Hidup Berbatas Waktu

Hidup adalah kondisi sebuah jasad dari setiap makhluk yang masih dibekali nyawa. Batas antara hidup dan mati adalah pada kondisi bernyawa atau tidak bernyawa. Bila nyawa masih bersemayam di dalam jasad, maka makhluk itu masih hidup.

Seseorang yang bagaimana pun parahnya sakit, tidak bisa bergerak, tidak bisa bersuara, dan bahkan tidak bisa membuka mata, bila nyawa belum dipisahkan dari jasadnya maka dia masih hidup.

Jika denyut nadi masih berdetak, meski sebagian besar organ tidak berfungsi, tetap saja dia sebagai manusia hidup. Sistem saraf tetap masih bisa merespon rasa sakit yang sedang dideritanya, meskipun dalam keadaan mati suri.

Sebetulnya hidup itu sendiri misteri. Manusia tidak dapat memilih dilahirkan sebagai apa. Tidak bisa memilih antara menjadi laki atau perempuan. Antara menjadi manusia berkulit hitam atau berkulit putih. Termasuk tidak bisa memilih dilahirkan di mana dan dari orang tua pemeluk agama apa.

Kuburan manusia
Gambar ilustrasi kuburan sebagai tempat singgah sementara sebelum menempuh kehidupan berikutnya. (foto pixabay)

Sama seperti hidup, mati pun diliputi misteri. Siapa pun tidak bisa memilih kapan dan di mana akan mati. Hidup dan mati merupakan ketetapan yang harus dijalani. Tidak bisa memaksa harus tetap hidup atau minta segera mati.

Seseorang yang memaksa diri untuk mati dengan berbagai jalan pintas, dianggap sebagai manusia yang tidak bersedia menerima ketetapan. Melawan ketetapan dari yang Maha Kuasa, untuk membunuh dirinya sendiri adalah pekerjaan dosa yang tak akan diampuni.

Bagaimana pun seseorang menghadapi kematian, dia akan merasakan sakit yang sulit digambarkan.  Beberapa keterangan yang menjelaskan tentang rasa sakit pada detik-detik nyawa manusia dicabut, yaitu:  “Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya ditusuk-tusuk pedang.”….; “Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti.”

“Seperti kait-besi panas yang berulangkali dimasukkan dan ditarik pada kain yang basah.”….; “Seringan-ringan rasa sakit saat kematian sama dengan rasa sakit yang disebabkan oleh trisula besi yang dicabut setelah ditusukkan pada kedua bola mata.”

Terkubur di dasar laut

Firaun adalah raja di raja dari maharaja yang pernah hidup di bumi ini. Karena kekuasaan yang luar biasa besarnya dia menyatakan dirinya sebagai Tuhan. Rakyatnya diperintahkan untuk menyembah dan mengagungkan dirinya tanpa boleh membantahnya.

Namun pada kenyataannya “tuhan” ini juga harus mengalami mati. Kekuasaannya tidak bisa melawan kematian. Tak mampu melawan kekuasaan yang lebih besar yang memisahkan jiwa dari raganya.

Hanya Musa anak angkat Firaun yang sangat disayanginya, yang berani menolak predikat ketuhanan Firaun yang ditabalkannya sendiri. Musa melakukan penolakan secara halus hingga secara tegas. Sampai akhirnya bapak dan anak ini harus saling berperang.

Musa yang kalah dalam jumlah pengikut dan persenjataan, akhirnya harus lari untuk menyelamatkan diri bersama-sama dengan pengikut setia. Namun, Tuhan sesungguhnya yang disembah Musa, menurunkan bantuan untuk menuntun Musa dan pengikutnya menyeberangi laut.

Sementara Firaun dan bala tentaranya terus mengudak dari belakang untuk menangkap Musa. Dan di sinilah Firaun yang merasa dirinya tuhan ternyata tak memiliki daya apa-apa. Dia harus menemui ajalnya, terkubur di dasar laut.

Kekuasaan Tuhan menenggelamkan seluruh rombongan Firaun di dasar laut. Dan mengakhiri hidup Firaun yang merasa digdaya.

Atas nama manusia, siap atau tidak siap, mau atau tidak mau, harus bertemu mati. Tidak bisa berlari dari kenyataan yang ditetapkan atas dirinya.

Kisah kematian Firaun

Ketika nyawa diambil dari jasad, maka tidak ada yang bisa dibanggakan lagi. Keluarga ditinggal, harta tak bisa dibawa, pangkat ditanggalkan, jabatan dan kekuasaaan pun tidak berguna.

Kisah kematian Firaun menjadi contoh betapa pun hebatnya keuasaan yang dimiliki manusia, tetap tidak akan menyertai kematiannya; tak bisa dibawa mati. Kekuasaan, kekayaan, dan istana megah, semuanya tinggal dan berganti tangan.

Yang dulunya dimiliki sekarang dimiliki orang lain. Yang dulunya agresif sekarang hilang dari permukaan bumi. Yang dulunya bisa membuat binatang kecil yang mengganggu tak bisa mendekati, sekarang tubuhnya sedang digerayangi belatung.

Predikat apa saja yang melekat dalam diri, pada akhirnya tidak mampu membantunya. Malaikat pencabut nyawa tidak takut pada senjata, tidak takut pada pangkat, tidak takut pada jabatan seseorang, dan juga tak pernah merasa takut pada kekuasaan manusia.

Sosok penguasa otoritarian seperti Lenin, Stalin, Mao Tse Dong, Fidel Castro, Erich Honecker, dan Kim Il-sung, yang tak pernah takut kepada Tuhan, tidak membuat malaikat pencabut nyawa keder untuk menjemputnya.

Malaikat maut hanya tunduk dan patuh pada ketetapan dan perintah yang diterimanya, bukan kepada manusia yang hidupnya berbatas waktu…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *