Petaka Argentina dan Fans Yang Murka

Kesedihan Messi

Ekspresi Messi, setelah terjadinya gol ke gawang Argentina. Sementara penjebol gol ketiga melirik ke arah Messi (https://www.fifa worldc up/photos/)

Warga dan fans Argentina masih tak percaya. Dikubur hidup-hidup oleh Croatia adalah petaka. Sangat musykil. Sukar diterima. Sebegitu gampangnya

Kalah dari Brazil, Jerman atau Spanyol masih wajar. Tapi kali ini bukan hanya jeblok di lapangan. Tapi hancur harga diri. Pertahanan Argentina sangat rapuh.

Hanya di kiri Otamendi yang bermain lumayan. Malah kiper adalah figur yang tertolak. Seperti kiper tarkam yang demam panggung.

Warga Argentina ingin Armani yang berdiri di bawah gawang. Tapi pelatih memilih Caballero.

Pembagian skor 2-2, yang disiarkan Tpstrr Consensus sebelum pertandingan, malah jungkir balik di lapangan. Croatia tampil digdaya.

Sementara Argentina sering salah tingkah. Permainan anak-anak Argentina terlihat timpang dan tidak bisa berkembang. Messi kurang mendapat dukungan.

Mrko Nyong memaki habis sikap Sampaoli. Fans yang geregetan ini menunjukkan neraka tempat bagi Sampaoli. Dibarengi dengan kata-kata cacian yang sangat kotor lainnya.

Sergio Romero

Argentina punya penjaga gawang yang baik. Sayangnya Sergio Romero cidera. Harapan berikutnya adalah Franco Armani. Tapi beda selera pelatih.

Ada yang berolok-olok Caballero dipilih karena dia botak seperti Sampaoli. Sesama kepala botak harus saling percaya. “Lalu aku tahu, keduanya botak dan ini bisa menjadi alasan pemilihannya”, tulis Tanvir Ahmed Jeorge dalam komentarnya.

Bukan hanya di situ Sampaoli disesalkan. Tapi dia menaruh 6 orang pemain inti di bench sebagai pengamat. Orang Argentina tak pernah bermimpi melihat Caballero, Meza, Silvio dan Tagliafico bisa menjadi line-up.

Tidak diikutsertakan Pastore juga perbuatan tolol lain yang dilakukan Sampaoli. Fans benar-benar sudah mendidih dengan kelakuan pelatih.

Seorang fans, Daniel Mpidi Tangedor, mengomentari keadaan ini, “pemilihan hari ini sangat buruk sangat buruk buruknya ini adalah pilihan terburuk Argentina – sedih”.

Sebagian meminta dilakukan investigasi adanya kecurigaan kesengajaan pelatih untuk kalah. Ada pengaturan tidak layak di balik kekalahan beruntun.

Peluang Argentina ibarat kulit ari. Hanya mengharapkan mukjizat. Nigeria dan Croatia bisa mengalahkan Eslandia. Dan Argentina sendiri harus all out menyingkirkan Nigeria.

Apa salah kami, Sampaoli

Seorang fans menulis kalimat yang indah sebagai penghibur. “Dapatkah para penggemar mengatakan “Tuhan akan menyelamatkan kita dipertandingan terakhir”…? “Dia berjanji bahwa… lakukan bagianmu, Aku akan melakukan sisanya”.

Fans berat yang bernama samaran Messi Anthonie Dybala ini, dalam kalimat lain dia begitu optimis, “Argentina tetap lolos ke babak 16 besar, “… “aku percaya bahwa… n aku tahu Argentina akan masuk ke babak 16 besar, # magicalmessi.. Still_n_always_the _best“.

Peluang Argentina lebih sempit dari lubang jarum. Nigeria bukan tim ayam kampung. Kualitasnya kurang lebih sama seperti saudaranya, Senegal. Mereka pun tak mau dipermalukan. Oleh tim sekelas Argentina sekali pun.

Hasil Croatia kontra Eslandia juga sukar diprediksi. Bila terjadi berbagi angka, maka akan menyakitkan. Nasib Argentina bisa direka-reka dari hasil Eslandia melawan Nigeria, 22 Juni 2018, malam nanti. Namun kerja berat menanti di depan.

Caci maki menghiasi dunia medsos. Warga Argentina dan fans di seluruh dunia benar-benar murka. Bagi mereka pelatih adalah yang paling bertanggung jawab atas musibah ini.

Saya tak tega menulis komentar sumpah serapah dari fans buat Sampaoli. Kekesalan benar-benar memuncak. Pelatih plontos ini adalah biang dari segalanya. Dia dianggap sangat keterlaluan; tega-teganya berbuat sesukanya.

Apa salah kami, Sampaoli…?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *