Hidup Berkelindan Takdir

Takdir adalah ketetapan dari yang Maha Kuasa atas seluruh makhluk ciptaan. Tidak ada satu spesies pun yang bisa bebas dari genggaman-Nya. Bahkan, daun kering yang gugur pun tidak akan terjadi tanpa sepengetahuan-Nya.

Dalam Islam diyakini, bahwa takdir telah dituliskan, jauh sebelum makhluk diciptakan; sebelum hadir sebagai “benda” ciptaannya. Seluruh makhluk termasuk yang diam, bergerak ataupun yang berakal.

Namun meskipun takdir sudah menjadi acuan dari sebuah ketentuan dan pasti, ternyata sang Maha Pencipta memberikan solusi untuk mengubahnya.

Doa adalah sarana untuk mendapatkan dispensasi dari yang di atas, terhadap ketentuan yang berlaku atas manusia. Khusus kepada manusia, tidak untuk makhluk lain.

Takdir Allah

Hanya saja doa yang bisa mengubah takdir

Hanya saja doa yang bisa mengubah takdir“. Itu sebuah janji yang disampaikan melalui utusan-Nya, Muhammad SAW. Di samping itu juga,”tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubah nasib atas diri mereka sendiri” (Alquran 13: 11).

Hubungan doa dan takdir begitu eratnya dan saling memberi stimulus atas kadar iman seseorang. Sementara itu doa itu sendiri masuk dalam kategori sebagai “otaknya ibadat”; “addu’a-u mukhkhul ‘ibadah“. Karena di dalamnya terkandung unsur “syukur” dan penghambaan sekaligus.

Makanya hanya orang-orang takabur (congkak) yang tidak mau berdoa. Padahal doa sebagai pembeda antara pencipta dan yang diciptakan. Yang satu meminta, sedangkan satu lagi mengabulkan, memberi, menunda atau mengganti dengan yang lebih baik.

Tidak ada doa ditolak

Tidak ada doa yang ditolak sama sekali; tidak ada permintaan yang tidak diterima dan dipenuhi. Hanya saja setiap manusia diminta ridho atas segala ketetapan yang diterimanya.

Tidak ada batasan doa yang bisa dipanjatkan kepada Sang Khaliq. Termasuk di dalam menggunakan bahasa apa yang dipilih. Sebagaimana sifat Allah yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu.

Sedetail apa pun permintaan, tidak menjadi soal bagi-Nya. Tidak akan menimbulkan kejengkelan karena permintaan yang berlebihan, permintaan yang banyak, atau pun yang “njelimet”.

Di dalam Islam berdoa merupakan porsi ibadat. Bila meminta mendapat pahala, bila tidak berdoa maka sang khaliq akan murka padanya. Karena orang yang tidak berdoa akan dicap sebagai manusia sombong.

Padahal sombong atau “takabbur”, merupakan selendang Allah, dan hanya Dia yang berhak memakainya. Sedangkan manusia sebagai ciptaan-Ny,a tidak diperkenankan melanggar batas-batas Allah.

Yang berhak sombong adalah yang Maha Pencipta seluruh makhluk. Sedangkan manusia sebagai ciptaan-Nya tidak berhak sama sekali atas wewenang untuk sombong. Kecuali memang ingin melawan terhadap ketentuan-Nya…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *