Harapan Terkubur di Kotak Penalti

Entah kenapa Thailand selalu menjadi momok bagi Indonesia. Timnas usia berapa saja pernah bertembung dengan Thailand dan selalu berakhir dengan kekalahan. Kali ini pun timnas U-18, harus tertunduk lesu meninggalkan lapangan usai gagal memenangkan adu penalti dengan Thailand dengan skor 2-3.

Sepanjang pertandingan garuda belia ini menyajikan sebuah permainan yang terkemas rapi dan padat. Serangan dibangun dengan sebuah pola yang tersistem, berpindah dari kaki ke kaki tanpa ada kesalahan sedikit pun. Memang sejak babak kualifikasi, anak asuh Bung Syafri ini selalu menyajikan permainan menyerang yang mengagumkan.

Bukan kali ini Indra Syafri pernah membawa anak-anak Indonesia membela nama bangsa dengan permainan yang memikat. Cukup banyak pemain hasil sentuhan Syafri, kini direkrut menjadi pemain senior, dan menjadi rebutan bagi klub yang berkompetesi di Liga Nasional. Itu lantaran, rata-rata mereka memiliki bekal kualitas, kemampuan dan stamina yang baik.

Untuk Asia Tenggara, Thailand dapat dikata sangat menjanjikan di bidang sepakbola. Negeri yang hanya memiliki populasi 68,5 juta jiwa ini seperti tidak pernah kehabisan persediaan untuk melahirkan talenta muda dengan kemampuan yang baik.

Pemain timnas Indonesia

Pemain timnas Indonesia U-18, Egy Maulana Vikri dan Rachmat Irianto sedang mengapit Muhammad Iqbal yang gagal mengeksekusi penalti

Anak Thailand yang tampil dalam kejuaraan AFF U-18 kali ini, tidaklah istimewa sangat dibandingkan anak-anak Indonesia. Anak-anak gajah putih besutan pelatih bule, Marc Alavedra Palacios, kalah kelas dibandingkan anak asuh Bung Syafri.

Catenaccio

Statistik ball possession mencatat, Indonesia lebih banyak menguasai bola hingga 60 persen. Bahkan dalam jumlah pemain yang hanya 10 orang karena musibah kartu merah bagi Saddil Ramdani pada menjelang usai paruh waktu pertama.

Memasuki babak kedua, dengan hanya 10 pemain, Indonesia nyaris mengurung Thailand dengan memborbardir pertahanan Thailand hingga sang penjaga gawangnya jautuh bangun menyelamatkan gawangnya dari gempuran Indonesia.

Unggul jumlah pemain tidak membuat Thailand lebih percaya diri. Serangan yang dibangun juga tak begitu parah membahayakan Indenesia. Sebaliknya jika bukan karena ada Kantaphat Manpati, di bawah mistar, bukan tidak mungkin, tidak akan perlu adu penalti yang berujung kekalahan Indonesia.

Melihat serangan yang dibangun Indonesia yang begitu impresif, Thailand terpaksa membuat grendel pertahanan yang berlapis. Pola “catenaccio” yang biasanya menjadi andalan Italia diadob untuk diterapkan di dalam menghadapi Indonesia.

Oleh sebagian pengamat dan pelatih berkaliber dunia, pola dengan sistem “ultra dedensif” ini dianggap sebagai sepakbola negatif yang menjemukan. Kendati demikian, ketika “kepepet” Italia selalu jitu menerapkan sistem ini, hingga beberapa kali sukses berbuah menjadi juara di even-even tingkat global.

Bermain menyerang

Indonesia yang tak menghiraukan bujuk rayu Thailand; tak terlalu peduli dengan pola apa yang mereka mainkan. Sehingga meskipun kalah jumlah pemain, terus mengembangkan pola menyerang dari semua lini. Dalam keadaan baru menerima petaka pun, Indonesia tak berniat menggendurkan serangan-serangannya yang dipersiapkan secara tersistem.

Bagi Indonesia, bermain menyerang sama dengan membangun sistem pertahanan yang baik. Namun dengan permainan cemerlang kiper Thailand, mereka terselamatkan hingga pertandingan babak kedua selesai; tanpa tercipta gol. Bila boleh berandai-andai, “jikalau lah bisa mencuri gol di waktu normal”, maka hasil akhirnya tidak akan menyedihkan seperti ini.

Dalam sepakbola tekanan psikologis, banyak berperan menentukan hasil akhir dalam adu penalti. Dan ini lumrah dialami oleh bintang dunia sekelas Paolo Rossy, Zidan, Messi ataupun Ronaldo.

Bagi tim manapun, latihan adu penalti menjadi silabus wajib untuk untuk diwujudkan dalam tingkat praktis. Kadangkala pola urut-urutan pemain yang diberi mandat dan trik menendang bola dalam mengeksekusi adu penalti pun dibuat simulasi secara berulang-ulang. Bukan hanya sekadar menentukan algojonya.

Skala bioritmis

Tidak sedikit pelatih profesional tingkat dunia yang memanfaatkan teknologi skala bioritmis untuk memantau kondisi lengkap para pemainnya pada hari tersebut. Input yang dibutuhkan untuk membuat skala bioritmik ini hanya tanggal lahir, bulan lahirdan tahun kelahiran.

Dari grafik yang dihasilkan, akan tersajikan kondisi dari masing-masing pemain, lengkap dengan parametarnya. Penilaian secara coputerized ini meliputi variabel fisik, emosional, psikis, intelijen, dan intuisi dari pemain yang dianalisis.

Bukan perkara enteng ketika seorang pemain ditunjuk menjadi eksekutor tendangan penalti. Berbeda dalam permainan normal dalam satu tim, berhadapan satu lawan satu di kotak penalti memang memberikan beban psikis bagi pemain.

Sementara penjaga gawang menerima tekanan yang relatif rendah. Karena probabilitas berbuah gol jauh lebih besar daripada gagalnya sebuah tendangan penalti. Ataupun lebih besar dari tingkat keberhasilan seorang penjaga gawang untuk menyelamatkan gawangnya dari hasil tendangan.

Setelah menundukkan tuan rumah, Myanmar, dalam adu penalti, maka “rasa-rasa”nya, menggagalkan mimpi Thailand merebut juara dalam even ini bukanlah sebuah pekerjaan sulit bagi timnas Malaysia. Karena calon juara sesungguhnya telah terhempas di dalam pertandingan sebelumnya…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *