Misi Messiah Messi Masih Misteri

Timnas Argentina penuh bertabur bintang yang merumput di pentas sepakbola Eropa

Tuah Messi belum datang jua kepadanya. Messi hanya berkibar di lingkungan klub. Bagi negaranya Messi sering gagal memberi hasil yang baik.

Dia adalah mahabintang. Puluhan penghargaan telah ditabalkan kepadanya. Entah berapa lagi yang akan menyusul.

Keberadaan Messi memberi kebanggaan bagi warga Catalonia. Di mata fans dia bagaikan dewa. Barcelona disegani di dalam dan di luar Spanyol. Itu adalah berkat magis Messiah.

Di mata masyarakat pusat negeri Spanyol dia musuh yang harus dibenci. Madrid dan Barca bukan hanya bermusuhan di lapangan. Tapi juga musuh secara politik.

Sudah lama Catalan ingin pisah dari Spanyol. Ingin menjadi negara merdeka.

Di sepakbola perseteruan menjalar dan abadi. Kemenangan adalah nafas kehidupan. Kekalahan berarti kematian. Keduanya sama-sama merasakannya. Lebih baik kalah 10 gol dari klub lain dari pada merasakan kalah bagi salah satunya.

Simbol perlawanan

Messi Argentino menjadi salah satu simbol perlawanan. Kakinya berkali-kali mempermalukan masyarakat ibukota. Rasanya seperti dilemparin sepatu ke wajahnya.

Di kancah Eropa nama Messi juga berkibar. Banyak pemain Eropa lainnya ingin bertukar jersey dengannya. Kehidupannya menjulang tinggi. Tapi dia rendah hati. Tidak banyak ulah. Dia juga pendiam.

Dia pencinta fair play. Tak suka bermain kasar. Baginya bola adalah permainan keindahan. Reaksinya dingin bila dikasari pemain lawan. Dia sudah matang sejak usia muda.

Di negerinya dia pahlawan yang membawa nama harum negara. Ingat Messi pasti ingat Argentina. Tapi Messi cekak ketika membela negara. Dalam tiga kali piala dunia dia miskin prestasi.

Padahal timnas Argentina banjir bintang dunia. Tapi dia tetap tidak impresif.

Beda dengan Maradona. Tangan tuhannya membawa berkah bagi Argentina. Tahun 1988 Maradona memimpin rekannya merebut piala dunia.

Probabilitas berhasil tendangan penaltinya sekitar 77 persen. Sisanya, Messi gagal dalam eksekusi. Ini juga terbawa ke dalam timnas. Messi lebih unggul dalam tendangan bola mati dari pada penalti.

Ayolah Messi

Bersama rekan senegaranya Messi belum mengukir sejarah. Padahal ini adalah kesempatan terakhir bagi generasi emas ini ikut piala dunia. Empat tahun mendatang Messi akan mulai redup.

Aset Argentina adalah idola di pentas Eropa. Mereka kumpul dalam timnas. Tapi belum kunjung moncreng. Ditahan 1-1 melawan Eslandia adalah kekalahan.

Poor Argentina setidaknya pada angka 0.5. Seharusnya menang tanpa harus kebobolan. Tendangan penalti Messi menutup kesempatan timnya meraih 3 angka.

Messi dan kawan-kawan memulai debut kurang mengesankan. Tapi masih ada 3 pertandingan lagi yang dilakoni sebelum ke babak 16 besar. Sementara Ronaldo berawal manis. Membuat hattrick dan menahan favorit juara, Spanyol.

Matematika sepakbola memang sulit diurai. Messi lover pasti ingin menyaksikan idolanya mengangkat piala dunia.

Ayolah Messi. Jika bukan sekarang kapan lagi…? Ini kesempatan terakhir. Jangan biarkan Argentina menangis karena pupus menanti harapan darimu…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *