Lapar dan Dahaga

Shaum Ramadhan

Sebuah hadits yang mengingatkan agar puasa yang dilaksanakan tidak sia-sia karena tidak menghindari diri dari sesuatu yang mngurangi nilai puasa

Puasa bagi orang tertentu hanya menahan diri dari makan makanan tertentu. Atau tidak makan dalam waktu tertentu. Namun masih boleh minum untuk mencegah dahaga.

Sedanqkan shaum Ramadhan sifatnya wajib. Dikerjakan sesuai sunnah akan dapat pahala. Jika tidak dikerjakan akan diganjar dosa.

Kewajiban ini bagi yang diberi kesanggupan. Sudah baligh dan berbadan sehat. Shaum tidak wajib bagi orang yang sudah sangat sepuh, orang sakit, anak kecil, orang gila, dan wanita sedang haidh.

Bagi wanita yang sedang menyusui, bila tidak membahayakan bayinya, dianjurkan tetap menjalankan shaum.

Dalam menjalankan shaum Ramadhan, banyak pernak pernik bonus yang disediakan Allah. Makan sahur diberikan pahala sunnah, baca alquran dapat pahala, bersedekah dapat pahala, memberi makan orang berpuasa, dan mengerjakan shalat tarawih dapat pahala.

Bahkan menahan pandangan dan menghindarkan diri dari ucapan kotor, juga ada pahalanya. Termasuk bila bersegera berbuka bila waktunya tiba.

Ramadhan merupakan bulan yang istimewa. Ber-umrah di bulan Ramadhan keutamaannya seperti berhaji bersama Rasulullah.

Di dalam bulan ini terdapat satu malam yang “lebih baik daripada 1000 bulan. Malam istimewa ini terjadi di antara 10 malam terakhir dari Ramadhan.

Ibadah apapun yang dilakukan bertepatan dengan lailatur qadar, nilainya sama seperti beribadah selama 83 tahun. Hanya Allah yang mengetahui kapan turunnya malam qadar ini.

Shaum tidak akan batal lantaran muntah yang tidak disengaja, makan dan minum tanpa sengaja. Karena mengoles minyak angin. Atau karena disuntik obat atau infus yang bukan berupa bahan yang mengenyangkan dan bisa menghapus rasa haus.

Ujian terbesar dalam shaum adalah menahan lapar dan dahaga. Namun tidak sedikit manusia yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa haus dan lapar itu semata.

Tujuan lainnya dari shaum adalah untuk membiasakan mengendalikan diri (hawa nafsu) dan mengasah empati terhadap orang-orang yang tidak beruntung.

Berbuat segala kebaikan selama Ramadhan, pahalanya akan dilipatgandakan. Berbuat kejahatan, dosanya juga akan dilipatgandakan.

Shaum Ramadhan hanya diwajibkan kepada orang beriman (alladzina amanu). Shaum Ramadhan dilukiskan sebagai “jihad kubra”. Jihad yang paling utama. Dalam jihad ini manusia iman, berjuang untuk mengendalikan segala hawa nafsunya.

Melatih diri untuk tidak melakukan kesalahan, melatih diri untuk tidak mengikuti hawa nafsu jahat. Melatih diri untuk rendah hati (tawaddhu’). Melatih diri untuk selalu mendekatkan diri kepada sang Pencipta (taqarrub).

“Barang siapa yang menunaikan shaum Ramadhan karena keimanan dan berharap pahala, maka dosa-dosanya yang terdahulu akan Di-ampuni”. (Alhadits).

Bulan Ramadhan merupakan kesempatan baik untuk memperbaiki diri. Mengubah sifat buruk menjadi baik. Mengubah sifat malas menjadi rajin. Mengubah sifat pelit menjadi dermawan. Mengubah sifat kufur menjadi iman. Mengubah sifat marah menjadi sabar.

Usaha ini bukannya tanpa “hadiah”. Ada imbalan berupa penghapusan dosa-dosa, membawa kembali manusia menjadi fitrah (seperti baru dilahirkan). Dan mengangkat derajat menjadi manusia taqwa.

Shaum hanya wajib bagi yang beriman. Di luar kriteria itu tidak ada kewajiban untuk menjalankannya. Nilai dosa, fitrah ataupun taqwa, tidak dapat dimengerti oleh manusia yang tidak mengimaninya. Karena sifatnya hanya bisa dihayati dengan hati. Dengan keimanan yang bersemayam di dalam qalbu.

Rasulullah mengingatkan: “Alangkah sangat rugi seorang laki-laki (hamba) yang melewatkan Ramadhan, sedangkan dosa-dosanya blm Diampuni. (Alhadits)…*.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *