Peralihan Kepemimpinan Malaysia

Pemimpin dan tokoh pendiri Asean

Pak Harto dari Indonesia dan Mahathir Muhammad dari Malaysia tokoh yang berjasa membentuk persatuan negara-negara Asia Tenggara

Kemenangan Mahatir bagai mimpi di siang bnolongh. Karena persaingan dalam PRU14 (Pilihan Raya Umum 14) Malaysia, ibarat David melawan Goliat.

Tapi nama Mahathir dan Anwar Ibrahim adalah jaminan. Keduanya adalah tokoh bangsa Melayu yang pernah berbuat bagi negerinya.

Koalisi mungil Pakatan Rakyat (PR) tidak ada apa-apanya dibandingkan UMNO dengan poros Barisan Nasionalnya. Tapi di dalam hati rakyat terselip optimistis karena didukung fakta sejarah.

Mahathir dan Anwar sama-sama pernah menjadi elite UMNO. Tapi sudah dua periode pergantian perdana menteri (pemimpin UMNO) keduanya “digusur”. Menyakitkan karena mereka pernah membesarkan UMNO. Mereka juga pernah menjadi pemimpin Malaysia.

Dalam ketentuan undang-undang Malaysia, tidak ada batasan untuk menjadi PM. Sehingga Najib bisa maju kembali dalam pilihan raya. Sepanjang bisa menguasai suara parlemen.

“Nina bobo”

Rusia lebih unik lagi. Setelah dua kali sebagai presiden, Putin tidak bisa ikut pemilu lagi. Karena undang-undang jabatan presiden dibatasi dua kali berturut-turut. Putin meminta perdana menterinya untuk maju sebagai presiden Rusia. Medvedev terpilih. Dan Putin menjadi perdana menteri.

Selang 4 tahun kemudian Putin berpeluang ikut kembali dan menang. Diperkenankan karena ada waktu jeda selama satu periode pemilihan. Usia yang telah mencapai 92 tahun tak menyurutkan semangat rakyat Malaysia untuk memilihnya kembali.

Bagi rakyat Malaysia, Mahathir telah memberikan contoh yang baik. Dia mewujudkan semua mimpi Malaysia. Merealisasikan semua janji tanpa cacat. Dan kali ini dia membuat orang menjadi mengerti. Mana yang sungguh-sungguh dan mana yang berpura-pura.

Kelemahan dan keterpurukan di segala bidang membuat rakyat Malaysia melek. Mereka bangkit dari tidur. Nyanyian “nina bobo” Najib benar-benar ingin diakhirkan segera. Selogan kampanye Najib yang didukung media propemerintah tak berpengaruh meyakinkan rakyat.

Najib wajib diganti. Hasilnya…, iya, memang akhirnya Barisan Nasional, pendukung Najib kalah telak. Bukan oleh siapa-siapa. Tapi oleh seorang gaek yang bertahun-tahun telah diperlakukan semena-mena.

Ketika dulu menjadi perdana menteri, Mahathir Muhammad telah membuat mimpi bangsa Melayu menjadi kenyataan. Visi 2020 mampu dicapai jauh sebelum masanya jatuh tempo. Semua program sektoral yang dicanangkan dapat dicapai 10 tahun sebelum datang tahun tersebut.

Tahun 2010 Malaysia sudah menjadi negara maju di kawasan Asia. Sehingga membuat marwah dan martabat bangsanya ikut terangkat. Bisa menepis kesan bahwa ras Melayu itu kampungan. Ketergantungan pendidikan kepada Indonesia juga sudah berakhir

Di tangan Mahathir, Malaysia mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan. Dan Mahathir dielu-elukan sebagai Bapak Pemodernan Malaysia. Mahathir juga berhasil menempatkan negaranya menjadi tujuan wisata yang dominan di Asia Tenggara. Menggeser dominasi Thailand, Indonesia dan Filipina.

Mahathir pernah menjadi “murid” Soeharto, Najib adalah murid Mahathir. Dan seharusnya murid tak boleh kuwalat kepada guru. Dan Najib harus mengakui, bahwa, ternyata sang guru lebih dicintai di Malaysia…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *