Langkah Nostalgia Dua Jenderal

Posted by

Baru-baru ini, SBY menerima Prabowo di kediamannya di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Kunjungan Prabowo itu menjadi pembicaraan, lantaran suasana jelang pilpres 2019 sedang mengalami eskalasi.

Jika dikatakan sebagai pertemuan politik tentu saja ada pembicaraan politik. Membahas tentang kondisi bangsa dan negara saat ini, kemarin dan tantangan ke depan.

Sementara saat ini masyarakat terbelah dalam persepsi yang berbeda dalam melihat. Bagaimana merasakan keadaan yang sesungguhnya dan apa yang sedang dihadapi negara ini. Dunia memang selalu begitu.

Memaknai perbedaan memang dapat menimbulkan asumsi antara kecenderungan dan menarik diri.

Koalisi partai politik
Fenomena koalisi politik di Indonesia semakin hari semakin baik. Sehingga dimungkinkan akan terbentuk sebuah koalisi permanen yang mendorong terbangunnya sebuah koalisi yang sehat dan berkesinambung

Pertemuan SBY-PS, sederhananya dimaknai sebagai reuni-an antara dua orang alumni Akabri.

Dalam perjalanan, mereka bisa merintis karir hingga menggapai pangkat jenderal. Keduanya merupakan angkatan 1970.

Tiga tahun bersama sebagai taruna, tentu punya kenangan tersendiri. Punya nilai nostaljik sendiri. Ada kehangatan, ada sedih, lucu gembira dan berbagai macam perasaan lainnya.

Masing-masing alumni memiliki ikatan emosional sendiri-sendiri. Demikian pula antara SBY dan Prabowo. Bukan hal penting apa agendanya, tapi langkah pertemuan ini bermakna strategis.

Panggilan nurani

Kualitas seorang jenderal bukanlah ecek-ecek. Jenjang pendidikan untuk mencapai ke sana sangat spesifik. Memiliki jalan berliku dan persyaratan ketat.

Sehingga kompetensinya tidak usah diragukan. Mereka telah mengalami penggemblengan secara fisik mental dan juga intelektual, berkesinambungan dan berjenjang.

Bila ada agenda membahas masa depan negara, itu sesuatu yang wajar. Karena memang setiap prajurit TNI ditanamkan rasa cinta mati terhadap negara. Terhadap konstitusi negara. Terhadap ideologi negara. Terhadap keutuhan negara, Terhadap kedaulatan negara.

Itu, memang panggilan nurani yang mencakup dalam sumpah prajurit dan sapta marga.

Seorang prajurit atau mantan prajurit akan bergetar hatinya ketika melihat bendera negara -merah putih-. Di mana saja dan kapan saja. Masyarakat biasa belum tentu merasakan hal seperti ini.

Pembicaraan antarpurnawirawan prajurit ini dipastikan memiliki kualitas yang bermakna bagi bangsa dan negara. Bila yang dibahas bagaimana masa depan negara dan bangsa ini, itupun sah-sah saja.

Wong, banyak diskusi dan simposium yang menghadirkan para pakar juga merasa terpangggil untuk membahas persoalan ini. Bahkan secara mendalam menyentuh kondisi negara saat ini dan masa depan.

Sensitivitas politis

Banyak masyarakat yang bangga melihat pertemuan dua negarawan kali ini. Banyak yang harap-harap cemas menanti hasil konkretnya. Bisa memberikan efek senang dan bisa pula menimbulkan kegerahan.

Itu lantaran sensitivitas politis kian meningkat jelang pilpres 2019. Hingar bingarnya pun kian terasa. Tanggapannya pun bisa berbeda-beda. Tergantung di sisi mana seseorang berdiri.

SBY dan PS dua sahabat lama. Tak boleh siapa pun perlu curiga kepada keduanya. Produk pembicaraan pasti tidak sia-sia.

Seorang pernah menjadi presiden. Seorang lagi pernah memegang jabatan sebagai Danjen Kopassandha dan Pangkostrad. Tak ada yang salah. Pemikiran keduanya pasti bermanfaat. Jika itu bagi kepentingan bangsa dan negara.

Orang banyak menghubung-hubungkan, itu terjadi karena rencana poros ketiga gagal dibentuk. Boleh-boleh saja. Terserah masing-masing.

Sebagian jadi teringat bagaimana dinamika politik ketika Edy Rahmayadi maju sebagai cagub Sumatera Utara. Belakangan beberapa parpol ikut bergabung bersama Gerindra-PAN dan PKS.

Dalam politik ini sesuatu yang baik. Politik terus berproses, mengalir dan dinamis. Politik harus responsif, tidak boleh pasif. Harus mengerucut.

Dinamika politik

Contoh yang diperagakan dua purnawiraan jenderal ini sangat mendidik. Setidaknya telah memberikan pembelajaran politik yang baik. Bagaimanapun seorang pemimpin politik haruslah elegan, terbuka dan demokratis. Memiliki kepekaan terhadap dinamika politik.

Dengan demikian segala perbedaan persepsi bisa disatukan. Bukan untuk bersependapat, tetapi untuk mencari titik terdekat antara dua pemikiran yang mungkin berjauhan.

Bargaining dalam politik akan selalu berlaku. Dan itu penting. Sisi pandang melihat kepentingan bangsa dan negara akan menjadi pemersatu. Dan itulah yang telah diperagakan oleh kedua purnawirawan jenderal tersebut.

Masyarakat tentu ingin kepastian akan arah yang akan dituju pascapertemuan tersebut. Yang jelas, di depan, pilpres 2019 telah menunggu dengan sabar.

Hanya koalisi yang kuat yang akan memenangkan kompetisi. Karena kekompakan akan melahirkan strategi yang baik.

Hasil pilgub Sumatera Utara boleh jadi bisa dijadikan cermin untuk menatap pilpres 2019. Meski bergabung belakangan, Partai Demokrat dapat diterima dengan tangan terbuka.

Dan kemudian secara bersama-sama, bahu-membahu, ikut saling memberikan kontribusi…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *