Bukti Kekuatan dalam Fase Knock Out Piala Dunia 2018

Messi - Ronaldo - Neymar - Pogba - Iniesta -

Siapakah yang akan beruntung dalam perhelatan ini…? Ronaldo Messi, Neymar, Pogba ataukah Iniesta…? Mereka semua sama-sama berada dalam fase knock out Piala Dunia 2018

Lupakan sejenak Jerman yang gagal lanjut. Apalagi untuk menyesali Italia dan Belanda. Di depan mata masih banyak yang perlu diingat.

Objektif 16 besar telah diisi oleh tim yang memang pantas mereka di sana.

Argentina yang terseok-seok dalam dua pertandingan sebelumnya, sudah biasa mengalahkan Nigeria. Kemarin hanya mengulangi sejarah.

Amerika Selatan boleh berbangga. Mereka masih tetap punya kelas. Mereka merebut 4 tiket babak knock out. Disusul Meksiko sebagai wakil dari Concacaf.

Boleh dikata, latino seperti mendominasi perkara ini. kalau Prancis dianggap latin, maka ada 8 tim yang bernuansa latin mengambil tempat di sana. Sisanya adalah negeri Nordik, Skandinavia, Balkan dan lain-lain.

Kehadiran Jepang menjadi sagu hati bagi masyarakat Asia. Demikian pula ketika Korea Selatan menundukkan raksasa Eropa, Jerman.

Siapa yang mampu menyingkirkan Brasil…

Kandidat juara masih sulit diraba. Nilai sempurna Kroasia belum menjamin negeri ini melaju sampai final.

Ada sekelumit anekdot. “Jika ingin juara, maka, kalahkanlah Brasil”. “Siapa yang mampu menyingkirkan Brasil, maka akan menjadi juara”.

Berlebihan memang. Tapi ada logisnya. Neymar dan kawan-kawan merupakan tim yang komplet dan kompak. Seri ditahan Swiss, belum jadi ukuran sesungguhnya. Sama halnya dengan Argentina yang nyaris terhempas di fase awal.

Secara umum tim yang hadir sebagai big-16, memiliki kualitas yang sama. Hanya beda pola dan strategi pelatih. Hanya tim yang memiliki pelatih yang jenius dan pemain yang merata yang paling sukses.

Ramuan pelatih, sama pentingnya dengan kualitas pemain. Salah meracik strategi, tim bertabur bintang pun akan berantakan.

Tidak kebetulan mereka berada di sini. Semuanya sudah melalui perjuangan. Bahkan jauh sebelum ketika mengikuti babak kualifikasi.

Anekdot tentang Brasil belum sepenuhnya benar. Tapi perlu waspada. Ini merupakan salah satu dream team, setelah era Romario serta periode Ronaldo dan kawan-kawan. Meksiko yang pernah mempermalukan Brasil dalam final Piala Konfedarasi, 1999, pun tak kan berani meramal.

Prancis vs Argentina

Prancis dan kawan-kawan euro lainnya memiliki karakter yang kuat. Semua favorit dan semua bisa jadi kuda hitam.

Pertemuan Prancis-Argentina, hanya gambaran kecil dari kekuatan dua benua. Keduanya belum bisa menggambarkan representasi sebenarnya. Pendekatan hipotetis mungkin bisa. Tapi dalam tingkat keyakinan dan probabilitas yang rendah.

Rasanya semua memiliki peluang. Yang akan unggul adalah yang paling sedikit membuat kesalahan. Waspada dan kehati-hatian dalam babak ini, jauh lebih besar daripada babak sebelumnya.

Sesempit apa pun peluang adalah keberuntungan. Sekecil apa pun kesalahan adalah petaka.

Pertandingan pertama hari ini akan mendapat perhatian dari semua tim dan seluruh penggila bola. Demam panggung pasti mendera setiap menjadi pelakon pada partai pembuka.

Tim sebesar Argentina dan Prancis juga akan mengalami hal yang sama. Ada beban yang dipanggul dari harapan masyarakat dan penggemarnya. Termasuk supporting yang bisa berubah menjadi tekanan.

Bola yang bundar akan terus bergulir. Hasilnya hanya bisa diketahui setelah pluit panjang dibunyikan. Sisanya hanya ramalan. Bisa salah bisa benar.

Kans Argentina di Rusia 2018

Nigeria vs Argentina

Pemandangan ketika Messi mengecoh penjaga gawang Nigeria dalam final Piala Dunia U-20, 2005, di Stadion Galgenwaard, Utrecht, Netherland. (Foto Getty Images/ AFP)

Nigeria bermain beringas dalam laga melawan Eslandia. Gol Ahmed Musa dapat dicatat sebagai gol tercantik hingga saat ini.

Moses melepaskan umpan lambung dari sisi kiri lapangan tengah Eslandia. Ahmed Ahmed menahan dengan sentuhan lembut kaki kanannya. Sejenak bola memantul di rumput kotak 16 Eslandia. Dalam keadaan masih melayang bola dilanjutkan dengan kaki kanan ke gawang.

Kiper Eslandia, Halldorsson, tak berdaya menepis bola yang melaju dengan kecepatan geledek tersebut.

Nigeria benar-benar unjuk gigi. Bermain lepas dan dingin. Tak terbersit rasa takut dalam keadaan dijepit sekalipun. Padahal rata-rata postur “anak nordik” lebih tinggi dari Ahmed Musa dan kawan-kawan..

Semua lini bermain luar biasa. Mereka pantas lolos dari kualifikasi zona Eropa. Penampilannya sungguh tidak memalukan.

Bukan kebetulan Nigeria bermain di final piala dunia. Negeri ini adalah pelanggan setia perhelatan gengsi ini. Sejak piala dunia 1994, Nigeria absen hanya satu kali pada Piala Dunia 2006.

Meskipun sebagai pendatang baru, Eslandia bukanlah tim ayam sayur. Mereka mampu menahan Argentina, 1-1 di pertandingan pertamanya.

Saat ini posisi Eslandia sedang senasib dengan Argentina. Sulit bagi Eslandia melunakkan lawan berikutnya. Kroasia yang menanti, adalah rekan satu grup ketika babak kualifikasi sebelumnya. Bila hasilnya kalah, maka peluang Argentina akan terbuka kembali.

Pertahanan Argentina

Tapi menghadapi Nigeria bukanlah perkara mudah. Bisa saja terjadi gawang Caballero akan kehujanan. Ketajaman barisan depan Nigeria sudah dirasakan oleh kiper Eslandia.

Pertahanan Argentina sangat rapuh. Termasuk paling buruk hingga pertandingan ke 26 piala dunia 2018 ini.

Nigeria bukan tim bintang. Tapi skillnya merata di seluruh lini. Kekompakannya melebihi kepaduan anak-anak Argentina. Orientasi mereka baik. Ini termasuk dream team milik Nigeria.

Argentina malah sebaliknya. Racikan Sampaoli tak jalan dengan kualitas komposisi pemain yang diturunkan. Sangat cemplang. Tak berimbang.

Koneksi antarlini terputus-putus. Penyerang lapis kedua tidak efektif. Di belakang sering gamang. Kordinasi tidak jalan.

Dua kali bertanding beban Messi sangat berat. Berjuang dalam keadaan terkunci tidak bisa berkembang. Leo benar-benar mati kutu. Ini akibat dari keadaan itu semua.

Seharusnya tidak ada pilihan lain bagi pelatih, kecuali menempatkan Higuain, Di Maria, Rojo dan Dybala sebagai starter.

Sampaoli juga harus berani menurunkan Franco Armani. Caballero sedang masygul. Kesalahannya bisa terulang kembali. Biarkan dia duduk manis di bawah kurva. Berikan waktu untuk menyesali kecerobohannya.

Pertarungan hidup-mati

Ini pertarungan hidup mati. Nigeria tak sudi kehilangan angka. Jangankan kalah, seri pun mereka tak mau. Karena hanya Argentina tim yang masih bisa dilalap di grup D ini.

Kesempatan bagi anak-anak “elang karthago” untuk menapak ke babak berikutnya lebih terbuka.

Mereka tidak datang untuk main-main. Bukan waktunya piknik di negeri beruang merah. Tapi membawa panji negara. Menjaga nama baik di mata bangsanya.

Di atas kertas Nigeria dapat mengatasi gaya tango yang baru ini. Koreografer asal Chile itu telah mengubahnya menjadi tarian yang membingungkan. Tak sedap dinikmati.

Argentina sudah biasa bertemu Nigeria. Dengan materi sebagian pemain yang ikut saat ini, Messi muda mengalahkan Nigeria 2-1. Itu terjadi pada pertandingan final piala dunia U-20, tahun 2005.

Dalam piala dunia 2014, Argentina juga mengalahkan Nigeria dengan angka 3-2. Gol balasan Nigeria diborong oleh Ahmed Musa, yang kemarin merobek gawang Eslandia dua kali. Waktu itu Argentina beruntung, satu sontekan Marcos Rojo melengkapi dua gol yang dibuat Messi sebelumnya.

Empat tahun telah berlalu. Itu terlalu cukup untuk membangun tim anak-anak Afrika. Dampak perkembangan tersebut sudah dirasakan oleh Eslandia.

Musa mulai bangkit. Tapi Messi belum optimal. Messi akan kembali bertemu Musa. Kali ini entah siapa yang lebih beruntung.

Faktanya akan terungkap setelah pertandingan tanggal 27 Juni 2018 mendatang…*.

Kiprah Baik Milik Ronaldo

Prestasi Ronaldo

Christiano Ronaldo masih ditempatkan di atas sebagai pemain terbaik abad ini (https://www.fifa.com/worldcup/photos/)

Jika ingat Ronaldo, maka selalu ada nama Messi. Tapi sepanjang piala dunia, Messi sering dirundung sial. Argentina tak seberuntung Barcelona.

Tapi Ronaldo menjaga kilaunya. Dia berjalan di jalur benar. Kaki dan peruntungan tak beda antara ketika membela liga atau bela negara.

Selama Portugal turun, dia memimpin rekan-rekannya bangkit. Sebagai tumpuan dan dirijen, dia membuat kontribusi. Tanpa cela sedikit pun.

Dalam keadaan sulit pun Ronaldo bisa mencipta gol. Dia pandai menjaga posisi dan piawai dalam memberi assist.

Rasanya masih sangat sulit lahir bintang baru saat ini. Momen ini masih miliknya. Dia masih teratas. Bahkan menutup sirna predikat “alien yang menaklukkan gravitasi” milik Messi.

Messi masih harus ditunggu kiprahnya. Start awal sangat tidak menguntungkan. Argentina tinggal menungg mukjizat

Ballon d’or

Argentina gagal memeragakan permainan yang ditunggu-tunggu. Entah terjawab atau tidak. Strategi Sampaoli mentah di kaki lawan.

Pemain Argentina gamang dengan cara pelatihnya ini. Beban Messi masih berat. Apalagi dukungan pemain lainnya tidak berjalan baik. Nama besar di liga Eropa tidak berbanding lurus dalam piala dunia.

Ronaldo tetap stabil. Sepatu emas dan ballon d’or, bukan sekadar hiasan. Ronaldo mampu memuat standar tinggi dalam seni sepakbola. Terlalu sukar untuk dilalui. Oleh pemain muda sekali pun.

Usia senja membuat Ronaldo semakin berkibar. Semakin matang. Semakin sulit dibaca. Gerakannya tetap eksplosif. Baik di luar kotak 16 yard ataupun ketika menusuk jauh lebih dalam.

Dua pertandingan telah dilalui dengan mengesankan. Sepanjang ini dia telah mengumpulkan empat gol dalam piala dunia 2018. Dan sangat mungkin akan terus bertambah.

Selama di Real Madrid, Ron telah menyumbangkan 451 gol. Mengalahkan Raul Gonzales yang pernah sama-sama mempersembahkan 16 gelar bagi klubnya. Ronaldo bahkan pernah membuat 61 gol selama satu musim di 2014/ 2015.

Dalam usia senja di angka 33 tahun Ronaldo mampu mengukir hattrick dalam piala dunia. Dan korbannya tidak tanggung-tanggung. Para pemain bintang Spanyol, dibuat terdiam di ujung pertandingan. Dengan gol tersebut Portugal terhindar dari kekalahan dramatis.

“Seleção das Quinas”

Kini jalan “Seleccao das Quinas” semakin terbuka ke babak berikutnya. Dengan sisa pertandingan yang ada di fase grup rasa-rasanya sulit terhempang. Iran tak terlalu sulit diatasi. Dipastikan pundi angka Portugal akan menjadi 7 poin.

Hanya tuan rumah Rusia yang diprediksi bisa meraih angka sempurna. Setelah menang dari Mesir dan Maroko, tuan rumah tinggal menjinakkan Uruguay.

Jika lolos ke piala dunia berikutnya usia Ronaldo akan mencapai 37 tahun. Pengagum Ronaldo belum dapat membayangkan bila sepakbola tanpa kehadirannya.

Sejarah mencatat, Roger Milla dari Kameroun, adalah salah seorang pemain tertua dalam piala dunia. Ketika membela tim negaranya pada piala dunia 1994, usia Milla melampaui 42 tahun.

Dua tahun yang lalu Ronaldo memimpin rekannya untuk mendedikasikan Piala Euro bagi negaranya. Portugal keluar sebagai juara setelah mengalahkan tim tuan rumah Prancis di final, 1-0.

Piala Dunia 2018 adalah tantangan baru bagi Ronaldo. Akankah dia membuat sejarah baru bagi negaranya?

Portugal baru hanya merasakan juara ketiga dalam piala dunia 1996. Dihadapan tatapan mata 88 ribu penonton yang memadati stadion Wembley – London, Portugal berhasil menjungkalkan raksasa Uni Soviet dengan skor 2-1.

Sementara tuan rumah saat ini, Rusia, adalah jelmaan negara tirai besi itu yang telah hancur berkeping-keping.

Mungkinkan momen itu akan hadir dalam piala dunia 2018…. Entahlah… tapi layak untuk ditunggu…*.