Bumi Bulat versus Bumi Datar

Tiga ratus tahun sebelum Masehi, Aristoteles sudah menyatakan bentuk bumi yang berupa bola kasti. Kemudia hasil pemikiran Aristoteles terkubur setelah bertahan hanya dalam bilangan tujuh tahun berikutnya.

Sebelumnya, konsep bumi bulat pernah mencuat ketika Pythagoras mengemukaan pendapatnya sama. Meskipun demikian, konsep bumi datar kembali menguasai pola pikir masyarakat ketika memasuki abad helenistik.

Jauh berabad sebelumnya di dalam dimensi kehidupan para rasul dan nabi, seperti Ibrahim a.s. dan Sulaiman a.s, misalnya, telah disiratkan tentang konsep bumi bulat ketika mereka berada di dalam proses perjalanan mencari tuhan. Berlangsung dalam alur berpikir transendental.

Sekitar abad ke-16, Galileo Galilei, dengan berani mengemukakan pendapatnya tentang bentuk bumi yang bulat. Copernicus yang hidup sekitar dua dekade sebelumnya, memberikan ilham dalam proses berpikir bagi Galileo.

Flat Earth Society
Logo dari Flat Earth Society yang menggambarkan bentuk bumi datar

Akhir kisah Galileo setali tiga uang dengan Giordano Bruno. Harus menjalani hukuman yang menyudahi hidupnya karena berbeda pandangan dengan institusi agama di jaman pertengahan itu.

Stephen Hawkin melihat fenomena ini sebagai konflik antara institusi agama dan kebebasan berpikir (sains). Dianggapnya agama tidak siap menerima paparan hasil renungan tersebut secara terbuka. Karena akan mementahkan pendirian masyarakat abad pertengahan yang keukeuh dengan pendapat bumi datar.

Galileo Galilei

Muhammad yang hidup di abad ke 6, –lahir pada tahun 570 masehi–, memberikan ruang berpikir yang lebih luas untuk menentukan pandangan tentang keilmuan. Termasuk menafsirkan bentuk fisik bumi sesuai dengan tuntunan.

Kitab suci yang dibawanya meluruskan seluruh pertentangan dari masalah tersebut, menegaskan, bahwa “… bentuk bumi seperti telur burung unta”.

Galilei Galileo lahir pada lahir 15 Februari 1564, sedangkan Copernicus lahir hampir satu abad sebelumnya. Meskipun pendapatnya tentang bumi sama, namun Copernicus tidak mengalami kejadian tragis seperti yang dialami penerusnya tersebut.

Rumusan Galilei Galileo yang memperkuat pendapat Copernicus, ditentang secara keras. Dan karena itu dia harus berhadapan dengan hukuman isolasi selama 9 tahun hingga menemui ajalnya, pada tahun 1564 pada usia 77 tahun.

Galileo melakukan pencarian melalui proses “philosophia”, sehingga melahirkan sebuah pendapat. Ilham yang diperoleh berdasar pada ketetapan yang diberikan kepadanya karena ketekunan dalam mencari kebenaran.

Secara keimuan penemuan ini bernilai hipotesis yang butuh pengujian. Dan ternyata memang terbukti benar; sesuai dengan yang disimpulkan Muhammad, SAW sebelumnya. Muhammad tidak berkata-kata atas nama pribadi, melainkan atas tuntunan “yang maha mengetahui”.

Flat Earth Society

Korelasinya antara ilham yang didapat Galileo dan wahyu yang diperoleh Muhammad bertemu dalam satu kebenaran saintifik. Bumi tidak datar; bentuk bumi bulat; ibarat telur burung unta, kata sebuah firman.

Bimbingan yang diterima Muhammad tidak hanya sampai di situ. Dari wahyu pula dapat diketahui sistem peredaran tata surya, pusat orbit dan berbagai perilaku kebumian dan benda-benda astro lainnya.

Hingga abad ke-17 pemahaman kosmografi Tiongkok masih menyimpulkan pendapat bumi itu datar. Tapi dikubahi cakrawala yang berbentuk mangkuk. Paradigma tersebut berlaku di dalam budaya prasintifik yang berlaku di daratan China.

Pemikiran bumi datar dapat bertahan dengan didirikan Masyarakat Bumi Datar (Flat Earth Society) yang dipimpin oleh Samuel Rowbotham, pemikir asal Inggris, menjelang akhir abad ke-18.

Mereka bersandar kepada pemahan penafsiran ayat-ayat kitab suci yang diyakininya untuk menyimpulkan jika bumi laksana sebuah cakram. Namun kemudian pemikiran ini mulai meredup sejak kuartal ketiga abad ke-19, atau sekitar tiga dekade sebelum memasuki abad ke-20.

Pertaruhan pendapat bumi datar dan pemahaman bumi berbentuk bulat, sepertinya belum benar-benar berakhir. Baru pada tahun 1992, pimpinan gereja katolik, Paus Yohanes Paulus II mengakui kesalahan atas hukuman yang ditimpakan kepada Galileo Galilei.

Sikap ini berlanjut hingga pada 2008, yaitu, ketika Paus Benediktus XIV mengakui kebenaran penemuan tersebut. Bersamaan dengan itu pula institusi gereja segera merehabilitasi nama dan mengakhiri salah tafsir atas dirinya …*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *