Antara Fenomena, Situasi dan Kesan

Posted by

Di sebuah tempat umum, di sebuah ruang tunggu, seorang Ibu sambil goyang-goyang badannya melangkah bolak balik.

Si Ibu cuek, tidak peduli, meskipun semua mata menatap kearahnya dengan rasa heran. Dia tetap melakukan gerakannya berulang-ulang. Orang bertambah geli. “mungkin orang ini orang lagi stress…”, batin sebagian. Tindakan begitu tak mungkin dilakukan orang normal.

Masih di sebuah tempat umum. Seorang Ibu sambil goyang-goyang badannya. Dia melangkah bolak balik. Di depan mata orang banyak

Si Ibu cuek. Orang-orang yang melihat juga berekspresi biasa saja. Tidak ada yang merasa heran. Apalagi menganggapnya sarap. Kala itu dia sedang mengendong bayinya sambil bernyanyi-nyani kecil. Suaranya terdengar sayup-sayup.

Meninabobokkan bayinya
Untuk membahagiakan anaknya, Ibu sudi berbuat apa saja. Meskipun itu dilakukan di bawah tatapan banyak pasang mata. (gambar ilustrasi)

Dua kondisi yang hampir sama tapi memberikan kesan berbeda. Pengalihan kesan terjadi karena alasan.

Yang satu alasan tidak jelas. Sedangkan Ibu yang satunya lagi, sedang bermain-main dengan bayi dalam gendongannya.

Keduanya sambil menggoyang-goyangkan badannya, juga sambil bernyanyi-nyanyi.

Menangkap kesan

Perbedaan dalam menangkap kesan bisa terjadi karena ada objek yang menciptakan fenomena.

Fenomena yang ditangkap dari ibu yang pertama adalah, dia melakukan itu tanpa ada tujuan. Sementara, si Ibu yang sedang menggendong anak sedang berusaha membuat anaknya terhibur dan tidak rewel.

Yang satu sedang melakukan pekerjaan, layaknya seperti dilakukan kaum Ibu. Tapi yang satu seperti sedang berlatih tarian. Atau sedang meniru-nirukan girl band asal Korea.

Menari di depan mata orang banyak yang tidak dikenal adalah perbuatan aneh. Lain halnya bila dalam rangka pementasan.

Mengendong bayi, meninabobokkannya bisa dilakukan di mana saja. Kecuali di tempat yang membahayakan. Itu bukan pekerjaan salah. Malah sebaliknya sangat mulia.

Dia memerankan tanggung jawab sebagai seorang ibu dalam keadaan apapun. Memberikan perhatian dan kasih sayangnya bagi bayinya. Di mana saja dan dalam situasi apa saja. Tak pandang kapan pun waktunya.

Tindakan proporsional

Berbicara sendiri tanpa HP di tangan, akan dianggap gila. Lain bila pakai wireless atau bluetooth headset. Walau tak kelihatan HPnya, orang sudah mengerti bila dia bukan sedang berbicara sendiri.

Latah berlatih di depan umum adalah tindakan aneh. Mencari perhatian tidak pada tempatnya. Meskipun orang tersebut cuek. Tak peduli apa kata orang.

Ke pasar pakai bikini bisa bikin heboh. Tapi berbikini di kolam renang adalah sesuatu yang lumrah. Tindakan proporsional berlaku sesuai logika. Ada tindakan bersifat khusus. Ada pula yang umum. Berbuat proporsional tidak akan mengundang tanda tanya dan perhatian negatif.

Bikini khusus berlaku di kolam renang, atau ketika mandi di pantai atau dalam fashion show. Pakai bikini di kamar sendiri saja bisa membuat bingung suami. Apalagi sambil naik motor di jalan raya. Selalu ada pakaian yang bersifat umum. Dapat dipakai di mana saja, dalam situasi apa saja dan kapan saja.

Di sinilah ternyata memilih pakaian yang proporsional, ternyata, perlu mempertimbangkan logika. Logika sehat yang make sense.

Dalam falsafah Jawa berlaku kaidah “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana”. Seseorang dihargai karena bisa menjaga lisan dan dari cara dia berpakaian. Bisa melihat tempat, keadaan dan keperluannya…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *