Tanpa Akal Sehat, Membuat Pers Mudah Lupa Diri

Posted by

Tidak dapat dipungkiri. Negeri ini mayoritas muslim. Pembaca dan pemirsa tv juga kebanyakan orang muslim.

Pelanggan media yang ada di negeri ini sebagian besar umat Islam. Setiap bulan pembaca dan pelanggan mengeluarkan uangnya untuk membayar koran. Tingginya rating tv juga ditentukan oleh pemirsa.

Jadi sebetulnya umat Islam-lah yang membesar grup-grup media yang ada di Indonesia. Umat Islam pula yang mengangkat rating siaran televisi.

Seluruh sektor bisnis suatu grup media dibesarkan berkat kucuran dana dari sebagian besar umat Islam yang datang dan berbelanja.

Pers yang kehilangan akal sehat mudah lupa diri

Pendek kata, tanpa “kepedulian” umat Islam, tidak mungkin sebuah grup media bisa membesarkan diri mereka dengan mengandalkan sebagian kecil masyarakat tertentu.

Ironisnya ada media yang dengan sengaja meminggirkan peran umat Islam.

Untuk menarik pembaca, dulunya ada media yang dijajakan gratis dari rumah ke rumah.

Tujuannya untuk menarik simpati. Dan akhirnya jadi pembaca setia. Kebanyakan sasarannya adalah penduduk muslim.

Kooptasi politik

Pada awalnya, media “yang dibesarkan” ini tidak terkooptasi dengan politik. Meskipun pada awalnya lahir untuk mewakili sebuah komunitas dan warna politik tertentu.

Karena memang yang membidaninya adalah para pastur. Maka namanya pun disesuaikan dengan kondisi tersebut.

Pascafusi, beberapa partai politik digabung menjadi satu partai. Untuk penyederhanaan. Sehingga dengan demikian hanya ada tiga partai sebagai kontestan pemilu.

Ketika era berganti, kran untuk membentuk partai politik terbuka kembali. Di awal reformasi, banyak partai politik yang bermunculan.

Sakan-akan tanpa ada batas jumlah yang diperbolehkan. Siapa pun bisa membentuk partai politik dengan syarat yang mudah.

Saat ini sulit mencari media yang bisa menjadi penyambung aspirasi rakyat. Ada polarisasi antara suara umat Islam dan kutub yang lain.

Grup media seperti dengan sengaja telah ikut memilah-milah masyarakat dalam kotak-kotak. Dan itu hanya terjadi belakangan ini. Di saat kehidupan demokrasi semakin membaik, pers malah membunuhnya.

Mereka tidak lagi menempatkan diri di tengah-tengah, dan berperan sebagai penyampai amanat rakyat. Tanpa pandang latar belakang politik dan agama, tentunya. Grup media ini sudah lupa kepada siapa yang telah membesarkan dia dan membuat gemuk seperti ini.

Kehilangan akal sehat

Jika umat Islam mau, maka dalam sekejab semua kejayaan yang ditelah dicapai bisa ambruk seketika. Jika umat Islam terus dikecewakan, pers model begini bisa saja dikecilkan kembali.

Karena memang sebagian media tampaknya sudah tidak bisa menghadirkan pers yang sehat, sejuk, netral dan tanpa sekat-sekat.

Mereka telah menjelma menjadi pers yang gampang sakit hati, gampang merajuk dan tidak mampu menerima perbedaan. Sepertinya mereka ingin menampakkan wujud asli mereka.

Sangat memprihatinkan, memang. Saat ini pers Indonesia benar-benar telah kehilangan akal sehat. Sehingga tidak mampu berpikir positif atas sesuatu perbedaan.

Media tak lagi memiliki karakter yang jelas. Integritas sebagai pers yang bebas, telah sirna seiring dengan kebodohan-kebodohan yang setiap hari dipertontonkannya, Melalui sajian-sajian berita yang tidak memberikan nilai pendidikan.

Mereka terbelenggu oleh kepentingan dan orientasi para pemiliknya…*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *