Menghitung Hari

Posted by
Elizabeth Tower
Menara Big Ben sebutan untuk Lonceng besar (Great bell) yang standar waktu jamnya diyakini sangat akurat

Jumlah hari memang sudah tetap. Hanya relatif antara jumlah dalam bulan komariah dan syamsiah.

Tahun masehi berpedoman kepada syamsiah; matahari. Sedangkan tahun hijriyah mengikuti perhitungan bulan (kamariah).

Perhitungan waktu (jam) juga relatif. Ada perbedaan antara waktu terhadap waktu GMT.

Di belahan utara atau selatan kadang waktu malam lebih pendek, siangnya lama. Secara silih berganti. Kecuali wilayah di sekitar garis khatulistiwa.

Manusia suka lupa akan waktu. Waktu berjalan tanpa memberi bunyi. Hanya ada sinyal dari bayangan. Kecuali pasang alarm tersendiri dari waktu ke waktu.

Waktu adalah pedang

Dalam syair Arab, “waktu adalah pedang”. Orang barat menilai “waktu adalah uang”. Tidak memanfaatkan waktu, sama dengan membuang kesempatan mendapatkan uang. Orang Arab memahami bahwa, jika tidak bijak memanfaatkan waktu, maka dia akan menghabisi kita.

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepadaku (Allah)”. Bukan untuk tujuan lain. Perwujudan mengabdi banyak bentuknya. Berbuat baik kepada sesama manusia, tidak dhalim, tidak membuat kerusakan di bumi. Memelihara ekosistem lingkungan dan tidak mengganggu habitat hewan.

Secara khusus, mengabdi direpresentasikan dalam bentuk ibadah. Sembahyang (sholat), puasa Ramadhan dan mengeluarkan zakat (fitrah) adalah yang wajib dilaksanakan. Dikerjakan dapat imbalan pahala; ditinggalkan akan mendapat dosa.

Pahala dan dosa adalah ukuran akan menjadi apa manusia ini setelah mati. Masing-masing ada timbangannya. Ini hal yang ghaib. Cukup diimani saja.

Tapi bisa dicermati dengan cara evaluasi diri. Introspeksi. Bisa direka-reka dari perbandingan antara pekerjaan baik (wajib) dengan niat yang lurus, dan pekerjaan buruk (haram).

Salah satu medianya adalah waktu. Klasifikasinya kira-kira berapa nilai waktu yang bermanfaat, yang mubasir dan yang terbuang untuk pekerjaan maksiat.

Ini bisa dibreakdown menjadi lebih rinci. Dimanfaatkan untuk apa saja. Mubasir untuk kegiataan apa saja. Maksiat dalam bentuk apa saja.

Tidur yang cukup untuk memelihara kesehatan adalah manfaat. Tidur berlebihan mubazir. Tidak tidur sama sekali tanpa memikirkan kesehatan, sama dengan menganiaya diri. Perlakukan demikian direken sebagai pekerjaan dhalim.

Usia Nabi

Rata-rata usia manusia adalah 62 tahun (seusia Nabi Muhammad). Masa pra-aqil baligh rata-rata 15 tahun. Berarti ada kewajiban beribadat bagi setiap mukmin selama 47 tahun usia.

Berapa besar waktu yang bermanfaat untuk berbuat baik dan ibadat. Berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia (mubazir). Dan berapa banyak untuk membuat pelanggaran (maksiat).

Rata-rata waktu normal yang dipergunakan untuk ibadat (sholat) per hari sekitar 2 jam. Selama 47 tahun waktu yang digunakan untuk ibadat hanya selama 3.9 tahun. Itu pun bila efektif dimulai sejak usia 15 tahun tanpa putus.

Untuk tidur normalnya digunakan 8 jam per hari. Selama 47 tahun untuk tidur saja manusia bisa menghabiskan waktu sebanyak 15.6 tahun.

Berapa tahun yang dipergunakan untuk melakukan maksiat…? Bisa banyak bisa sedikit. Bisa parah bisa sedang-sedang saja. Tergantung intensitasnya. Tapi yang jelas masih ada sisa waktu dari ibadah dan tidur sebesar 27. 5 tahun lagi.

Sebagiannya dimanfaatkan untuk makan/ minum; sekolah/ kerja; mandi; belanja atau keperluan lainnya diperkirakan akan menghabiskan waktu selama kurang lebih 6 atau 7 tahun. Beberapa di antaranya bila ditata niat karena Allah, akan bernilai sebagai ibadah.

Masih ada sisa waktu sekitar 20 tahun lagi. Itupun bila usia kita bisa mencapai hingga 62 tahun. Bila ajal datang lebih cepat dari estimasi usia Nabi, maka tidak ada yang tahu berapa waktu yang telah kita pergunakan untuk kebaikan…?*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *