Anies Di antara Pujian dan Kebencian

Anies Baswedan

Anies dalam sebuah forum internasional di Istambul, Turki

Cerita tentang Anies terus bergulir. Seperti tak habis-habisnya. Dari sisi orang membenci ataupun yang bersimpati padanya.

Banyak cara yang dilakukan untuk melumat Anies. Mulai mempermasalahkan latar belakang etnis, hingga kadang sampai menyerempet masalah keluarga.

Yang bersimpati jauh lebih rasional. Komentar mereka apa adanya. Yang dinilai saat ini adalah tatalaksana pemerintahan DKI. Banyak terobosan ringan namun memiliki dampak sangat besar.

Pekerjaan Anies menyentuh akar permasalahan, wujud, dan dilakukan tanpa gembar gembor. Sejak menjadi mahasiswa Anies memang dikenal sebagai pekerja keras.

Yang membencinya, selalu mengintai sisi kekurangan Anies. Atau mencari kesalahan yang mungkin terjadi di tangan Anies. Kesalahan sekecil apapun sengaja dibesarkan. Tujuannya mematikan karakter Anies. Ini jadi sia-sia karena yang memberikan simpati pada hasil kerja Anies dalam memimpin ibukota republik ini malah bertambah.

Saking tingginya hasrat menghempaskan Anies, semua cara dilakukan. Kelompok media bergajul secara keroyokan selalu menyajikan berita miring. Malah ada pula “campur tangan” komisi Ombusman untuk cawe-cawe. Sanksi badan ini tidak tanggung-tanggung, membuat pihak anti-Anies berbesar hati.

Kultur integratif

Tapi itulah hidup. Jhon Byron menggambarkan “masyarakat terdiri dari yang membenci dan yang dibenci”. Nabi Musa dibenci oleh Fira’un; Nabi Isa dibenci oleh Herodus; Nabi Muhammad dibenci oleh Abu Jahal. Padahal ketiganya oleh Allah diberi gelar Rasul “ulul-azmi”. Konon lagi Anies, sedangkan tingkat khulafa-urrasyidin saja banyak yang benci.

Anies memiliki kualitas lebih. Ibu dan Ayahnya keduanya akademisi. Bahkan ibunya seorang guru besar pada Universitas Negeri Yogyakarta. Sedangkan jalur pendidikan Anies juga sangat mentereng.

Kakeknya pahlawan nasional. Perannya bagi kemerdekaan RI cukup besar. Dia pernah berjibaku menyelamatkan komunike dari beberapa negara Arab untuk pengakuan dan dukungan terhadap kemerdekaan RI. Sesuatu yang ditentang kolonial Belanda. Dan pekerjaan itu nyawa menjadi taruhan.

Karena jasanya, Bung Karno memilihnya menjadi Menteri Penerangan. Dia juga jurnalis kawakan. Dan banyak berperan untuk membangun peran dan dunia jurnalistik di Indonesia

Anies belum pernah berkelindan dalam politik. Dunianya adalah pendidikan. Tapi orang politik tak mudah mempermainkan dia. Dia matang “pu-un”, kata orang Betawi.

Tahun 2008 Anies masuk dalam 100 Public Intelectuals, pilihan majalah Foreign Policy, Washington, Amerika Serikat. Demikian pula pada tahun 2009, meraih predikat sebagai Young Global Leader dari World Economic Forum. Kemudian pada tahun 2010, Anies juga dipilih masuk dalam kategori Worlds 20 Future Figure oleh majalah Foresight, Tokyo, Jepang.

Karakter dasarnya dibentuk dari pendidkan di lingkungan keluarga yang baik. Ini pula lah yang membentuk kepribadiannya di kemudian hari.

Anies hidup dalam kultur integratif. Perpaduan antara intelektualitas akademisi, kesalehan Arab, serta keluhuran budaya Jawa. Dan ini lah yang membuat kepribadiannya kuat, sabar dan tetap tenang dalam menghadapi setiap masalah….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *