Qurban dan Kemerdekaan

Kemerdekaan tak mungkin tercapai tanpa adanya pengorbanan. Korban harta dan nyawa demi mewujudkan cita-cita untuk lepas dari belenggu penjajahan.

Kata “qurban” sendiri, memiliki makna yang sangat dalam, yaitu berasal dari akar kata Arab, “qaraba”, yang berarti mendekatkan (diri).

Manifestasinya dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah melaksanakan perintah ber-“qurban” atau menyembelih qurban dengan ikhlas dan tawakal.

Ritual qurban sudah berlangsung semenjak Nabi Adam, yaitu ketika dua orang putranya menyerahkan qurban untuk demi melaksanakan perintah Tuhan, sebagai cara untuk menghilangkan pertentangan antara dua puteranya Habil dan Qabil.

Kemerdekaan dan qurban Qurban yang dilaksanakan hingga saat ini adalah pengejawantahan dari kisah Nabi Ibrahim yang mendapatkan perintah agar menyembelih anak kesayangannya, Ismail.

Sebagai manusia yang diangkat menjadi rasul, Ibrahim tidak berusaha untuk menolak perintah dari Yang Maha Kuasa. Meski berat dan sedih, Ibrahim tetap taat pada perintah tersebut.

Sumbangan Aceh

Di tingkat hidup bernegara, contoh ikhlas pernah dipraktekkan tatkala masyarakat Aceh, secara tulus menyumbangkan dua unit pesawat terbang kepada pemerintahan Republik Indonsesia. Kala itu Indonesia benar-benar belum memiliki apa-apa untuk digunakan.

Dengan harta yang tersisa usai perang merebut kemerdekaan yang berkepanjangan, masyarakat urunan uang dan harta bagi memenuhi kebutuhan negara yang baru merdeka. Sehingga akhirnya dari jumlah dana yang terkumpul bisa untuk membeli dua unit pesawat terbang; RI 001 dan RI 002 yang disumbangkan kepada pemerintah pusat.

Perang Aceh mulai berkobar tatkala belanda memaklumkan perang terhadap Aceh pada tahun 1873. Secara masif Belanda melakukan penekanan  terhadap perlawanan para patriot Aceh, yang terus mempertahankan tanah tumpah darahnya agar tidak jatuh ke tangan penjajah.

Belanda dengan sengaja menerjunkan pasukan elitnya, maréchaussée (marsose), untuk menaklukkan Aceh. Akan tetapi hingga detik-detik memasuki gerbang kemerdekaan,  ketika pendudukkan Aceh beralih kepada Jepang, Aceh belum dapat direbut oleh ketangguhan pasukan penjajah yang terlatih dan memiliki peralatan tempur yang sangat lengkap.

Terdapat dalam catatan sejarah, perang yang berkecamuk di Aceh telah merenggut dua orang Jenderal Balanda yang sangat terkenal, yaitu: Jenderal Johan Harmen Rudofl Köhler, tewas dalam Perang Aceh I, 1873, di Banda Aceh; Jenderal Johannes Ludovicius Jacobus Hubertus Pel, tewas 1876, di Aceh Besar.

Di samping itu masih ada dua jenderal lainnya yang tewas di Aceh karena alasan sakit, yaitu Jenderal Henry Demmeny pada tahun 1886 dan Jan Jacob Karel de Moulin (1896), serta satu jenderal, Karel van der Heijden, yang tertembak dalam pertempuran di Samalanga, 200 kilometer dari Kota Banda Aceh.

Kesediaan berkorban

Qurban yang ikhlas, doa yang ikhlas dan harapan yang ikhlas yang dipadukan dengan tekad yang bulat, dapat menciptakan semangat juang demi untuk mewujudkan negara Indonesia yang merdeka.

Tanpa keikhlasan, tanpa kesediaan berkorban, tanpa cita-cita luhur, perang yang sangat melelahkan ini tidak mungkin bisa diladeni dengan perlawanan yang gigih oleh para pahlawan.

Teuku Umar, Teungku Chiek di Tiro, Raja Sisingamangaraja, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin, Kapitan Pattimura serta para Pahlawan dan Srikandi lainnya, telah mengajarkan bangsa ini, betapa pentingnya kerelaan untuk berkorban.

Padahal tidak ada apa pun yang mereka peroleh dari perjuangan ini untuk dinikmati sendiri. Kecuali tetap tegaknya harga diri dan marwah bangsa ini serta tekad untuk tidak tunduk di bawah kaki penjajah.

Pascakemerdekaan negeri ini pernah mengalami sejarah kelam,  ketika arah kemerdekaan ingin dibelokkan dari cita-cita luhur para pahlawan bangsa. Muncul keinginan untuk menjadikan negeri yang berdaulat ini sebagai negara boneka (satellite state), dengan ideologi yang bertentangan dengan sila-sila yang terkandung di dalam landasan ideologi Pancasila.

Dua kali pemaksaan kehendak itu terjadi,yaitu pada tahun 1948 dan 1965, namun berkat pengorbanan Tentara Nasional Indonesia (TNI), segala bentuk pemberontakan mampu dipadamkan. Meskipun bangsa ini kehilangan tujuh orang putra terbaiknya, yang kemudian tetap dikenang sebagai “Tujuh Pahlawan Revolusi”.

Qurban dan pengorbanan hanya berlaku apabila dilaksanakan dengan hati yang tulus ikhlas dan tawakal kepada Allah, dalam wujud nyata. Bukan sekadar lips services berupa ucapan-ucapan verbal belaka, melainkan melalui hasil kerja nyata yang dilakukan secara jujur, bertanggung jawab, sesuai fungsi masing-masing…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *