Demam Piala Dunia 2018

World Cup

Lambang supremasi penerus piala Jule Rimet yang disabet Brasil setelah menjadi juara tiga kali berturut. Sejak 1983 piala ini lenyap digondol maling, di Rio de Janerio

Piala Dunia 2018 sudah mulai bergulir. Event ini tak pernah kering dengan kejutan.

Selalu menyita banyak perhatian. Kehadirannya pun selalu dinanti orang banyak.

Sepakbola dunia memang penuh pesona. Penuh bertabur bintang. Bukan sekadar pemain biasa. Tapi dengan kemampuan tingkat dewa.

Masing-masing skill hanya beda tipis. Begitu juga sentuhan artististiknya.

Ada 7 juara dunia yang pernah memboyong piala ini di dalamnya. Menggapai lambang supremasi sepakbola dunia.

Terdapat dua timnas yang sangat berjaya. Jerman menjadi juara 4 kali. Brazil lima kali. Tiga kali di antaranya berturut-turut.

Sepak bola negatif

Sepakbola terus berkembang secara revolusioner. Permainan yang dulunya sederhana kian mendapat dukungan teoretik. Permainan ini banyak memiliki sisi keilmuan.

Seluruh aspek tubuh dan gerakan ditinjau secara detail. Dipelajari, didalami dan dipahami. Termasuk di dalam memanfaatkan gimnastik untuk keindahan, kebugaran dan endurans para pemain.

Setiap pemain dievaluasi dan direkam kondisi fisik, kebugaran, emosi dan, intuisinya. Demikian juga porsi dan komposisi kualitas makanan serta supplemennya. Semua diurusi secara serba profesional.

Peserta Piala Dunia adalah yang terbaik dari zonanya. Meskipun hanya sedikit tim yang diseeded sebagai tim favorit. Jerman, Spanyol, Inggris, Prancis dan Portugal adalah di antaranya. Dari belahan Amerika ada Argentina, Brasil dan Uruguay.

Italia sudah merasakan tiga kali menjadi juara. Juga langganan merasakan final. Tapi penggemar bola sedikit kecewa. Tidak lolosnya Belanda dan Italia adalah duka. Dua kutub sepakbola yang berbeda 180 derajat.

Italia terbiasa dengan sepakbola negatif; antifootbal. Bertahan sekuat-kuatnya dan mengandalkan serangan balik. Ultradefensive ini pernah berjaya. Dengan pola ini, Paolo Rossi dan kawan-kawan memboyong piala dunia ke kampungnya.

Enzo Bearzot dengan bangga menempatkan si jagal Gentile sepagai palang pintu. Untuk mengamankan sistem grendel (cattenaccio) kesukaannya agar sempurna. Bearzot secara fanatik memainkan pola yang tak sedap ini. Hasilnya Italia menjungkalkan Jerman 3 – 1, di final 1982.

Secara statistik prestasi Italia di kiprah sepak bola dunia cukup baik. Italia telah merasakan nikmatnya sebagai juara sebanyak empat kali.

Total Pressure Footbal

Di kutub lainnya Belanda sangat memikat. Kebalikan dari Italia, Rinus Michels mengembangkan sepakbola menyerang. Total Pressure Football jauh lebih enak ditonton. Semua pemain dituntut untuk menyerang sepanjang permainan.

Hasilnya Belanda pernah memboyong supremasi Piala Eropa 1988, setelah memaksa Jerman untuk duduk manis di kursi runner up.

Bukan sekali itu saja Belanda membuktikan efektivitas sepakbola menyerang. Dalam keadaan genting, pelatih “nekad” menarik tiga pemain bertahan dan menggantikan dengan tipikal penyerang. Dari kondisi tertinggal pada menit akhir, bisa menghindari  kekalahan.

Langganan juara, seperti Brazil, Jerman, Argentina dan Spanyol, masih tetap diunggulkan. Keempatnya memiliki probablitas yang lebih besar dari tim lainnya. Berikutnya ada Prancis, Portugal, Inggris dan antara Belgia atau Swedia.

Sepakbola sangat fantastis. Sentuhan tangan pelatih, besar pengaruhnya. Nama Joachim Low membuat tim lain sedikit keder. Di tangannya Jerman perkasa hampir di semua event.

Pelatih yang suka ngupil ini bisa meramu strategi yang apik buat Jerman. Tim ini difavoritkan kembali merebut juara. Meski demikian favorit lainnya bisa saja mengubah harapan skuad Jaochim.

Ronaldo dan Messi

Ronaldo sering padu dengan rekan-rekan senegaranya. Tahun 2016, dia mempersembahkan Piala Eropa bagi negaranya.

Sementara Messi, selalu gagal membangun tim. Tapi kali ini kutukan itu bisa saja berubah. Messi tak boleh jadi tumpuan. Messi menjadi jenderal. Dia playmaker. Dia anchor man. Dia tak boleh terlalu capek. Tak boleh terbebani.

Tapi apapun cerita, Argentina masih handal. Tak ada yang berani memandang sebelah mata. Skill pemainnya merata. Lebih kurang sama dengan Brazil atau Jerman.

Di sisi lain tuan rumah Rusia sulit ditebak. Belakangan Rusia tidak banyak mengukir prestasi. Hanya ketika di era Uni Sovyet saja timnasnya disegani. Selebihnya sama seperti penggembira lainnya. Tampil untuk memenuhi kuota tuan rumah.

Di atas kertas Rusia tak terlalu besar peluang ke final. Apalagi merebut juara. Tapi kejutan bisa berpeluang terjadi. Rusia bisa menjadi kuda hitam yang siap menebar ancaman.

Kisah pilu menggelayuti Ronaldo dan Messi. Mereka adalah mahabintang dalam dekade belakangan ini. El comandante Ronaldo ingin membuat sejarah bagi negaranya. Merebut juara untuk pertama kali.

Sedangkan Messiah ingin sekali mengulangi sukses seniornya, Diego Maradonna dan Mario Kempes untuk mencium piala dunia. Menambah gelar untuk negaranya, merebut piala untuk ketiga kalinya dengan kaki ajaibnya.

Keduanya pantas bermimpi untuk melengkapi berbagai predikatnya yang telah diterimanya sebagai pemain terbaik di jagad ini…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *