Mengingat Kembali Buah Pemikiran Seorang Yang Bergelar Doktor

Suatu ketika, dua puluh lima tahun yang silam, saya mendengarkan ceramah ramadhan seorang doktor anyar dari bidang ilmu agama. Ceramah yang dilaksanakan oleh takmir mesjid Perumahan Panggoi, Lhokseumawe, Aceh, itu berlangsung khidmat.

Tiap kata yang terucapkan penceramah saya tangkap dan saya cerna secara seksama. Lumayan bagus pikir saya. Yang dibahas juga terkesan ilmiah.

Pembahasannya tentang Surat Al-Zalzalah yang fenomenal menggambarkan kondisi detik-detik datangnya hari kiamat. Surat yang menyiratkan begitu mengerikannya saat-saat jelang dunia berakhir.

Topik yang semula menarik, kemudian berbelok menjadi sesuatu yang membingingungkan. Di tengah cerita, sang doktor dengan kemampuan berpikirnya yang terbilang hebat, melontarkan pendapat yang sumir.

Gelombang raksasa
Grafis ilustrasi generasi ombak raksasa yang mampu membawa petaka (foto: vedma.com)

Intinya, apa yang diceritakan di dalam surat Al-Zalzalah tidak akan pernah terjadi. Semuanya hanya kiasan belaka. Pendek kata, tak mungkin bumi bisa mengalami hal seperti itu.

Belajar dari letusan Gunung Galunggung

Laku lajak ini bisa saja terjadi lantaran terbatasnya ruang berpikir seseorang untuk memahami fenomena alam secara menyeluruh, yang sebetulnya memerlukan kajian secara spesifik berdasarkan spesialisasi disiplin ilmu.

Sangat lumrah seseorang yang berlatar belakang ilmu sosial akan sedikit mengalami kesulitan bila harus masuk ke wilayah ilmu eksakta, karena terdapat nuansa antara logika ilmu pasti alam dan ilmu sosial.

Peristiwa meletusnya Gunung Galunggung di Jawa Barat beberapa tahun sebelumnya, tidak menyisakan pelajaran bagi sang Doktor. Letusan dahsyat tersebut menutup sebagian caklawala bumi serta menghadirkan gangguan terhadap kehidupan manusia dan rute penerbangan antarbenua.

Saya berpikir, ini baru satu gunung yang meletus. Entah bagaimana pula yang terjadi, bila yang meletus ada dua atau tiga gunung secara berbarengan. Mungkin ada yang bisa membayangkan?

Fenomena alam tentang bagaimana bumi dan langit serta tatasurya bertingkah laku, terdapat dalam hasil pemikiran jalur eksaks. Karena semua postulat dan aksiomatika yang melahirkan rumus-rumus dan formula ilmu eksakta berasal dari gejala alam yang dipelajari secara bijak oleh para pemikir.

Gempa bumi dan tsunami

Gempa bumi diikuti tsunami yang melanda Aceh, merupakan salah satu gejala yang dapat ditangkap bahwa bumi, langit dan lautan dapat digerakkan oleh sang Maha Pencipta sesuai dengan kehendaknya. Ini membuktikan bahwa bumi, gunung-gunung, bima sakti serta tata surya terus bergerak sesuai dengan qodarnya; tunduk pada apa yang telah ditetapkan.

Bila seseorang mampu berkata bahwa isi alquran hanya berisi tamsil semata, maka dengan mengalami sendiri gempa bumi dan tsunami yang dahsyat, sudah cukup baginya untuk mengubah cara pandang dan paradigma berpikirnya dalam memahami hal-hal yang berada di luar wilayah logika.

Memang tidak sepenuhnya sang doktor bersalah dalam menafsirkan surat alquran tersebut. Itu bisa dimaklumi karena dilakukan berdasarkan asumsi sesuai pemahamannya.

Secara jujur harus diakui, bahwa ranah kajian ilmu sosial dan eksakta memang berada pada kutub yang berbeda. Dan terkadang agak sulit untuk disatukan kecuali dalam beberapa hal yang tidak terkait langsung kepada sesuatu yang telah pasti.

Bukan melalui pendekatan ilmu eksak (scientific approach), semisal, melalui kajian “teknik geologi”, yang secara langsung berkaitan dengan gejala alam, seperti gunung, danau, bukit, sungai, lautan dan benua serta angkasa serta fenomena alam lainnya yang memiliki perilaku sendiri-sendiri.

Yang bikin bergidik barangkali adalah keberanian seorang bergelar doktor ilmu agama untuk masuk ke dalam ruang lingkup ilmu yang bukan milik dia, kemudian memaksa diri untuk membuat sebuah antitesis.

Sedangkan ilmu yang melingkupi alam semesta harus ditinjau dari berbagai dimensi, dengan menggabungkan seluruh disiplin ilmu yang ada. Ada porsi masing-masing pakar untuk menekuni ilmunya sesuai dengan batasan-batasan yang ada.

Terlalu berani

Terlalu “berani” bagi seorang doktor sekalipun, untuk melakukan pendekatan saintifik dalam mencari bukti dari apa yang dijelaskan dalam alquran yang berada di ranah ilmu eksakta, di luar jangkauan disiplin ilmu yang dimilikinya.

Jadi kendati pun ilmu bersifat bebas, akan tetapi ada kaidah keilmuan yang harus dijunjung tinggi, bahkan perlu untuk ditaati dengan tetap tekun mengkaji apa yang menjadi tanggung jawabnya sebagai ilmuwan; konsekuensi sebagai seorang pakar.

Tsunami yang terjadi di Aceh laksana kiamat kecil yang wajib dijadikan i’tibar. Dapat disaksikan bagaimana digdayanya Tuhan Yang Maha Kuasa membuktikan apa yang menjadi ketetapannya.

Tuhan bukanlah seorang peramal yang hanya memberikan janji-janji dan berspekulasi terhadap apa yang akan terjadi. Pesan yang dibawakan Muhammad SAW, adalah multidisiplin yang menjadi pedoman hidup manusia, sekaligus mengandung “reward dan punishment“.

Seorang doktor mungkin pernah mendapat kuliah dari dosen yang bergelar profesor ternama dari seantero jagad. Namun manusia sering lupa, bahwa semua itu belum lah seberapa apa yang telah dilalui seorang Muhammad SAW.

Jadi, memang, sangat-sangat tidak sebanding dengan kompetensi Malaikat Jibril yang berperan sebagai “dosen” yang mengubah pribadi Muhammad yang dungu dan sederhana, menjadi pribadi yang cerdas dan purnaintelektual.

Semoga saja, jangan sampai ada yang berasumsi bahwa surga dan neraka hanyalah tamsil belaka…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *