Bekerja Dengan Atasan Pintar

atasan pintar

Meskipun humor tapi dapat menggambarkan perbedaan hasil antara bekerja dengan atasan pintar ataupun bodoh. (http://4.bp.blogspot.com/)

Pintar bodoh itu bukan keturunan. Bukan bawaan. Tapi pilihan yang dapat diputuskan oleh diri sendiri. Tuhan hanya memberikan fasilitas berupa nalar.

Dalam keadaan normal, seluruh organ akan bekerja dengan baik dan dinamis. Menerima fenomena, menafsirkan hingga mahami sesuatu yang ditangkap oleh pancaindera.

Hanya kecenderungan dan talenta yang mendorong kepintaran mana yang diasah. Otak sisi mana yang lebih di”aktif”-kan dalam menangkap setiap fenomena yang ada.

Pintar tidak semata-mata dilahirkan. Tapi harus diciptakan. “Belajar ketika muda seperti mengukir di atas batu; belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air”.

Tentang belajar, Nabi Muhammad mengisyaratkan: “minal mahdi ilal lahdi”. Sejak dari ayunan sampai liang lahat. Tidak ada masa penghentian belajar. Dalam beberapa statement nabi bahkan menetapkan ini sebagai kewajiban; “faridhah”.

Bekerja dengan orang-orang pintar adalah sesuatu yang menggembirakan. Selama 22 tahun bekerja di sebuah perusahaan BUMN, saya selalu mendapatkan atasan yang pintar. Selalu terjadi proses “transfer knowledge” yang dapat meningkatkan kapasitas. Ada pengajaran, tapi tidak menggurui. Semua berlangsung alamiah.

Proses belajar itu bisa dengan cara membaca, melihat, meniru, mendengar atau mengamati. Setiap manusia aktif akan mengalami peningkatan pemahaman dan kepintaran dari waktu ke waktu. Orang-orang pintar bisa menjadi objek yang dapat memintarkan. Dari mereka setiap kita, bisa melihat, mendengarkan hingga meniru.

Asal bapak senang

Sebaliknya akan sangat kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja yang dipimpin oleh orang bodoh. Karena proses perpindahan pengetahuan akan mengalami stagnasi. Timbul hambatan dalam proses berpikir dan upaya peningkatan kapasitas.

Bos yang tidak memiliki kemampuan akan selalu menganggap bawahan yang pintar tidak berguna. Makanya tidak akan bisa bekerja sama. Tidak jarang ada yang diberhentikan di tengah jalan. Bawahan yang bodoh akan terlihat pintar hanya dengan menjadi “yes man”. Dan bahkan ada yang cenderung berbuat lebih parah dari itu.

Karyawan pintar yang ingin dihargai oleh atasan yang bodoh, harus siap-siap rela melakukan hal yang sama. Yaitu membuat “asal bapak senang”. Jika tidak, maka tidak akan laku.

Gelar tidak menjamin seseorang akan bertambah pintar. Twitan Prof. Rocky Gerung cukup jelas menggambarkan ini. “ijazah dan gelar hanya sebagai tanda seseorang pernah kuliah; tapi bukan pertanda seseorang pernah berpikir…”.

Bodoh itu bukan kebetulan. Dia berada di tengah-tengah dari sebuah proses. Bisa diubah, bila cepat disadari. Proses selanjutnya, adalah sebentuk upaya untuk terus memperbaiki diri, belajar mengerti, dan sudi bertanya. Proses ini baru akan berakhir hingga mendekati liang lahat.

Sebelum hidup mencapai akhir, manusia wajib menjadi pintar. Karena di alam sana tidak ada tempat yang baik bagi manusia bodoh. Sasaran akhir yang ingin dicapai bukan sekadar menjadi pintar. Tapi bisa memenuhi kapasitas yang dimiliki masing-masing manusia.

Namun ada batas tertentu yang dimiliki manusia untuk mencapai paripurna. “Tidak akan diberikan kepadamu ilmu, kecuali hanya sedikit” (Alquran Surah Al-Isra’:85)…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *