Menyandang Harapan di Pundak Generasi Milenial

Politik milenial penuh dengan kejutan. Bila dalam periode “digital immigrant” pernah ada politik jalanan. Maka sekarang jauh lebih lugas.

Politik tidak lagi milik parpol atau, katakanlah segelintir oknum. Politik tidak lagi terbelenggu di balik dinding parlemen.

Poltik sekarang lepas. Menembus dinding pembatas kamar-kamar di dalam rumah. Politik sekarang berada di tengah-tengah rumah kaca.

Frekuensi dunia maya itu milik dunia. Tak ada yang bisa mengklaim sebagai pemiliknya. Kemudinya ada di ujung jari para pengguna. Ada persimpangan yang dapat dipilih untuk baik atau untuk hal-hal yang tidak baik.

Politik kaum milenial

Kaum milenial menadi harapan untuk mengawal cita-cita para pahlawan bangsa

Anak milenia yang termasuk dalam digital native, termasuk raja-raja di dunia maya.

Mereka memiliki ekspresi politik tersendiri. Banyak silang pendapat yang berseliweran. Hingga sumpah serapah dan hujatan menyerempet bahaya.

Tidak sedikit pula yang laku lajak. Nekad mencaci agama. Mencela nabi panutan umat. Bahkan berani mencela Allah SWT. Ini sudah ke luar jalur.

Manusia model begini bisa lahir dalam periode kapan saja. Sebut saja ianya semisal produk gagal dari suatu priode produksi (batch).

Antikemapanan

Ciri generasi milenial adalah antikemapanan. Mereka ibarat anak panah yang melesat dari busur. Mereka menciptakan terobosan baru. Termasuk dalam hal style yang cenderung casual dan tak mengikat.

Ekspresi sedikit terkesan ektrem. Tapi mereka penyimak dunia. Apalagi tentang kondisi sekitarnya. Visi politiknya berbaur dengan hasrat yang kuat untuk mencintai NKRI.

NKRI yang kuat tidak boleh tercemar dengan masalah agama. Apalagi dengan paham tak bertuhan, antituhan, antiagama dan sekularisme.

Agama sangat dibutuhkan. Punya tempat yang strategis. Dia menjadi pengawal moralitas bangsa. Bukan sebagai dasar negara.

Untuk mengatur negara sudah ada Pancasila. Itu final. Tak boleh dipreteli. Apalagi dikesampingkan atau diganti. Ini sudagh sangat ideal untuk mempersatukan anak bangsa. Menyatukan latar belakang semua agama dan ras yang ada.

Kesaktian Pancasila

Beberapa kali terjadi upaya merongrong landasan negara ini. Tapi oleh kekuatan rakyat melalui TNI, semuanya bisa ditumpas.

Sampai-sampai 1 Oktober diperingati sebagai “Hari Kesaktian Pancasila”. Itu merupakan momentum sejarah penyelamatan ideologi bangsa.

Hingga saat ini negara ini tetap berdiri. Nadinya tidak boleh berhenti. Merebut kemerdekaan itu mahal. Mempertahankannya adalah sisi perjuangan yang suci. Di sana ada martabat yang dipertaruhkan. Martabat sebagai bangsa merdeka.

Bukan tunduk di bawah telapak kaki bangsa lain. Dan bukan pula menjadi satelit di bawah pengendalian pemerintahan negara lain.

Siapa pun yang berniat menggadaikan negara ini, maka dia adalah pengkhianat bangsa. Siapa pun dia, tak layak menjadi Indonesia. Manusia-manusia seperti ini menjadi musuh bersama.

Indonesia adalah Indonesia, selalu harus tetap ada dan mandiri. Generasi milenial harus menjadi pengusung cita-cita para pahlawan bangsa. Karena dengan nyawa mereka Indonesia bisa berdiri.

Tinggal sekarang bersiaplah meneruskannya ke arah yang sesuai dengan landasan konstitusi dan ideologi negara…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *