-2. Fans Madrid terpaksa menghabiskan persediaan tisunya untuk menyeka air mata atas petaka unpredictable “bola bundar” ini.

Namun kemudian, langkah Juve harus terpaku di bawah sihir Barca, 1-3, dalam final yang dihelat di Stadion Olimpiade, Berlin, Jerman.

Raksasa Spanyol ini memaksa Juve menelan pil pahit dan sekaligus menuntaskan pembalasan atas nama Raja Spanyol.

Final yang tercemar

Hari-hari ini fans Real Madrid di seluruh dunia sedang menikmati buaian mimpi indah, karena klub kesayangannya kembali mengulang sukses, memboyong cawan raksasa lambang supremasi championship liga Eropa. Dan itu terjadi di saat, Zidane sang legenda yang tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas, menjadi arranger dari klub ibukota Spanyol ini.

Juve dan penggemarnya pasti dirundung duka mendalam, dan selalu terbayang bagaimana polah “si tempramental” Ramos berbuat rendah begitu untuk memaksa wasit mengusir Cuadrado keluar dari lapangan permainan, dalam kondisi sedang unggul.

Yang paling sulit digambarkan adalah bagaimana suasana hati fans Barca di mana pun mereka berada. Separuh hati merasa geregetan lantaran musuh buyutnya, –el Real–, kembali menjadi juara; sedang separuh lagi sangat mensyukuri kekalahan Juve yang dengan angkuhnya telah menghentikan laju Barca meraih tiket final kejuaraan bergengsi ini.

Setiap pertandingan final yang melibatkan klub-klub terbaik Eropa, selalu menyita perhatian, bahkan sejak babak penyisihan berlangsung. Keindahan karya seni memainkan bola dari setiap pertandingan, merupakan hiburan yang membuat denyut nadi kadang berdetak cepat; penuh emosional.

Namun laga final yang dinanti-nantikan pencinta sepakbola di seluruh belahan dunia kali ini, menjadi sedikit tercemar, lantaran sikap Sergio Ramos yang menempatkan martabat dirinya sendiri jauh dari predikat sebagai bintang profesional.

Hari itu rumput hibrida Desso Grassmaster, Stadion Millenium, Cardiff City, Wales, menjadi saksi dari kelakuan asli seorang stylist yang bernama kecil si “Cuqui” ini…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *