Aceh lon Sayang 0 comments on Falsafah Kontroversialisme dalam Pola Kehidupan Orang Aceh

Falsafah Kontroversialisme dalam Pola Kehidupan Orang Aceh

Saya tidak tahu pasti apakah judul ini benar atau tidak? Dan apakah ada aliran filsafat yang membahas tentang sikap kontroversi komunal yang dikemas atas nama keilmuan? Saya pun benar-benar tidak mengerti bagaimana tiba-tiba judul itu bisa didapat.

Ceritanya, memang ingin mengatakan bahwa orang Aceh itu sangat spesifik. Karakter, bawaan, kebiasaan dan hubungan antarpersonal juga terlihat sangat tipikal. Terkadang ada kesan “mata hu, su meutaga” dalam mengungkapkan ekspresi. Tapi sebetulnya hanya sedang seru saja. Untuk menambah kehangatan dalam berkomunikasi.

Dalam sebuah syair Aceh disebutkan bahwa: “ureung Aceh nyang jak meuprang, ureung padang nyang peugah haba; Ureung Batak nyang duek ji kanto, nyang boh ato awak Jawa“. Orang Aceh yang berperang, orang Padang yang bicara, orang Batak yang di kantor, yang jadi pengatur orang Jawa.

Entah dari mana pula syair ini bisa mengentas ke alam nyata, yang menggambarkan realita dari sebuah “sifat” orang Aceh yang suka berperang.

Rumah yang nyaman untuk didiami

Rumoh Aceh: arsitekturnya adaptif terhadap lingkungan sekitarnya. pictures viagra pills

Hampir setiap periode 17 tahun sekali selalu ada perputaran peristiwa yang berkaitan dengan bunuh membunuh. Entah itu secara vertikal ataupun konflik horizontal yang ujungnya meminta korban jiwa dan meninggalkan trauma.

Nyali

Saya masih ingat ketika terjadi sebuah kontak senjata pada masa darurat militer, bagaimana kombatan GAM tetap berdiri bebas sambil bergerak maju, mendekatkan jarak ke aparat yang dilengkapi rompi anti peluru dan berlindung di balik pepohonan.

Sementara anggota GAM hanya mengenakan kaos singlet dan bersendal jepit sambil membidikkan senjata laras panjang dan merangsek maju. Entah terbuat dari bahan apa nyali yang terpasang dalam hatinya, sehingga begitu nekad mempertontonkan sebuah batas hidup dan mati.

Chauvinistic

Bila dari luar terlihat garang, suka berperang dan bersuara rada tinggi, bukan berarti tidak ada sisi lain dalam diri orang Aceh. Ungkapan bercanda, “wajah memang perang, dik; tapi hati abang romantis”, bisa jadi sebagai gambaran bahwa ada kandungan kelembutan dalam diri pria Aceh. Tidak melulu tentang perang.

Bahwa ada anggapan orang Aceh antiasing (chauvinistic), itu bukanlah sebuah keadaan yang benar. Sejak jaman kerajaan Aceh, dataran Aceh sudah dijejaki oleh orang-orang asing yang datang dari berbagai belahan dunia. Arab, India, Turki, China, serta anak-cucu keturunan Portugis dan juga dari berbagai penjuru nusantara.

Sehingga di tiap-tiap kabupaten, sejak dulu kerap ditemukan nama kampung berdasarkan etnis: Gampong Jawa; Gampong Kleng, Gampong Cina dan sebagainya. Ataupun nama panggilan yang berdasarkan asal etnis: Teungku Batak, Nek Bugeh, Pak Said, termasuk begitu banyaknya orang Aceh yang memiliki nama (fam) keturunan Arab seperti syarifah dan habib.

Hingga sekarang warna Aceh mewakili tipikal latar belakang bangsa yang pernah berbaur di daratan Aceh. Gampang dijumpai orang Aceh yang putih mirip China, hidung mancung mirip Arab atau Turki atau India, berkulit hitam mirip Tamil, bermata biru mirip mata Portugis. will there generic viagra us

Semua itu terjadi karena adanya proses amalgamasi bangsa yang telah membentuk Aceh sejak berabad-abad yang lalu. Yang membuktikan Aceh sudah sangat terbukan sejak jaman dulu.

Apabila di kemudian hari, pada hari ini, Aceh digambarkan suka berperang, maka akan sulit mengungkapkan asal-usul sifat ini bisa melekat pada diri orang Aceh.

Daerah modal

Tidak ada kompromi terhadap penjajah Belanda, diperagakan bukan hanya oleh kaum laki-laki. Perempuan Aceh, sudah mengukir dirinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan untuk membebaskan tanah Aceh dari cengkraman penjajah. Bukan dengan tinta, tapi dengan senjata.

Hanya di tanah Aceh para jendreral dan bala tentara Belanda tidak bisa merasakan tidur nyenyak sepanjang periode perang (pendudukan); selama kurang lebih enam dasawarsa. Sejak maklumat perang Belanda terhadap Aceh Maret 1873. what color is cialis pills

Bila kemudian Aceh ditabalkan sebagai daerah modal, maka hal itu lantaran tanah rencong memang tidak pernah berhsil ditaklukkan sama sekali, hingga Belanda angkat kaki dari tanah rencong.

Adanya kantong wilayah yang masih bebas, memberikan kesempatan kepada negara ini untuk mengklaim bahwa nusantara ini belum pernah jatuh seutuhnya ke tangan Belanda.

Komunike yang dikirimkan melalui radio rimba raya Aceh, yang dapat diterima dunia internasional, sebagai bukti bahwa Indonesia belum menyerah. Ini sebagai syarat agar negeri ini bisa memperoleh pengakuan kemerdekaannya.

Cinta damai

Kelakar tentang pembentukan kata Aceh yang merupakan kependekan dari, Arab, China, Eropa, Hindustan, tidak sepenuhnya salah kaprah. Meskipun kata Aceh, seperti yang diungkapkan Prof. Dr. Aboebakar Aceh, sesungguhnya berasal dari kata “aca“, yang terucap pada saat orang-orang dari India Belakang mendarat di pantai Pidie.

Aca” yang berarti indah, merupakan ungkapan rasa kagum ketika untuk pertama kali mereka melihat pantai Aceh yang begitu permai. Seiring perjalanan waktu, kata “aca” mengalami metamorfosa berubah menjadi Aceh.

Heroisme, patriotisme dan epos, yang mengelayuti orang Aceh, tertanam dalam diri orang Aceh seperti sekarang ini, lantaran adanya pengaruh berbagai karakter yang membentuk manusia Aceh. Di samping juga kebiasaan masyarakat Aceh yang hidup dalam tantangan alam yang dialaminya di laut, maupun di dalam rimba yang ganas.

Banyak kontroversi yang timbul, bahwa, “orang Aceh” terkesan tidak bisa hidup damai. Tapi sesungguhnya itu bukan merupakan hipotesis yang bisa dibenarkan. Suku Aceh, merupakan sebuah entitas yang cinta damai. Hal yang paling sensitif yang dapat memunculkan sikap reaktif adalah manakala harga diri terusik oleh berbagai alasan. nombre generico levitra tadalafil 20 mg

Martabat merupakan faktor penting yang harus dipertahankan hingga tetes darah pengahabisan. (meskipun nyawa dan raga terpisahkan). lloyds pharmacy online cialis

Persoalan Aceh seakan tak pernah terselesaikan. Faksi politik yang terbelah dari induk Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dalam lima tahun terakhir terus bergesekan. Sudah banyak jatuh korban dari masing-masing faksi.

Jelang pilkada 2017, hubungan kedua faksi tersebut cenderung semakin memburuk. Hidup dalam tensi tinggi; saling bersiap, dan saling menyerang. Siap perang tapi tak siap damai.

Padahal ketika “jaman perang” masing-masing mereka saling menjaga dan saling menyayang. Namun itulah Aceh, tanah permai yang penuh dihiasi dengan kontroversi…**.

Aceh lon Sayang 0 comments on Untaian Kisah Duka Di Persada Tanah Rencong

Untaian Kisah Duka Di Persada Tanah Rencong

Hari itu, Selasa, 1 Juli 1969, bumi Aceh bergetar keras menghentak-hentak bangunan hingga rubuh satu persatu. Jalan dan tanah ikut terbelah. Kalimat tahlil serempak menghiasi lisan setiap penduduk Aceh pesisir, mulai dari Panton Labu hingga Kabupaten Pidie.

Ini adalah salah satu gempa dahsyat yang pernah meluluhlantakkan bentangan pesisir timur Aceh, sebelum datang peristiwa tsunami menyapu bersih daratan Aceh pada 26 Desember 2004, sembari merenggut nyawa lebih seratus lima puluh ribu manusia dan tak terhitung harta benda.

Kala itu, hampir semua masyarakat awam percaya bahwa ada kerbau jantan penghuni Gunung Enang-enang yang sedang murka berat kepada manusia. Maka dia pun mengeliatkan badannya sehingga memicu terjadinya gempa bumi.

Tidak ada yang mengetahui tentang skala richter, yaitu, skala pengukur kekuatan gempa yang ditemukan oleh Charles Francis Richter; ataupun skala MMI (Modified Mercally Intensity), yang dicetuskan oleh Giuseppe Mercalli; dan bahkan entah apakah gempa itu tektonik ataupun vulkanik.

Kisah memilukan tentang Gempa Aceh
Duka Aceh kembali berulang menyelimuti seluruh perasaan anak negeri

Tak ada yang peduli tentang itu. Tak ada surat kabar. Apalagi televisi. Berita tentang kerusakan hanya diperoleh dari masinis kereta api Aceh yang mundar mandir menjalankan trayek Besitang (Sumut) hingga Sigli (Kabupaten Pidie). Orang-orang kereta api lah yang menyampaikan pesan secara berantai.

PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api), adalah salah satu instansi yang memiliki alat telekomunikasi telepon model putar waktu itu. Yang memang dipergunakan untuk menginformasikan tentang jam keberangkatan kereta api uap kepada stasiun berikutnya .

Tiga hari setelah gempa bumi. Kami sekeluarga berangkat ke kampung halaman tempat Ibu kami berasal, Jangkabuya. Di sini pula beberapa tahun setelahnya, kami melihat coretan tanggal kejadian gempa, pada dinding salah satu kedai di Pasar Jangkabuya yang ditulis seseorang.

Dari Lhokseumawe, naik kereta api di stasiun Pasai Gambe, menuju ke arah barat, menyusuri kecamatan, dan perkampung yang berjejer berkelindan hutan kecil, kebun dan persawahan.

Kepiluan sepanjang perjalanan

Sejak keluar Peukan Cunda sudah terlihat pemandangan yang memiriskan. Masyarakat korban musibah gempa benar-benar sedang dirundung nestapa. Mereka sedang merasakan kepiluan yang luar biasa.

Jalan-jalan pecah terbelah dua, bangunan di kiri kanan sepanjang perjalanan, rata dengan tanah. Yang tersisa hanya rumah-rumah berbahan kayu.

Wajah murung menyelimuti masyarakat. Puing-puing tak mampu dibersihkan dengan segera. Tidak ada alat berat, tidak ada kendaraan yang bisa membantu memindahkan pecahan bata yang berserakan.

Bantuan dan sokongan hanya alakadarnya dari masyarakat sekitarnya yang luput dari musibah. Sisanya mereka hanya mengadu kepada yang di atas, sebagai tempat mencurahkan rasa sedih yang sedang menimpanya.

Pengurusan mayat pun dilakukan dengan cara sederhana, mengikuti rukun-rukun yang berlaku menurut syariat Islam. Tidak ada air mata yang tersisa untuk dikeluarkan. Semua telah mengering, semua telah pasrah terhadap kenyataan yang ada.

Gempa adalah sunatullah akibat dari pergeseran lempeng-lembeng bumi yang belasan jumlahnya. Sebagian terdapat di dasar samudera dan adakala terhampar di daratan.

Masing-masing lempeng bergerak sesuai arahnya dengan kecepatan sangat relatif. Berkisar antara 5 hingga 10 sentimeter pertahun. Terkesan lambat, tapi terus bergerak dinamis dan tak beraturan.

Ada yang berlawanan ekstrem, adapula yang saling menekan sambil bergesekan ke arah yang berlawanan. Di sana terdapat bidang pengunjaman yang pada suatu saat akan berakhir dengan patahnya salah satu lempeng yang menyebabkan timbulnya enerji yang sangat besar. Besar kecil enerji yang dilepaskan akan menetukan besarnya getaran yang akan dirasakan di permukaan..

Besarnya getaran diukur dalam skala Richter, yang berasal dari nama penemu alat pengukur gempa. Dan berdasarkan penetapan MMI sebagai simpulan dari level tingkat getaran yang terjadi.

Semakin besar skala Richter, semakin kuat pula getaran yang terjadi. MMI diukur berdasarkan tingkat kekuatan merusak dari goncangan yang dimiliki. Hampir tidak ada korelasi di antara kedua parameter tersebut. Yang satu mengukur kekuatan getaran, sedang satu lagi “menduga” tingkat kerusakan.

Sesar Semangko

Pulau Sumatera memang rawan gempa. Mulai yang bersumber di lautan dari pertemuan lempeng Indo-Autralia dan Eurasia yang membentang sepanjang pantai barat, hingga yang bersumber di daratan yang memanjang mulai dari Teluk Semangko Provinsi Lampung, hingga Kecamatan Darul Imarah di Provinsi Aceh. Manusia Sumatera hidup di atas lempengan yang menyimpan potensi gempa.

Hakikatnya gempa tidak membunuh. Tapi reruntuhan bangunan akibat gempa akan menjadi alat untuk melukai dan bahkan melenyapkan nyawa makhluk-makhluk yang tertimpa olehnya.

Rabu, 7 Desember 2016, pukul 05.05 pagi, bumi Aceh kembali dikejutkan dengan goncangan luar biasa besarnya. Dalam skala Richter disebutkan mencapai 6,4 atau diperkirakan  dengan skala kerusakan sekita 6 MMI.

Dengan kedalaman yang relatif dangkal, hanya 10 kilometer di bawah permukaan laut, membuat gempa ini sangat merusak. Meskipun demikian gempa bumi dan tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 adalah yang terbesar sepanjang sejarah Aceh, dan salah satu terbesar yang pernah terjadi di dunia. Merupakan tsunami kedua yang melanda Aceh, setelah tahun 1907.

Semua musibah membawa duka yang dalam; meninggalkan kenangan pedih yang tetap terus membekas. Kehilangan selalu akan mengundang duka dan nestapa; pilu dan derita. Sepanjang jalan dari Kabupaten Bireuen hingga Kabupaten Pidie hampir tidak ada bangunan yang bisa tegak berdiri utuh. Semua seperti bersujud keharibaan sang Pemilik jagad raya ini.

Gempa 7 Desember 2016 yang melanda pesisir timur Aceh, mengingatkan kembali kejadian yang sama, pada empat dasawarsa yang lalu. belum kering air mata, belum hilang luka yang menyayat, belum lepas kesedihan dalam hati. Belum lupa tsunami yang melanda, belum lupa gempa Simeulue, belum lupa gempa Aceh Tengah belum pula lupa gempa Bener Meriah, belum pula lupa gempa di Aceh Besar. Kini gempa Pidie Jaya, kembali mengundang pilu dan nestapa.

Manusia hanya mampu menerima dan berdoa, sisanya adalah hak dari yang Maha Kuasa, yang bisa menetapkan segalanya sesuai dengan kehendaknya, sembari mengucapkan istirja’: “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…., Allahumma’ jurni fii mushibati wa akhlifli khairan minha“. Sesungguhnya yang datang dari Allah, maka kepada-Nya jua akan kembali…., Ya Allah berilah pahala bagiku dalam musibah ini dan berilah ganti dengan yang lebih baik dari kejadian ini”….**

Aceh lon Sayang 0 comments on Mangindaan Dan Sepakbola Aceh

Mangindaan Dan Sepakbola Aceh

Sangat sedikit cerita tentang sosok ini pada sebuah sisi yang berbeda dari seorang tentara dan politikus. Padahal sosok E. E. Mangindaan ibarat sebuah legenda bagi sepakbola Aceh. Mangindaan mewarisi bakat sepakbolanya dari sang Ayah seorang pesebakbola masa lalu, E. A. Mangindaan yang pernah menukangi Tim Nasional Indonesia, pada tahun 1996.

Ketika menjadi asisten pelatih timnas, mendampingi Tony Pogacnik, Opa Mangindaan pernah merasakan masa kegemilangan timnas Indonesia menembus olimpiade Melbourne, di tahun 1956. Boleh dikata sang prajurit yang hobi sepakbola ini seperti menjadi teladan bagi para pemian sepakbola Aceh waktu itu. Mangindaan telah memberikan kontribusi yang  sangat berarti bagi perkembangan sepakbola modern di Aceh.

Setamat dari Akademi Militer, boleh dikatakan, karir ketentaraan Mangindaan dimulai dari tanah rencong, ketika bertugas sebagai Komandan Pletoni di Bireuen, Aceh Utara. Waktu itu Bireuen masih merupakan sebuah kewedaan yang menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Utara.

Di bumi “tanah rencong” pula sang putra “nyiur melambai”, dalam usia muda, berkiprah di lingkungan sepak bola Aceh, yang dimulainya sejak menjadi pemain PSSB, Bireuen, Aceh Utara. Ketika itu di Aceh Utara terdapat dua kesebelasan persirakatan, yaitu: PSBB (Persatuan Sepakbola Seluruh Bireuen) dan PSLS (Persatuan Sepakbola Lhokseumawe dan Sekitarnya).

Mangindaan dan sejarah sepakbola Aceh
Mangindaan, prajurit yang pernah mengabdi bagi kemajuan sepakbola Aceh (Foto dok. MPR-RI)

Sebagai sosok serdadu yang padat aktivitas, Mangindaan masih menyempatkan diri menyalurkan bakatnya melalui sepakbola. Sebagai pemain sepakbola, Mangindaan, memiliki tempat tersendiri di hati penggemar sepakbola Aceh yang terkenal sebagai pendukung fanatik, namun tetap sportif dalam mengakui tim yang bermain baik. Meskipun itu adalah tim lawan yang sedang main tandang di Aceh.

Sejarah sepakbola Aceh

Meskipun sebagai serdadu, Mangindaan muda mampu bersosialisasi secara baik dengan masyarakat dan komunitas sepakbola di Bireuen. Mangindaan menjadi bagian yang terpisahkan dari “line-up” pasukan dan memperkuat PSSB. Sesekali Mangindaan juga ikut membela tim dalam kompetisi PSSI Komda Aceh.

Kemampuan sepakbolanya mampu mengilhami para pesebokbola di Aceh Utara dan kemudian bagi Persiraja di ibukota Daerah Istimewa Aceh, yang kala itu bernama Kutaraja.

Dapat dikatakan bahwa sejarah perkembangan sepakbola Aceh pernah diwarnai dengan sentuhan manajerial dan kemampuan mengolah bola Mangindaan, baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih.

Belakangan masyarakat hanya mengetahui sosok ini sebagai pensiunan jenderal, pernah menjadi gubernur Sulut, mengemban jabatan menteri dan politisi yang berkiprah di tingkat pusat. Karir politiknya dirintis ketika duduk menjadi salah seorang senator Senayan sebagai utusan Daerah, anggta DPR mewakil Golkar, anggota DPR dari Faksi Partai Demokrat dan kini sebagai salah satu pimpinan MPR RI, untuk periode 2014-2019.

Selebihnya perjalanan hidupnya ketika muda sebagai pesepakbola yang handal dan pelatih bertangan dingin tidak banyak yang mengetahuinya.

Latar belakang ketentaraan yang telah dilaluinya melalui penggemblengan yang terpola dengan disiplin tinggi, ikut memberikan dampak positif bagi pembentukan staminanya yang tangguh. Mangindaan mewarisi sifat sportif, talenta, skill dan disiplin sebagai pemain bola dari orang tuanya serta dari hasil penggemblengan yang didapatkannya dari dunia kemiliteran.

Rinus Mitchels

Kemudian dari sifat-sifat itu pula  secara persuasif, diterapkannya di lapangan hijau untuk ditularkan kepada para pemain muda yang dibinanya ketika bertugas di Aceh. Sehingga perkembangan sepakbola Aceh, hingga kini tidak dapat dipisahkan dari peran Mangindaan yang pernah menjadi pemain dan sebagai pelatih sepakbola di sana.

Dalam skala persepakbolaan Indonesia —bagi PSSB, Bireuen dan Persiraja, Banda Aceh—, Mangindaan adalah ibarat Johan Cruyff, yang mewarisi ilmu sepak bola modern dari pelatih legendaris Belanda, Rinus Michels, yang telah sukses meracik sepakbola ofensif, dengan label “Total Pressure Football”, dan kemudian mampu mengilhami timnya secara baik dan lengkap.

Mangindaan telah melakoni kiprahnya selama bertugas di Aceh sebagai tentara, pesebakbola dan pelatih, dengan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat Aceh secara utuh.

Meskipun prestasi Persiraja dan PSSB sendiri mengalami jatuh bagun, namun pada kompetisi persikatan PSSI, 1980, Persiraja mampu meraih gelar juara setelah dalam partai final, mengandaskan Persipura, Jayapura, yang ketika itu diperkuat oleh Leo Kapissa dan kawan-kawan yang dijuluki mutiara hitam. Sayangnya kemudian, Persiraja tidak mampu mengukir pestasi puncak di tingkat nasional dalam berbagai kancah turnamen yang diselenggarakan PSSI.

Namun demikian, sejarah perjalanan klub kebanggaan masyarakat Aceh ini senantiasa dihiasi dengan manisnya sentuhan tangan-tangan dingin para pelatih terdahulu sejak klub ini didirikan pada Juli 1957, hampir enam dasawarsa yang lalu. Salah satu di antaranya adalah E. E. Mangindaan, seorang yang memiliki latar belakang militer, tapi mempunyai kemampuan bermain si kulit bundar dengan talenta yang luar biasa serta pernah menjadi pelatih dan pemain Persiraja di era tahun tujuh puluhan.

Kehadiran Mangindaan di Aceh ibarat sebuah suratan dalam proses mengukir sejarah tentang perjalanan hidup dan karir militernya yang diawali dari tanah “Serambi Mekkah”. Di daerah ini pula Mangindaan, bisa berkiprah dengan leluasa untuk mewujudkan hobinya bermain sepakbola. Aceh yang masyarakatnya memiliki kecenderungan kepada sepakbola, menjadi ibarat “kata berjawab gayung bersambut” bagi sepak bola Aceh dan Mangindaan sendiri.

Bukan hanya aktif di kesatuan militer, akan tetapi Mangindaan mampu bersosialisasi dengan baik di tengah masyarakat melalui sepakbola yang merupakan salah bagian dari sisi hidupnya sejak remaja.

Aceh dan Minahasa

Aceh setali tiga uang dengan daerah Minahasa. Sepakbola sudah menjadi sesuatu yang sangat penting bagi sebagian laki-lakinya; sepakbola sudah menjadi permainan rakyat hingga merasuk sampai ke pelosok desa; permainan sepakbola sudah mendarah daging. Kalau pun tidak sebagai pemain, ya, sebagai penonton yang fanatik.

Sepakbola telah menjadi candu yang bisa membuat orang lupa kepada yang lain. Di desa terpencil di Aceh, dapat ditemukan sekumpulan anak-anak muda yang berlatih sepak bola sesuai dengan alakadarnya.

Biasanya setelah musim panen tiba, hamparan sawah yang telah kosong bisa disulap berubah menjadi lapangan sepakbola. Lapangan dadakan yang sementara ini dimanfaatkan untuk pertandingan sepakbola antarkampung yang biasanya memperebutkan, bukan piala, melainkan seekor sapi jantan yang berukuran besar. Kampung mana pun yang meraih predikat juara bisa langsung membawa pulang sapi yang diperolehnya ke kampungnya.

Di sisi lain ada juga lapangan “lampoh u” atau kebun kelapa yang seringkali dijadikan tempat bermain sepakbola bagi anak-anak dan pemuda desa. Walaupun konturnya tidak semua datar, akan tetapi anak-anak muda senang-senang saja bermain di atasnya.

Biasanya di lapangan lampoh u masih terdapat sisa-sisa potongan pohon kelapa dan akarnya. Tapi hal itu tidak menjadikannya sebagai penghalang. Anak-anak muda tetap saja bermain sungguh-sungguh dengan teknik-teknik seadanya.

Tony Pogacnik

Namun perkembangan industri sepakbola dewasa ini telah berkembang demikian pesatnya. Banyak tersedia siaran televisi yang menayangkan acara pertandingan sepakbola, tingkat kompetisi lokal atau pun mancanegara. Apalagi siaran televisi sudah dapat menjangkau hingga ke desa-desa terpencil, sehingga mudah diakses. Perkembangan ini telah membuat banyak pemain muda yang mencoba-coba meniru gaya bermain pemain idolanya ketika bermain di lapangan.

Teknik yang dulunya seadanya, sedikit demi sedikit, bisa dipoles dengan teknik permainan sepakbola yang disaksikan di dalam televisi. Tentu saja sesuai dengan cara masing-masing mereka.

Ketika Mangindaan bermain dan menjadi pelatih di Aceh, sepakbola belumlah semaju seperti sekarang ini. Namun karena orang tuanya adalah salah seorang yang pernah menangani timnas Indonesia, dan juga pernah mendapatkan pelajaran teknik sepakbola dari Tony Pogacnik yang bernuansa Eropa Timur, maka, tidak terlalu sulit untuk menularkan teknik sepakbola terkini pada masa itu kepada pemain-pemain berbakat yang ada di Aceh.

Boleh dikata, sebagai pemain ataupun sebagai pelatih, bekal Mangindaan muda, dirasakan telah sangat memadai untuk memberikan pengetahun tentang bagaimana peningkatan ball skill bagi para rekan bermain dan kepada anak didiknya ketika itu.

Perkembangan sepakbola Aceh memang memiliki sejarah yang panjang. Klub perserikatan Persiraja, singkatan dari Persatuan Sepakbola Indonesia Kutaraja, Banda Aceh, merupakan salah satu bond sepakbola tertua yang ada di Indonesia. Telah berdiri sejak pertengahan tahun 1957; enam dasawarsa yag lalu.

Pemain dan pelatih telah datang dan pergi secara silih berganti. Mereka adalah para pengukir sejarah sepakbola Aceh. Salah satu di antaranya adalah Evert Erenst Mangindaan atau E. E. Mangindaan. Seorang purnawirawan jenderal, yang ketika muda memiliki talenta yang luar biasa sebagai pemain sepakbola…*

Aceh lon Sayang 0 comments on Kisah Secangkir Kopi Aceh

Kisah Secangkir Kopi Aceh

Kopi Aceh yang tersohor
Teknik penyaringan kopi Aceh yang unik dan atraktif, diyakini bisa menambah kelezatan sajian kopi Aceh

Salah satu daya pikat ketika seseorang berada di Aceh adalah menikmati kopi Aceh yang banyak disajikan di kedai kopi (keude kupi) Aceh. Tidak hanya bagi pelancong, dari luar Aceh, masyarakat Aceh sendiri juga merupakan penikmat kopi yang fanatik. Sangat doyan mencicipi kopi yang dijual di kedai kopi. Sambil menyeruput kopi panas khas “keude kupi” Aceh, mereka bisa kongkow-kongkow sama teman-teman. Apalagi bila di”teumon“-in dengan sepiring mie Aceh atau sepotong “bada sue-uem” (pisang goreng yang masih panas) atau pulot (pulut) panggang. “Teumon” dalam bahasa Aceh berarti makanan pendamping ketika menikmati secangkir kopi. Bagi sementara masyarakat Aceh, kopi di keude kupi berasa jauh lebih enak dari pada kopi yang disajikan di rumah bikinan istri sendiri.

Kedai kopi yang banyak ditemukan di hampir seluruh derah Aceh, bukanlah merupakan warisan tradisi Aceh yang sesungguhnya. Melainkan –diperkirakan–, berasal dari warisan orang-orang Khek yang hingga pertengahan tahun enampuluhan masih menggeluti usaha kedai kopi di Aceh. Meskipun usaha kedai kopi telah beralih kepada salah satu sektor usaha yang banyak diminati oleh orang Aceh, akan tetapi keunikan cara membuat kopi ala Khek tetap dipertahankan. Bahkan saat ini teknik menuang kopi telah mengalami improvisi sehingga tampak menjadi lebih atraktif pada saat menyaring minuman kopi ke dalam gelas. Menuangkan adukan kopi melalui saringan, sambil mengangkatnya tinggi-tinggi.

Di stasiun kereta api Pasai Gambe, Lhokseumawe, sebelum kereta api Aceh tutup usia, juga terdapat satu kedai kopi yang dikelola oleh orang Khek. Hampir semua kedai kopi yang ada di Aceh waktu itu dikelola oleh orang-orang subetnis Khek. Kedai-kedai ini memiliki ciri khas yang menarik. Begitu juga properti yang terdapat di dalam kedainya yang waktu itu terkesan masih mewah. Mulai dari rangka kursi tempat duduk yang terbuat dari besi, meja terbuat dari marmer yang ditopang rangka besi berukiran, serta cara menyaring kopinya yang unik. Semua ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggannya. Kedai kopi milik orang Tionghoa, dapat ditemukan hingga ke tingkat kecamatan. Seperti misalnya pada sekitar akhir tahun enam puluhan masih ada kedai kopi Tionghoa di Kecamatan Samalanga.

Waktu itu hanya orang-orang tertentu saja yang sering menikmati kopi di kedai kopi milik subetnis Khek ini, meskipun harganya tidak mahal. Sangat berbeda dengan kondisi sekarang di mana kedai kopi terdapat sampai ke pelosok desa dan banyak dikunjungi oleh semua lapisan masyarakat. Tidak lagi eksklusif seperti jaman dulu. Dalam perkembangannya kedai kopi telah menjelma menjadi sarana multifungsi. Jika dulu-dulunya mesjid atau meunasah (surau) menjadi pusat kegiatan untuk pertemuan, belajar, mengaji dan musyawarah, maka sekarang fungsi tersebut telah beralih ke kedai kopi. Di sini bisa dilaksanakan pertemuan informal oleh semua komponen masyarakat, mulai dari petani, nelayan, ilmuwan, hingga kalangan akademisi dan mahasiswa. Apalagi setiap kedai kopi di Aceh dipastikan selalu menyediakan layar televisi yang bisa buat lihat berita, nonton film (video) atau nonton bareng pertandingan sepakbola. Jadi tidak heran meskipun bangunan kedai kopinya kondisinya cukup sederhana tapi parabola tetap terpasang di atas nya.

Kedai kopi diperkirakan mulai beralih kepada penduduk asli Aceh adalah sebelum terjadi proses pergeseran pola usaha yang dijalankan oleh orang-orang Khek. Pascaterjadi peristiwa Gerakan Tiga Puluh September 1965 (G30S), yang diikuti dengan eksodus masyarakat Tionghoa dari Aceh, maka terjadi kekosongan di sektor usaha kedai kopi yang sebelumnya banyak dijalankan oleh keturunan Tionghoa, khususnya subetnis Khek. Setelah beberapa waktu mengalami kekosongan sektor usaha kedai kopi ini, kemudian secara perlahan mulai beralih kepada masyarakat lokal. Peralihan ini tidak terlalu sulit karena mereka sebelumnya merupakan bagian dari penyedia jasa pembuatan nasi dan mie bagi kedai-kedai kopi milik orang Khek, sambil menempati lapak yang disediakan di depan kedai kopi. Di kemudian hari, jenis usaha yang dilakoni oleh orang-orang Tionghoa mulai berubah ke arah sektor usaha fotografi, perdagangan pakaian, perhiasan, elektronik dan kendaraan bermotor.

Jejak langkah perjalanan sejarah masyarakat Khek atau disebut juga orang Hakka, masih dijumpai di Kalimantan Barat, antara lain di: Kota Pontianak dan Singkawang, serta di pulau Bangka, di mana pendatang dari Tiongkok di daerah-daerah tersebut banyak didominasi oleh suku Khek. Apa yang dapat disaksikan saat ini adalah usaha yang pernah ditekuni oleh orang-orang yang berasal dari subetnis Khek sebagai warisan para leluhurnya mereka bertahun-tahun jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada dasarnya kehadiran orang-orang Tionghoa di Aceh yang dimulai sebelum abad ke-16 –atau bahkan terdapat catatan sejarah yang menyatakan bahwa mereka telah hadir di Aceh sejak abad ke 13–, adalah sebagai tenaga kerja di berbagai bidang usaha. Pendatang dari China ini dianggap sebagai tenaga kerja yang ulet, rajin dan terampil. Meskipun dalam perjalanan sejarah selanjutnya ada yang beralih profesi sebagai pengusaha kedai kopi. Usaha ini akrab bagi orang-orang Khek karena memang mereka memahami seluk beluk tentang cara membuat kopi yang nikmat secara baik.

Suku Khek atau Hakka merupakan bagian subetnis dari etnis Hans sebagai induknya. Suku Khek pada umumnya berasal dari Guangdong daerah sebelah tenggara daratan Tiongkok. Di pusat kerajaan Aceh, mereka mendirikan pecinan sebagai tempat bermukim secara komunal, yang sekarang disebut Peunayong. Peunayong merupakan daerah yang berada dibagian tengah kota Banda Aceh, berdekatan dengan jalur Krueng Aceh yang mengarah ke pantai. Dan sekarang menjadi pusat kegiatan bisnis di kota Bada Aceh.

Tapi lembaran sejarah telah berganti. Kedai kopi sudah menjadi ciri khas kota-kota di Aceh. Apabila saat ini para pelancong yang berkunjung ke Aceh, maka yang dijumpainya adalah kedai-kedai kopi yang akhirnya menjadi daya pikat tersendiri. Teknik membuat kopi dilakukan dengan cara mengangkat gayung tinggi-tinggi, kemudian menuangkan campuran kopi ke dalam gelas melalui media saringan kain berbentuk khas dan menyebabkan timbul buih dipermukaan gelas yang membangkitkan selera bagi para penikmat kopi. Pelancong belum merasa lengkap berada di Aceh apabila belum merasakan nikmatnya sajian kopi Aceh. Apalagi di Aceh terdapat sentra-sentra perkebunan kopi yang konon menghasilkan biji kopi terbaik yang pernah ada di Indonesia. Kopi Aceh memiliki cita rasa dan aroma yang khas dan hanya para pecandu kopi yang bisa membedakannya. Sulit bagi siapa saja, untuk melupakan betapa lezatnya minum kopi di Aceh.

Beberapa kalangan masyarakat Aceh sendiri, telah memanfaatkan kedai kopi sebagai ajang pertemuan dan tempat berkumpul sambil bercengkerama dan ngobrol. Biasanya antara sesama pengunjung tetap kedai kopi sudah saling mengenal satu sama lainnya, lantaran satu selera dan memiliki kebiasaan yang sama, serta sering bertemu muka di tempat tersebut. Bahkan di tempat ini juga akan terbentuk sebuah komunitas informal tanpa ikatan yang kuat namun bisa saling berbagi informasi. Mulai dari topik politik hingga perkembangan kurs mata uang. Sehingga muncul anekdot: “talo keu-ieng ngom, haba luwa nanggro“, yang bermakna kira-kira: ikat pinggang masih dari tali pandan, tapi bicaranya sudah menjangkau masalah luar negeri.

Beberapa keunikan juga melekat pada karakter beberapa pengunjung kedai kopi Aceh menjadi fenomena yang menarik. Ada di antaranya yang hanya sekedar “ngopi”, lalu setelah menyeruput secangkir kopi panas, mereka kemudian kembali ke habitat kegiatan dan pekerjaannya masing-masing. Ada yang datang tapi duduk sambil berlama-lama menikmati kopi seteguk demi seteguk, sambil ngobrol “ngalur-ngidul” dengan temannya. Tetapi ada pula kelompok pengunjung kedai kopi yang seharian bisa ngetem di kedai kopi sampai beberapa kali berganti topik pembicaraan, dan menikmati secangkir demi secangkir kopi kegemarannya, tanpa terusik oleh kondisi apapun hingga menjelang sore hari…*