Fenomena Paus Terdampar Di Aceh

Ada berbagai cerita dari masyarakat, menanggapi fenomena alam seperti hadirnya beberapa ekor paus di area dangkal perairan Aceh. Di tahun 2004, beberapa hari setelah itu, maka gempa bumi yang disusul tsunami dahsyat memorakporandakan Aceh.

Hari-hari belakangan ini masyarakat Banda Aceh kembali dikunjungi paus yang datang bergerombol hingga 10 ekor. Masyarakat pun mulai mereka-reka gerangan apa di balik kedatangan paus di pinggir pantai Aceh.

Masyarakat terbelah dalam dua pandangan. Ada yang mengatakan ini sebagai isyarat pertanda ulangan kejadian tahun 2004. Ada pula yang menganggap ini hanya kejadian biasa yang bisa terjadi di mana saja.

Seiring tsunami Aceh, bukan hanya cerita melodramtik yang berkembang. Sebagian masyarakat menghubungkannya dengan preseden yang muncul beberapa hari sebelumnya. Ada yang menghubungkannya dengan keadaan makam keramat yang diusik orang jahil, ada pula dengan keadaan lainnya yang dibumbui dengan sedikit mistis.

Ikan paus terdampar
Sepuluh ekor ikan paus terdampar, di pantai Ujongkareung, Banda Aceh

Jika cerita itu benar, maka harus ditafsirkan sebagai sesuatu yang kebetulan. Kebetulan ada preseden, dan kebetulan gara-gara kejadian yang terjadi sebelumnya menyebabkan alam marah dan menimbulkan bencana.

Alam, manusia, hewan dan bencana adalah makhluk dari sang Maha Pencipta. Masing-masing memiliki peran dalam dimensi yang berbeda. Yang paling dominan adalah peran manusia berakal. Ada yang mau berbaik kepada alam, tidak merusak lingkungan serta tidak berinisiatif “mengundang” bencana.

Banyak kisah antara penyimpangan dan murka yang dikirimkan. Mulai dari penyimpangan vandalism, hingga penyimpangan moralitas dari sisi pandang agama.

Meskipun tsunami dan gempa dahsyat memiliki kalkulasi saintifik sendiri, namun tak boleh dinafikan adanya celah takdir yang berada di dalamnya.

Frekuensi sonar

Saintifik selalu bersandar pada pola-pola kejadian yang berlangsung sebelumnya. Kemudian disimulasikan dalam skala tertentu. Dibuat sebagai simpulan yang dapat dipertangjawabkan kekuatan ilmiahnya.

Gempa dahsyat dan tsunami diperkirakan akan berlangsung dalam siklus 100 tahunan berdasarkan perhitungan kecepatan pergeseran lempeng per tahun. Sehingga ketika dalam periode tersebut tidak diselingi dengan pelepasan energi dari tumbukan antarlempeng, maka prediksi ilmuwan akan menimbulkan gempa besar.

Bila terjadi pada kedalaman tertentu akan memicu terjadinya tsunami. Semua didasarkan oleh kajian para ilmuwan terhadap data empiris yang diinventarisasi dengan sistematis.

Isyarat yang paling bisa dipegang tentang akan terjadi tsunami adalah, bila setelah gempa terjadi, tiba-tiba air laut menyusut hingga terlihat dasarnya.

Hubungannya karena patahan yang menga-nga di dasar samudra menyebabkan air laut terserap melalui rongga tersebut, masuk memenuhi perut bumi. akibat adanya generasi, air laut kembali melimpas dengan volume yang lebih besar.

Tidak harus tinggi, karena ada tsunami yang hanya setinggi setengah meter, dan ada pula yang mencapai puluhan meter. Menurut informasi (USGS) United States Geological Survey celah yang terbentuk akibat patahan ketika gempa di Aceh 2004, sepanjang 150 km dan lebar 100 km. Volume air laut yang tersedot ke dalam perut bumi dan yang dimuntahkan kembali akan menentukan besar kecilnya tsunami yang terjadi.

Paus terdampar sudah sering terjadi di pantai selatan Jawa dan juga pantai barat Aceh yang menghampar di lautan Hindia. Sebagai jalur lalu lintas internasional, Lautan Hindia sering dilewati oleh berbagai kapal dan armada laut yang sebagian memiliki sonar laut dengan frekuensi tinggi.

Sementara jenis ikan besar seperti paus juga memiliki pengaturan navigasi dan sistem komunikasi yang khas. Apabila bertemu dalam satu frekuensi sonar, maka paus akan merasa tidak nyaman, terganggu dan cenderung menghindar.

Banyak penyebab

Perubahan iklim di tengah samudera juga ikut memengaruhi kenyamanan beberapa jenis paus. Pada umumnya ikan-ikan tersebut sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan yang mengganggu habitatnya.

Karena habitat kehidupan hewan ini di laut dalam, maka kawanan ikan besar tersebut memilih hidup di lautan. Di dasar lautan selalu ditemukan adanya subduksi yang aktif terus bergerak dengan kecepatan relatif.

Adanya indikasi gerakan bawah samudera akan sangat mudah tertangkap radar ikan paus. Ini pula yang dapat mengindikasikan bahwa aktivitas lempeng yang bergerak akan menimbulkan patahan yang menyebabkan gempa tektonik.

Pengaruh aktivitas lempeng samudera dan lempeng benua yang saling bertumbukan akan membuat lingkungan hidup paus menjadi terganggu. Sehingga mereka memutuskan untuk berpindah.

Beberapa wilayah Indonesia yang menghadap Samudera Hindia sudah sering dikunjungi oleh ikan paus yang terdampar. Demikian juga beberapa negara yang memiliki pantai yang berhadapan dengan lautan lepas.

Bukan baru kali ini terjadi paus yang terdampar di laut dangkal. Banyak penyebab mengapa paus yang hidup di laut dalam kok bisa-bisanya main ke pinggir pantai. Di antaranya karena alasan sakit, terpisah dari komunitas, kekurangan oksigen serta terganggunya sistem navigasi yang membuat mereka tersasar ke pantai…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *