Selamat Merayakan Idulfitri

Taqabbalallahu minna wa mingkum

Ucapan yang disukai Nabi ketika sesama muslim bertemu kertika merayakan hari raya Idulfitri

Idulfithri diyakini sebagai hari pembagian pahala bagi orang-orang yang meraih kemenangan. Disebut juga sebagai yaumul ja-izah.

Hari di mana Allah subhanahu wata’ala melengkapi pahala bagi yang berhasil mencapai derajat taqwa.

Dalam merayakan idulfitri disunahkan untuk memakai pakaian baru dan pakaian yang bersih. Atau dengan sebaik-baiknya pakaian yang dimiliki. Memakai wangi-wangian. (Shahih Bukhari).

Disunahkan pula untuk makan sebelum keluar dari rumah untuk menuju tempat shalat (Shahih Bukhari).

Dalam menyambut harti raya fitri dianjurkan untuk menggemakan tahlil takbir dan tahlil dengan suara keras (Rawahu Baihaqi). Disunahkan agar secara bergantian memberikan ucapan selamat (tahni-ah).

Menggugurkan dosa

Berjabat tangan antara sesama laki-laki atau atau sesama perempuan. Atau antara mereka yang diperbolehkan bersalaman. Perbuatan ini digambarkan dapat menggugurkan dosa-dosa bagi keduanya. (Rawahu Thabrani).

Dianjurkan pula untuk menampakkan wajah yang penuh kegembiraan; membedakan jalan untuk menuju tempat shalat dan jalan pulang dari tempat shalat. (Shahih Bukhari).

Menyambung tali silaturrahim dengan sanak famili, agar Allah bentangkan baginya rizki, dan Allah panjangkan umur baginya. (Shahih Bukhari).

Biasanya setiap idulfitri, masyarakat saling mengucapkan minal aidin wal faizin. Ini berlaku bagi masyarakat muslim di semenanjung Melayu. Termasuk Indonesia.

Namun apakah ucapan yang disenangi Rasulullah bagi umat Islam ketika merayakan hari raya fitri…?

Seorang sahabat Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam, bernama Khalidin ibnu Ma’dan, dalam suatu hari raya fitri bertemu dengan seorang sahabat lainnya bernama Wasilah ibnu Asqa’.

Dalam kesempatan tersebut, Khalidin mengucapkan: “taqabbalallahu minna wa minka”, lalu secara spontan Wasilah pun membalasnya dengan ucapan: “na’am, taqabbalallahu minna wa minka”.

Saling mendoakan

Apabila sesama muslim bertemu pada idulfitri maka dianjurkan iuntuk saling mendoakan: “taqabbalallahu minna wa minka”, Bagi orang yang menerima ucapan tersebut, menjawab doa dengan ucapan: “na’am, taqabbalallahu minna wa minka”.

Rasulullah menyukai ucapan ini dan ikut mempraktekkanya ketika kemudian Wasilah ibnu Asqa’ mengucapkan “taqabbalallahu minna wa minka” kepada Nabi.

Ketika itu Rasulullah menjawabnya dengan ucapan: “na’am, taqabbalallahu minna wa minka” (Rawahu Baihaqi dalam Kitabul ‘Idain).

Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima dari kami (yang telah kami amalkan) dan dari engkau (yang telah engkau amalkan).

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala sudi menerima amal ibadah kita sekalian. Aamiin…*.

Menghitung Hari

Elizabeth Tower

Menara Big Ben sebutan untuk Lonceng besar (Great bell) yang standar waktu jamnya diyakini sangat akurat

Jumlah hari memang sudah tetap. Hanya relatif antara jumlah dalam bulan komariah dan syamsiah.

Tahun masehi berpedoman kepada syamsiah; matahari. Sedangkan tahun hijriyah mengikuti perhitungan bulan (kamariah).

Perhitungan waktu (jam) juga relatif. Ada perbedaan antara waktu terhadap waktu GMT.

Di belahan utara atau selatan kadang waktu malam lebih pendek, siangnya lama. Secara silih berganti. Kecuali wilayah di sekitar garis khatulistiwa.

Manusia suka lupa akan waktu. Waktu berjalan tanpa memberi bunyi. Hanya ada sinyal dari bayangan. Kecuali pasang alarm tersendiri dari waktu ke waktu.

Waktu adalah pedang

Dalam syair Arab, “waktu adalah pedang”. Orang barat menilai “waktu adalah uang”. Tidak memanfaatkan waktu, sama dengan membuang kesempatan mendapatkan uang. Orang Arab memahami bahwa, jika tidak bijak memanfaatkan waktu, maka dia akan menghabisi kita.

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepadaku (Allah)”. Bukan untuk tujuan lain. Perwujudan mengabdi banyak bentuknya. Berbuat baik kepada sesama manusia, tidak dhalim, tidak membuat kerusakan di bumi. Memelihara ekosistem lingkungan dan tidak mengganggu habitat hewan.

Secara khusus, mengabdi direpresentasikan dalam bentuk ibadah. Sembahyang (sholat), puasa Ramadhan dan mengeluarkan zakat (fitrah) adalah yang wajib dilaksanakan. Dikerjakan dapat imbalan pahala; ditinggalkan akan mendapat dosa.

Pahala dan dosa adalah ukuran akan menjadi apa manusia ini setelah mati. Masing-masing ada timbangannya. Ini hal yang ghaib. Cukup diimani saja.

Tapi bisa dicermati dengan cara evaluasi diri. Introspeksi. Bisa direka-reka dari perbandingan antara pekerjaan baik (wajib) dengan niat yang lurus, dan pekerjaan buruk (haram).

Salah satu medianya adalah waktu. Klasifikasinya kira-kira berapa nilai waktu yang bermanfaat, yang mubasir dan yang terbuang untuk pekerjaan maksiat.

Ini bisa dibreakdown menjadi lebih rinci. Dimanfaatkan untuk apa saja. Mubasir untuk kegiataan apa saja. Maksiat dalam bentuk apa saja.

Tidur yang cukup untuk memelihara kesehatan adalah manfaat. Tidur berlebihan mubazir. Tidak tidur sama sekali tanpa memikirkan kesehatan, sama dengan menganiaya diri. Perlakukan demikian direken sebagai pekerjaan dhalim.

Usia Nabi

Rata-rata usia manusia adalah 62 tahun (seusia Nabi Muhammad). Masa pra-aqil baligh rata-rata 15 tahun. Berarti ada kewajiban beribadat bagi setiap mukmin selama 47 tahun usia.

Berapa besar waktu yang bermanfaat untuk berbuat baik dan ibadat. Berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia (mubazir). Dan berapa banyak untuk membuat pelanggaran (maksiat).

Rata-rata waktu normal yang dipergunakan untuk ibadat (sholat) per hari sekitar 2 jam. Selama 47 tahun waktu yang digunakan untuk ibadat hanya selama 3.9 tahun. Itu pun bila efektif dimulai sejak usia 15 tahun tanpa putus.

Untuk tidur normalnya digunakan 8 jam per hari. Selama 47 tahun untuk tidur saja manusia bisa menghabiskan waktu sebanyak 15.6 tahun.

Berapa tahun yang dipergunakan untuk melakukan maksiat…? Bisa banyak bisa sedikit. Bisa parah bisa sedang-sedang saja. Tergantung intensitasnya. Tapi yang jelas masih ada sisa waktu dari ibadah dan tidur sebesar 27. 5 tahun lagi.

Sebagiannya dimanfaatkan untuk makan/ minum; sekolah/ kerja; mandi; belanja atau keperluan lainnya diperkirakan akan menghabiskan waktu selama kurang lebih 6 atau 7 tahun. Beberapa di antaranya bila ditata niat karena Allah, akan bernilai sebagai ibadah.

Masih ada sisa waktu sekitar 20 tahun lagi. Itupun bila usia kita bisa mencapai hingga 62 tahun. Bila ajal datang lebih cepat dari estimasi usia Nabi, maka tidak ada yang tahu berapa waktu yang telah kita pergunakan untuk kebaikan…?*.

Web Culture dan Phubbing

Smombie smartphone zombie

Smombie yang telah menulari masyarakat dunia. Seluruh perhatian mereka sepenuhnya ke perangkat gadget yang ada di tangannya

Dalam dua dekade ini dunia telah ditundukkan oleh teknologi gadget. Termasuk di dalamnya manusianya.

Smartphone telah menjadi bagian dari diri. Layaknya pancaindera. Bagian dari organ penting manusia.

Tanpa benda ini manusia akan gamang, akan kebingungan. Seperti ada yang hilang; ada yang belum lengkap. Bukan sekadar kebutuhan hidup, melainkan sudah menjadi hidup itu sendiri.

Jarak dunia menjadi pendek. Universalitas terjangkau dalam hitungan detik. Dunia berubah menjadi rumah kaca. Jangkauan semakin luas.

Tapi ruang sosial menjadi sempit. Gadget bukan hanya membuka dunia. Tapi juga menjelma menjadi alat penyekat terhadap individu yang ada di sekitarnya. Menyita sosialitas lingkungan.

Orang Jepang sejak lama sudah biasa hidup begini. Jauh sebelum teknologi informasi berkembang seperti saat ini. Di ruang publik orang Jepang benar-benar terkurung. Masing-masing asyik dengan bacaan sendiri. Mainannya sendiri. Tak perlu menoleh kiri-kanan.

Tom Chatfield

Perkembangan fantastis teknologi ditandai dengan cepatnya pengantian generasi piranti tersebut. Mulai komputer yang segede lemari, kini bisa hanya dalam satu genggaman.

Fitur-fitur gadget memang menawarkan kemanjaan dan kemudahan yang luar bisa. Hampir lengkap untuk memenuhi segala keperluan. Segala urusan dapat terwujud realtime mulai hitungan waktu kurang dari satu detik.

Gadget ibarat “sang kekasih” yang bisa berpengaruh pada dua sisi kehidupan. Mengendalikan atau ditaklukkan. Tanpa pengendalian diri yang baik, manusia akan berlutut dihadapan alat ini. Dipaksa menemaninya dalam waktu berjam-jam tanpa henti.

Hilang diganti, rusak diperbaiki, tua beli baru. Tak membiarkan dia mati sekejab mata pun. Anak, istri atau suami boleh terlantar, tapi “sang kekasih” tak boleh dibiarkan.

Di Jepang, situasi ini dilihat oleh Tom Chatfield –seorang kolumnis BBC–, sebagai kebiasaan hidup “suku dua jari” atau oyayubizoku atau “klan ibu jari” (the “clan of the thumbs”). Anggota dari the mǔ zhǐ zú atau “thumb tribe”. Yaitu manusia yang tak pernah berhenti memainkan ujung jari tangannya.

Tom Chatfield juga menemukan satu frasa dalam bahasa China. Yaitu istilah dī tóu zú, yang secara harfiah berarti “suku kepala bungkuk”. Mengambarkan sikap manusia yang sedang asyik dengan smatrphone-nya masing-masing. Dengan posisi kepala tertunduk menatap layar.

Smartphone addict

Phubbing sebuah kata baru untuk menggambarkan keadaan, suasana dan perasaan ketika dunia di sekitarnya tertutup habis oleh kesibukannya.

Mengabaikan orang-orang yang berada bersamanya. Mengabaikan seseorang yang berada dalam situasi sosial yang sama dengan menyibukkan diri dengan telepon atau perangkat seluler lainnya

Phubbing merupakan hasil rekayasa dua kosakata, ph (phone) dan ub+bing (snubbing); singkatan dari “phone snubbing”. Sudah bergulir sejak 2010. Konon dibuat oleh Alex Haigh, seorang mahasiswa Australia.

Kemudian dipopulerkan pada tahun 2012 oleh biro iklan Australia McCann, Melbourne, sebagai bagian dari promosi kamus Macquarie Dictionary of Australia yang melahirkan kampanye “stop phubbing” secara global.

Penemu kata baru ini, melihat ada unsur ejekan dan penghinaan yang dicetus oleh pengguna smartphone dan sejenisnya. Tersirat seni menghina orang ketika waktu tersita untuk memandang gadget. Ibarat melakukan kekerasan dengan cara yang halus. Mengabaikan rasa hormat.

Boleh jadi phubbing adalah adik termuda dari kata selfie, wefie dan grofie, yang lahir di tengah gencarnya pemanfaatan gadget sebagai alat serba guna. Dan kata smombie yang menggambarkan pejalan kaki yang perhatiannya dikonsumsi oleh perangkat mereka.

Banggi terhadap smartphone (smartphone addict) telah menyebabkan setiap individu larut dalam hubungan yang menghanyutkan (drifting relationship). Terbuai oleh kelezatan ponsel. Hilang dari kesadaran tentang manusia sebagai makhluk sosial…*.