Sikap Ambigu Partai Gokar Dalam Menyongsong Pemilihan Presiden 2019

Cerita akan seru, bila Golkar merapat ke Prabowo. Tp itu sejauh ini belum terjadi. Setidaknya hingga hari ini baru selentingan isu. Baru berupa rumor sporadis.

Wacana itu bisa untuk meningkatkan posisi tawar terhadap Jokowi. Bisa juga karena ada ketidakpuasan kader. Sehingga pandangan fungsionaris Golkar terbelah. Ada peluang menuju Prabowo. Itu lantaran figur Airlangga dan Akbar Tanjung ada di sana.

Orang tua Airlangga, Hartarto dibesarkan oleh Pak Harto. Demikian juga Akbar Tanjung. Mereka diangkat kedudukannya oleh Pak Harto. Diberdayakan dan ditaruh di tempat terhormat.

Baik Hartarto, orang tua Airlangga, dan Akbar Tanjung bertahan lama di lingkaran dalam Cendana. Dan itu terjadi untuk puluhan tahun. Menghabiskan waktu separuh periode orde baru. Ada hubungan emosional antara mereka dan keluarga Pak Harto.

Partai Golkar

Strategi ambigu Partai Golkar dalam mencermati probabilitas kontestasi pemilihan umum presiden Republik Indonesia 2019

Partai Berkarya yang digagas Tomy, Hutomo Mandala Putra Soeharto, sudah jelas bersama Prabowo. Titiek Soeharto, mantan istri Prabowo, juga mendekat ke Prabowo.

Artinya, Prabowo masih merupakan figur yang mendapat dukungan dari lingkaran keluarga Pak Harto.

Namun di sini lain, siapa pun tahu Golkar itu partai unik. Terkadang sikapnya ambigu. Prioritasnya selalu atas dasar kepentingan. Bukan kesetiakawanan.

Sekretariat Bersama Golkar

Bermula dari sebuat sekber, kemudian jadi komunitas orang kekaryaan. Dan kini menggunakan partai di depannya.

Sejarah sekber (sekretariat bersama) golkar tidak lepas dari peran Jenderal Nasution dan Jenderal Soeharto. Sulit memisahkannya. Bertahun-tahun -siapapun ketuanya-, dewan pembinanya tetap Pak Harto.

Generasi pascareformasi ingin memisahkan antara nama Pak Harto dan Golkar. Misi ini dimulai sejak Akbar terpilih sebagai Ketua Umum.

Alasannya sederhana. Golkar harus bebas dari kekuatan lainnya di luar Dewan Pimpinan Pusat. Ketumlah yang sangat berkuasa untuk menentukan arah partai.

Mirip-mirip posisi Megawati saat ini. Power ada di dalam genggamannya. Siapa pun di bawah kendali ketuanya menjadi ibarat sapi dicucuk hidungnya dengan tali.

Prabowo, tak mapan sebagai politisi. Kalah cerdik dibandingkan kader Golkar. Prabowo polos, apa adanya. Tidak ada bakat licik.

Dia tentara murni yang sejak dulu belum pernah menikmati “dwi fungsi ABRI”. Dia terdidik sebagai seorang “petarung” di medan perang.

Liku-liku politik

Politik banyak lika liku; banyak sulo, banyak kepura-puraan, banyak tipu-tipu. Juga penuh intrik. Prabowo tak memiliki kemampuan untuk “melawan” itu.

Golkar terkenal sebagai gudang politisi ulung. Dari pucuk hingga kader. Mereka bisa bermain dalam kondisi lapangan becek sekalipun. Orang-orang lurus sulit menyesuaikan dengan pola permainan demikian. Bisa gamang.

Kemenangan Prabowo sebagai presiden bisa jadi akan mengunci Golkar. Ada kekhawatiran elit bila golkar kembali ke pangkuan keluarga Pak Harto. Dan bila Prabowo terpilih jadi presiden. Maka ini jadi gerbang penyambutan kembalinya si anak hilang.

Golkar telah terbelit oleh stigma tidak beroposisi. Siapa pun presiden Golkar selalu pintar membidik. Kebiasaan menjadi partai pemerintah membuat Golkar manja. Asal kadernya dapat jatah jabatan, apa pun dilakukan. Gaya politik Golkar memang dahsyat.

Dalam politik tidak perlu malu-malu kucing. Harus gamblang. Golkar selalu menghitung untung. Mengesampingkan rugi. Rugi itu tidak ada dalam kamus Golkar.

Mereka partai politik yang paling politis. Tidak separuh-separuh. Dia memegang teguh adagium politik. Selalu mengedepankan kepentingan.

Mendekat ke Prabowo

Wacana mendekat ke Prabowo menimbulkan keraguan. Namun dari sisi peluang kalah menang masih 50:50. Petahana masih diuntungkan. Mesin politiknya meluas. Bila efektif maka ini menguntungkan.

Para menteri, pejabat kepala daerah dan direktur BUMN mudah dikendalikan. Belum lagi dukungan kekuatan finansial.

Kompetitornya, hanya mengandalkan kocek Sandi dan Prabowo sendiri. Pasangan ini tidak memiliki “sahabat” yang berkantong tebal. Seumpama pengusaha kaya dan konglomerat.

Tapi bagaimana pun politik itu cair. Kesukaan masyarakat pendukung pasangan Prabowo-Sandi, bemunculan secara sukarela. Bahkan mereka siap mengeluarkan biaya dari kantong sendiri.

Militansi mereka dibangun bukan atas dasar dukungan finansial. Melainkan atas dorongan simbol-simbol yang bisa mempersatukan mereka…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *