Aceh lon Sayang 0 comments on Menakar Peluang Dalam Pilkada Aceh 2017 (2-habis)

Menakar Peluang Dalam Pilkada Aceh 2017 (2-habis)

Dokter Zaini Abdullah (ZA) dan Zakaria Saman (ZS), memiliki basis pemilih di wilayah yang sama, yaitu, Kabupaten Pidie. Tetapi konstituen wilayah ini juga ikut diperebutkan oleh tiga kandidat lainnya.

Sebagai Menteri Kesehatan dan Menteri Pertahanan dalam pemerintahan Atjeh-Sumatera National Liberation Front (ASNLF), yang dipimpin oleh Wali Nanggro, Teungku Hasan Tiro (alm.), ZA dan ZS, memilih hidup lebih lama di pengasingan, Swedia. Sehingga popularitas keduanya tidak terbaca di kalangan masyarakat Aceh.

Keduanya kalah populer dibandingkan Muzakir Manaf, sebagai Panglima Angkatan Bersenjata GAM, yang menggantikan Teungku Abdullah Syafii, setelah syahid dalam sebuah kontak senjata di wilayah Pidie, tahun 2002.

Aceh Utara sudah jelas dimiliki oleh TK, Mualem dan IY. Ketiganya berasal dari kabupaten induk yang sama, Aceh Utara. Meskipun IY bisa mendominasi Kabupaten Bireuen, tapi TK dan MM juga memiliki masa tersendiri di sini. Ada sel-sel yang sudah lama dibangun untuk merangkul para pendukung di daerah ini.

Merebut prestisius di tanah rencong
Pilkada Aceh: antara ambisius, prestisius dan kekuatan basis masa

Sebaran daerah potensial

Dataran tinggi dan sebagian pesisir pantai barat Aceh, bisa jadi dimiliki IY. Calon wakil gubernur Nova Iriyansyah, memiliki keterkaitan emosional di dataran tinggi. Orang tua Nova memang berasal dari Aceh Tengah.

Sebagai mantan anggota DPRRI dari dapil 1 Aceh, Nova juga memiliki modal untuk bisa meraih pemilih di sepanjang pantai barat. Kiprah semasa menjadi wakil rakyat, akan sangat menentukan bagaimana respon masyarakat terhadap dirinya.

Namun demikian Nova tidak sendiri, karena ada Nasaruddin yang merupakan Bupati Aceh Tengah selama dua periode (2007-2012) dan hingga sebelum mencalonkan menjadi wakil gubernur berpasangan dengan Dr. Zaini Abdiullah, masih menjabat sebagai bupati. Serta Machsalmina yang menjadi pasangan TK dalam pilkada kali ini.

Pengaruh Irwandi, Nova dan Nasaruddin sangat terasa di dataran tinggi. Irwandi berperan membuka isolasi dataran tinggi dan pantai barat selatan, dan menggunakan teknokrat asal daerah tersebut untuk berkiprah di dalam pemerintahannya, ketika menjadi gubernur.

Tarmizi Karim sebelum menjadi Bupati Kabupaten Aceh Utara, pernah bertugas di Aceh Tengah untuk mengurus koperasi, meninggalkan kesan yang kurang manis bagi masyarakat di sini. Apalagi terakhir ketika menjadi Pj. Gubernur Aceh, TK menempatkan orang Aceh Utara untuk memimpin Dinas Pekerjaan Umum di Aceh Tengah.

Keputusan ini dinilai kalangan, kurang bijak, dan mengundang multitafsir di masyarakat Aceh. Karena masih banyak tenaga profesional yang ada di lingkungan Pemkab Aceh Tengah dan Bener Meriah, yang memiliki disiplin ilmu terkait dengan pekerjaan tersebut.

Aceh Utara yang pernah kebanjiran dolar, tidak membuat daerah ini melejit dalam segi pembangunan. Terdapat lima objek vital yang siap untuk diajak berpartisipasi di segala bidang. Namun hingga terjadi pemekeran pada tahun 2000, daerah ini telah menyia-siakan keberadaan industri raksasa yang hadir di daerah ini. Kecuali jalan raya sepanjang kurang dari 20 kilometer yang dibangun atas inisiatif sendiri PT Arun bersama PT Pertamina.

Padahal kala itu terdapat begitu besar peluang untuk membangun gedung sekolah, rumah sakit serta fasilitas lainnya yang dibutuhkan oleh pemerintah dan masyarakatnya Aceh Utara.

Daerah lain yang mungkin bisa dijadikan lumbung suara bagi TK adalah Aceh Besar. Istri TK berasal dari sana, dan merupakan keluarga dari seorang ulama yang disegani. Namun TK tidak sendirian. Mualem dan IY atau ZS dan ZA juga punya pendukung tersendiri di sini.

Pasangan TK dan Machsalmina masih berpeluang merebut suara pantai barat – selatan dan akan bersaing dengan Machasalmina pernah menjadi Bupati Aceh Selatan selama dua periode ((1998-2003) dan (2003-2008). Meskipun demikian Mualem, serta IY bersama Nova tidak mudah begitu saja ditaklukkan di sana.

Abdullah Puteh (AP)

Mantan gubernur Aceh periode 2000-2004 ini, masih memiliki taji di Aceh. Banyak di antara pendukungnya yang merasa kesal ketika AP diciduk petugas untuk doboyong ke Jakarta, atas tuduhan korusi. Atas sangkaan tersebut, tahun 2005 AP diganjar sepuluh tahun penjara dan kemudian mendapatkan bebas bersyarat pada tahun 2009.

AP yang banyak menghabiskan waktunya hidup di ibukota, Jakarta, pernah menjadi Ketua Umum KNPI (1984-1987). Pada masa orde baru, AP dikenal sangat dekat dengan tokoh-tokoh penting Golkar, partai yang berkuasa saat itu.

Dia juga dikenal sangat dekat dengan DR. Abdul Gafur, yang dipercayakan Presiden Soeharto sebagai Menteri Pemuda dan Olah Raga dalam Kabinet Pembangunan IV, tahun 1983-1988. Dalam jajaran Dewan Pimpinan Pusat Golkar, AP pernah dipercayakan sebagai salah satu Wakil Sekjen.

Pemetaan kekuatan AP, lebih banyak di wilayah Aceh Timur, yang merupakan tanah kelahirannya dan sebagai tempat karir birokrasinya bermula. Untuk menguasai Aceh Timur, AP bersinerji dengan Nektu, mantan Wakil Panglima (Gerakan Aceh Merdeka GAM, Wilayah Peureulak, yang juga mencalonkan diri sebagai Bupati Aceh Timur (2017-2022).

Dengan segudang pengalaman organisasi yang dimilikinya, AP mendapatkan nilai tambah tersendiri di mata masyarakat, terutama para mantan aktivis mahasiswa dan pemuda, termasuk dari masyarakat Aceh Timur yang merindukan figurnya.

AP juga berhasil meraih gelar doktor dalam usia yang tidak muda lagi. Dan mendapatkan penghargaan MURI sebagai figur yang bisa menyelesaikan gelar tersebut dalam keadaan sebagai terpidana.

Pernah tersangkut masalah korupsi menjadi catatan kelam yang ikut memengaruhi persepsi masyakat pemilih terhadap dirinya. Meskipun masyarakat Aceh Timur dikenal fanatik kepada putra daerah, namun tidak mudah bagi AP untuk menahan lajunya Mualem, atau juga barangkali, IY, di daerah ini.

Pilkada yang sehat

Tanpa ingin mengecilkan arti kehadiran ZA dan ZS, ataupun AP, maka pertarungan TK, Mualem dan IY menarik untuk disimak. Jika pilkada berlangsung jurdil dan bebas pelanggaran, maka dapat dipastikan kompetisi ketiga cabub ini akan berlangsung ketat. KIP sebagai penanggung jawab pelaksanaan pilkada, dan Panwaslu, harus menempatkan diri secara independen dan tidak mudah diatur dengan materi atau berupa uang.

Dalam pilkada yang sehat, selain faktor figur, maka timses masing-masing pasangan ikut menentukan arah dari peta kekuatan bagi seluruh cagub dan cawagub. Seberapa besarnya efektivitas kinerja timses, akan berbanding lurus dengan hasil yang akan diperoleh.

Memang sangat sulit untuk menakar pasangan calon gubernur dan wakil gubernur serta menebak siapa yang akan keluar sebagai pemenang, hingga datang hari penetapan dari KIP.

Di era yang sedang mengangungkan kaum muda untuk berkiprah dalam jabatan publik, meskipun tidak terlalu muda lagi IY (56 tahun) dan Mualem (52 Tahun), berkemungkinan besar akan melakukan pertarungan berikutnya di putaran kedua pilkada.

Namun satu hal yang perlu diingat, siapa pun yang muncul sebagai pemenang, maka dia adalah gebernur dan wakil gubernur bagi seluruh masyarakat Aceh. Figur yang kalah seharusnya ikut berperan untuk menjaga keutuhan hubungan antarpendukung.

Membiarkan gesekan horizontal pada setiap usai pilkada akan membuat daerah ini semakin rapuh, terpuruk dan sulit untuk maju. “Lam udep ta meusare, lam meugle ta meubila; lam lampoh ta meutulong alang, lam meublang ta meusyedara….*

Aceh lon Sayang 0 comments on Menakar Peluang Dalam Pilkada Aceh 2017 (1)

Menakar Peluang Dalam Pilkada Aceh 2017 (1)

Pilkada serentak untuk beberapa daerah di Indonesia, ikut memengaruhi iklim politik di Aceh. Pascapenetapan calon kepala daerah oleh KIP, laju perubahan politik kian menjadi fenomenal. Sangat dinamis.

Pemilihan gubernur dan wakil gubernur untuk memimpin Aceh lima tahun ke depan, menjadi fokus yang sangat menarik untuk diikuti. Bahkan seorang yang tak begitu “hobi” berpolitik pun ikut-ikutan menjadi analis di arena meja kopi.

Kedai kopi di Aceh adalah tempat yang paling sering dijadikan ajang diskusi untuk semua hal. Mulai dari pertandingan sepakbola level dunia, ekonomi, sosial hingga masalah politik. Maka jika seseorang ingin mendapatkan informasi penting tentang Aceh, “ngetem“lah berlama-lama di dalam kedai kopi.

Orang yang datang silih berganti, masing-masing membawa berita tentang apa yang diketahuinya. Kemudian dilemparkan ke tengah forum informal, dan tentu saja akan menjelma sebagai bahan diskusi yang berkepanjangan.

Merebut prestisius di tanah rencong
Pilkada Aceh: antara ambisius, prestisius dan kekuatan basis masa

Dalam diskusi ini tidak ada moderator, notulen ataupun panelis yang dibentuk. Semua berlangsung multiarah. Siapa pun boleh menanggapi, menambah atau membantah apa yang berkembang.

Para “peserta” diskusi ada yang memang memiliki metode dan alat analisis yang memadai, ada yang cukup hanya mengandalkan kemampuan berkomunikasi dan ada pula yang “asal hajar”.

“Pat-pat nyang didong didonglah”, kalau diartikan secara letterlijk, di mana berhenti berhentilah. Maksudnya, tak terlalu menghiraukan dampak yang akan timbul dari ucapan atau perbuatannya.

Belakangan ini, hampir seluruh kedai kopi di Aceh, hangat kita temukan diskusi tentang pilkada gubernur. Topik ini mengalahkan analisis tentang pertandingan el-clasico, Real Madrid vs Barcelona, ataupun tentang babak kualifikasi Piala Dunia 2018 untuk zona Eropa dan Amerika yang saat ini sedang berlangsung.

Ada enam pasang calon gubernur dan wakil gubernur yang sudah siap bertarung menuju singgasana pemerintahan Aceh untuk periode 2017-2022. Semua kandidat kelihatannya memiliki kapabilitas sesuai dengan urgensi masing-masing.

Setidak-tidaknya ada tiga pasangan calon yang menurut amatan masyarakat, memiliki basis dukungan yang cukup kuat dan merata di seluruh Aceh.

Ada bebarapa faktor yang dapat dijadikan alasan untuk melukiskan peta kekuatan mereka. Ketokohan, pengalaman, popularitas, dan latar belakang dan dukungan politik yang sudah terbentuk

Terdapat pula beberapa pertimbangan yang berkaitan dengan konstelasi politik Aceh sejak MoU perdamaian ditandatangani 15 Agustus 2005, hingga hari ini. Masih ada eforia dan benang merah yang menghubungkan antara masa konflik (tuntutan merdeka) dan kekinian Aceh, terutama di kalangan kombatan GAAM sendiri.

Tarmizi Karim

Tarmizi Karim adalah mantan Bupati Aceh Utara yang sudah berproses hingga pernah dipercayakan pemerintah pusat untuk menjabat sebagai Pejabat (Pj.) Gubernur Kalimantan Selatan dan sebagai Pj. Gubernur Aceh.

Popularitas TK tidak perlu diragukan lagi, baik di kalangan masyarakat umum maupun di kalangan ulama pesantren. TK memiliki kelebihan yang belum dimiliki oleh cagub yang lain. Menjadi khatib dan imam adalah sesuatu yang biasa dilakukannya di mana pun dia berada. Barangkali hanya Doter Zaini Abdullah yang bisa melakukan sebagai yang diperankan TK.

Sehingga nilai tambah TK menjadi momok tersendiri bagi kompetitor lainnya. Bahkan di usianya yang sudah mencapai 60 tahun TK masih bisa mempersembahkan gelar doktor ilmu Alquran yang diraihnya dari IIQ, Jakarta.

Banyak keunggulan yang dimiliki TK, antara lain: dekat dengan pusat, berasal dari jalur birokrat, berpendidikan prestisius, berpengalaman memimpin daerah kabupaten dan provinsi, serta sangat dekat dengan para ulama.

Muzakir Manaf (Mualem)

Mualem, panglima GAM, memiliki basis yang didukung oleh mantan anggotanya. Ketika sebagai wakil gubenur periode sebelumnya, Mualem tetap memelihara hubungan komando dengan jajaran GAM yang ada di bawahnya, di seluruh Aceh. Apalagi Mualem adalah Ketua Umum Partai Aceh, yang mendominasi hampir seluruh DPR yang ada di kabupaten dan kota serta DPR Aceh.

Ini modal dasar yang kuat bagi Mualem dalam membangun pemerintahan yang stabil jika terpilih nanti. Di samping itu, meskipun muncul faksi yang menyebabkan GAM terbelah, akan tetapi basis masa GAM masih cukup solid untuk mendukung PA, terutama di pedesaan.

Belakangan Mualem berhasil meyakinkan pentolan GAM yang pernah mebelot keluar dari garis komando, untuk kembali ke “pelukannya”. “Pulang ke rumah sendiri”; “jak wo u rumoh dro”. Demikian ungkapan sesama mereka.

Dia juga tidak sungkan-sungkan menimpakan kesalahan kepada Malik Mahmud atas disharmoni hubungan antara dia dan anak buahnya selama ini.

Tiga kali pileg dan dua kali pilkada menjadi bukti kuat, bahwa GAM yang bernaung di bawah bendera Partai Aceh, masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Irwandi Yusuf

Mantan gebernur 2007-2012, Irwandi Yusuf (IY), tidak kurang pula memiliki tempat yang baik di kalangan GAM dan masyarakat Aceh. Terobosan IY di sektor kesehatan dan pendidikan ketika menjadi gunernur, membuat dia menjadi pioner yang mampu memberikan pengobatan dan biaya sekolah gratis.

Bermula dari nekad, namun bisa terwujud dalam bentuk nyata. Ketika menggagas ide tersebut belum terlihat dari mana sumber dana yang akan dipergunakannya untuk memberikan pengobatan dan pendidikan gratis bagi masyarakat Aceh. Mulanya asal njeblag, tapi akhirnya jadi barang itu.

Modalnya pun cukup hanya dengan menunjukkan KTP Aceh. Tidak perlu syarat yang lain, untuk berobat di puskesmas dan rumah sakit. Begitu mudahnya.

Tipikal gaya kepemimpinan IY banyak disukai oleh sebagian masyarakat Aceh. Latar belakang pendidikan lumayan baik, —mantan pengajar di Fakultas Kedokteran Hewan, Unsyiah—, membuat IY bisa masuk ke dalam wilayah pemilih terpelajar dan kelas menengah ke atas. Bersaing dengan TK di wilayah perkotaan.

Bila Muzakir Manaf, lebih mengandalkan suara masyarakat akar rumput, Irwandi, malah lebih optimis dengan masyarakat perkotaan. Meskipun di pangsa ini ada Tarmizi Karim dan Abdullah Puteh yang juga berpeluang untuk mengais suara di sini. (Bersambung).

Aceh lon Sayang 0 comments on Untaian Kisah Duka Di Persada Tanah Rencong

Untaian Kisah Duka Di Persada Tanah Rencong

Hari itu, Selasa, 1 Juli 1969, bumi Aceh bergetar keras menghentak-hentak bangunan hingga rubuh satu persatu. Jalan dan tanah ikut terbelah. Kalimat tahlil serempak menghiasi lisan setiap penduduk Aceh pesisir, mulai dari Panton Labu hingga Kabupaten Pidie.

Ini adalah salah satu gempa dahsyat yang pernah meluluhlantakkan bentangan pesisir timur Aceh, sebelum datang peristiwa tsunami menyapu bersih daratan Aceh pada 26 Desember 2004, sembari merenggut nyawa lebih seratus lima puluh ribu manusia dan tak terhitung harta benda.

Kala itu, hampir semua masyarakat awam percaya bahwa ada kerbau jantan penghuni Gunung Enang-enang yang sedang murka berat kepada manusia. Maka dia pun mengeliatkan badannya sehingga memicu terjadinya gempa bumi.

Tidak ada yang mengetahui tentang skala richter, yaitu, skala pengukur kekuatan gempa yang ditemukan oleh Charles Francis Richter; ataupun skala MMI (Modified Mercally Intensity), yang dicetuskan oleh Giuseppe Mercalli; dan bahkan entah apakah gempa itu tektonik ataupun vulkanik.

Kisah memilukan tentang Gempa Aceh
Duka Aceh kembali berulang menyelimuti seluruh perasaan anak negeri

Tak ada yang peduli tentang itu. Tak ada surat kabar. Apalagi televisi. Berita tentang kerusakan hanya diperoleh dari masinis kereta api Aceh yang mundar mandir menjalankan trayek Besitang (Sumut) hingga Sigli (Kabupaten Pidie). Orang-orang kereta api lah yang menyampaikan pesan secara berantai.

PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api), adalah salah satu instansi yang memiliki alat telekomunikasi telepon model putar waktu itu. Yang memang dipergunakan untuk menginformasikan tentang jam keberangkatan kereta api uap kepada stasiun berikutnya .

Tiga hari setelah gempa bumi. Kami sekeluarga berangkat ke kampung halaman tempat Ibu kami berasal, Jangkabuya. Di sini pula beberapa tahun setelahnya, kami melihat coretan tanggal kejadian gempa, pada dinding salah satu kedai di Pasar Jangkabuya yang ditulis seseorang.

Dari Lhokseumawe, naik kereta api di stasiun Pasai Gambe, menuju ke arah barat, menyusuri kecamatan, dan perkampung yang berjejer berkelindan hutan kecil, kebun dan persawahan.

Kepiluan sepanjang perjalanan

Sejak keluar Peukan Cunda sudah terlihat pemandangan yang memiriskan. Masyarakat korban musibah gempa benar-benar sedang dirundung nestapa. Mereka sedang merasakan kepiluan yang luar biasa.

Jalan-jalan pecah terbelah dua, bangunan di kiri kanan sepanjang perjalanan, rata dengan tanah. Yang tersisa hanya rumah-rumah berbahan kayu.

Wajah murung menyelimuti masyarakat. Puing-puing tak mampu dibersihkan dengan segera. Tidak ada alat berat, tidak ada kendaraan yang bisa membantu memindahkan pecahan bata yang berserakan.

Bantuan dan sokongan hanya alakadarnya dari masyarakat sekitarnya yang luput dari musibah. Sisanya mereka hanya mengadu kepada yang di atas, sebagai tempat mencurahkan rasa sedih yang sedang menimpanya.

Pengurusan mayat pun dilakukan dengan cara sederhana, mengikuti rukun-rukun yang berlaku menurut syariat Islam. Tidak ada air mata yang tersisa untuk dikeluarkan. Semua telah mengering, semua telah pasrah terhadap kenyataan yang ada.

Gempa adalah sunatullah akibat dari pergeseran lempeng-lembeng bumi yang belasan jumlahnya. Sebagian terdapat di dasar samudera dan adakala terhampar di daratan.

Masing-masing lempeng bergerak sesuai arahnya dengan kecepatan sangat relatif. Berkisar antara 5 hingga 10 sentimeter pertahun. Terkesan lambat, tapi terus bergerak dinamis dan tak beraturan.

Ada yang berlawanan ekstrem, adapula yang saling menekan sambil bergesekan ke arah yang berlawanan. Di sana terdapat bidang pengunjaman yang pada suatu saat akan berakhir dengan patahnya salah satu lempeng yang menyebabkan timbulnya enerji yang sangat besar. Besar kecil enerji yang dilepaskan akan menetukan besarnya getaran yang akan dirasakan di permukaan..

Besarnya getaran diukur dalam skala Richter, yang berasal dari nama penemu alat pengukur gempa. Dan berdasarkan penetapan MMI sebagai simpulan dari level tingkat getaran yang terjadi.

Semakin besar skala Richter, semakin kuat pula getaran yang terjadi. MMI diukur berdasarkan tingkat kekuatan merusak dari goncangan yang dimiliki. Hampir tidak ada korelasi di antara kedua parameter tersebut. Yang satu mengukur kekuatan getaran, sedang satu lagi “menduga” tingkat kerusakan.

Sesar Semangko

Pulau Sumatera memang rawan gempa. Mulai yang bersumber di lautan dari pertemuan lempeng Indo-Autralia dan Eurasia yang membentang sepanjang pantai barat, hingga yang bersumber di daratan yang memanjang mulai dari Teluk Semangko Provinsi Lampung, hingga Kecamatan Darul Imarah di Provinsi Aceh. Manusia Sumatera hidup di atas lempengan yang menyimpan potensi gempa.

Hakikatnya gempa tidak membunuh. Tapi reruntuhan bangunan akibat gempa akan menjadi alat untuk melukai dan bahkan melenyapkan nyawa makhluk-makhluk yang tertimpa olehnya.

Rabu, 7 Desember 2016, pukul 05.05 pagi, bumi Aceh kembali dikejutkan dengan goncangan luar biasa besarnya. Dalam skala Richter disebutkan mencapai 6,4 atau diperkirakan  dengan skala kerusakan sekita 6 MMI.

Dengan kedalaman yang relatif dangkal, hanya 10 kilometer di bawah permukaan laut, membuat gempa ini sangat merusak. Meskipun demikian gempa bumi dan tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 adalah yang terbesar sepanjang sejarah Aceh, dan salah satu terbesar yang pernah terjadi di dunia. Merupakan tsunami kedua yang melanda Aceh, setelah tahun 1907.

Semua musibah membawa duka yang dalam; meninggalkan kenangan pedih yang tetap terus membekas. Kehilangan selalu akan mengundang duka dan nestapa; pilu dan derita. Sepanjang jalan dari Kabupaten Bireuen hingga Kabupaten Pidie hampir tidak ada bangunan yang bisa tegak berdiri utuh. Semua seperti bersujud keharibaan sang Pemilik jagad raya ini.

Gempa 7 Desember 2016 yang melanda pesisir timur Aceh, mengingatkan kembali kejadian yang sama, pada empat dasawarsa yang lalu. belum kering air mata, belum hilang luka yang menyayat, belum lepas kesedihan dalam hati. Belum lupa tsunami yang melanda, belum lupa gempa Simeulue, belum lupa gempa Aceh Tengah belum pula lupa gempa Bener Meriah, belum pula lupa gempa di Aceh Besar. Kini gempa Pidie Jaya, kembali mengundang pilu dan nestapa.

Manusia hanya mampu menerima dan berdoa, sisanya adalah hak dari yang Maha Kuasa, yang bisa menetapkan segalanya sesuai dengan kehendaknya, sembari mengucapkan istirja’: “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…., Allahumma’ jurni fii mushibati wa akhlifli khairan minha“. Sesungguhnya yang datang dari Allah, maka kepada-Nya jua akan kembali…., Ya Allah berilah pahala bagiku dalam musibah ini dan berilah ganti dengan yang lebih baik dari kejadian ini”….**

Aceh lon Sayang, Ini Medan, Bung! 0 comments on Lontong Medan Dan Mie Aceh Bertemu Di Yogyakarta

Lontong Medan Dan Mie Aceh Bertemu Di Yogyakarta

Mantan atasan saya ketika bekerja di Aceh dulu, sudah menjadi sahabat bagi saya. Kalau soal mencicipi makanan, dia memang jagonya. Apabila sudah statement enak, maka ninety persen makanan itu dijamin enak, tak perlu diragukan lagi. Hobinya berburu kuliner kemana pun dia bertugas, di samping orangnya sendiri memang hobi masak.

Kebetulan istrinya adalah campuran suku Minang dan Mandailing, jadi sudah jelas pula pintar masak. Dia sendiri adalah campuran antara suku Rao di perbatasan Sumatera Utara – Riau dan suku Karo, di Sumatera Utara. Yang satu jago masak, yang satunya lagi ahli pengecapan. Mirip-mirip tipis sama Pak Bondan Winarno, yang sering muncul di televisi itu.

Beberapa waktu yang lalu, “sahabat” saya ini berkunjung ke Yogyakarta untuk suatu tugas pelatihan tentang ilmu lingkungan hidup di lingkungan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Karena sudah beberapa hari terbiasa disuguhi makanan ala Yogyakarta yang rada manis, maka timbul hasrat untuk mencari menu lain yang mirip-mirip dengan cita rasa makanan di Sumatera.

Karena kami dulunya pernah bersama-sama tinggal Aceh, maka saya pun mencoba menawarkan masakan Aceh, yang menunya terdiri dari Nasi Goreng, Kare Ayam, dan Mie Aceh. Rupanya karena ketika di Aceh beliau hobi menyantap mie Aceh, dapat dipastikan pilihannya jatuh kepada mie Aceh. Saya memilih yang banyak kuahnya, sedangkan sahabat saya memilih mie Aceh tumis yang sedikit lebih kental.

Lontong Medan dan mie Aceh di Yogyakarta
Kelezatan kuliner Medan dan Aceh dapat dinikmati di Kota Yogyakarta

Saya menghabiskan apa yang ada di piring hingga sendok terakhir. Ternyata sahabat saya juga menyelesaikan hingga piring nyaris tampak bersih. Sejurus kemudian keluar komentar dari beliau: “rasanya persis kayak mie Aceh di Aceh; kalah mie Aceh yang ada di Titi Bobrok Medan”, katanya.

Titi Bobrok adalah salah satu lokasi penjualan mie Aceh yang ada di Kota Medan. Setiap penggemar mie Aceh di seputar kota Medan pasti hafal dengan lokasi tempat jualan mie Aceh tersebut.

Masakan khas Sumatera

Sejarah mie Aceh yang mengambil lapak di depan asrama putri Aceh “Bale Gadeng”, Sagan, Yogyakarta ini, dimulai sejak tahun 2005, yang dirintis oleh prantau asal Aceh yang membuka usaha warung mie Aceh. Dengan dibantu oleh seorang pemuda asal Kebumen, setiap harinya membuka warung sejak pukul 17.00 hingga pukul 23.00. Biasanya dia bisa menjual  15 hingga sampai 25 kilogram mie setiap harinya, belum termasuk nasi goreng dan nasi kare ayam atau kare kambing, yang taste-nya sama persis dengan masakan yang ada di Aceh.

Warung tersebut hanya memanfaatkan lahan di pinggir jalan yang dipasangkan tenda sementara cukup untuk dapat menempatkan sekitar 20 kursi, untuk menampung 20 orang yang makan berbarengan. Dan bila sedang penuh para penggemar mie Aceh biasanya bersedia untuk mengantri, menunggu sampai yang di bawah tenda selesai makan.

Di sudut perkampungan yang lain —masih di Yogyakarta—, juga terdapat masakan khas Sumatera. Siapa yang tidak pernah dengar “Lontong Medan”. Di warung yang menyediakan lontong Medan ini tersedia beberapa menu, antara lain adalah, Soto Medan, Daun Ubi Tumbuk, Sambal Teri dan Lupis. Tapi yang paling kesohor adalah Lontong Medan. Pengunjung warung ini hampir tak pernah putus. Penggemar kuliner datang silih berganti untuk menikmati menu yang disediakan di sana.

Semua makanan yang tersedia di sana sangat kental Medan-nya. Rasanya persis sama seperti ketika kita menikmati menu tersebut di tempat Kak Lin, Kampung Keling, ataupun Soto Sei Deli, Silalas, Medan. Tidak ada bedanya sama sekali. Terasa seperti sedang berada di Kota Medan.

Berbeda dengan mie Aceh, warung lontong Medan, menempati sebuah bangunan permanen yang memiliki desain minimalis dan sangat nyaman untuk ditempati. Lokasi rumah Makan Kinantan yang menyediakan masakan Medan ini, berada di Kampung Nologaten, yang masih termasuk ke dalam bilangan wilayah Seturan Yogyakarta. Meskipun ini merupakan lokasi baru ditempati, akan tetapi para pemburu kuliner Sumatera, tetap mencarinya hingga ketemu.

Ada hal yang menarik yang terdapat di balik kehadiran kedua masakan khas dari Sumatera ini. Yang satu berasal dari Aceh, yang satunya lagi berasal dari Sumatera Utara, tepatnya dari Kota Medan. Orang-orang yang pertama sekali mampir ke warung Mie Aceh, akan tidak percaya bahwa yang membuat racikan mie Aceh tersebut tidak sedikit pun mengerti tentang Aceh. Bukan hanya tidak mengerti bahasanya, datang ke Aceh pun belum pernah selama hidupnya, sekalipun. Tetapi semua orang yang pernah menikmati kelezatan mie Aceh ketika berada di Aceh akan sepakat bahwa masakan mie Aceh Yogyakarta, yang dimasak oleh Mas Pepeng, nama panggilannya, benar-benar mengingatkan seseorang seperti sedang menyantap mie Aceh di daerah asalnya.

Rasa Medan

Akan halnya Lontong Medan, pengelolanya, Mas Hendriks, juga bukan orang asli dari Medan. Tapi masakannya sangat asli Medan. Rasanya tidak ubah sama sekali, seperti kita sedang berada di Kota Medan. Serasa seperti sedang menikmati masakan Medan di Kota Medan sendiri, bukan sedang di Yogyakarta. Bukan hanya lontongnya yang sangat bercita rasa Medan, tetapi juga lupis, soto, sambal teri dan daun ubi tumbuknya sangat khas rasa Medannya.

Bagi para perantau dari Medan dan Aceh yang sedang kuliah di Yogyakarta, kehadiran dua macam masakan khas Sumatera ini, bisa mengobati rasa rindu akan kampung halaman. Kebetulan karena daerahnya sangat berdekatan, maka lidah orang Medan dan orang Aceh tidak jauh berbeda.

Banyak orang-orang di Aceh yang menyukai lontong Medan. Demikian juga sebaliknya. Orang Medan juga tidak asing dengan masakan Aceh, termasuk untuk menikmati mie Aceh-nya. Di Kota Medan sendiri banyak dijumpai warung mie Aceh dan masakan Aceh. Karena makan mie lebih praktis dibandingkan dengan makan masakan berupa menu nasi Aceh, maka pada umumnya penggemar kuliner Aceh lebih memilih makan mie. Di samping aroma masakannya yang khas, mie Aceh juga bisa untuk meningkatkan selera makan.

Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar, selamanya akan dipenuhi oleh para pencari ilmu yang datang dari berbagai daerah. Setiap tahun ada yang datang dan ada yang pergi. Bagi yang baru datang dibutuhkan waktu adaptasi untuk bisa menikmati masakan khas Yogyakarta seumpama Gudeg Yogya. Rasanya yang manis membuat anak-anak mahasiswa baru dari luar Jawa perlu penyesuaian diri dengan rasa masakan Yogyakarta.

Kehadiran masakan asal kampung sendiri merupakan alternatif yang memberikan jawaban atas persoalan makanan yang dihadapi oleh sebagian besar para mahasiswa pendatang. Meskipun tidak harus rutin bisa menyantap masakan dari daerah asal, sebulan sekali ketika kiriman uang dari orang tua diterima, sudah cukup untuk mengobat rindu masakan Ibu. Alternatif lainnya adalah terus berusaha untuk menyukai masakan Yogyakarta. Banyak pilihan kuliner dari Yogya yang bisa dinikmati dengan harga yang terjangkau. Hampir seluruh masakan nusantara dapat ditemukan di Yogyakarta, dengan rasa khas daerah masing-masing.

Masakan Medan dan masakan Aceh, merupakan sedikit dari sekian banyak masakan nusantara yang hadir di Kota Yogyakarta. Kedua jenis masakan dari daerah tersebut dapat di temukan di Yogyakarta. Meskipun yang meraciknya bukanlah orang asli daerah, tapi cita rasa masakannya persis sama enaknya seperti masakan asli. Selamat menikmati kuliner masakan Ibu. Tak perlu harus menunggu waktu pulang ke kampung, tapi carilah di Yogyakarta. Keduanya ada di kota ini, tentunya, dengan harga yang tetap berpihak kepada mahasiswa…*