Belajar Dari Peran Rowan Atkinson dan Shahrukh Khan

Posted by

My name’s Khan yang dibintangi Shahrukh Khan, memang beda dengan film India lainnya. Film ini lebih berkelas. Ceritanya juga khas fiksi ilmiah. Enak ditonton dan susah diraba.

Shahrukh sangat profesional. Nyaris tak ada celah kurang dalam membawa peran. Bermain sebagai seorang difabel, dan senderung terkesan dungu.

Dia terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus. Tapi Shahrukh sangat menghayatinya. Setiap adegan dilakoni dengan sempurna.

Khan yang berasal dari India, sedikit gamang ketika dia harus hidup di Amerika. Namun di situlah dia menunjukkan kemampuan sesungguhnya.

Menjadi bintang yang hebat
Menjadi bintang juga dituntut sebuah kecerdasan.

Shahrukh memang laki-laki pintar. Tapi mampu berpura-pura bodoh dalam sebuah film. Latar belakang pendidikannya juga baik.

Rowan Atkinson

Di luar sana masih ada Mr Bean. Tampang blo’on menjadi pilihannya berakting. Sama seperti Shahrukh, keduanya sebetulnya adalah laki-laki ganteng.

Mister Bean dengan kuluguannya mampu membuat orang terpingkal-pingkal. Penggalan filmnya di Youtube ada yang sudah ditonton lebih dari 40 juta viewer. Sebuah kegilaan yang luar biasa.

Rowan Atkinson meraih gelar master dari Queens College, Oxford. Sedangkan sarjana dia raih dari New Castle University, Inggris. Jadi bukan cilet-cilet. Memang smart adanya.

Kemampuan intelektual yang dimilikinya membuat mudah untuk beradaptasi dengan segala format. Baik dalam bersosialisasi ataupun format dalam tuntutan skenario, ketika berlakon.

Shahrukh dan Mr. Bean adalah orang-orang cerdas yang bisa menjadi apa saja. Shahrukh yang menyandang gelar master di bidang Komunikasi Masa juga menggeluti teater dan ikut sekolah drama.

Di Indonesia, mungkin banyak orang bodoh yang berlagak pintar. Merasa banyak tahu tapi tidak tahu. Seorang yang baru beli ijazah doktor, merasa pinter karena pandai bicara.

Di Indonesia juga banyak tukang penjual obat di pinggir jalan obat, yang pintar ngomong. Dia mampu menguasai suasana psikologis penontonnya. Mulanya cuma sekadar melihat, eh, ujung-ujungnya malah beli obat.

Penjual obat umumnya pintar mengarang. Mereka tampil penuh percaya diri. Mereka sangat menyadari bila yang dapat dipegaruhi adalah orang-orang yang kalah pintar darinya. Makanya dia percaya diri.

Di depan “orang-orang bodoh”, penjual obat selalu merasa pinter sendiri. Beda ketika berhadapan dengan orang pintar. Tapi biasanya orang pintar segan menonton penjual obat. Sekadar dengar lawakan ya boleh lah. Lumayan bisa ketawa.

Asperger Syndrome

Orang pintar bisa menempatkan dirinya secara proporsional. Kapan harus berbuat sesuai kualifikasinya. Namun tetap harus rendah hati. Merasa banyak tidak tahu, padahal tahu. Sifatnya jauh dari sifat sombong dan berlagak pintar.

Orang pintar susah disetir. Mereka punya prinsip teguh. Tak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang tidak masuk akal. Tapi dunia memang suka beda. Sering berubah. Belakangan ini banyak juga orang pintar yang bisa dibodohi.

Kadang masalah prestis ikut berpengaruh. Entahlah bila ada alasan lain. Yang jelas demi kenyamanan hidup. Demi dikenal, demi pendapatan. Ketika menghadapi dalam kondisi ini banyak yang perlu dikorbankan.

Yang mengerikan adalah menjual harga diri. Melepaskan prinsip yang dipegangnya. Tapi itulah kehidupan. Manusia sering dihadapkan pada dilema. Dalam kondisi ini nurani jadi gamang.

Khan mengajarkan, dalam kondisi apa pun orang bisa berharga. Tanpa harus mengorbankan prinsip. Dengan kondisi yang ada, Khan mampu berbuat. Dan ternyata dia bisa sukses.

Kepercayaan yang diberikan kakaknya dilaksanakan dengan baik. Sisi disabilitas Khan dijawab dengan sebuah usaha sungguh-sungguh. Dan ternyata seorang penyandang menyandang Asperger Syndrome juga bisa bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.

Bean dan Khan bukanlah bintang biasa, untuk menjadi apa saja mereka mampu menghayatinya dengan sempurna. Karena memang mereka dilahirkan menjadi orang-orang cerdas..*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *