Menyibak Ruang Lingkup Pemikiran Filosofis

Suatu ketika dalam sidang skripsi untuk jurusan Tenik Mesin yang dilaksanakan terbuka di kampus kami, sahabat seangkatan saya ditanya oleh salah seorang dosen penguji. Pertanyaan saat itu, belum masuk ke substansi permasalahan yang terkandung dalam ruang lingkup judul skripsinya.

Setelah memastikan kondisi dari mahasiswanya yang dalam keadaan sehat dan siap diuji, dengan sedikit menggelitik, sang penguji bertanya: “apakah Saudara pernah memperhatikan orang bakar sampah…? Mahasiswa: “pernah Pak”. Penguji: “kira-kira ke mana larinya asap tersebut…? Dengan mantap sahabat saya menjawab: “ke atas, Pak… Penguji: “mengapa bisa ke atas…?

Sejenak kemudian ruang sidang terasa hening. Tanpa ada tanda-tanda akan ada jawaban yang segera dari mahasiswanya. Sang teman terus berpikir keras mencari-cari jawaban yang pas. Tapi belum sempat dia mendapat jawabannya, seorang penguji lainnya dengan spontan menyelutuk: “takder…, takder….”, dengan aksen medhok Jawanya.

Antara berani dan tidak, mahasiswa lainnya yang mengamati jalannya sidang, menahan diri untuk tertawa. Cukuplah bagi mereka membiarkan dosen-dosennya tersenyum simpul dan tertawa ria.

Pemikr dan merenung
Merenung sebagai proses cinta kebijaksanaan yang melahirkan ilmu pengetahuan

Sahabat saya ini bukanlah mahasiswa yang pas-pasan. Pas bejo, pas lulus, kebetulan pas jawabannya. Dia termasuk berprestasi di angkatan kami.

Mekanika Teknik yang diberikan 4 semester atau pun Matematika Teknik yang juga sebanyak 4 semester, selalu lulus dalam kesempatan pertama. Tidak pernah her. Tidak ada cerita ada ujian ulangan. Sekali pukul langsung tembus dengan nilai signifikan.

Tetapi dalam “injury time” tahap awal di ruang sidang, dia sempat “jatuh” oleh sebuah pertanyaan yang menjebak. Pertanyaan sederhana, tapi membuat pendirian menjadi goyah, dan menyapu kepercayaan diri seketika.

Pertanyaan demi pertanyaan selanjutnya selalu mendapat jawaban yang kurang memuaskan dosen penguji. Akibat dari kehilangan jati dirinya yang utuh sebagai mahasiswa yang tergolong berprestasi selama periode kuliah.

Pertanyaan dosen penguji yang berlatar belakang ilmu teknik ini sangat bernilai filosofis, apabila filsafat itu dimaksudkan sebagai “philo” “sophia”; cinta (berpikir) bijaksana. Yaitu, menggerakan seluruh potensi rasa, cipta, dan karsa yang kemudian melahirkan karya.

Potensi yang semua anak manusia normal memilikinya; “potential energy”. Hanya butuh stimulus untuk mengubahnya menjadi “enerji kinetis”.

Mengajarkan berpikir multidimensional; menatap setiap permasalah dari seluruh sisi; dari seluruh aspek; dari seluruh dimensi. Melihat kubus dari segala sisi. Sehingga dapat dimengerti volume kubus yang sesungguhnya dalam satuan kubikasi.

Mengapa asap mengambang dan cenderung bergerak ke atas? Boleh jadi memang sebuah takdir. “Emang sudah begitu dari sononya, kok“. Ini bukan jawaban filosofis dari seorang yang akan menyandang predikat sarjana. Tentu saja tak elok jawaban yang hanya bersandar pada sebuah ketetapan.

Takdir yang sesungguhnya bukan pada asap yang mengarah ke atas. Melainkan “proses” dan “argumen” mengapa bisa ke atas? Sang pencipta telah menakdirkan perbedaan masa jenis (density) antara udara dan pertikel asap yang timbul dari hasil pembakaran tadi.

Karena masa jenis asap lebih kecil dibandingkan dari masa jenis udara maka dia “terpaksa” mengambang ke atas. Ini argumentasi ilmiahnya. Ini yang berkategori cinta bijaksana.

Archimedes, Newton, Boyle dan Pascal, hanya sebagian dari para pemikir yang menyumbangkan hasil olah pikir bijaksana yang dilakukannya, yang kemudian bermanfaat untuk segala urusan proses pengukuran, perhitungan, analisis dan pembuktian melalui ilmu-ilmu eksakta.

Newton sangat penasaran ketika melihat buah apel bisa-bisanya jatuh menyentuh bumi. Alasan apalagi yang menyebabkan hal itu terjadi. Ketika seorang berpikir “emang sudah dari sononya“; atau “emang sudah takdirnya, kok“, maka persoalan sudah selesai sampai di situ.

Tapi tidak bagi Newton, ianya tanpa lelah mencari tahu, alasan apa kok bisa apel jatuh ke bumi. Kenapa tidak ke atas (sama seperti kasus asap tadi). Ternyata pencarian Newton sampai pada titik temu di mana ada takdir sesungguhnya yang memengaruhi proses jatuhnya apel ke bumi.

Tuhan telah menakdirkan bahwa di alam jagad raya ini berlaku hukum gravitasi; ada gaya tarik bumi yang siap menghembas setiap benda padat ke arah bawah. Bukan semata-mata soal berat yang dimiliki buah apel, melainkan ada disparitas antara berat jenis apel dan gaya gravitasi yang memengaruhinya.

Dalam ruang hampa astronot dilatih bisa mengambang bagaikan balon, melayang-layang tak bisa menjejakkan kakinya ke dasar. Kondisi ruang hampa didesain serupa dengan kondisi yang terjadi di ruang angkasa, bebas gravitasi, alias gaya tarik bumi sama dengan nol.

Sehingga meskipun memiliki berat jenis, tapi tidak ada yang mempengaruhinya seperti yang bisa terjadi di bawah lapisan atmosfir.

Gempa bumi atau tsunami adalah sebuah “hasil perpaduan adanya proses takdir”. Kejadian patahnya lempengan yang saling bertumbukan di zona subduksi hanya merupakan akibat dari adanya pergerakan lempeng bumi yang terus menerus secara tidak beraturan.

Takdir pertama adalah Allah menghamparkan dataran dan lautan di atas lempeng yang sengaja diciptakan-Nya. Terdapat belasan lempengan yang saling bertumbulkan dengan kecepatan relatif antara 0.5 cm hingga 12 cm per tahun.

Ketika salah satu lempeng (samudra) terus menusuk ke bawah, maka dalam batas tertentu lempeng (benua) tak mampu menahannya sehingga terjadi patahan yang menyebabkan lempeng memelanting ke atas dan menimbulkan efek pegas yang membuat bumi bergoncang.

Atau bahkan bila pusat gempa berada di laut dengan kedalaman tertentu, bisa menimbulkan tsunami. Terjadi generasi air laut yang kemudian diluberkan kembali menuju daratan dengan kecepatan fantastis. Ini salah satu penyebab terjadinya tsunami.

Apabila para pakar (mereka wajib disebut sebagai filosof) tidak meneliti dan mencari tahu bagaimana proses itu bisa terjadi, maka manusia akan bertumpu pada pemikiran, terjadi karena “takdir”. Padahal sisi takdirnya (konstanta) adalah ketika Allah berkehendak menciptakan bumi di atas lempeng-lempeng yang terus bergerak secara kontinyu. Tanpa henti dan tanpa lelah; mau tidak mau; suka tidak suka, selalu taat pada ketetapan.

Sementara para pencinta kebijaksanaan, terdorong mencari akar masalah –bukan sekadar knowlegde–, yang kemudian menjadi kumpulan rumpun ilmu pengetahuan (sains), yang berpunca pada ilmu filsafat sebagai induk dari segala macam ilmu pengetahuan itu sendiri.

Semakin ke sini perkembangan ilmu pengetahuan menjadi runut dari sebuah invensi-inovasi dan renovasi yang terus menggelinding, hingga entah kapan. Inilah salah satu hasil dari sebuah renungan filosofis yang berupa siklus berkelanjutan tanpa batas, tanpa henti dan tanpa sekat-sekat yang mengungkung ilmu pengetahuan itu sendiri.

Terbaca sebuah ungkapan dari seorang filosof besar, Aristoteles yang mengajak: “Marilah kita berfilsafat manakala keadaan menginginkan kita untuk berfilsafat. Tetapi manakala keadaan tidak menghendaki kita untuk berfilsafat, maka, marilah kita berfilsafat untuk membuktikan bahwa keadaan tidak menghendaki kita untuk berfilsafat”…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *