“The Ugly American”

Posted by bungaterpuji - 22/12/17 at 08:12 pm

Saat ini sebagian besar penduduk dunia sedang resah. Ada orang sakit di panggung politik dunia. Siapa lagi kalau bukan Trump. Orang Amerika memang kebanyakan sakit.Beda omongan beda perbuatan. Katanya setara gender. Tapi tak memberikan kesempatan Hillary untuk menang. Women’s lib hanya lipstick.

Ini ciri hipokrisi kaum idiot Amerika. Orang waras pilih Hillary. Amerika wajar dipimpin oleh wanita. Atas dasar demokrasi dan kesetaraan gender. Yankee kalah dengan India, Bangladesh dan Sri Langka. Atau Philipina dan Indonesia. Meski sebentar, Megawati pernah memimpin Indonesia.

Hillary tampil anggun. Dia unggul dalam setiap debat. Tak ada tempat bagi Trump. Applaus hanya dari segelintir kaum republikan. Hillary menguasai panggung. Mantan Ibu negara Amerika ini memikat. Dia pantas menjadi presiden Amerika. Tapi Amerika tak menghendakinya.

Di Amerika perempuan hanya cukup berhalusinasi. Mereka orang lapis kedua. Laki-laki adalah segala-galanya. Unggul dalam debat, tapi “dikalahkan” dengan kejutan.

Donal Trump

Inilah gambaran penilaian masyarakat Amerika terhadap Donald Trump

Trump adalah sosok predator yang menakutkan wanita. Sifat hedonistisnya selalu ingin menaklukkan wanita berkelas. Tentu saja dengan uang. Tapi dia bukan laki-laki romantis. Penikmat berbeda dengan penyayang.

Perempuan hanya ingin uangnya. Tak terkecuali para seleb yang pernah diincarnya. Meski kaya raya, tapi sisi hidupnya abu-abu. Kadang kehitam-hitaman. Tak banyak orang waras Amerika yang suka dia. Selebihnya menganggap dia konyol.

Meim dan video yang bertebaran tentang Trump. Wujud ekspresi warga yang eneg. Mereka enggan menghormati presidennya.

Amerika tak butuh manusia abnormal. Presiden konyol bukan di Amerika tempatnya. Tapi di Antartika. Jauh dari benua Amerika. Kelihatannya dia butuh pendinginan lebih.

Beberapa pakar mendiagnosa dia gila. Mereka bukan sembarang orang. Mereka dari universitas terkenal di Amerika. Di antaranya Dr John Gartner psikiater dari John Hopkins University Medical School.

Yang lebih keras digaungkan oleh James Gilligan. Guru besar New York University berpengalaman meneliti orang-orang berbahaya. Termasuk para pembunuh dan pemerkosa. Konklusinya Trump amat berbahaya.

Ada juga Dr Bandy Lee, seorang pakar psikiatri dari Yale University. Wanita berdarah Asia ini tanpa tendeng aling mengunggah video pendapatnya. Tombol nuklir ada di ujung telunjuknya. Ini membuat gusar.

Bukunya “The Dangerous Case of Donald Trump” menjadi best seller di Amerika. Para pakar sepakat menghimbau dilakukan evaluasi atas kesehatan mental Donald Trump.

Trump mangalami mental illness, mental disorder. Dia psikopat, cenderung paranoia. Dia memiliki perilaku maladaptive. Dia mengalami emotional discomfort.

Dia mengalami penurunan nilai. Satu Trump berjibun gejala kejiwaan. Ada 41 ribu tanda tangan petisi yang menyetujui pendapat pakar. Trump memang berbahaya.

Mereka meminta agar dia diajuhkan dari situ. Menutup akses pada alat-alat perang yang super canggih. Di sana banyak senjata pemusnah. Ini dorongan kecemasan masal.

Di Amerika banyak manusia sampah. Banyak pembunuh dan pemerkosa. Tapi mereka hanya meresahkan Amerika. Bukan dunia. Satu Trump menggoncang dunia. Menimbulkan ketakutan. Menciptakan instabilitas.

Masyarakat dunia jadi rindu Mikhail Gorbachev. Butuh Martin Luther King. Menginginkan sosok Abraham Lincoln. Bukan Trump; bukan pula Netanyahu. Mereka emoh dengan monster-monster abad baru.

Presiden Amerika Serikat yang ke-45 ini ibarat “wrong man on the right place”. Dia “the real ugly American”. Bukan dalam cerita novel. Bukan fantasi. Bukan pula sekadar film. “This is the reality”. Orang-orang Amerika ngedumel: “the bastard has come”.

Masyarakat Amerika memilih kata idiot; pembohong; lubang besar; tidak kompeten; moron; arogan dan menjijikkan untuk Trump. Itu hasil survei dari Quinnipiac University tentang pikiran warga Amerika. Itu kata-kata pertama yang terucap ketika membayangkan Trump. Sebuah deskripsi yang ekspresif tentang presiden mereka.

Trump pernah menyebut Amerika sebagai “crime-splitting location”; lokasi kriminal yang terpecah-belah”. Ironisnya, kondisi itu kini menyatu dalam jiwanya. Conratulation….! Now… I hate you, Mr. President…*.

Leave a Reply