Dinamika Dunia Maya di Tangan Pengguna Media Sosial

Afi dan Kaesang adalah dua anak belia yang sedang fenomenal belakangan ini. Nama keduanya hampir setiap hari disebut-sebut di berbagai media sosial. Dalam bentuk tanggapan pro dan kontra.

Afi menjadi buah bibir lantaran tulisan-tulisannya yang melampaui kerangka berpikir generasi seusianya, yang terkadang terkesan kontroversial.

Tema yang diangkat di dalam tulisannya juga di luar dugaan kebanyakan orang yang menganggap anak remaja seusia dia tidak mungkin bisa berpikir sebegitunya. Sehingga kemudian mengundang kekaguman dan kecurigaan.

Klimaksnya adalah ketika ketahuan ternyata tulisan Afi merupakan hasil karya orang lain yang ditampilkan kembali sebagai buah pikirannya sendiri.

Viral media sosial
Dua anak muda yang belakangan menjadi viral di media sosial Indonesia

Ada puluhan tulisan dan ungkapan Afi hasil kopas dari mana-mana, namun ianya tak berupaya untuk menuliskan penulis dan sumber aslinya. Malah sebaliknya hanya mencantumkan namanya di bagian bawah setiap tulisan.

Belakangan muncul vlog penampilan dirinya yang menjadi viral di jagad maya. Afi sedang curhat dalam bahasa Inggris yang sangat fasih untuk ukuran anak remaja Indonesia, dengan ekspresi yang lumayan bagus.

Namun itu pun ternyata merupakan hasil jiplakan dari video milik Catherine Olek yang prihatin atas sikap pengguna media sosial yang cenderung melakukan bullying terhadap Amanda Todd, aktivis dunia maya yang kemudian menyudahi hidupnya dengan cara bunuh diri.

Yang menakjubkan, Afi telah mampu menerobos benteng plagiasi yang telah dibangun bertahun-tahun di lingkungan Universitas Gajah Mada. Afi berhasil “mengelabui” sivitas akademika UGM untuk mendapatkan panggung dalam sebuah “Talkshow Kebangsaan” yang diselenggarakan Fisipol UGM.

Penggunaan referensi untuk sebuah tulisan, misalnya, bila dikaitkan sebagai sebuah karya nonilmiah, maka hal tersebut sah-sah saja. Meskipun ditampilan di dalam akun untuk dibaca banyak orang.

Lain halnya bila membuat sebuah karya ilmiah semisal skripsi, tesis hingga desertasi ataupun sebagai tulisan lepas yang dimuat di dalam jurnal ilmiah.

Lain lagi cerita tentang Kaesang. Namanya menjadi bahan pembicaraan di ranah medsos lantaran ucapan “ndeso” yang menggelinding menjadi membesar. Nyaris menjadi bola liar yang bersayap ke mana-mana.

Bagi sebagian orang, kata “ndeso” agak memiriskan bila diasosiasikan bahwa, ndeso itu adalah bentuk keterbelakangan, kebodohan dan ketinggalan jaman.

Padahal hampir semua presiden Indonesia berasal dari ndeso. Kecuali, barangkali, Megawati dan Habibie, yang lahir, besar dan hidup di kota dan tak pernah mengenyam suasana hidup di desa.

Anak seusia Kaesang bisa saja berlaku “khilaf” dalam ucapannya. Tapi ketika tulisan dan ucapannya masuk ke ruang publik, butuh waktu yang lama untuk menetralisirnya. Jadi bahan olok-olok para nitizen yang kontra terhadap tulisan Kaesang. Meskipun tidak sedikit yang membelanya.

Dalam hal ini Kaesang lupa menempatkan dirinya pada posisi netral sebagai anak seorang presiden Republik Indonesia. Tanpa sengaja dia telah masuk dalam arus pikiran yang memihak.

Posisi presiden beserta seluruh keluarganya selalu berada di tengah-tengah, tanpa ada kecenderungan membela atau tidak membela.

Karena siapapun dia, yang baik, yang nakal, yang jahat, yang ulama yang maling, atau apapun agamanya, semuanya adalah rakyat yang hidup di bawah pimpinan presidennya.

Seperti ada sebuah perjanjian yang tak tertulis, hingga beberapa kali ganti presiden belum pernah terjadi statemen dari anak kepala negara untuk membela salah satu kelompok.

Karena itu tadi, presiden dan keluarganya harus berada di tengah-tengah dan merupakan presiden bagi semua golongan.

Akan berbeda apabila Kaesang bukanlah anak seorang presiden, yang bisa berkomentar bebas sesuai dengan keinginannya. Ataupun, akan tidak menjadi soal, ketika anak presiden terjun ke dunia politik yang bisa bebas berbicara atas dasar aspirasi politiknya.

Kontroversial di dunia maya, bisa mengundang deretan komentar dan follower dari mana-mana. Yang biasanya belum berteman, tiba-tiba minta dikonfirmasi menjadi teman. Ada kepuasan batin bagi pemilik akun, karena jumlah komentar serta jempol semakin meningkat.

Bila akun ditujukan untuk promosi bisnis maka peningkatan tersebut merupakan suatu keberuntungan. Sebaliknya bila membuat akun untuk eksis, maka hal itu tidak memberikan apa-apa kecuali kepuasan semu.

Malah kerugian terbesar adalah, ternyata follower yang hadir dalam daftar kita, justru menjadi haters yang selalu memberikan komentar negatif. Sebagai teman yang selalu membuli apa yang kita lakukan dalam akun kita.

Kenaikan follower seperti ini tentu saja tidak sehat, karena hanya membebani perasaan dan sama sekali tidak bermaksud untuk berteman. Mereka terbelah sebagai follower yang suka memberikan pujian, dan ebagaian yang suka memberikan hujatan.

Bijak menggunakan akun sosial media adalah jalan terbaik yang harus dilakukan oleh setiap aktivis medsos. Karena sikap agresif dari setiap pengguna susah ditebak tingkatnya. Mulai dari kritikan yang halus hingga penggunaan kata-kata vulgar. Kadang menimbulkan keprihatinan di dalam hati, terkadang juga bisa sangat menyakitkan.

Dalam kontek apapun, yang dilakukan keduanya merupakan sesuatu hal yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang salah. Hanya saja, mungkin ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak seharusnya terjadi…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *