Soeharto, Putra Bangsa Yang Visioner

Tahun 1970, Presiden Republik Indonesia Soeharto membujuk DR. B. J. Habibie pulang ke Indonesia. Ia Putra Pertiwi yang sudah mendunia. Sementara itu engineer lulusan perguruan tinggi dalam negeri juga kompetensinya sangat baik. Sehingga memudahkan bekerja sama dengan Habibie.

Kapabilitas anak negeri tak pernah diragukan oleh Soeharto. Kehadiran Habibie, mendorong optimistis yang lebih besar. Pak Harto menaruh kepercayaan besar pada engineer sendiri. Sampai memerlukan mengangkat seorang menteri untuk urusan ristek.

Terdapat 700 lebih projek bergengsi didirikan di dalam negeri. Dan itu dibangun oleh tangan anak negeri. Mereka didukung pendidikan yang baik. Bekalnya cukup. Skill-nya diakui. Makanya mereka dihargai.

Saya pernah terlibat dalam periode erection hingga running well sebuah projek. Waktu itu pemerintah bekerja sama dengan Jepang membangun pabrik kertas di Aceh. Dengan pola “Turn Key Project“.

Presiden yang visioner

Presiden yang membawa Repulblik Indonesia dihargai di kancah pergaulan dunia

Hampir seluruh lulusan perguruan tinggi dalam negeri, ikut di dalamnya. Kebanyakan dari ITB. Kapabilitasnya sangat mumpuni. Tidak ada yang menganggap remeh engineer dan tenagakerja kita. Tidak ada stigma tidak mampu yang ditabalkan kepada mereka.

Proses transfer knowledge berlangsung timbal balik. Saling berbagi pengetahuan secara terhormat. Engineer Indonesia tidak dipandang sebelah mata.

Under estimate

Sekarang kualitas engineer dalam negeri seperti diragukan. Padahal dulunya kompeten menangani teknologi Jepang yang jauh lebih sophisticated.

Apakah pendidikan di perguruan tingg dalam negeri sedang mengalami stagnasi sehingga kondisi “under estimate” terjadi…? Seberapa canggihkan teknologi yang kini didatangkan…?

Pak Harto tidak pintar-pintar banget. Dia hanya lulusan sekolah kampung. SD hingga setingkat SMA diselesaikannya di desa Kemusuk Godean. Sekitar 8 kilimoter barat Kota Yogyakarta.

Tapi Pak Harto mengagumi cerdik pandai, mengahargai orang pintar, menghargai para pakar. Dari mereka Pak Harto bisa belajar banyak. Mereka mentor terbaik bagi Pak Harto.

Dalam enam kali Pelita (Pembangunan Lima Tahun), Pak Harto lebih banyak merekrut teknokrat dan akademisi. yang memiliki kepakaran tertentu sebagai menteri. Kebanyakan bergelar doktor dan profesor.

Untuk membangun jalan tol lingkar dalam Jakarta, Pak Harto menggunakan konsep teknologi sendiri. Ketika di luar, teknologi “sosro-bahu” belum dicoba, Pak Harto dengan penuh keyakinan menggunakannya di dalam negeri.

Begitu juga teknologi “cakar-ayam” yang diterapkan untuk membangun jalan tol Jakarta-Cengkareng. Hasilnya mengagumkan. Teknologi cakar ayam merupakan temuan Prof. Dr. Ir. Sedijatmo. Sedangkan sistem sosro bahu adalah hasil karya Tjokorda Raka Sukowati.

Visi yang baik

Pak Harto memiliki visi yang baik. Proyeksi pertumbuhan penduduk, ekonomi dan jumlah kendaraan dipastikan akan terjadi. Maka dibangunlah jalan tol Jagorawi. Demikian juga tol Bekasi.

Di luar Jawa, Pak Harto membuka jalan lintas timur. Banyak peran prajurit ABRI di sana. Termasuk ketika membuka isolasi daerah di Kalimantan dan Papua. Konsep ABRI masuk desa adalah salah satu cara membangun jalan-jalan pedesaan.

Untuk mendukung pengembangan ilmu kedokteran Pak Harto membangun Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Demikian juga RS Darmais untuk penyakit kanker. Orang-orang yang membencinya diyakini pernah berobat di sini.

Sungguh tak terbayangkan, bagaimana nasib ibukota dan wiulayah Indonesia lainnya, jika dulu Pemerintahan Soeharto tidak memulai pembangunan di seluruh sektor?

Mungkinkah hari ini bisa tersedia semuanya…? Hanya dalam legenda Loro Jonggrang, pebangunan bisa diselesaikan dalam satu malam.

Banyak jasa Pak Harto yang kita sembunyikan. Itu lantaran ada kebencian. Akhirnya semuanya terkubur dalam hati yang hitam…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *