Buruk Rupa dan Buruk Laku

Buruk rupa tidak ada kaitannya dengan buruk laku. Begitu juga sebaliknya. Keadaan fisik tidak membuat seseorang menjadi baik. Atau buruk.

Banyak orang rupawan. Tapi kelakuan buruk. Tidak jarang yang tidak rupawan. Tapi berkelakuan baik. Probabilitas untuk menjadi buruk ataupun baik, relatif sama.

Bukan ukuran bahwa fisik akan menentukan perilaku. Menjadi orang baik dan jahat seringkali merupakan sebuah pilihan. Ini dilakukan secara sadar. Kecuali bagi orang yang hilang ingatan.

Karena menjadi jahat pun harus menggunakan logika. Ada hitungan-hitungannya. Ada matematikanya seseorang melakukan kejahatan atau penipuan.

Buruk rupa belum tentukburuk laku

Probabilitas untuk menjadi buruk ataupun baik, relatif sama.

Termasuk seseorang yang berada di bawah pengaruh minuman keras dan narkoba. Mengkonsumsi kedua “barang haram” tersebut, dilakukan dalam keadaan sadar.

Minuman keras dan narkoba disadari sebagai media untuk menaikkan keberanian. Menghilangkan rasa malu. Meskipun kemudian dalam keadaan setengah sadar dia melakukan tindak kejahatan.

Tidak pandang jabatan

Buruk baik adalah fenomena yang dapat dijumpai di dunia mana pun. Demikian juga, buruk baik selalu ada di sektor mana pun. Tidak pandang jabatan, profesi, pendidikan, ras ataupun taraf hidup seseorang.

Apakah dia seorang rakyat biasa, pejabat negara, aparat penegak hukum, pengusaha, jurnalis, atau bahkan yang berprofesi pendidik sekali pun.

Buruk rupa yang buruk laku sering kali menjadi asosiasi untuk menjelaskan mengapa itu dilakukan. Seseorang yang memelihara hati dengan sifat jahat, akan memengaruhi wajahnya sebagai tampilan luar.

Wajah adalah jendela hati, kata sebagian orang. Tapi bisa juga kebalikannya. Perasaan benci, dengki, iri dan jahat, akan tersemburat pada wajah.

Kebiasaan menekuk muka karena penuh niat jahat lambat laun akan mengubah wajah menjadi mapan. Dari wajah sumeh-sumringah, berubah menjadi cembetut.

Tapi itu pun sebetulnya bisa hanya kebetulan. Kebetulan standar wajah agak di bawah, dan kebetulan dia memang jahat dari sononya.

Hilangkan perasaan memusuhi, membenci dan berprasangka buruk terhadap apa dan siapa saja. Dengan memelihara hati yang baik maka dari sana akan terpancar aura kecantikan yang mucul dari dalam diri. Kaya hati akan membuat wajah menjadi enak dipandang.

Nenek sihir

Perempuan cantik yang jahat seakan-akan terlihat sebagai nenek sihir; sedangkan laki-laki ganteng yang jahat seakan tampak seperti dracula.

Dalam lakon apapun tokoh protagonis akan selalu mendapat simpati penonton. Meskipun tampangnya lusuh dan tidak terawat dengan baik. Sementara tokoh antagonis akan mengundang ketidaksukaan. Walau secantik atau seganteng apa pun dia.

Orang buruk yang pura-pura bersikap ramah, suka senyum, bertutur kata teratur, banyak dijumpai di tengah masyarakat. Serapi apapun sandiwara yang dilakoni, akhirnya isi dalam aslinya akan diketahui juga.

Jangan pernah mencela kekurangan pada tampang dan fisik seseorang. Karena itu bukan kehendak manusia pemilik wajah.

Wajah bengis tidak selamanya memiliki hati yang jahat dan kejam, demikian juga wajah manis culun dan polos tidak ada jaminan hatinya baik.

Biarlah wajah menjadi urusan Tuhan. Tapi tidak suka pada kelakuan jahat adalah sikap yang wajar…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *