“The Ugly American”

22nd December 2017 by bungaterpuji No Comments

Saat ini sebagian besar penduduk dunia sedang resah. Ada orang sakit di panggung politik dunia. Siapa lagi kalau bukan Trump. Orang Amerika memang kebanyakan sakit.Beda omongan beda perbuatan. Katanya setara gender. Tapi tak memberikan kesempatan Hillary untuk menang. Women’s lib hanya lipstick.

Ini ciri hipokrisi kaum idiot Amerika. Orang waras pilih Hillary. Amerika wajar dipimpin oleh wanita. Atas dasar demokrasi dan kesetaraan gender. Yankee kalah dengan India, Bangladesh dan Sri Langka. Atau Philipina dan Indonesia. Meski sebentar, Megawati pernah memimpin Indonesia.

Hillary tampil anggun. Dia unggul dalam setiap debat. Tak ada tempat bagi Trump. Applaus hanya dari segelintir kaum republikan. Hillary menguasai panggung. Mantan Ibu negara Amerika ini memikat. Dia pantas menjadi presiden Amerika. Tapi Amerika tak menghendakinya.

Di Amerika perempuan hanya cukup berhalusinasi. Mereka orang lapis kedua. Laki-laki adalah segala-galanya. Unggul dalam debat, tapi “dikalahkan” dengan kejutan.

Donal Trump

Inilah gambaran penilaian masyarakat Amerika terhadap Donald Trump

Trump adalah sosok predator yang menakutkan wanita. Sifat hedonistisnya selalu ingin menaklukkan wanita berkelas. Tentu saja dengan uang. Tapi dia bukan laki-laki romantis. Penikmat berbeda dengan penyayang.

Perempuan hanya ingin uangnya. Tak terkecuali para seleb yang pernah diincarnya. Meski kaya raya, tapi sisi hidupnya abu-abu. Kadang kehitam-hitaman. Tak banyak orang waras Amerika yang suka dia. Selebihnya menganggap dia konyol.

Meim dan video yang bertebaran tentang Trump. Wujud ekspresi warga yang eneg. Mereka enggan menghormati presidennya.

Amerika tak butuh manusia abnormal. Presiden konyol bukan di Amerika tempatnya. Tapi di Antartika. Jauh dari benua Amerika. Kelihatannya dia butuh pendinginan lebih.

Beberapa pakar mendiagnosa dia gila. Mereka bukan sembarang orang. Mereka dari universitas terkenal di Amerika. Di antaranya Dr John Gartner psikiater dari John Hopkins University Medical School.

Yang lebih keras digaungkan oleh James Gilligan. Guru besar New York University berpengalaman meneliti orang-orang berbahaya. Termasuk para pembunuh dan pemerkosa. Konklusinya Trump amat berbahaya.

Ada juga Dr Bandy Lee, seorang pakar psikiatri dari Yale University. Wanita berdarah Asia ini tanpa tendeng aling mengunggah video pendapatnya. Tombol nuklir ada di ujung telunjuknya. Ini membuat gusar.

Bukunya “The Dangerous Case of Donald Trump” menjadi best seller di Amerika. Para pakar sepakat menghimbau dilakukan evaluasi atas kesehatan mental Donald Trump.

Trump mangalami mental illness, mental disorder. Dia psikopat, cenderung paranoia. Dia memiliki perilaku maladaptive. Dia mengalami emotional discomfort.

Dia mengalami penurunan nilai. Satu Trump berjibun gejala kejiwaan. Ada 41 ribu tanda tangan petisi yang menyetujui pendapat pakar. Trump memang berbahaya.

Mereka meminta agar dia diajuhkan dari situ. Menutup akses pada alat-alat perang yang super canggih. Di sana banyak senjata pemusnah. Ini dorongan kecemasan masal.

Di Amerika banyak manusia sampah. Banyak pembunuh dan pemerkosa. Tapi mereka hanya meresahkan Amerika. Bukan dunia. Satu Trump menggoncang dunia. Menimbulkan ketakutan. Menciptakan instabilitas.

Masyarakat dunia jadi rindu Mikhail Gorbachev. Butuh Martin Luther King. Menginginkan sosok Abraham Lincoln. Bukan Trump; bukan pula Netanyahu. Mereka emoh dengan monster-monster abad baru.

Presiden Amerika Serikat yang ke-45 ini ibarat “wrong man on the right place”. Dia “the real ugly American”. Bukan dalam cerita novel. Bukan fantasi. Bukan pula sekadar film. “This is the reality”. Orang-orang Amerika ngedumel: “the bastard has come”.

Masyarakat Amerika memilih kata idiot; pembohong; lubang besar; tidak kompeten; moron; arogan dan menjijikkan untuk Trump. Itu hasil survei dari Quinnipiac University tentang pikiran warga Amerika. Itu kata-kata pertama yang terucap ketika membayangkan Trump. Sebuah deskripsi yang ekspresif tentang presiden mereka.

Trump pernah menyebut Amerika sebagai “crime-splitting location”; lokasi kriminal yang terpecah-belah”. Ironisnya, kondisi itu kini menyatu dalam jiwanya. Conratulation….! Now… I hate you, Mr. President…*.

Felix Siauw

14th December 2017 by bungaterpuji No Comments

Nama aslinya Xiauw Chen Kwok. Itu pemberian orang tuanya. Wajahnya tampak sumringah. Enteng senyum. Bersih dan memang enak dipandang. Meski dari kelurga kaya, tapi tetap sederhana. Apa adanya. Gurat kebandelan memang ada. Tapi sirna oleh kebaikannya saat ini.

Dengan latar berkecukupan semasa SMA, Felix suka pamer barang pemberian orang tuanya. Dia hidup layaknya anak muda kota besar lainnya. Ada motor dan mobil mewah. Pendeknya penuh gaya. Terkadang nakal standar.

Kuliah di institusi bergengsi, IPB. Ini indikasi kecerdasan. Betapa perlu menyisihkan 100 orang lainnya untuk mendapatkan satu kursi di perguruan tinggi negeri prestisius Indonesia. Bukan dengan sikut, tapi dengan kemampuan potensi akademik. Dan dia bisa.

Selepas IPB, Felix muda mulai mengejutkan dunia pencinta ilmu. Iya…, majelis ilmu. Lucu, sarjana IPB tapi ngajari ilmu agama. Itu hanya soal pilihan. Ini perubahan drastis bagi hidupnya. Hanya dia yang bisa merasakan.

Felix Yanuar Siauw

Penampilan sederhana tapi cukup menginspirasi

Lingkungan mahasiswa menjadi titik awal dia kenal dengan Islam. Dia menekuni, dia kagum, dia terpanggl. Dan akhirnya bersaksi. Dia menjadi muallaf. Menundukkan hati pada ketentuan.

Batin Felix mulai tersiram oleh rintik-rintik hidayah. Sejuk dan nyaman. Memupus seluruh keangkuhan yang pernah diperagakan. Dia bukan lagi Felix ketika SMA. Dia menjadi sosok idola. Paling tidak di kalangan usrah, kala itu.

Tidak neko-neko

Orang tuanya bingung dengan anaknya. Dulu bandel sekarang kalem, lembut dan santun. Apa gerangan…? Ah, dunia mahasiswa, mengikis sifat-sifat masa lalunya. Mereka bangga putra kesayangannya sudah menjadi anak baik. Tidak neko-neko seperti dulu. Sangat penurut.

Meski mulanya keberatan, kedua orang tuanya akhirnya pasrah. Itu pilihan. Anaknya bukan lagi anak kemarin sore. Dia lebih tahu pilihannya sendiri. Tiap orang punya pilihan masing-masing. Dia, Felix, telah menentukan pilihannya.

Hari ini dia menjadi inspirasi. Tidak nyana ilmu agamanya juga tinggi. Keberuntungannya karena dia aslinya cerdas. Mudah mencerna, mudah belajar. Ngomong berisi, selalu ada dasar dan data. Ini ciri intelektualitas. Bukan menebar karangan sesukanya. Asal njeblak. Yang penting nekad. Berani malu. Itu bukan dia banget.

Felix bukan ustadz sinetron. Dia menguasai agama untuk dakwah. Bukan lain-lain. Apalagi untuk cari uang dan popularitas. Kedua orang tuanya mendukung penuh putranya. Fasilitas dilengkapi. Mobil bergengsi dan dukungan lainnya pun cukup.

Felix bermain lepas. Ibarat pemain bola ia selalu tampil lugas. Dakwah karena kewajiban. Ada bonus pahala bila tulus. Sesekali dia menyelia perusahaan. Itu bagian dari sejarah keluarga besarnya.

Kebusukan sering mengusik langkahnya. Tapi dia tenang. Tidak ada reaksi. Niat saja sudah bonus. Apalagi mengerjakannya. Simpati terus mengalir padanya. Akun medsos miliknya banjir follower. Jumlahnya fantastis. Tapi dia tak mengaku-aku sebagai penggiat sosial. Bukan itu yang substansi. Rasanya ingin berterima kasih kepada sekelompok orang yang sering mengusirnya.

Nabi pun pernah merasakan perbuatan keji manusia dengki. Jauh lebih berat ketimbang yang dihadapinya. Makanya dia tenang. Karena dia bukan sapa-siapa. Ulama bukan; Nabi juga apalagi. Jauh….

Indonesia Lawyer Club

Indonesia Lawyer Club (ILC), 2 Desember 2017, jadi ajang orang menyaksikan kapasitasnya. Bukan keinginan Felix, dia hanya diundang. Kebanyakan bersimpulan sama: dia berkualitas. Beda dengan yang ecek-ecek.

Ada yang suka nulis di medsos, sulit bernafas waktu bicara di tv. Itu grogi. Tak memenuhi hasrat. Bukan kelasnya. Bukan habitatnya. Beda kasta. Pak Karni keliru mengundangnya. Dia terkecoh.

Tak puas di tv, muncul klaim soal “kebenaran” di twitter, bukan oleh nitizen, dan bukan jumlah follower. Ukuran kebenaran sumir baginya. Banyak nitizen yang terkekeh-kekeh. Jika satu ngaku nulis paling benar; yang lainnya pastilah gudang kesalahan. Begitukah…?

Mudah-mudahan tempat kuliahnya dulu prestisius. Tambah IPK moncreng. Jika tidak, kurangi ngarang. Banyakin belajar. Belajar komunikasi agar lancar tanpa ngos-ngosan. Kasian, orang muda bicara dengan nafas tersengal-sengal. Di teve lagi. Disaksikan orang banyak.

Beruntung bagi yang pernah melihat Felix berceramah secara langsung. Setiap ucapannya berisi. Ungkapan dan tamsil juga ilustratif, gamblang. Pakai bahasa sederhana. Jadi gampang diterima. Tidak ada karang mengarang. Semua pakai dalil.

Itulah Felix… Dia ibarat fajar. Terbit dan berharap akan terus menyinari. Dia Indonesia, dia NKRI. Bahasanya yang mengalir, pertanda, itulah bahasa ibunya sehari-hari. Tanpa celat. Bebas dari kata-kata tak sedap. Karena dia manusia berbudaya. Karena dia benar-benar Indonesia…*.

TNI di Tengah Dinamika Politik Indonesia

23rd November 2017 by bungaterpuji No Comments
TNI AD

Salah satu kesatuan dari pasukan TNI-AD

Kamis,tanggal 16 Oktober 2017, Jenderal Gatot hadir untuk mengisi acara sebagai pembicara dalam raker Partai Nasdem, di Jakarta. Ketika memberikan “tausiah” di depan kader Nasdem, Jenderal Gatot hadir resmi sebagai Panglima TNI dalam balutan PDH.

Keesokan harinya, media “status quo” langsung menyajikan berita yang mengagetkan semua yang bersimpati kepada jenderal intelektual ini. Intinya, Gatot menghendaki agar kepemimpinan saat ini bisa berjalan dua periode. Karena alasan kontinuitas pembangunan infrastruktur.

Format ini menimbulkan pertanyaan serius. Antara yakin dan tidak. Yang percaya merasa sikap Gatot dianggap berlebihan karena secara resmi, selama ini institusi TNI yang dipimpinnya selalu menempatkan diri di tengah.

Sebagian sangat tidak yakin, jika jenderal secerdas Gatot bisa terpelosok ke dalam lingkaran kooptasi. Gatot adalah pribadi yang hati-hati dan mengerti menempatkan diri dan institusi yang dipimpinnya.

Posisi wenak

Tidak perlu diragukan, bahwa Gatot, pasti paham betul jika “militer” bukanlah institusi pemerintahan. Dalam segala perangkat peraturan yang memayungi, TNI adalah alat negara. Itu final.

Banyak yang curiga paparan Gatot sengaja diplintir untuk memaksa cakrawala rakyat tentang keberhasilan pembangunan belakangan ini. Sehingga “militer” pun menginginkan agar policy pembangunan bisa diteruskan. Karena satu periode tidak cukup untuk menuntaskan program yang telah dicanangkan.

Ada oknum, kumunitas, dan media yang sudah PW (posisi wenak) yang tak ingin kehilangan. Kehilangan sangat menyakitkan. Contoh nyata adalah ketika Ahok – nonelected incumbent–, tumbang dalam pilkada DKI, 2017.

Gatot, jelas sosok yang punya integritas kuat. Di tangannya Tentara Nasional Indonesia (TNI) semakin dicintai rakyat (umat). Rasa-rasanya tidak mungkin bisa senada dengan Paloh seperti yang diakuinya. Paloh adalah politikus, sedangkan Gatot adalah prajurit profesional aktif.

Di samping itu, Gatot adalah figur intelektual penerus estafeta budaya intelek di dalam tubuh TNI, seperti yang pernah diposisikan oleh purnawirawan Letnan Jenderal Sayidiman Suryohadiprojo.

TNI sendiri, tetap pamali terhadap politik praktis. Penafsiran paparan Gatot telah dibuat sedemikian rupa; disambal lado dengan bumbu yang lezat. Sehingga menimbulkan gunjingan tak berkesudahan.

Sikap TNI

Popularitas Gatot memang sangat penting dimanfaatkan. Orang rumahan pun tahu, jika Gatot memang hebat dan pantas menjadi panutan anak bangsa saat ini.

Sikap TNI dan Jenderal Gatot Nurmantyo, sudah sangat tercermin ketika Panglima TNI itu, menyampaikan pidatonya dalam Perayaan Hari Ulang Tahun TNI ke-72, di Cilegon, Banten.

“Politik TNI adalah politik negara. Politik yang diabdikan bagi tegak kokohnya NKRI, yang di dalamnya terangkum ketaatan pada hukum, sikap, yang selalu menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan mana pun”.

Urusan ganti mengganti pimpinan negara, diatur dengan mekanisme pemilu sesuai undang-undang dan berdasarkan konstitusi. Tidak boleh ada intervensi di luar proses politik yang berlaku.

Hal ini sesuai dengan penegasan Panglima TNI tentang sikap politik TNI, “bahwa, politik yang diabdikan bagi tegak kokohnya NKRI, yang di dalamnya terangkum ketaatan pada hukum, sikap, yang selalu menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan mana pun…”*.

Bumi Bulat versus Bumi Datar

19th November 2017 by bungaterpuji No Comments

Tiga ratus tahun sebelum Masehi, Aristoteles sudah menyatakan bentuk bumi yang berupa bola kasti. Kemudia hasil pemikiran Aristoteles terkubur setelah bertahan hanya dalam bilangan tujuh tahun berikutnya.

Sebelumnya, konsep bumi bulat pernah mencuat ketika Pythagoras mengemukaan pendapatnya sama. Meskipun demikian, konsep bumi datar kembali menguasai pola pikir masyarakat ketika memasuki abad helenistik.

Jauh berabad sebelumnya di dalam dimensi kehidupan para rasul dan nabi, seperti Ibrahim a.s. dan Sulaiman a.s, misalnya, telah disiratkan tentang konsep bumi bulat ketika mereka berada di dalam proses perjalanan mencari tuhan. Berlangsung dalam alur berpikir transendental.

Sekitar abad ke-16, Galileo Galilei, dengan berani mengemukakan pendapatnya tentang bentuk bumi yang bulat. Copernicus yang hidup sekitar dua dekade sebelumnya, memberikan ilham dalam proses berpikir bagi Galileo.

Flat Earth Society

Logo dari Flat Earth Society yang menggambarkan bentuk bumi datar

Akhir kisah Galileo setali tiga uang dengan Giordano Bruno. Harus menjalani hukuman yang menyudahi hidupnya karena berbeda pandangan dengan institusi agama di jaman pertengahan itu.

Stephen Hawkin melihat fenomena ini sebagai konflik antara institusi agama dan kebebasan berpikir (sains). Dianggapnya agama tidak siap menerima paparan hasil renungan tersebut secara terbuka. Karena akan mementahkan pendirian masyarakat abad pertengahan yang keukeuh dengan pendapat bumi datar.

Galileo Galilei

Muhammad yang hidup di abad ke 6, –lahir pada tahun 570 masehi–, memberikan ruang berpikir yang lebih luas untuk menentukan pandangan tentang keilmuan. Termasuk menafsirkan bentuk fisik bumi sesuai dengan tuntunan.

Kitab suci yang dibawanya meluruskan seluruh pertentangan dari masalah tersebut, menegaskan, bahwa “… bentuk bumi seperti telur burung unta”.

Galilei Galileo lahir pada lahir 15 Februari 1564, sedangkan Copernicus lahir hampir satu abad sebelumnya. Meskipun pendapatnya tentang bumi sama, namun Copernicus tidak mengalami kejadian tragis seperti yang dialami penerusnya tersebut.

Rumusan Galilei Galileo yang memperkuat pendapat Copernicus, ditentang secara keras. Dan karena itu dia harus berhadapan dengan hukuman isolasi selama 9 tahun hingga menemui ajalnya, pada tahun 1564 pada usia 77 tahun.

Galileo melakukan pencarian melalui proses “philosophia”, sehingga melahirkan sebuah pendapat. Ilham yang diperoleh berdasar pada ketetapan yang diberikan kepadanya karena ketekunan dalam mencari kebenaran.

Secara keimuan penemuan ini bernilai hipotesis yang butuh pengujian. Dan ternyata memang terbukti benar; sesuai dengan yang disimpulkan Muhammad, SAW sebelumnya. Muhammad tidak berkata-kata atas nama pribadi, melainkan atas tuntunan “yang maha mengetahui”.

Flat Earth Society

Korelasinya antara ilham yang didapat Galileo dan wahyu yang diperoleh Muhammad bertemu dalam satu kebenaran saintifik. Bumi tidak datar; bentuk bumi bulat; ibarat telur burung unta, kata sebuah firman.

Bimbingan yang diterima Muhammad tidak hanya sampai di situ. Dari wahyu pula dapat diketahui sistem peredaran tata surya, pusat orbit dan berbagai perilaku kebumian dan benda-benda astro lainnya.

Hingga abad ke-17 pemahaman kosmografi Tiongkok masih menyimpulkan pendapat bumi itu datar. Tapi dikubahi cakrawala yang berbentuk mangkuk. Paradigma tersebut berlaku di dalam budaya prasintifik yang berlaku di daratan China.

Pemikiran bumi datar dapat bertahan dengan didirikan Masyarakat Bumi Datar (Flat Earth Society) yang dipimpin oleh Samuel Rowbotham, pemikir asal Inggris, menjelang akhir abad ke-18.

Mereka bersandar kepada pemahan penafsiran ayat-ayat kitab suci yang diyakininya untuk menyimpulkan jika bumi laksana sebuah cakram. Namun kemudian pemikiran ini mulai meredup sejak kuartal ketiga abad ke-19, atau sekitar tiga dekade sebelum memasuki abad ke-20.

Pertaruhan pendapat bumi datar dan pemahaman bumi berbentuk bulat, sepertinya belum benar-benar berakhir. Baru pada tahun 1992, pimpinan gereja katolik, Paus Yohanes Paulus II mengakui kesalahan atas hukuman yang ditimpakan kepada Galileo Galilei.

Sikap ini berlanjut hingga pada 2008, yaitu, ketika Paus Benediktus XIV mengakui kebenaran penemuan tersebut. Bersamaan dengan itu pula institusi gereja segera merehabilitasi nama dan mengakhiri salah tafsir atas dirinya …*.

Fenomena Paus Terdampar Di Aceh

16th November 2017 by bungaterpuji No Comments

Ada berbagai cerita dari masyarakat, menanggapi fenomena alam seperti hadirnya beberapa ekor paus di area dangkal perairan Aceh. Di tahun 2004, beberapa hari setelah itu, maka gempa bumi yang disusul tsunami dahsyat memorakporandakan Aceh.

Hari-hari belakangan ini masyarakat Banda Aceh kembali dikunjungi paus yang datang bergerombol hingga 10 ekor. Masyarakat pun mulai mereka-reka gerangan apa di balik kedatangan paus di pinggir pantai Aceh.

Masyarakat terbelah dalam dua pandangan. Ada yang mengatakan ini sebagai isyarat pertanda ulangan kejadian tahun 2004. Ada pula yang menganggap ini hanya kejadian biasa yang bisa terjadi di mana saja.

Seiring tsunami Aceh, bukan hanya cerita melodramtik yang berkembang. Sebagian masyarakat menghubungkannya dengan preseden yang muncul beberapa hari sebelumnya. Ada yang menghubungkannya dengan keadaan makam keramat yang diusik orang jahil, ada pula dengan keadaan lainnya yang dibumbui dengan sedikit mistis.

Ikan paus terdampar

Sepuluh ekor ikan paus terdampar, di pantai Ujongkareung, Banda Aceh

Jika cerita itu benar, maka harus ditafsirkan sebagai sesuatu yang kebetulan. Kebetulan ada preseden, dan kebetulan gara-gara kejadian yang terjadi sebelumnya menyebabkan alam marah dan menimbulkan bencana.

Alam, manusia, hewan dan bencana adalah makhluk dari sang Maha Pencipta. Masing-masing memiliki peran dalam dimensi yang berbeda. Yang paling dominan adalah peran manusia berakal. Ada yang mau berbaik kepada alam, tidak merusak lingkungan serta tidak berinisiatif “mengundang” bencana.

Banyak kisah antara penyimpangan dan murka yang dikirimkan. Mulai dari penyimpangan vandalism, hingga penyimpangan moralitas dari sisi pandang agama.

Meskipun tsunami dan gempa dahsyat memiliki kalkulasi saintifik sendiri, namun tak boleh dinafikan adanya celah takdir yang berada di dalamnya.

Frekuensi sonar

Saintifik selalu bersandar pada pola-pola kejadian yang berlangsung sebelumnya. Kemudian disimulasikan dalam skala tertentu. Dibuat sebagai simpulan yang dapat dipertangjawabkan kekuatan ilmiahnya.

Gempa dahsyat dan tsunami diperkirakan akan berlangsung dalam siklus 100 tahunan berdasarkan perhitungan kecepatan pergeseran lempeng per tahun. Sehingga ketika dalam periode tersebut tidak diselingi dengan pelepasan energi dari tumbukan antarlempeng, maka prediksi ilmuwan akan menimbulkan gempa besar.

Bila terjadi pada kedalaman tertentu akan memicu terjadinya tsunami. Semua didasarkan oleh kajian para ilmuwan terhadap data empiris yang diinventarisasi dengan sistematis.

Isyarat yang paling bisa dipegang tentang akan terjadi tsunami adalah, bila setelah gempa terjadi, tiba-tiba air laut menyusut hingga terlihat dasarnya.

Hubungannya karena patahan yang menga-nga di dasar samudra menyebabkan air laut terserap melalui rongga tersebut, masuk memenuhi perut bumi. akibat adanya generasi, air laut kembali melimpas dengan volume yang lebih besar.

Tidak harus tinggi, karena ada tsunami yang hanya setinggi setengah meter, dan ada pula yang mencapai puluhan meter. Menurut informasi (USGS) United States Geological Survey celah yang terbentuk akibat patahan ketika gempa di Aceh 2004, sepanjang 150 km dan lebar 100 km. Volume air laut yang tersedot ke dalam perut bumi dan yang dimuntahkan kembali akan menentukan besar kecilnya tsunami yang terjadi.

Paus terdampar sudah sering terjadi di pantai selatan Jawa dan juga pantai barat Aceh yang menghampar di lautan Hindia. Sebagai jalur lalu lintas internasional, Lautan Hindia sering dilewati oleh berbagai kapal dan armada laut yang sebagian memiliki sonar laut dengan frekuensi tinggi.

Sementara jenis ikan besar seperti paus juga memiliki pengaturan navigasi dan sistem komunikasi yang khas. Apabila bertemu dalam satu frekuensi sonar, maka paus akan merasa tidak nyaman, terganggu dan cenderung menghindar.

Banyak penyebab

Perubahan iklim di tengah samudera juga ikut memengaruhi kenyamanan beberapa jenis paus. Pada umumnya ikan-ikan tersebut sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan yang mengganggu habitatnya.

Karena habitat kehidupan hewan ini di laut dalam, maka kawanan ikan besar tersebut memilih hidup di lautan. Di dasar lautan selalu ditemukan adanya subduksi yang aktif terus bergerak dengan kecepatan relatif.

Adanya indikasi gerakan bawah samudera akan sangat mudah tertangkap radar ikan paus. Ini pula yang dapat mengindikasikan bahwa aktivitas lempeng yang bergerak akan menimbulkan patahan yang menyebabkan gempa tektonik.

Pengaruh aktivitas lempeng samudera dan lempeng benua yang saling bertumbukan akan membuat lingkungan hidup paus menjadi terganggu. Sehingga mereka memutuskan untuk berpindah.

Beberapa wilayah Indonesia yang menghadap Samudera Hindia sudah sering dikunjungi oleh ikan paus yang terdampar. Demikian juga beberapa negara yang memiliki pantai yang berhadapan dengan lautan lepas.

Bukan baru kali ini terjadi paus yang terdampar di laut dangkal. Banyak penyebab mengapa paus yang hidup di laut dalam kok bisa-bisanya main ke pinggir pantai. Di antaranya karena alasan sakit, terpisah dari komunitas, kekurangan oksigen serta terganggunya sistem navigasi yang membuat mereka tersasar ke pantai…*.