Hidup Berkelindan Cinta

Banyak macam definisi cinta yang dapat diberikan oleh seseorang. Sangat tergantung pada suasana hati orang yang merasakannya. Manifestasinya juga bervariasi, mengikuti cita rasa masing-masing individu. Yang jelas tiada kehidupan tanpa cinta. “Hidup tanpa cinta seperti masakan tanpa garam”.

“Andai tak ada cinta, dunia akan membeku”, “Karena cinta duri menjadi mawar; karena cinta pula cuka menjelma menjadi anggur…”, tulis Rumi. Dalam pepatah Jawa: “witing tresno jalaran soko kulino. Orang bule mengatakan: “cinta itu buta”.

Cinta itu dari mata turun ke hati; cinta pada pandangan pertama; “the first time ever I saw your face“, syair lagu lama yang disenandungkan Roberta Flack.

Merelakan kekasih menikah dengan orang lain lantaran cintanya yang dalam, juga sebuah manisfestasi cinta dalam bentuk yang lain.

Cinta pertama
Cinta sering dilambangkan berbentu hati

Anggapannya, mungkin orang lain lebih bisa membahagiakan kekasih yang dicintainya, dari pada dia menikah dan hidup bersama. Banyak sisi cinta yang mengundang kebahagiaan dan tragedi.

Khais dan Laila

Sebuah definisi yang tidak lazim pernah diberikan oleh seorang guru besar filsafat Universitas Indonesia, Toeti Heraty Noerhadie Roosseno. Dia membatasi cinta sebagai “sarana penyelamatan diri dari keterbatasannya untuk mewujudkan khayalannya”.

Di sini menunjukkan adanya keterbatasan yang melekat pada seorang anak manusia di dalam menggapai sebuah hasrat untuk dicinta dan mencintai. Sehingga memerlukan sebuah bantuan tidak kasat mata untuk menyelamatkannya.

Cinta Khais dan Laila digambar sebagai kisah cinta yang tak kesampaian. Khais harus “mati” demi cinta, di tengah padang pasir yang luas dan gersang di sisi kekasihnya yang rela melepaskan segala atribut kemegahan yang dimiliki orang tuanya.

Laila menyusul Khais, mencarinya hingga ke tengah padang pasir yang tak bertepi. Laila yang setia dengan cintanya, menyaksikan sendiri orang yang dicintainya dipanggil ke dunia lain, akhirnya hidup kelimpungan sendiri karena ditinggal mati sang kekasih hati. Laila menjadi “majnun” karena korban cinta.

Sama halnya dengan Romeo dan Juliet yang juga menjadi korban dari sebuah tragedi cinta. Sepasang kekasih ini hingga ajal memisahkan mereka tak dapat dipersatukan lantaran orang tua Juliet tak merestui putrinya hidup menjadi kekasih Romeo yang berasal dari anak masyarakat biasa.

Bermetamorfosis

Hari ini barangkali sebagian cinta telah bermetamorfosis berubah orientasi. Daya tarik cinta bukan tumbuh dari bisikan hati. Melainkan sebuah ukuran lain yang mampu menyilaukan mata. Jadi tak salah bila ada seorang pemabuk cinta meradang sambil bergitar di pinggir jalan “ada uang abang disayang; tak ada uang abang ditendang…”.

Hakikat cinta telah bergeser dari sumbu asalnya. Cinta tidak lagi menjadi “barang” sakral yang bersemayam di relung hati paling dalam, namun telah menjelma menjadi makhluk yang berselimut logika. Bahkan cederung masuk ke dalam wilayah ekonomis-matematis. Cinta berubah telah meninggalkan pola konsentris, menjadi sesuatu yang eksentris.

Ada cinta yang terkadang memiliki batas waktu. Setelah menjalin hidup beberapa waktu lamanya ternyata sepasang kekasih harus berpisah, lantaran cintanya telah terkikis oleh waktu. Cinta kepada permata hati hasil buah cinta mereka sekali pun tak mampu menyatukannya kembali.

Seorang filosof penyair, Jalaluddin Rumi menyebut “cinta adalah lautan tak bertepi, langit hanyalah serpihan buih belaka. Dalam kesempatan lain, Rumi juga mengatakan, bahwa: “kematian terburuk adalah hidup tanpa cinta…”.

Erich Fromm seorang pemikir humanis yang berkutat dengan pengkajian jiwa manusia, secara sengaja mengutip bait-bait kata bijak Rumi untuk dihamparkan pada lembaran awal dari bukunya, “Seni Mencinta”. “Sesungguhnya, tak pernah pencinta mencari tanpa dicari oleh kekasihnya. Apabila kilat cinta telah menyambar hati yang ini, ketahuilah bahwa di hati yang itu pun cinta telah bersemayam penuh gelora…”.

Al-‘adawiyah

Sedikit berbeda dengan ungkapan Rumi, Al-‘adawiyah, seorang perempuan zuhud, yang telah menenggelamkan sepanjang hidupnya dalam lautan cinta, mengerang dengan untaian puisi indah yang dituliskannya: “alangkah sedihnya perasaan dimabuk cinta, hatinya menggelepar menahan dahaga rindu; cinta digenggam walau apapun terjadi…. tatkala terputus, ia menyambung kembali seperti semula; lika-liku cinta, terkadang bertemu surga, menikmati pertemuan indah dan abadi… tapi tak jarang bertemu neraka, dalam pertarungan yang tiada betepi…”.

Tiba-tiba pikiran ini menerawang jauh ke tahun 1978. menyapu wajah Mas Anky, seorang rocker Yogya yang selalu tampil seperti Alice Cooper dan Mas Memed yang banyak senyum, namun piawai memainkan dawai-dawai gitar dengan lentingan yang sangat halus.

Ketika itu, di Gedung Purna Budaya, Kampus UGM Yogyakarta, kami bersama, membawakan sebuah lagu lama yang berkisah tentang cinta, dengan sentuhan komposisi slowrock yang manis: “… walaupun seribu tahun t’lah berlalu, kisah cintaku tak akan beku; andai kisah ibarat sekuntum bunga, ditelan masa tak akan layu...”.

Iya… itulah hidup. Siapa pun dia, selalu tak lepas dari kelindan tali-tali cinta…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *