Akhir Petualangan Alexis

Tindakan personifikasi diri dengan sesuatu yang sakral, sudah terjadi sejak dulu kala, di negeri mana pun di dunia. Di Indonesia Soekarno pernah mempersonifikasi dirinya layaknya raja dengan gelar “paduka yang mulia”.

Sehingga ketika Bung Karno punya beberapa garwo dari beberapa kali pernikahan, tidak ada seorang pun yang berani mengeritiknya. Maklum karena yang punya istri banyak itu seorang paduka.

Termasuk saat diangkat menjadi presiden seumur hidup melalui ketetapan MPRS Nomor III/MPRS/1963, tidak ada yang membantah. Semua pada bergeming, lantaran takut melawan lambang negara dan Pancasila.

Belakangan sering muncul personifikasi terhadap Pancasila, NKRI dan bhinneka tunggal ika. Ada kelompok yang bisa melakukan apa saja tanpa ada kekhawatir dianggap tidak pancasilais, intoleran dan melanggar HAM. Karena semua unsur tersebut telah melekat dalam dirinya

Alexis tutup
Bentuk nama Alexis yang mudah dibaca dari kejauhan. Menawarkan sejuta rasa

Sebaliknya, ada pihak yang dengan mudah mendapatkan stigma tidak pancasilais, intoleran dan jauh dari sifat bhinneka tunggal ika. Bahkan dianggap melanggar HAM.

Felix Siauw, beberapa kali mengalami pembatalan dan pelarangan terhadap kegiatan pengajiannya. Bukan dia yang bikin. Dia datang karena diundang untuk memberikan ceramah.

Pelarangan ini membangkitkan rasa bangga yang luar biasa, karena bernilai sangat pancasilais, penuh toleran, serta memiliki aspek bhinneka tunggal ika yang sangat tinggi.

Lady Companion

Ketika tersiar pemerintah DKI Jaya, tidak memperpanjang ijin operasional Alexis, sebetulnya banyak para istri di seluruh Indonesia yang ikut bersyukur tempat langganan suaminya itu ditutup. Selama ini para istri umumnya sudah merasa curiga terhadap suaminya namun susah dibuktikan.

Namun kali ini para istri seperti bersepakat untuk mengamini sikap Pemprov DKI. Selama ini mereka, sering gusar akan kelakuan suaminya, yang bisa gatelan kalau sebulan sekali tidak ke Jakarta.

Tanpa memandang agama, hati seorang istri pasti tidak suka bila suami terjebak dalam acara dugem, apalagi kalau pakai lady companion plus-plus segala; Jatuh ke dalam pelukan wanita lain. Walaupun untuk sementara waktu.

Bukan hanya kesetiaan yang tergerus, tetapi juga sebagian take home pay suaminya ikut dinikmati “cewek” lain, karena ada pengkhianatan yang dilakukan suaminya di luar rumah.

Alexis yang berarti “perempuan penolong”, bukanlah rahasia bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Meskipun ada masyarakat yang belum pernah ke sana, tapi ketika melintasi tol Martadinata, mereka secara pas mampu menunjuk gedung yang berwarna gelap di sisi selatannya.

Dari kejauhan nama itu memang mudah dibaca. Tempat ini terkenal dari mulut ke mulut dan sering menjadi perbincangan atau candaan di tengah masyarakat. Mulai dari anak sekolah, supir taksi, dan supir bis kota hingga supir bajaj. Seperti sangat mengerti isi dalam tempat hiburan tersebut.

Orang tak lagi malu-malu menyebut Alexis, bila pengen “lihat-lihat” cewek Uzbek, atau cewek Hongkong atau cewek Thailand yang semok-semok. Padahal mungkin tak satu orang pun di antara mereka mampu merogoh kocek untuk datang ke sana.

Rendezvous

Mantan atasan saya pernah bercanda, mau Uzbek, Hongkong, Thailand atau bule sekalipun, sama saja dengan yang di rumah. Sama-sama vertikal. Kecuali ada yang tipe horizontal; itu baru beda.

Bisa dikata, Alexis menjadi rendezvous bagi segala latar belakang dan lintas profesi bergengsi. Tidak ada kamus pakewuh yang berlaku di sana. Semua saling pengertian, saling menjaga privasi, saling mengenal dan semua berlangsung dalam suasana wajar dan biasa-biasa saja.

Penutupan Alexis menimbulkan gonjang ganjing dan reaksi keras dari banyak pihak. Demikian juga terkait dengan penyetopan reklamasi kawasan pantai Jakarta. Heboh. Yang satu lantaran disyaki tempat ini menjadi ajang foya-foya bagi laki-laki ysng berduit. Sedangkan soal reklamasi seprti layaknya ada negara di dalam negara.

Gara-gara Pemda DKI mengambil langkah ini, malah muncul tudingan bila tindakan tersebut tidak pancasilais, intoleran dan lebih lagi, telah melakukan pelanggaran HAM berat.  Yang mendukung Alexis jangan ditutup; reklamasi tetap dilanjutkan, serta pelarangan Felix Siauw berceramah, menganggap dirinya sebagai pancasialis sejati, sangat tolerean dan selalu menghormati HAM.

Dari sini kadang bisa timbul gagal paham, bagaimana, jika ada orang yang suka tenggen 24 jam nonstop, bisa merasa paling pancasilais, paling NKRI dan paling ngerti tentang “bhinneka tunggal ika…”? Jangan-jangan ini merupakan awal babak baru untuk evolusi teori sosiologi dengan model kekinian.

Gara-gara muncul silang pendirian dalam berbagai hal kontroversial yang terjadi di ibukota, maka yang benar menjadi salah dan yang salah dianggap benar.

Sepertinya parameter salah benar dan buruk baik yang selama ini telah baku dalam sosiologi, kini sudah bergeser ke wilayah dekaden; bukan lagi atas norma-norma dan moral yang berlaku, melainkan sesuatu yang relatif yang bisa ditafsirkan oleh siapa saja. Tergantung kepentingan..*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *