Web Culture dan Phubbing

Posted by
Smombie smartphone zombie
Smombie yang telah menulari masyarakat dunia. Seluruh perhatian mereka sepenuhnya ke perangkat gadget yang ada di tangannya

Dalam dua dekade ini dunia telah ditundukkan oleh teknologi gadget. Termasuk di dalamnya manusianya.

Smartphone telah menjadi bagian dari diri. Layaknya pancaindera. Bagian dari organ penting manusia.

Tanpa benda ini manusia akan gamang, akan kebingungan. Seperti ada yang hilang; ada yang belum lengkap. Bukan sekadar kebutuhan hidup, melainkan sudah menjadi hidup itu sendiri.

Jarak dunia menjadi pendek. Universalitas terjangkau dalam hitungan detik. Dunia berubah menjadi rumah kaca. Jangkauan semakin luas.

Tapi ruang sosial menjadi sempit. Gadget bukan hanya membuka dunia. Tapi juga menjelma menjadi alat penyekat terhadap individu yang ada di sekitarnya. Menyita sosialitas lingkungan.

Orang Jepang sejak lama sudah biasa hidup begini. Jauh sebelum teknologi informasi berkembang seperti saat ini. Di ruang publik orang Jepang benar-benar terkurung. Masing-masing asyik dengan bacaan sendiri. Mainannya sendiri. Tak perlu menoleh kiri-kanan.

Tom Chatfield

Perkembangan fantastis teknologi ditandai dengan cepatnya pengantian generasi piranti tersebut. Mulai komputer yang segede lemari, kini bisa hanya dalam satu genggaman.

Fitur-fitur gadget memang menawarkan kemanjaan dan kemudahan yang luar bisa. Hampir lengkap untuk memenuhi segala keperluan. Segala urusan dapat terwujud realtime mulai hitungan waktu kurang dari satu detik.

Gadget ibarat “sang kekasih” yang bisa berpengaruh pada dua sisi kehidupan. Mengendalikan atau ditaklukkan. Tanpa pengendalian diri yang baik, manusia akan berlutut dihadapan alat ini. Dipaksa menemaninya dalam waktu berjam-jam tanpa henti.

Hilang diganti, rusak diperbaiki, tua beli baru. Tak membiarkan dia mati sekejab mata pun. Anak, istri atau suami boleh terlantar, tapi “sang kekasih” tak boleh dibiarkan.

Di Jepang, situasi ini dilihat oleh Tom Chatfield –seorang kolumnis BBC–, sebagai kebiasaan hidup “suku dua jari” atau oyayubizoku atau “klan ibu jari” (the “clan of the thumbs”). Anggota dari the mǔ zhǐ zú atau “thumb tribe”. Yaitu manusia yang tak pernah berhenti memainkan ujung jari tangannya.

Tom Chatfield juga menemukan satu frasa dalam bahasa China. Yaitu istilah dī tóu zú, yang secara harfiah berarti “suku kepala bungkuk”. Mengambarkan sikap manusia yang sedang asyik dengan smatrphone-nya masing-masing. Dengan posisi kepala tertunduk menatap layar.

Smartphone addict

Phubbing sebuah kata baru untuk menggambarkan keadaan, suasana dan perasaan ketika dunia di sekitarnya tertutup habis oleh kesibukannya.

Mengabaikan orang-orang yang berada bersamanya. Mengabaikan seseorang yang berada dalam situasi sosial yang sama dengan menyibukkan diri dengan telepon atau perangkat seluler lainnya

Phubbing merupakan hasil rekayasa dua kosakata, ph (phone) dan ub+bing (snubbing); singkatan dari “phone snubbing”. Sudah bergulir sejak 2010. Konon dibuat oleh Alex Haigh, seorang mahasiswa Australia.

Kemudian dipopulerkan pada tahun 2012 oleh biro iklan Australia McCann, Melbourne, sebagai bagian dari promosi kamus Macquarie Dictionary of Australia yang melahirkan kampanye “stop phubbing” secara global.

Penemu kata baru ini, melihat ada unsur ejekan dan penghinaan yang dicetus oleh pengguna smartphone dan sejenisnya. Tersirat seni menghina orang ketika waktu tersita untuk memandang gadget. Ibarat melakukan kekerasan dengan cara yang halus. Mengabaikan rasa hormat.

Boleh jadi phubbing adalah adik termuda dari kata selfie, wefie dan grofie, yang lahir di tengah gencarnya pemanfaatan gadget sebagai alat serba guna. Dan kata smombie yang menggambarkan pejalan kaki yang perhatiannya dikonsumsi oleh perangkat mereka.

Banggi terhadap smartphone (smartphone addict) telah menyebabkan setiap individu larut dalam hubungan yang menghanyutkan (drifting relationship). Terbuai oleh kelezatan ponsel. Hilang dari kesadaran tentang manusia sebagai makhluk sosial…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *