Klaim Atas Pembangunan Jalan Tol

Posted by
Presiden Soehato
Ruas jalan tol yang dibangun pada tahun 1989 di era kepemimpinan Presiden Soeharto, membentsng dari Cawang – Ancol – Pluit

Dalam urusan negara, klaim mengklaim membangun itu tidak sehat. Kekanak-kanakan dan mengesampingkan etika berbangsa dan bernegara.

Di dunia mana pun, ini tidak akan pernah terjadi. Karena setiap warganya perlu menyadari jika mereka satu entitas. Bernama rakyat.

Tugas setiap pemerintah adalah mewujudkan kemakmuran bagi rakyatnya. Hukumnya wajib.

Membangun dan menjalankan roda pemerintahan menggunakan uang rakyat, bukan uang pemerintah.

Pemerintah hanya operator (eksekutor) yang memfasilitasi rencana dan realisasi pembangunan. Dengan mengoptimalkan uang pajak yang sumbernya berasal dari rakyat.

Pemerintahan yang tidak membangun, dianggap pemerintah yang gagal. Presiden Habibie yang usia pemerintahannya sangat singkat sempat-sempatnya mewujudkan jalan di ruas trans-Papua.

Terdapat sekitar 143,5 km jalan sisa program pelita keenam periode Presiden Soeharto yang diteruskan oleh Habibie. Sehingga mencapai kurang lebih 3990 kilometer.

Inisiator jalan TransPapua sesungguhnya adalah Habibie sendiri, ketika menjadi menteri hingga menjadi Wakil Presiden di era Pak Harto.

Bukan hanya itu. Dalam hitungan minggu Habibie mampu menguatkan posisi rupah yang anjlok akibat krisis global. Kurs yang semula >Rp 15.000 per dolar naik menjadi Rp 9.000 per dolar. Habibie beruntung kabinetnya memang diisi oleh pakar di bidangnya masing-masing.

Bersifat Sustainable

Jadi ribet sekali bila ada pihak yang membuat statement nyeleneh. Pihak yang berbeda pandangan politik untuk tidak menggunakan fasilitas jalan yang dibangun dalam periode pemerintah sekarang. Sebagian kita lupa fungsi adanya pemerintahan dan peran rakyat itu sendiri.

Pembangunan itu bersifat sustainable. Tidak ada hasil pembangunan sekarang tanpa pembangunan periode sebelumnya. Tidak bisa tiba-tiba ketika bangun pagi rakyat menyaksikan muncul sebuah lintasan tol dari Anyer ke Panarukan.

Manusia bukan Nabi Sulaiman. Yang bisa memerintahkan jin untuk keperluan apa saja. Dapat menyelesaikan pekerjaan dalam satu malam. Kehidupan manusia dibungkus oleh lembaran logika. Urusan dunia yang tidak logis akan tertolak tanpa argumentasi.

Jangan abaikan peran pemimpin sebelumnya. Soekarno dan Hatta beserta founding father negara ini telah berbuat bagi bangsa ini. Hasilnya Indonesia merdeka.

Era presiden Soeharto juga banyak mewariskan hasil pembangunan. Demikian pula Habibie, Gusdur, Megawati hingga presiden SBY. Jokowi juga akan melakukan hal yang sama.

Jadi apa pasal membuat klaim hasil pembangunan. Orang-orang yang ikut melengserkan Soeharto tetap diperbolehkan memanfaatkan jalan tol Jagorawi, tol Bekasi atau tol yang menghubungkan kelima wilayah Jakarta, misalnya.

Dibayar oleh negara

Tidak ada larangan menggunakan rumah sakit Darmais atau Harapan Kita ketika mengalami serangan jantung dan kanker. Meskipun sikap politiknya berseberangan dengan Pak Harto. Fasilitas ini dibangun di era orde baru; ketika Pak Harto menjadi presiden.

Tidak ada yang boleh melarang masyarakat menghgunakan Bandara Cengkareng atau bandara lainnya yang dibangun pemrintah Soeharto.

Masyarakat anti-SBY boleh pakai tol Laut Mandara di Bali, boleh lewat tol Cipularang dan Cipali bila akan ke Bandung. Silahkan naik pesawat terbang melalui bandara Kualanamo International Airport. Yang bangun dalam periode Pak SBY.

Kalau kondisi klaim-klaiman terjadi begini, kan repot. Cukup membingungkan. Karena Soekarno, Soeharto, Gusdur, Megawati dan SBY, membangun bukan dengan uang dari kocek pribadi.

Malah atas jabatan yang melekat, mereka dibayar oleh negara. Mereka dan keluarganya dilindungi oleh negara atas tugas dan tangungg jawabnya sebagai presiden.

Sudahilah sikap kekanak-kanakan. Perbedaan itu hal yang biasa. Wajar dalam batas-batas tertentu. Bila ada tagar “2019#ganti presiden”, jawablah dengan tagar “2019#tidak mau ganti presiden”. Atau “2019#tak sudi ganti presiden”, atau “2019#jangan ganti presiden”, dan sebagainya.

Masih banyak slogan yang bisa dipilih. Cara ini jauh lebih elegan, lebih dewasa, lebih fair dan tidak ada pemaksaan kehendak.

Bikin kaos yang bermutu, buat desain yang menarik. Buktikan bahwa kita boleh berbeda. Karena itu adalah salah satu esensi hidup berdemokrasi. Yang penting menggunakan dana dari kocek sendiri…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *