Soe Hok Gie, Pahlawan Rakyat Jelata

Soe Hok Gie

Dia bukan hanya pahlawan bagi pergerakan mahasiswa, dia juga pahlawan bagi rakyat jelata

Soe Hok Gie mewakili keluhan rakyat. Dia berempati terhadap seorang yang sedang kelaparan. Ada sepotong roti di tangannya. Bekal sarapannya.

Cuma itu miliknya pada hari itu. Tapi dia harus memilih. Ada yang lebih menderita di depan matanya. Dia mengalah dan sepotong roti berpindah tangan.

Baginya tak ada rumus: kuliah, selesai, bekerja dan mendapatkan uang. Soe bukan tipe pecundang yang egois. Mata hatinya tajam bagai belati. Merespon kepekaan sosial; membangun semangat juang. Rakyat wajib diperjuangkan.

Dia seorang idealis, dia juga humanis. Sempat hidup dalam dua era kepresidenan; Soekarno dan Soeharto. Kehidupan runyam di ujung era orde lama, memaksa dia bereaksi. Pilu hatinya menyaksikan sendiri kesulitan yang dialami masyarakat.

Hanya elit yang bisa makan enak. Mirip-mirip hidup di negeri komunis. Kemewahan hanya berpusat di atas. Dia mengeliat. Dia menyindir pemimpin besar revolusi dengan kata-kata, “ketika rakyat lagi susah, sang paduka sedang tertawa bersama istri-istrinya”.

UI memang terkenal dengan mahasiswa kritis. Ini memang kandang macan yang sarat ilmu dan peduli. Meski hidupnya lebih beruntung, tapi ia tidak bisa menutup mata melihat keadaan sekitarnya. Dia memelihara empati yang tumbuh mekar di hatinya.

“Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: ‘dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan’. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan”.

Menolak tirani

Komando Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) terasosiasi dengan kampus Tuan Salem BA in. Gerakan menolak tirani mulai menggelayuti rejim. Itu dimulai dari sini. Pidato paduka lebih kepada lips servis daripada substansi. Bersemangat tapi di belenggu oleh kekuatan lain. Negara didikte asing. Menjadi negara satelit di bawah ideologi yang berbeda. Tak ada jalan melepas diri dari balas jasa dan suaka jaminan tetap berkuasa.

Sifat manusia memang serakah. Soe muak melihat itu. “Menjijikkan” katanya. Kala itu rakyat memang bener-bener sedang menjerit hatinya. Hanya mahasiswa harapan terakhir. Mereka kekuatan yang bebas bersuara. Suara nurani rakyat. Amanat penderitaan rakyat. Sebagai slogan perjuangan: “Ampera”. Soe Hok Gie ada di dalamnya. Mahasiswa berhimpun di sana. “Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan”, tulisnya dalam buku harian.

Kondisi menggiring sosok muda ini masuk ke wilayah kritis. Mahasiswa harus kritis. Bukan cuma duduk manis. Sejarah menyebutnya seorang demonstran. Tapi bukan demi dirinya. Melainkan untuk bangsa. Hatinya sarat Indonesia. Tak ada tempat bagi “rasa” yang lain.

Itu konsekuensi hidup yang dipilih. Keteguhannya dibentuk oleh cadas gunung. Gunung adalah bagian hidupnya yang lain. “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”, kata buku hariannya. Tapi dia tak kan membiarkan dirinya terasing dari perjuangan membela rakyat.

Jati dirinya terbelah dalam paduan utuh seorang filantropis, seniman, pencinta alam dan sekaligus demonstrans yang garang. Tentu saja dibenci penguasa. Sangat dibenci malah. Mundur bukan solusi, maju adalah harga mati. Ada hitung-hitungan antara idealis dan materialistis. Dia memilih “jika layar sudah terkembang; surut kita berpantang”.

Paduka tertunduk, orde beralih dengan tragis. Banyak peristiwa dramatis. Banyak nyawa tercerabut. Kebengisan di bangun dalam balutan ideologis. Paduka pernah berkata “setiap revolusi butuh pengorbanan”. Terlihat gamblang di mana pemimpin berdiri.

Puspita bangsa

Di silang Monas para mahasiswa dan tentara berikrar. Jika tidak sekarang kapan lagi. Darah pun sudah terlanjur tumpah. Ada Pahlawan Revolusi ada pula Pahlawan Ampera. Mereka puspita bangsa. Mengusung amanat penderitaan rakyat.

Keprihatinan hidup memberikan kekuatan untuk bergerak. Mahasiswa sebagai agen perubahan meluruskan sesuatu yang menyimpang. Presiden seumur hidup tidak konstitusional. Itu ide gila. Gila kuasa. Ideologi negara harus diselamatkan.

Soe dan kakaknya Arief Budiman ikut menumbangkan orde lama dan melahirkan orde baru. Tentu saja dengan cara-cara mahasiswa. Dengan cara-cara elegan atas dasar idealisme. Bukan atas dasar bayaran. Apalagi sebagai kuda tunggangan. Mahasiwa pemilik masa depan. “Kemarin dan esok adalah hari ini”, tulis Rendra. Maka hari ini harus dipersiapkan.

Tahun 1983, Arief Budiman masuk dalam deretan 10 Ilmuan Muslim Indonesia terkemuka. Arief adalah muslim yang konsisten; sementara Seo adalah katolik yang taat. Mereka sama-sama menjadi mahasiswa UI. Mereka bukan hanya bersaudara sekandung, akan tetapi juga bersahabat dalam perjuangan. Membela rakyat yang dinistakan oleh rejim yang jahat.

Dia sempat menjalani hidup dalam orde yang pernah dibelanya, meskipun dalam waktu yang sangat singkat. Soe Hok Gie, meninggal pada tahun 1969. Dia bersama saudaranya beserta para mahasiswa pergerakan lainnya, tetap kritis terhadap kiprah pemerintahan orde baru.

Dalam buku hariannya dia mengutip ungkapan seorang pemikir: “… nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua.” Kata ungkapan ini isyarat tentang garis hidupnya. Gunung Semeru menjadi saksi bisu detik-detik terakhir dari tarikan nafasnya.

Tuhan memanggilnya pulang dalam usia sangat muda. Dia pergi dalam usia 27 tahun. Tapi itulah rasa kebahagiannya. “Rasa-rasanya memang begitu…. Bahagialah mereka yang mati muda”. Kata-kata itu refleksi pergolakan batinnya. Gambaran kekesalan terhadap rejim yang tidak amanah…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *