Kisah Kelembutan Umar bin Khattab

Adalah Michael D. Hart, seorang sejarawan berkebangsaan Amerika Serikat penulis yang menempatkan Umar bin Khattab pada rannking ke 50 dari “Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah”; dengan judul asli “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History”.

Buku yang terbit pertama sekali pada tahun 1978 ini tanpa ragu-ragu, juga, menempatkan nama Nabi Muhammad SAW, pada urutan pertama.

Ketokohan Umar bin Khattab, banyak dinukilkan dalam riwayat yang tingkat kebenarannya sangat tinggi. Umar yang menjadi Khalifah ke-2, menggantikan Abubakar Ashshiddiq, menjadi sangat fenomenal, lantaran sebelum memeluk Islam dia merupakan tokoh suku Quraisy yang sangat kejam.

Sampai-sampai tega membunuh anak perempuannya sendiri, demi harga diri yang ditafsirkan keliru; malu memiliki anak perempuan. Kelakuan Umar mengikuti, pola budaya yang berlaku di jazirah Arab ketika itu.

Amiril Mukminin
Sebelum memeluk Islam, Umar adalah tokoh Suku Quraisy yang sangat kejam

Berikut kisah Umar bin Khattab:

Kisah Pertama

Suatu ketika dalam kapasitasnya sebagai seorang khalifah, Umar bermaksud mengunjungi sebuah tempat untuk bertemu dengan masyarakatnya. Karena letak yang berjauhan dari Kota Mekkah, Umar, menggunakan kendaraan unta dengan ditemani oleh seorang Pembantunya (Khadim).

Sebelum berangkan Umar mebuat kesepakatan antara meraka berdua, yaitu, secara bergantian duduk di atas punggung unta. Kadhimnya merasa tawaran Umar tersebut tidaklah pantas, lantaran ianya adalah seorang kepala negara. Akan tetapi setelah diyakinkan oleh Umar, khadim pun menyetujuinya.

Sepanjang perjalanan mereka secara bergantian satu menuntun unta dan satu di pungung unta. Kebetulan ketika memasuki gerbang kota yang dituju, penuntun unta adalah Umar, sedangkan khadimnya duduk di punggung unta. Seketika masyarakat pun menyambut kedatangan khalifahnya ke desa mereka. Dan serempak mengelu-elukan serta memberikan rasa takzim kepada yang sedang duduk di atas.

Belakangan mereka baru menyadari, bahwa, Umar , adalah orang yang sedang menuntun unta, sementara yang duduk adalah Pembantunya. Umar sengaja bmembuat perjanjin tersebut dengan khadimnya, karena meskipun unta mampu membawa dua orang sekaligus, akan tetapi ianya tidak mampu menyakiti hewan dengan memberikan beban yang berat. Di lain pihak juga Umar ingin segala kesulita di dalam perjalan dirasakan bersama, tanpa membedakan kedudukan dan jabatan.

Kisah Kedua

Pada suatu malam Umar bin Khattab, dengan ditemani seorang khadimnya mengelingi perkampungan penduduk, untuk melakukan “patroli” dengan maksud ungin mengetahui kondisi masyarakatnya.

Ketika sampai pada sebuah gubuk, sayup-sayup Umar mendengar tangisan anak-anak dari dalamnya. Setelah lama tangisnya tidak berhenti, Umar pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu semari mengucapkan salam : “Assalamu’alaikum”. seorang perempuan menjawab dari dalam rumah : “Wa’alaikumussalam”. Kemudian setelah pintu dibuka, Umar bertanya: “mangapa anak ini menangis…?”

Sang Ibu menjawab: “dia kelaparan…”. Sudah beberapa hari kami tidak makan, karena kami tidak memiliki apa pun untuk dimakan.

Umar: “yang sedang dimasak di dapur itu apa…?”

Ibu: “itu hanya rebusan air, hanya sekadar ingin menghiburnya agar dia bisa tertidur…”.

Umar terkesiap dan mengambil langkah ke luar, untuk segera kembali ke kota, dan mengambil bahan makan di gudang penyimpanan milik negara. Dan tak membiarkan khadim untuk membantunya.

Tak berapa lama, Umar kembali ke gubuk tadi dan menyerahkan bahan makanan yang dibawanya kepada si Ibu. Sang Ibu sangat berterima kasih dan mengucapkan segala puji bagi Allah, semoga Allah memberikan kepadamu kebaikan…”

Kemudian Ibu ini meneruskan kata-katanya: “engkau lebih pantas menjadi khalifah dari pada Umar.

Mendengar ucapan itu air mata Umar mengalir dan merasa sangat bersalah atas kejadian yang dia saksikan sendiri. Dan kemudian memohon pamit untuk keluar dari rumah tersebut, besama khadimnya untuk kembali ke kota….

Kisah Ketiga

Seperti biasanya Umar selalu berkeliling malam hingga dini hari untuk melihat keadaan kotanya. Di sebuah rumah, Umar mendengarkan percapkapan antara anak perempuan dan Ibunya.

Ibu: “karena perahan susu yang kita dapatkan semakin sedikit, maka sebaiknya kita campurkan saja dengan air agar menjadi lebih banyak…”

Si anak menolak dan menjawab: “tidak Ibu…, itu adalah perbuatan dosa dan kita bisa ditangkap bila ada yang mengetahuinya…”.

Ibu: “mana ada yang tahu, di sini hanya ada kita berdua…, tidak ada orang lain. Tidak mungkin amiril mukminin akan mengetahuinya…”

Anak: “iya Ibu, benar, Khalifah Umar bin Khattab tidak akan mengetahuinya apa yang kita lakukan, tapi Allah, Maha Mengetahui…”.

Dari awal Umar mendengarkan dengan seksama pembicaraan antara Ibu dan anak gadisnya tersebut. Umar terkesima dan begitu kagum dengan budi pekerti anak gadis ini.

Ketika tiba di rumah, Umar menyampaikan apa yang dia dengar tadi malam kepada anak laki-lakinya. Dan meminta agar anak laki-lakinya mau dinikahkan dengan anak gadis tersebut.

Dan akhirnya Umar melamar dan menikahkan anak laki-lakinya dengan seorang gadis desa yang jujur dan baik hati tersebut…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *