Dunia Remaja 0 comments on Lebay dan alay di dunia maya

Lebay dan alay di dunia maya

Lebay merupakan salah satu kosakata baru yang muncul di era awal tahun 2000-an. Kata lebay sendiri aslinya bukanlah mengandung pengertian seperti lebay yang dimaksud oleh ungkapan anak-anak muda yang sekarang lagi ngetren. Dalam khazanah Melayu, kata lebay bisa berarti pengajar ngaji; pengurus masjid, atau laki-laki pengkhayal; ataupun laki-laki yang rada bloon campur malas. Tapi bagi anak muda sekarang “lebay” memiliki arti yang unik: bersikap berlebihan, laku lajak, overacting.

Di samping lebay, ada lagi satu kata unik sebagai padanannya yang hampir sangat sering digunakan hampir bersamaan. Kata tersebut adalah “alay”. Indonesia terutama Jakarta sangat dinamis dalam memproduksi istilah-istilah baru terutama di dunia anak muda dan remaja. Yang lebih menarik adalah lingkungan lenong dan para banci banyak memiliki kata slang baru yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak muda menjadi tambahan istilah dalam pembicaraan sehari-harinya. Komunitas banci menjadi produsen terbesar dari istilah-istilah yang banyak beredar di tengah masyarakat, di negeri ini, terutama di kalangan anak-anak muda. Kata-kata baru ini semakin mudah menjalar, berkat adannya media yang begitu cepat dapat mendiseminasi kata-kata (slank) baru, melalui media sosial, layar televisi, film, gadget, dan radio serta oleh anak-anak muda ataupun dari mulut ke mulut. Tidak mengherankan, memang. Perkembangan singkatan yang kemudian menjadi istilah, telah digambarkan oleh Iin Parlina bersama grup musik Bimbo sejak akhir tahun tujuh puluhan yang lalu. Dalam syair mereka diungkapkan: “sehari ada satu singkatan, setahun tiga ratus enam lima”.

Lebay dan alay menjadi kata ungkapan yang sangat banyak dipergunakan saat ini. Terlalu banyak, orang yang bertindak lebay. Simak saja bagaimana BBM, yang menjadi konsumsi orang banyak dan media sosial lainnya selalu dimanfaatkan oleh sang empunyanya sebagai tempat untuk menumpahkan segala bentuk dari suasana sebuah hati dan sepenggal perasaan. Misalnya saja pada Personal Message ataupun jendela status sering muncul kata-kata yang benar-benar lebay dan alay. Hilang sendok juga ditulis di situ. Kebeset pisau ditulis disitu, piring jatuh hingga pecah difoto lalu dipasang di display picture atau di beranda. Terus ditulis di personal message “piringku pecah, kacian bingiiit”. Bahkan ada orang pengguna gadget, tak segan-segan mengungkapkan kegalaua hubungan suami istri pascamelakukan hubungan seksual, dengan menulis: “tadi malam nggak sempet nyampe, deh…. Oooh ceeediiiih buuangeth, nasib apes lagee…”. Dan cukup banyak bentuk ke”lebayan” dan ke-“alayan” yang terjadi di dunia sistem komunikasi canggih dan dunia maya ini. Kadang hanya sekedar ingin mandi aja, pakai-pakai nulis di PM: “mandi dulu…. aaah”. Dasar lebay…! He…he….

Lebay dan alay tidak hanya dimiliki oleh perempuan saja. Karena memang perempuanlah yang paling banyak melakukan tindakan lebay dan juga alay. Tapi, anehnya, laki-laki yang seharusnya tegar, tegas, dan memiliki area bebas galau yang lebih luas, malah kadang lebih lebay dan lebih alay daripada perempuan. Banyak DP, PM dan status laki-laki justru lebih menggelikan. Contohnya tulisan seperti “tadi jatuh, kaki gua atiiiiit…. ditambah emoticon “sick”. Oooaaalaaaah, laki-laki macam apa pula ini? Tidak hanya sampai di situ, ada lagi, status laki-laki yang tidak kurang menggelikan, “putuuus?… liat aja besok aku cuma tinggal nama”. Ada lagi, laki-laki menulis: kok tega, seeeeeh???!!???; “galau, tak bisa mereem”; “galau paraahk”; “galau tingkat menteri”; ijinkan aku bersimpuh”. Seharusnya status laki-laki itu “wajib” macho. Misalnya: “EGP…!; Sebodo, ah!; “jangan coba-coba, deh!”; “persetan ama cinta!”; “malam ini sama pacar nmr 5”; “kamu cntik, tapi sudah 15 cewek yang bilang aku ganteng”.

Tapi begitulah. Seharusnya status itu pun tak perlu ditulis macam-macam juga lah. Tak perlu juga seperti tulisan-tulisan di atas. Karena itu juga ciri-ciri lebay abis dan alay sangat. Kalau mau tulis, mungkin lebih pas dengan kata-kata bijak, pesan positif, ungkapan-ungkapan yang optimistis, ataupun kutipan ayat-ayat suci, dan ucapan-ucapan orang sukses. Bukan membuat laporan mau be-ol, mau tidur, mau makan, mau ke sana, mau putus, mau belanja, mau nonton, sedang mules, sedang galau, sedang ngantri, dan lain sebangsanya. Lebay dan alay bentuk lain adalah menampilkan foto-foto yang bernilai nyeleneh. Foto sepatu, foto tas, atau foto HP, di bawahnya pakai diberi komentar: “baru beli, gua…”. Bahkan ada yang baru beli tiket bioskop, langsung foto lembaran karcisnya ditampilkan di status. Alamaaaak…! Nggak abis-abisnya lebay dan alay kita-kita ini. Motivasinya juga beraneka ragam. Ada yang ingin pamer, ada yang iseng, tapi juga ada yang gatelan, keganjenan, ingin semua orang lain tau tentang dia, tentang siapa dia, bagaimana dia, tentang aktivitas dia, tentang “kehebatan” dia, tentang apa saja tentang diri dia. Sangat terbuka dan transparan.

Pendeknya, apa pun motivasi dan alasannya, semua itu tetap aja mengandung sedikit ngawur. Yang jelas kita ini memang termasuk dalam kategori lebay dan alay orangnya. Itu alasan yang lebih tepat. Jadi tak perlu mencari-cari alasan lainnya untuk menghindarkan diri kita dari predikat lebay dan alay. Wong yang membuat lebay dan alay adalah diri kita sendiri, ya sudah jadi lebay bin alay aja. Lantaran lebay dan alay itu bisa menular, maka pasti akan banyak ketemu dengan teman yang sama perangainya dengan kita. Termasuk ketika bergaya waktu difoto. Ada yang mulutnya dimonyong-monyongin entah untuk supaya apa?; ada yang pipinya dikembang-kembangin seperti lagi ada air untuk dikumur-kumur di dalamnya; ada yang mata disipit-sipitin, ada yang mulutnya dimencong-mencongin, kadang sambil julur lidah segala. Semakin lengkap ke-lebay-an dan ke-alay-annya.

Tapi apa mau dikata, memang sedang musimnya. Mungkin akan hilang dengan sendirinya ketika musim berganti. Ini ibarat trend yang sedang muncul ke permukaan yang mengindikasikan masing-masing anak muda sedang dilanda kepercayaan diri yang naik turun. Kadang pede banget, terkadang galau banget. Antara peda dan galau juga batasnya sangat tipis, sehingga sukar dibedakan kapan galaunya kapan pula pede-nya; antara pede dan galau sudah campur baur. Kayaknya sudah satnya dibentuk sebah komunitas “Antigalau”, “Antilebay” dan “Anti-alay”. Tujuannya untuk mengantisipasi sikap-sikap yang aneh dari masyarakat sembari memberikan masukan-masukan kepada mereka yang terlanjur lebay dan alay untuk segera insaf dan kembali ke jalan yang benar. Posting lah yang positif-positif aja; yang optimistis aja; yang semangat aja; yang bermanfaat aja; yang enak dibaca aja; yang enak dilihat aja; yang tidak membuka keadaan pribadi sendiri, apalagi membuka aib. Jangan sampai orang lain melihat kita baik-baik; fine-fine aja, eh…, tau-tau di status tertulis: “aduuuh lagi bisulan, nich… sebel bingiit, deh. Di pantat, lagi!”. Seantero Indonesia dan belahan dunia lain jadi tahu kalau kita sedang bisulan di pantat, he… he…. Apalagi kalau bisulnya difoto sekalian sama pantat-pantatnya, lalu di pasang di dinding FB. Maka jadi komplet lah pengetahuan orang lain tentang kita.

Tapi itu dia. Orang lebay dan alay, tak terlalu masalah dengan kondisi tersebut; tidak risau, tidak pula merasa gusar. Namanya juga lebay campur alay itu sama dengan “super norak”. Sudah barang tentu tak terlalu ambil pusing dengan hal semacam itu, malah sebaliknya merasa sangat puas bisa mengekspresikan suasana hatinya ke publik. Bahkan sangat bahagia dengan respons dan feedback dari sahabat kontak yang memberikan komentar dan jempolnya di status yang bersangkutan. Mungkin bisa mengurangi beban pikiran dan persoalan yang sedang dihadapi. Seterusnya orang lebay dan alay, akan terus mencari topik baru yang ditampilkan pada statusnya sambil terus mengharap sahabat dumay-nya bisa memberi jempol sebagai tanda suka atas ke-lebay-an dan ke-alay-annya. Mungkin perlu dipikirkan adanya pemilihan manusia paling lebay dan paling alay setiap tahunnya di negeri ini, dan kepada mereka yang unggul akan diberikan sertifikat lebay dan sertifikat alay…. Setuju…?**

Bunga Rampai 0 comments on Manny Pacquiau…., Mengapa Kalah….?

Manny Pacquiau…., Mengapa Kalah….?

Di dalam pertandingan sepakbola ada sebuah filosofi yang menekankan bahwa pertahanan terbaik bagi sebuah tim adalah dengan terus menyerang. Ternyata, dalam pertandingan tinju pun falsafah tersebut berlaku untuk diterapkan. Dalam pandangan awam saya, saya mencermati, ketika melawan Floyd Mayweather, yang digelar di MGM Grand Garden Arena, Las Vegas, Amerika Serikat, pada 3 Mei 2015, yang lalu, Manny  Pacquiau telah menerapkan filosofi tersebut secara efektif. Akan tetapi sayangnya, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan penonton di seluruh penjuru dunia; Manny Pacquiau yang akrab disebut Pacman, masih kalah juga.

Banyak penggemar tinju yang dibuat penasaran dengan keputusan wasit yang dinilai oleh banyak kalangan sangat kontroversial dan tendensius. Manny yang menguasai pertempuran, “harus” takluk dalam tangan orang lain yang tidak ikut bertanding, tapi orang-orang tersebut mendapat bayaran masing-masing sebesar 20 ribu hingga 25 ribu USD per orang.

Manpac tetap berbahaya
Terus berinisiatif menyerang tapi akhirnya “harus” menerima dikalahkan

Dari layar kaca semua orang sependapat bahwa Pacman tidak sedikit pun memberikan ruang gerak yang leluasa kepada Mayweather untuk melontarkan pukulan melalui serangan balas. Pacman setidak-tidaknya menguasai 5 ronde pertandingan secara mutlak, sementara empat ronde lainnya dianggap oleh para pengamat berakhir seri. Tapi hasilnya sangat amerika; “amerika banget”, klo kata anak-anak Jakarta. Layaknya, pemenangnya memang seperti sudah ditentukan sebelum pertandingan dimulai. Sangat tidak fair.

Hampir seperempat penduduk dunia barangkali matanya fokus tertuju ke layar kaca televisi yang menyiarkan langsung pertandingan terbesar abad ini dari Las Vegas. Bahkan konon landasan udara Las Vegas pun dipenuhi oleh jet pribadi milik para milyuner dan selebritas dunia yang ingin menonton langsung pertandingan tersebut.

Dalam pertandingan tersebut, Pacman tak memberi angin sedikit pun terhadap lawannya dan tak menghiraukan gertakan-gertakan yang dibuat Mayweather terhadapnya. Seakan-akan Pacman sangat berkomitmen bermain tinju dengan sesungguhnya, sebagaimana seorang bermental juara bertinju, yaitu berkelahi sejadi-jadinya tanpa menghiraukan resiko terkena pukulan balik. Tugas dia memukul dan memukul, menghentikan laju gerak lawan dan kalau perlu menghentikan sama sekali lawan tandingnya dalam waktu singkat. Bukan menang kalah yang ada dalam pikiran Pacman, tetapi adalah ingin menghajar lawan sampai tuntas. Sementara itu Mayweather, sepanjang pertandingan, ronde demi ronde terus berlari, berkeliling ring tinju sambil menahan pukulan dan hanya sesekali memberikan serangan balasan yang tidak telak. Pacman ingin menyajikan tontonan kepada orang-orang yang telah mengeluarkan uangnya untuk membeli tiket yang tidak murah. Mulai dari 1,5 milyar hingga 50 juta rupiah per tiket. Harga yang tidak murah, dan akan percuma bila hanya menonton Mayweather yang berlari di atas ring, seperti ayam sayur yang terus diburu sebagai pecundang. Pacman ingin menunjukkan kepada lawannya begitulah seharusnya seorang juara bertanding.

Sepanjang pertandingan, semua mata telah menyaksikan secara nyata, bagaimana Mayweather terus berusaha menghindar dari sergapan Pacman yang terus mengurungnya di sisi ring tinju. Tidak tampak tanda-tanda dan mental juara dalama dirinya. Ternyata begitulah kelakuan orang-orang Amerika dalam hal berbisnis dan mengangkat derajatnya. Pacman yang berasal dari sebuah negara kecil, seakan-akan sangat tabu untuk mengalahkan petinju Amerika yang dielu-elukan sebagai juara dari negara adidaya. Seakan-akan Pacman wajar untuk diperlakukan dengan tidak adil. Adalah sebuah aib bila petinju Amerika yang dipuja-puja harus kalah di tangan petinju dari negara berkembang.

Pacman telah menunjukkan profesionalismenya; dia telah menunjukkan mental seorang juara sejati, sementara wasit telah menunjukkan sikap yang jauh dari harapan; bahkan maaf, sangat buruk. Wasit adalah manusia yang memiliki kencenderungan. Bisa jadi karena takut ada ancaman terselubung, ataupun bisa jadi kong-kalikong karena bisnis di dunia tinju. Mungkin ada anggapan jika Pacman menang nantinya tidak memiliki harga jual dan tidak akan bombastis untuk dielu-elukan sebagai juara dunia. Tapi apakah dengan petinju sayur yang “dimenangkan” akan menjadi layak untuk dijual? Penonton akan berpikir dua kali menonton kembali pertandingan “main sabun” yang diperagakan dalam arena yang bergengsi seperti ini.

Tapi ada rasa syukur di balik semua itu. Untung saja sepakbola yang menjadi favorit masyarakat dunia, tidak dikuasai oleh Amerika. Kalau saja Amerika menguasai bisnis industri dunia sepakbola, maka akan sulit berharap pertandingan antarnegara seumpama World Cup bisa menyajikan pertandingan yang tidak direkayasa. Untungnya ada Argentina, Brasil dan Mexico, Kolombia, dan Uruguay di daratan Amerika yang tak mampu diatasinya di lapangan. Demikian juga di daratan Eropa, ada Jerman, Prancis, Belanda, Spanyol dan Inggris yang kualitasnya sangat jauh di atas Amerika. Jadi mereka agak sungkan untuk mengatur sesuai dengan hasrat Amerika. Standar Amerika di dunia sepakbola masih belum dapat dimasukkan ke dalam jajaran tim elite sepakbola dunia. Masih berada dalam tataran medium. Masih belum mampu mengalahan Turki, Australia, Jepang ataupun Korea Selatan, jika mereka bertanding di lapangan.

Pacman, benar2 seorang profesinal. Dengan raut wajah yang tanpa beban, dia tak menghiraukan hasil pengumunan announcer dengan angka-angka kemenangan yang diraih Mayweather. Wajahnya tetap tersenyum sumringah. Dia mampu menyembunyikan kekecewaannya. Kekecewaan yang sama dirasakan oleh penggemarnya di seluruh dunia. Dia sungguh seorang profesional sejati, yang menempatkan sportivitas berada di atas segalanya. Yang tak mengharapkan kemenangan berkat bantuan orang lain yang tak bertanding. Meskipun secara kasat mata seluruh dunia melihat kemenangan Mayweather adalah kemenangan yang diraih Amerika bersama wasit.

Kita seharusnya berduka, dan sangat wajar berharap, seandainya Pacman bisa meng KO-kan Mayweather maka tentu saja akan lain cara wasit menilai hasil pertandingan. Dan ini sangat ditakuti, sehingga, MW terus menghindar dan terus berusaha menjaga jarak dari jangkauan Pacman yang memiliki pukulan yang mematikan. Apabila MW berani bertarung secara jantan, dan bukan seperti ayam sayur berlaga, maka bukan tidak mungkin dia hanya mampu bertahan paling lama hingga ronde kesembilan saja. Dengan terus berlari dan mengindar, MW telah berhasil menghindari “kematian kecil”nya di atas ring. Akan tetapi sebaliknya dengan cara begitu, dia bisa mengumpulkan poin yang diberikan oleh wasit. Petinju yang hanya bertahan tanpa agresivitas, akhir nya bisa menang dengan angka-angka yang “aneh”.

Sebagai penonton awam, saya bangga pada Pacman, walaupun kesibukannya sebagai Senator di negerinya, namun dia masih mampu mempersiapkan diri dengan baik dan menyajikan sebuah tontonan yang menarik dan berkesan, sehingga memberikan bobot tersendiri bagi sebuah sajian pertandingan yang berkelas. Seandainya bukan sebagai senator, mungkin Pacman jauh akan lebih mematikan lagi.

Satu hal yang lebih baik lagi dari Pacman. Separuh dari hasil pertandingan yang didapatkannya, akan didonasikan kepada masyarakatnya, jadi, dari pertandingan ini Pacman hanya akan mendapatkan sekitar Rp 900 juta saja bagi peruntukan dirinya. Suatu contoh kedermawanan yang patut ditiru dan dipuji. Pemain sepakbola dunia, Messi, Ronaldo dan Ozil telah juga lebih dahulu melakukan ini. Dan Pacman merupakan salah satu bagian dari jajaran orang-orang terkenal yang memiliki hati yang sangat mulia.

Bravo Manny…., we love you, very much! Kamu sangat membanggakan, bukan hanya bagi bangsa Philipina, tapi juga bagi Asia dan bagi masyarakat dunia yang menjunjung tinggi kejujuran dan sportivitas. Kamu lah juara sesungguhnya, Manny…!**

Jogja Istimewa 0 comments on Keraton Yogyakarta di mata Orang Non-Jawa

Keraton Yogyakarta di mata Orang Non-Jawa

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dilihat dari arah utara
Keraton Yogyakarta

Nama Yogyakarta hampir pasti selalu menempati relung hati sebagian besar masyarakat non-Jawa yang berasal dari seluruh penjuru nusantara. Apakah itu mereka yang pernah menuntut ilmu di Yoyakarta; mengikuti pelatihan; ataupun mereka yang hanya datang sebagai wisatawan domestik yang mengunjungi Yogyakarta. Sekilas tentu ada kesan yang tinggal di hati sanubari mereka tentang Yogyakarta yang menyimpan berjuta cerita.

Yogyakarta mulai menjadi terkenal ke seantero Indonesia dimulai ketika ibukota sementara Republik Indonesia, atas persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dipindahkan ke Yogyakarta. Yogyakarta menjadi ibukota perjuangan, sejak 4 Januari 1946 hingga 27 Desember 1949. Disusul kemudian dengan peristiwa “Serangan Umum 1 Maret 1949”, yang dilakukan Tentara Republik Indonesia (TNI), sebagai respons yang sangat bernilai, terhadap Agresi Militer II Belanda, dengan sandi Operasi Kraal, ke Yogyakarta, pada 19 Desember 1948.

Yogyakarta bergabung dengan Republik Indonesia sehari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, berdasarkan keputusan yang diambil oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX bersama-sama dengan Sri Paku Alaman VIII, yang memilih untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Yang kemudian oleh karena jasa-jasa tersebut, Yogyakarta mendapat predikat sebagai Daerah Istimewa. Dalam perkembangannya Yogyakarta terus menjadi cerita sejarah dan romantika yang menarik. ditambah lagi dengan hadirnya perguruan tinggi dan universitas bergengsi yang menjadi tujuan setiap calon mahasiswa untuk meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Kisah kasih anak manusia pun banyak terjalin di Yogyakarta. Seseorang yang berasal dari tanah kelahirannya yang jauh bertemu dan memadu kasih di Yogyakarta, yang kemudian dilanjutkan untuk membangun mahligai rumah tangga bersama.

Yogyakarta, sejak awal bedirinya republik ini, telah banyak menyumbangkan putra terbaiknya bagi Republik Indonesia, Salah satunya adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, di mana jabatan terakhir beliau adalah Wakil Presiden Republik Indonesia, periode 1973-1978. Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang bernama asli, Bendoro Raden Mas Dorodjatun, yang naik tahta menjadi Sultan Yugyakarta, pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar “Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga, merupakan sosok yang sangat karismatik, sederhana, merakyat serta memiliki wibawa dan kebijaksanaan yang luar biasa.

Setiap orang Indonesia menghormati sosok raja Yogyakarta ini, sehingga beliau dikenal oleh seluruh anak Indonesia. Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga dipandang sebagai pribadi yang cerdas dan memiliki ilmu pengatahuan yang luas, serta terbuka untuk pembaruan. Keraton yang dulunya terkesan eksklusif, menjadi lebih terbuka bagi masyarakat umum. Sehingga sesuatu yang tidak diketahui oleh masyarakat tentang isi dalam keraton menjadi tahu melalui ekspos berbagai piranti kraton yang ada di dalam keraton yang dapat diakses dengan mengunjungi seluruh bagian dalam kraton yang diperbolehkan. Bangunan, benda-benda dan foto-foto yang terdapat di dalam keraton menjadi sumber informasi yang dapat diserap oleh pengunjung sebagai alat yang mengambarkan bagaimana sesungguhnya perjalanan sejarah keraton Kerajaan Mataram, Ngayogyakarta Hadiningrat sejak jaman dahulu hingga saat ini.

Belakangan, sejak akhir bulan April 2015, muncul hiruk pikuk yang tak pernah dinyana oleh masyarakat Indonesia. Pertentangan yang terjadi di Kesultanan Mangkunegaran, di Solo dan Kesultanan Cirebon telah ikut menarik perhatian masyarakat dan pemerintah setempat atau pun pemerintah daerah. Kali ini keraton yang adem ayem, di Yogyakarta, tiba-tiba menjadi ajang yang panas dalam perebutan pengaruh yang berbalut kekuasaan. Perselisihan internal antarsesama punggawa “isi dalam” keraton, disyaki sepertinya sedang menerpa Keraton Kesultanan Mataram, di Yogyakarta.

Saat ini sedang muncul perbedaan pendapat antara Hamengku Buwono X yang merupakan Raja pemegang tahta penerus kekuasaan dari raja sebelumnya dan saudara laki-laki lainnya dari Sultan. Pemicunya adalah menyusul diterbitkannya Sabda Raja I, pada tanggal 30 Arpril 2015, dan Sabda Raja kedua, yang hanya berselang selama lima hari kemudian. Bahkan dalam pembacaan Sabda Raja yang kedua, pada tanggal 5 Mei 2015, yang berlangsung di Bangsal Siti Hinggil, para adik laki-laki Sultan, menolak untuk menghadirinya.

Pokok permasalahan yang digugat oleh para adik adalah, dengan menerbitkan Sabda Raja, Hamengku Buwono IX dianggap oleh adik-adiknya, telah melanggar “paugeran” milik keraton yang telah secara turun temurun diberlakukan di lingkungan keraton. Dalam Sabda Raja disebut-sebut, Sultan, antara lain telah menghilangkan gelar Khalifatullah, melarang ucapan Asssalamu’alaikum di lingkungan keraton, mengganti nama Hamengku Buwono, menjadi Hamengku Bawono, serta memberikan gelar Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi kepada anak perempuan pertamanya, yang sebelumnya bernama GKR Pembayun. Gelar ini merupakan gelar yang biasanya ditabalkan kepada putra mahkota dari raja-raja sebelumnya.

Di mata masyarakat, secara agama tidak terlalu masalah apabila keraton tidak lagi menyematkan gelar “khalifatullah” kepada raja ataupun menghilangkan ucapan “assalamu’alaikum” di lingkungan keraton. Karena nilai-nilai ini bersifat universal dan dapat tumbuh di mana saja, tanpa harus di lingkungan sebuah keraton, misalnya. Akan tetapi dari sudut pandang yang berbeda, dapat dinilai bahwa, Raja Hamengku Buwono X, seperti sedang berusaha mencerabut nilai-nilai Islam dari akar kebiasan yang berlaku di dalam keraton, yang merupakan warisan budaya nenek moyangnya sebagai raja dari sebuah Kerajaan Islam yang memimpin Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat sebelum-sebelumnya. Sebutan Sultan, selalu identik dengan agama yang dianut oleh rajanya. Dan ini berlaku di seluruh keraton kesultanan yang tersebar di nusantara. Sehingga segala aktivitas di dalam keraton selalu berlandaskan kepada ritual yang bernilai Islam.

Modernisasi, nasionalisasi atau pluralisasi yang berlangsung di internal keraton, seyoyanya tidak akan menyentuh nilai-nilai sakral yang telah mengakar di lingkungan keraton, sejak berabad yang lampau. Nilai-nilai ini akan terus langgeng selama kerajaan ini berdiri. Karena jika tidak, maka ruh dan marwah dari dinasti itu sendiri, dikhawatirkan lambat laun akan sirna. Raja hanya akan dianggap sebagai seorang pemimpin budaya, bukan sebagai raja sesungguhnya, yang memiiki kemampuan dan kekuatan “magis” sebagai wakil Tuhan di muka bumi ini, —untuk memimpin kerajaan, memimpin budaya dan sekaligus sebagai pemimpin agama—, melainkan seorang raja yang sedang bertugas hanya untuk memelihara adat dan tradisi Jawa semata.

Terus terang bagi setiap orang yang kadung cinta pada Yogyakarta, tentu saja sangat menyayangkan dan merasa kecewa, apabila Yogyakarta yang dikenal sebagai daerah budaya warisan Indonesia yang masyarakatnya lemah lembut; berbudi luhur; daerah istimewa; kota pelajar dan kota bersejarah, harus mengalami ketegangan yang dapat memicu perpecahan di antara keluarga besar keraton. Sebuah pengalaman yang sangat mahal dan tidak mendidik, ketika keluarga besar keraton, raja dan saudara-saudaranya yang merupakan figure-figur teladan yang dihormati, harus berada dalam arena pertikaian, tanpa ada penyelesaian. Semoga badai cepat berlalu….**

Jakarta Punya Cerita 1 comment on Jakarta Punya Siaaapa….?

Jakarta Punya Siaaapa….?

Jakarta memang banyak menyimpan cerita. Jakarta punya cerita. Mulai dari cerita rakyat hingga legenda yang berasal dari kedigdayaan seorang figur kepahlawanan. Jakarta yang merupakan ibukota begara Republik Indonesia, tidak terpisahkan dari Betawi sebagai akar budayanya. Meskipun Jakarta saat ini adalah sebuah Kota Metropolitan, yang memberikan ruang begitu besar bagi proses akulturasi antarbudaya, namun keunikan masyarakatnya memberikan nilai tersendiri bagi masyarakat secara keseluruhan.
Bukan Jakarta namanya kalau tidak kaya dengan berbagai kreativitas yang dipanggungkan. Mulai dari seni pinggiran kota hingga ke pusat-pusat bisnis; dan tentu saja hingga masuk ke tingkat filem layar lebar ataupun di layar kaca, telah membuat paguyuban seni local berubah menjadi kawah tempat menempa talenta seni seorang yang bakal menjelma menjadi artis. Lenong salah satunya, adalah dari sekian banyak jalan menuju ke panggung yang lebih bergengsi. Lihat saja, lenong yang hanya berupa tonil yang ditampilkan secara sederhana dapat memuat beberapa aspek seni sekaligus. Baik itu seni peran, seni lawak atau bahkan seni tari asli dan kontemporer. Pendeknya berbicara seni Betawi, selalu padat dengan kreativitas. Budaya Jakarta kian kemari menjadi sumber dari sebuah keberuntungan yang dilatarbelakangi oleh penetapan Jakarta sebagai ibukota Negara. Cagarbudaya Betawi seakan menjadi representasi dari budaya wajah Indonesia. Karena bagaimana pun juga pintu utama Indonesia adalah Jakarta. Pemilihan Abang dan Nona Jakarta menjadi symbol yang menarik bagi menunjukkan akar budaya Betawi yang diperankan oleh kaum muda yang energetik dan nan cantik rupawan. Sehingga terkesan menjadi modern dan membawa berkah bagi mereka yang terpilih menjadi pemenangnya.
Betawi yang merupakan salah satu puak yang berada di dalam jajaran rumpun melayu, memiliki ikatan yang sangat kuat dengan Islam, sehingga tidak berlebihan ketika Profesor Dr. Hamka, melukiskan orang Betawi sebagai suku yang memiliki komitmen yang sangat kuat terhadap agama Islam yang dianutnya. Meskipun berada di bawah tekanan dan intimidasi penjajah Belanda, akan tetapi hampir setiap malam, di masjid-masjid, di surau-surau, di dan mushalla-mushalla, di relung-relung daerah Betawi, ayat-ayat suci Alquran tetap melantun dengan syahdunya. Itu pertanda bahwa meskipun Belanda telah menduduki Betawi hingga 350 tahun lamanya, akan tetapi kekuatan Islam Betawi tetap bersemayam di hati dan terus memberikan warna bagi perkembangan budaya Betawi hinga saat ini.
Akulturasi budaya Betawi, yang beralaskan budaya melayu dan sunda, telah mengalami persentuhan dengan budaya Arab dan Tionghoa, yang ikut memperkaya khazanah kultur Batawi hingga saat ini. Mulai dari cara berpakaian dan dalam bertutur hingga ke bentuk tarian dan musik, telah banyak mengalami pengaruh dari kedua budaya dari Asia timur dan Asia barat ini. Dan hanya sedikit mengalami persentuhan dengan budaya Eropa, khususnya Portugis. Beberapa tarian Betawi seperti Japin, Tari Ronggeng dan music Tanjidor, setidak-tidaknya merupakan representasi adanya persentuhan dengan budaya Arab, Tionghoa dan Portugis.
Sejak awal-awalnya muncul seni musik dan perfileman Indonesia. Maka Jakarta telah menjadi kiblat dari setiap insan seni dan artis untuk mencoba mengais rejeki dan sekaligus menampilkannya sebagai sebuah kreasi yang komersial. Sejak itu pula bermunculan para seniman yang berasal dari berbagai penjuru nusantara, dari barat maupun dari timur Indonesia, tumpleg bleg ke Jakarta. Jakarta menjadi percaturan untuk menyatukan konsep music yang berciri Indonesia. Demikian pula warna seni peran dalam layar lebar yang menjadi ciri Indonesia, yang tidak banyak bergeser walaupun sudah berganti generasi di dalam menampilkannya.
Jakarta adalah metropolis dan Jakarta adalah kota budaya. Tak banyak seniman yang bisa muncul setinggi-tingginya ke permukaan popularitas apabila tidak terdorong untuk mengadu nasib di Jakarta. Dan predikat Jakarta sebagai tolok ukur itu, hingga saat ini tetap tidak bergeser sedikitpun. Banyak kisah dan perjuangan yang telah dilakoni oleh berbagai ragam manusia di kota yang penuh janji ini. Dari berbagai latar belakang ekonomi, sosial, budaya dan tingkat pendidikan, mereka berangkat untuk mengadu nasib di kota metropolitan ini. Banyak terdapat kisah sukses dan tidak sedikit pula terdapat kisah pilu yang membawa kehancuran masa depan. Semua menyatu menjadi bauran dari kondisi ramah kejamnya Jakarta.
Kadangkala, Jakarta diibaratkan seakan-akan lebih kejam dari Ibu tiri, akan tetapi di sisi lain Jakarta sebagai tautan hati yang telah menjelmakan dirinya menjadi orang sukses. Sisi gelap dan sisi terang Jakarta seakan seiring sejalan mewarnai kisah hidup anak manusia Indonesia. Kisah bagaimana sukses menghampiri, mampu menutupi bagaimana kepiluan seseorang yang hidupnya hancur berantakan setelah menyentuh tanah Jakarta. Kisah senang menutupi, kisah-kisah ekspliotasi manusia pada sudut-sudut kota Jakarta. Hingar bingar kegembiraan, menutupi teriakan kegetiran anak manusia yang takluk di bawah kaki manusia-manusia jahat. Adakalanya juga Jakarta memang ibarat menjadi kota yang nafsi-nafsi. Urusanmu adalah urusanmu; hidupku adalah hidupku. Masing-masing anggota masyarakat memiliki tanggung jawabnya sendiri-sendiri dan tak bersedia terusik oleh tetek bengek yang melingkari kehidupan sekitarnya. Ibarat menjadi ciri khas kota metropolitan, yang serba cuek dan tidak mau tahu dengan urusan orang lain. Sebodo amat; EGP alias emangnya gua pikirin.
Sungguh tidak pernah terbayangkan, bagaimana seandainya ibukota dan kiblat budaya berada di Medan, atau di Banda Aceh, ataupun di Makasar ataupun di Banjarmasin, misalnya. Bagaimana bahasa filem yang memang selama ini sudah melekat menjadi logat Jakarta yang empuk serta enak didengar dan dinikmati rasa bahasanya, muncul dalam dialek Aceh atau logat Medan ataupun bahkan dalam aksen Makasar atau Banjarmasin. Tentu saja akan beda rasanya. Gaya bahasa yang rada kenes dan kolokan atau bahkan juga terkadang menghentak-hentak dalam dialek Betawi seakan menjadi pas pada kuping orang Indonesia pada umumnya, dari latar belakang kultur manapun meraka berasal. Terbukti siapaun dia, di dalam pergaulan di daerahnya memiliki kecenderungan memasukkan ucapan dan slank Betawi di dalam percakapannya. Terutama dapat dilihat dari para remaja-remaja, ataupun dari orang-orang yang sudah berumur ketika dulunya remaja.
Lawakan-lawakan Betawi cenderung menjadi konsumsi yang menyenangkan dan dapat dinikmati oleh subkultur nusantara mana pun. Hal ini tidak akan berlaku sepenuhnya apabila lawakan dibawakan dalam bentuk budaya lokal daerah lainnya. Pendek kata akhirnya memang sebagian budaya Betawi telah menjadi fenomenal dalam merepresentasikan budaya Indonesia. Ibarat kata pepatah Minang: “tak lekang di panas dan tak lapuk di hujan”, maka kiranya tidak berlebihan bila kondisi ini juga dapat ditabalkan pada budaya Betawi. Masyarakat Betawi yang dulunya sangat gigih berjuang ketika melawan penindasan penjajahan Belanda, di samping untuk mempertahankan Islam sebagai agama yang mereka anut, juga mempertahankan budaya Betawi agar tetap dalam bentuk yang aslinya.
Masyarakat Betawi yang dilukiskan sebagai masyarakat yang sosial, relejius dan humoristis, memang tercermin dan polah tingkah dan pola pergaulannya sehari-hari. Anak dan babe dapat bercanda dengan candaan-candaan segar; demikian pula mantu dan mertua dapat berbicara secara kocak, yang di dalam budaya nusantara lainnya dianggap sebagai perbuatan tabu. Tapi di tengah keluarga Betawi hal semacam itu berlangsung secara baik-baik saja. Anak muda yang suka nongkrong di ujung-ujung gang, di kampung-kampung, tak segan-segan melontarkan candaan kepada pria yang lebih dewasa yang muncul lewat di depan mereka, yang kemudian dibalas dengan candaan yang tanpa beban pula dan tanpa rasa marah.
Begitulah kondisi pergaulan masyarakat Betawi, sehingga terkesan sangat lugas dan lentur. Sebagaimana pada umumnya komunitas Betawi yang mendiami beberapa kantong kehidupan budaya dan seni Betawi yang masih tersebar di seluruh wilayah Jakarta hingga ke perbatasan Jawa Barat dan Perbatasan Provinsi Banten.
Seiring dengan perkembangan yang begitu pesat, ditandai dengan penetapan Ali Sadikin sebagai Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya, maka Jakarta telah lama kemudian menjadi tumpuan migrasi orang-orang dari berbagai penjuru nusantara menuju kota Jakarta. Kota ini, seperti menumbuhkan harapan baru bagi orang-orang yang memiliki tekad membara untuk mengadu untung, sekaligus untuk mengembangkan karier. Jakarta sebagai Ibukota yang menjanjikan, sungguh akan dijadikan terminal terakhir bagi siapa saja yang ingin meraih jenjang karier yang lebih baik,; meraih sukses yang lebih besar lagi; mewujudkan mimpi-mimpi yang pernah menghiasi kehidupan mereka. Dengan demikian, proses akulturasi dan persentuhan berbagai suku bangsa berlangsung begitu mulus tanpa hambatan yang berarti. Jakarta telah menjadi kota yang sangat heterogen dengan pola kehidupan beraneka warna. Ditambah lagi dengan kultur Betawi yang sangat terbuka dan mudah bergaul dengan siapa saja, dengan gaya Betawi yang enteng dan penuh humor. Keberagaman adalah kekayaan Jakarta. Budaya Betawi yang dulunya seakan sebagai tontonan orang-orang pingiran, kini mulai menjadi komoditas yang tidak ternilai harganya….**