Bakpao Yogya dan Salak Sulaiman

Menjajakan bakpao

Meskipun sebagai pedagang bakpao, namun optimistis dan semangat juangnya sangat tinggi

Ini pertemuan tidak sengaja. Pagi itu saya mengantar istri belanja di pasar.Sambil menunggu saya duduk bersila di atas talut penyangga setinggi 1 meter.

Tak lama muncul anak muda penjaja bakpao. Dia baru empat hari di Yogya. Dia asli Lumajang, Jawa Timur.

Dari ceritanya, selama di kota asalnya, sudah banyak profesi yang dilakoninya. Juragan salak, jadi supir, hingga jualan kecil-kecilan.

Kelihatannya dia sangat aktif. Tidak mau diam berpangku tangan. Seperti banyak anak muda seusianya.

Tiba-tiba dia bertanya tentang salak. “Pak, kalau salak Sulaiman di mana itu Pak…”? Beberapa detik saya terdiam. “Ndak tau saya Mas”, jawab saya.

Menurut pengamatannya salak Sulaiman asal Yogya ukurannya lebih besar daripada salak Lumajang. Harganya jualnya juga lebih mahal. Kesan saya dia menguasai seluk beluk dunia persalakan.

Tapi tentang salak Sulaiman saya masih tetap bingung. Apa gerangan maksudnya…? Tanpa sengaja saya jadi ingat jika di Yogya selama ini dikenal salak Sleman (Turi). Bukan salak Sulaiman. Saya jelaskan ke dia. Oh, ternyata Sulaiman maksudnya Sleman.

Dari cerita-ceritanya, memberi kesan dia optimistis. Dia punya visi yang baik tentang dunia dagang. Setidak-tidaknya untuk skala dagangan yang dia geluti.

Tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Saya sedikit terkesima dia menggunakan smart phone merek berkelas. Kisaran harga di atas 7 juta-an. Tapi dalam pandangan,saya itu sesuatu yang pantas. Dia mendapatkan itu semua dari hasil keringatnya sendiri.

Satu kalimat yang dapat saya tangkap darinya adalah: “orang berhasil itu dari pemikirannya. Kalau pemikirannya belum dewasa sulit berhasil”. Kalimat itu memang sungguh keluar dari mulutnya.

Ternyata dari pedagang bakpao kita pun bisa mendapatkan pelajaran. Padahal usianya masih sangat muda…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *