Tsunami Aceh dan Momentum Instrospeksi

Posted by

Irwandi adalah korban tsunami. Tsunami menghentak penjara Kedah yang kokoh. Penjara made in Belanda itu runtuh, luluh lantak oleh terjangan air. Tembok bobol. Irwandi lolos dari penjara. Tapi di luar dia terjebak air bah.

Situasi Banda Aceh memilukan. Mayat ada di mana-mana. Yang masih hidup pasrah menitik air mata. Pilu menatap kadar. Layaknya persiapan hari akhir. Seperti kiamat kecil, layaknya.

Penjara Kedah di tepi Krueng Aceh hanya berjarak 2 km ke bibir pantai. Terjangan tsunami tak mampu dihadang. Beberapa rekan Irwandi syahid di situ. Termasuk dipenjara lainnya di seputar Banda Aceh. Salah satunya, Cut Nur Asyikin. Wanita hebat yang menjadi sumber inspirasi perjuangan para “inong bale”. Pasukan wanita GAM.

Tak banyak bisa berbuat. Sipir kalang kabut. Bingung; takut; cemas. Campur aduk. Belum sadar apa yang terjadi. Tsunami ini adalah yang kedua di Aceh. Pada Januari 1907, pesisir Aceh juga pernah disapu oleh tsunami.

Hill, expert Australia yang bertugas di BRR, tak dapat menghimpun data secara detail. Saksi hidup sedikit dan susah di cari. Dia berkeliling di sekitar daerah dampak tsunami. Hingga ke Pulau Simeulue. Di sini dia kagum akan ingatan sejarah warga Simeulue tentang tragedi tsunami masa lalu.

Hanya Simeulue yang selalu berdendang membuat smong secara turun temurun. Memberitakan kepada anak cucu dengan bersenandung. Aceh daratan lupa ingat. Sejarah terbiarkan begitu saja.

Ketika tsunami datang pada 2004, orang kebingungan. Siklus satu abad kembali terjadi. Saintifiknya begitu. Semua berdasar data empiris. Akumulasi tegangan lempeng lepas dan bumi bergoncang. Memicu tsunami.

Sinyal introspeksi

Tapi di atasnya ada ketentuan Allah. Proses presedennya juga sunnatullah. Tsunami dapat di artikan wujud dari murka. Tapi juga sinyal i’tibar. Tempat berkaca. Bisa juga sebagai cobaan. Menggiring langkah bertadabbur; untuk introspeksi.

Ada dua peringatan yang dilakoni Irwandi kali ini. Milad GAM dan peringatan tragedi tsunami. Dua dua punya makna bagi pribadi gubernur. Dia orang GAM dan dia merasakan langsung kepungan tsunami. Melihat mayat di mana-mana. Trenyuh, tapi harus menyelamatkan diri.

Dia ada di luar penjara. Tapi Aceh tidak aman baginya. Keputusannya segera keluar dari sana. Berbekal bungkus ardath dia lolos dari perbatasan Aceh-Sumut. Mirip-mirip KTP merah-putih. Tujuannya Malaysia. Selanjutnya ke Markas Besar pengasingan di Swedia.

Tanggal 26 Desember menjadi peringatan. Itu jadi momentum renungan. Tak sekedar berdoa. Karena doa bisa kapan saja, di mana saja. Substansinya harus dapat. Peristiwa alam berkait dengan takdir. Tidak bisa bebas dari “ketentuan”.

Takdir mengikuti perilaku. Manusia pembuat kerusakan; fasad. Yang tertinggi adalah berbuat syirik. Maksiat dapat mengundang bencana. Itu pasti. Satu yang berbuat, murka-Nya tak pilih orang.

Sebulan sebelumnya, DR. Danny Hilman Natawidjaya dan kawan-kawan beserta pakar dari Jepang melakukan penelitian celah Mentawai. Diperkirakan, dalam waktu dekat Sumbar akan dilanda gempa besar. Ada lempeng yang terkunci di dasar lautannya. “Mega trust” menumpuk enerji yang belum pernah dilepas; sangat besar. Dia di sekitar Mentawai.

Tapi Tuhan berkehendak lain. Petaka berpindah hampir 1000 km ke arah utara. Sasarannya Aceh. Subduksi Simeulu patah berantakan. Enerji menyembur tiba-tiba. Amplitudo gempa mencapai 9 skala Richter. Ini terdahsyat setelah gempa tsunami Alaska dan Chile.

Tuhan berhak memilih

Sumatera Barat urung diterpa. Pilihan “jatuh” ke Aceh. Sekitar 1800 kilometer pantai Aceh porak poranda. Dari selatan hingga pantai timur. Kejutan ini merenggut jiwa dan harta. Bukan hanya Aceh tapi menyasar hingga Somalia.

Kedukaan tampak di mana-mana. Aceh mengalami nestapa. air mata dari konflik bersenjata belum kering. Tuhan mengirimkan yang lebih dahsyat. Tak pernah terbayang sebelumnya. Mengapa harus Aceh…?

Tuhan berhak memilih di mana saja. Bisa karena benci; bisa sayang; bisa sebagai ujian. Ujian akan memberikan kekuatan. Ujian juga mengangkat derajat; mengangkat harkat. Itu pasti, karena itu janji-Nya. Hanya sabar yang memilah sebesar apa imbal pahala yang diterima.

Tiga belas tahun bukanlah sesuatu yang telah lama. Seakan baru kemarin sore. Tapi sebagian orang mudah lupa. Mudah kembali pada kebiasaan lama. Membelakangi kuasa Allah. Melawan tanpa rasa was-was. Itulah kelebihan manusia. Ya…, manusia sampah.

Petaka tak dijadikan pelajaran berharga. Hanya sesuatu yang wajar. Tak ada pedoman di dalamnya. Kebiasaan buruk tetap berulang. Hanya berganti kostum. Berganti warna, berganti bentuk, berganti cara.

Bencana bukan sekadar kiriman, tapi juga undangan. Manusia membuat kerusakan. Manusia lalai akan kekuasaan-Nya. Manusia suka anggap remeh akan perbuatan dosa. Tak harus jumlah banyak manusia yang begini. Tapi semua akan merasakan imbasnya.

Bak kata penceramah kondang almarhum K. H. Zainuddin M.Z.: “Iyaaa…, yang judi elo; yang mabok elo; yang zina elo. Tapi…, judi, mabok, zina…, maksiat Mas. Kalo ini negeri kebanyakan maksiatnya, Allah marah. Turun gempa bumi. Yang mampus bukan elo doang…, monyong…!”…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *