Pencitraan

Penyanyi Korea Selatan

Lee Laa Hee, penyanyi country Korea Selatan, selalu memukau penonton dalam setiap penampilannya

Kepalsuan adalah kebaikan semu. Masyarakat adalah himpunan individu. Selalu saling terkait secara psikologis. Terutama di saat menekuni aktivitasnya masing-masing.

Tidak ada yang independen dan berdiri sendiri. Keterkaitan terbentuk ketika terjadi interaksi. Dalam komunitas, organisasi, lingkungan keluarga primer dan sekunder.

Serta ketika berada dalam situasi sementara. Seperti di dalam satu pesawat, kapal, bioskop, KA dan sebagainya.

Kontak komunikasi temporer ini akan memberikan kesan. Masing-masing individu menjadi stimulus terhadap lawan bicaranya. Di sini akan tercipta sebuah pemahaman dari seseorang terhadap seseorang lainnya.

Citra diri, meskipun tidak utuh, akan tertangkap radar lawan bicara di saat-saat itu. Mulai dari penampilan, cara berpakaian, tutur kata, sikap dan lain sebagainya. Sehingga menjadi satu simpulan sesuai dengan apa yang tampak dari sinyal-sinyal tadi.

Apakah itu, kebohongan (ada yang dibuat-buat) ataupun pembawaan sesungguhnya…? Meskipun tidak seluruhnya mutlak benar, akan tetapi di sana ada sesuatu yang mendekati dari apa yang dirasakan. Mungkin ada yang benar. Tapi mungkin juga menipu.

Citra diri

Dalam dunia politik, apalagi di saat-saat akan mengikuti kontestasi tertentu, selalu ada upaya untuk mempercantik citra diri. Berlaku pula, bagi yang mengikuti tahap-tahap untuk menjadi karyawan pada suatu perusahaan.

Ini merupakan naluri manusia untuk dianggap baik, smart dan memenuhi syarat untuk menjadi sesuatu. Dorongan untuk memperoleh kesan positif terhadap dirinya.

Bagi lingkungan yang lebih sering berinteraksi secara intensif, citra yang dibuat-buat memiliki dampak secara psikologis. Terutama bagi anak-anaknya sendiri. Timbul tanda tanya tentang sosok dan kepribadian orang tuanya yang sesungguhnya.

Tanpa disadari anak seakan-akan “dipaksa” mengakui kemasan baru dari orang tuanya. Padahal anak memiliki nilai sendiri terhadap orang tua mereka.

Sesungguhnya secara nyata, anak akan tetap menilai orang tuanya adalah yang terbaik. Tapi itu apa adanya; apa yang “asli” melekat dalam diri orang tua. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bukan yang dipoles-poles dan bukan pula yang menipu.

Seorang perempuan ditampilkan dalam video sedang bernyanyi dengan suara dan nada yang sangat sempurna. Mengundang simpati dan decak kagum dari masyarakat secara luas.

Namun di sisi lain akan timbul sangkalan dalam hati anak. Perasaan mereka, ibu mereka tidak pernah bisa bernyanyi sebagus itu selama ini. Pas-pasan atau bahkan ada yang falas. Cemplang nada. Tapi ada yang memaksakan si Ibu harus ber”action” nyanyi.

Lee Laa Hee

Videonya diberi judul secara tendensius. Padahal penyanyi sesungguhnya adalah Lee Laa Hee, seorang penyanyi country Korea Selatan yang banyak memiliki penggemar.

Suara emas Laa Hee, dalam video yang dinduh sejak tahun 2003 itu, mengalahkan nyanyian George Baker Selections, dalam membawakan “I’ve been away too long”.

Seorang Ayah dipoles berpenampilan sabar, tutur kata teratur, dermawan. Ini jika bukan sifat aslinya, juga akan menimbulkan tanda tanya bagi anak-anaknya. Karena ada penilaian tersendiri dari anak selama mereka hidup bersama.

Yang mereka tahu ayah mereka itu, pelit dan selalu gemurungsung; tidak sabaran. Anak menerima orang tuanya apa adanya. Itulah kebaikan yang mereka tabalkan kepada orang tua mereka.

Oleh media orang tua mereka digambarkan sebagai pribadi yang tegas. Padahal, di mata anak-anaknya orang tua mereka selalu menutupi kekurangannya dengan cara marah-marah. Anak diajarkan dengan kepalsuan-kepalsuan.

Nurani tak bisa berbohong. Ianya akan menjadi pembeda antara yang baik dan tidak baik. Dari nurani akan muncul penolakan terhadap sesuatu yang berlawanan dengan kata hati. Kecuali memang watak berbohong sudah menjadi darah daging yang tidak bisa diapa-apakan lagi…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *