Aceh lon Sayang 0 comments on Hiruk Pikuk Bakal Calon Gubernur Aceh

Hiruk Pikuk Bakal Calon Gubernur Aceh

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi untuk jabatan Aceh-1

Pilkada serempak baru akan terjadi pada tahun 2017 mendatang. Tak terkecuali untuk Provinsi Aceh. Pascapenandatangan MoU, sudah berlalu lebih dari satu dekade. Dan hingga sudah memasuki decade kedua, kekuatan GAM yag direpresentasikan oleh Partai Aceh terlihat masih eksis. Dalam pengamatan pakar kebiasaan sebuah perjanjian damai akhir dari sebuah pergerakan separatisme, hanya akan memberikan kepada pihak yang pernah bertikai selama selambat-lambatnya dalam dua atau tiga periode peralihan pemerintahan. Selebihnya akan kembali kepada kondisi perpolitikan yang normal. (Andi A. Malarangeng, 2011). Dalam kurun waktu tersebut masih tumbuh bunga-bunga eforia yang menyemangati perjuangan politik dan bersenjata sebelumnya.

Banyak nama yang muncul ketika memasuki periode ketiga pemilihan kepala daerah di seluruh Aceh. Tapi yang menarik fokus konsentrasi masyarakat adalah pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Dari sekian banyak nama yang benar-benar telah tersosialisasikan secara luas adalah sosok Irwandi Yusuf, mantan gubernur periode 2007-2012; dan Muzakir Manaf, wakil gubernur petahana (incumbent) yang sudah dielu-elukan oleh pengikutnya untuk maju sebagai bakal calon gubernur mendatang. Irwandi memiliki jargon yang sudah beredar di dunia maya: “Kamoe Sajan” dan “Beusaboh Hate Sajan Irwandi”. Sementara jargon untuk basis kampanye Muzakir Manaf adalah “Rakan Mualem” yang tersebar hingga mendarat di tingkat kecamatan. Bila Irwandi peredarannya baru tingkat antarpersonal, maka Muzakir Manaf sudah lebih melembaga hingga terbentuk pada tingkat kecamatan.

Di sisi lain ada suara-suara yang menginginkan Tarmizi Karim, yang sudah berpengalaman sebagai Bupati Aceh Utara dan Plt. Gubernur beberapa kali untuk beberapa daerah, tak terkecuali untuk Provinsi Aceh, yang bakal tampil sebagai salah satu kandidad bakal calon gubernur Aceh. Demikian juga selentingan suara yang memungkinkan Farhan Hamid, mantan Wakil Ketua MPR RI juga dikabarkan akan meramaikan bursa pencalonan Gubernur periode 2017-2022. Baik Tarmizi maupun Farhan, kedua-duanya sudah pernah ikut dalam kompetisi pemilihan gubernur yang berlangsung sebelumnya, yang akhirnya harus mengakui keunggulan calon gubernur yang diusung oleh Partai Aceh, wadah politik yang dibentuk untuk menghimpun seluruh mantan pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Aceh memang berbeda dengan provinsi lain yang ada di Indonesia. UU nomor 11, Tahun 2006, tentang Pemerintahan Aceh, memungkinkan di Aceh dibentuk partai lokal untuk pemilihan umum lokal. Saat ini setidaknya ada dua partai lokal yang berasal dari mantan kombatan GAM, yaitu Partai Aceh (PA) yang dipimpin oleh mantan Panglima GAM, Muzakir Manaf, yang telah terbentuk sejak pertama sekali undang-undang ini diberlakukan; dan, Partai Nasional Aceh (PNA), yang dibentuk setelah Irwandi yang mantan gubernur Aceh terpelanting dari lingkaran Komisi Peralihan Aceh (KPA) dan PA. Saat ini PNA dipimpin oleh Sofyan Daud, yang dikenal sebagai Juru Bicara GAM Pusat, pada saat konflik bersenjata berlangsung.

Apabila tidak terdapat kesepakatan untuk berkoalisi dalam pilkada, maka baru PA yang dapat mengusung bakal calon gubernurnya sendiri. Partai Golkar yang memiliki kursi sebanyak 9 kursidan hanya membutuhkan sedikit operasi kecil saja, juga belum tampak menunjukkan minat mengelus-elus bakal calonnya sendiri sambil mencari partai pendamping untuk berkoalisi. Sementara itu PA merupakan pimpinan koalisi Aceh Bermartabat yang memiliki 74 kursi, sehingga bila anggota koalisi memegang erat komitmen untuk tetap seiring sejalan hingga ke tingkat pilkada, maka calon yang dapat didukung oleh parpol (parlok/parnas) hanya cukup untuk mengusung 1 calon saja. Sisanya adalah terpaksa menenpuh jalur perseorangan.

Kondisi parlemen benar-benar tidak kondusif bagi calon yang berasal dari jalur perseorangan (independen) ataupun dari jalur politik selain koalisi Aceh Bermartabat. Karena kendatipun dapat meraih suara dalam pilkada nantinya, tetap akan menjadi bulan-bulanan di tangan para legislator; setidak-tidaknya hingga pemilihan legislatif periode berikutnya. Untuk menang dalam pilkada saja, juga masih harus bertarung allout, karena prosesnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Irwandi dengan PNA-nya, dapat dipastikan hanya memiliki tiga kursi di parlemen Aceh, dan itu sangat sulit untuk mendapatkan dukungan optimal di parlemen. Apatah lagi seumpama Tarmizi Karim dan Farhan Hamid, yang belum jelas mendapatkan dukungan dari partai manapun. Farhan yang selama ini dikenal sebagai politikus Partai Amanat Nasional (PAN), terasa semakin jauh dari inti kekuasaan PAN.

Meskipun demikian, pemilihan umum kepala daerah secara langsung, menarik untuk diamati. Otoritas tertinggi sesungguhnya berada di tangan pemilih. Apabila orang-orang yang diberi kewenangan dalam Komisi Independen Pemilihan (KIP) dan Badan Pengawas Pemilu (Panwaslu) yang bertindak mengawasi jalannya pilkada, dapat berdiri objektif mewakili kepentingan rakyat, bukan kepentingan peserta pilkada, maka dapat diyakini pesta demokrasi ini, benar-benar menjadi pesta milik rakyat. Sayangnya, kedua lembaga ini rentan mendapatkan “elus-elus” dan juga tekanan, bila kedua cara ini atau salah satunya satunya saja, bisa jebol, maka dapat dipastikan suara yang diberikan rakyat pemilih di dalam bilik suara menjadi muspro dalam segala hal. Terutama, waktu yang dipersiapkan untuk datang berpayah-payah mencoblos serta dampak sosiologis dan psikologis terhadap masyarakat pemilih.

Di sisi institusi, juga terjadi kemubaziran biaya persiapan pemilu, yang meliputi peyediaan kertas suara, transportasi kertas suara, iklan sosialisasi pilkada, untuk membayar gaji para komisioner KIP dan anggota Banwaslu. Tidak ada artinya segala persiapan yang telah dilakukan. Yang tertinggal hanya dosa karena “berkhianat” yang harus dibawa sampai mati. Meskipun terkadang dalam sebagian kamus politik tertentu tidak terdapat kata “dosa”. Itu persoalan lain.

Siapa pun peserta pilkada harus dapat menunjukkan diri sebagai kandidat yang siap menerima apapun hasilnya, siap kalah dan siap menang; siap berlaku gentlemen dan menjauhkan diri untuk melakukan intimidasi kepada masyarakat pemilih dengan kemampuan yang dimilikinya. Bila ingin dipilih dan mendapatkan simpati, curi hati masyarakat; jangan curi suara yang sah dengan cara mengintimidasi ataupun “membeli”. Setiap kandidat merupakan figur yang ditokohkan, terhormat, negarawan, berwawasan, bernilai tinggi, dan bukan orang rendahan. Oleh karena itu segala sikap dan tindak tanduknya pun harus mencerminkan sebagai seorang yang memang memiliki modal politik tersebut. Tidak layak seorang calon pemimpin menempatkan dirinya pada tindakan yang bisa menjatuhkan martabatnya. Seumpama, menyerukan kepada pendukungnya untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji untuk meraih kemenangan dengan cara apapun.

Siapa pun nantinya yang menang dengan cara yang “elegant”, maka dialah yang menjadi panutan masyarakat Aceh; dialah yang harus diakui sebagai pemimpin Aceh, semua pihak harus siap menerimanya serta mendukungnya dengan segenap hati. Masyarakat Aceh sudah lelah menonton permainan kekerasan dan musibah yang datang silih berganti. Jangan sampai pesta demokrasi berubah menjadi mala petaka baru yang bisa membuat masyarakat Aceh terpecah-pecah, dan saling membenci. Perdamaian yang seharusnya merupakan anugerah, harus dipelihara bersama, agar tidak berubah menjadi prahara yang memicu permusuhan antarelemen masyarakat. Karena bila itu terjadi, yang merasakan dampak yang paling buruk adalah masyarakat pada umumnya, yang tidak memiliki kepentingan langsung dengan politik sama sekali. Jangan sampai para elite yang menikmati kesenangan; masyarakat yang menanggung penderitaan.

Ini seharusnya perlu disepakati sebagai konsensus bersama antarpihak yang akan berkompetisi dalam pilkada Aceh yang damai dan fair; sebagai komitmen yang harus dipegang teguh bersama. Pilkada yang diimpikan masyarakat adalah pilkada tanpa intimidasi; pilkada tanpa kekerasan; pilkada tanpa kecurangan; pilkada tanpa peristiwa politik yang mengenaskan; pilkada yang penuh dengan rasa persaudaraan….**

Bunga Rampai 0 comments on Fenomena Ketok Magic

Fenomena Ketok Magic

Bengkel Ketok Magic
Bengkel Ketok Magic sebagai salah satu pilihan untuk perbaikan kerusakan body mobil

Ketika masih kanak-kanak, dan sedang bermain bersama teman-teman seumuran di depan rumah salah seorang tetangga, tiba-tiba ada temen kecil kami yang sedang cemas dan menangis sesungukan sambil mendorong sepeda di tangannya, yang ukuran sepedanya lebih besar diri dirinya. Pemilik rumah, sebut saja, Pak Abdul Rauf, melihat anak tersebut yang sedang menangis, dan kemudian mendekatinya. Rupanya dia baru saja menabrakkan sepedanya ke sebuah pohon asam yang ada di pinggir jalan, tak jauh dari tempat kami bermain. Dan dia merasa bingung karena frame horizontal pada bagian atas sepeda tersebut bengkok, sehingga dia merasa ketakutan dan tidak berani pulang ke rumahnya dengan kondisi sepedanya itu. Ternyata sepeda itu milik orang tuanya.

Pak Abdul Rauf yang kebetulan adalah seorang Guru di salah satu sekolah agama negeri di kota Lhokseumawe itu, mencoba menghibur teman kami yang baru musibah ini. Sambil menghibur, beliau meminjam sepeda anak tadi, serta membawa masuk ke dalam rumahnya dan kemudian menutup pintu dari dalam. Kami agak terheran-heran melihat langkah yang beliau ambil. Untuk apa sepeda di bawa ke dalam rumahnya, sementara beliau bukanlah seorang tukang bengkel sepeda, pikir kami? Mencoba mengintip ke dalam tapi tidak berhasil alias tidak terlihat. Yang terdengar kemudian hanyalah suara orang mendehem-dehem dan dan sesekali diikuti hentakan kaki sedikit yang berulang-ulang. Tidak ada bunyi yang berasal dari persentuhan antara beda keras dengan besi frame sepeda; ataupun antara besi dengan besi. Tidak sampai tiga puluh menit kemudian pintu dibuka kembali dan sepeda yang telah “ditangani” diserahkan kembali kepada anak tadi. Tanpa lecet, dan utuh seperti tidak terjadi apa-apa.

Waktu itu belum terdengar dengan apa yang disebut dengan ketok magic atau kenteng magic. Tapi kenyataannya “ketok magic” itu memang benar adan dan sangat mungkin dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan untuk itu; tanpa menggunakan alat dan hanya mengandalkan tangan dengan sedikit bantuan alat yang tidak tergolong berat untuk meluruskan besi. Tergantung dari kondisi dari apa yang akan diperbaiki.

Rencong Aceh yang bagus, pada umumnya dibentuk dengan tangan kosong oleh para tukang besi (empu), yaitu dengan cara diurut bahan besinya (dalam ukuran tertentu), sampai berubah bentuknya menjadi begitu indah seperti rencong yang ada saat ini. Pekerjaan ini hanya bisa dilakukan oleh seseorang memiliki kelebihan dalam dirinya untuk melunakkan besi, tanpa harus melali proses dipanaskan terlebih dulu. Kelebihan ini pun memerlukan upaya kerja keras untuk mendapatkannya. Banyak hal yang terkait dengan transendental dan supranatural, sehingga seseorang bisa mencapai tingkat kemampuan seperti ini.

Kemampuan apa saja yang terkait dengan kekuatan dan kemampuan untuk menundukkan batangan besi, melunakan besi, memecahkan balok beton, menarik truk, memutar baut roda dengan tangan kosong, atau bahkan mengangkat benda yang berat sekalipun, hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang telah “memperoleh kelebihan”. Beberapa cara yang pernah dipraktekkan kebanyakan orang adalah melalui pelatihan yang menggunakan suatu media tertentu yang bisa menciptakan tingkat konsentrasi untuk fokus terhadap sesuatu yang dihadapi. Dapat melalui latihan sistem pernafasan, semedi, meditasi, tapa-brata, atau dengan media mantra (incantation) dan amalan tertentu, sehingga membawa seseorang tersebut kepada mencapai kondisi yang sangat fokus dan fused.

Sekilas seseorang yang telah memiliki kemampuan seperti itu, sepertinya tanpa membutuhkan konsentrasi yang berlebihanpun bisa melakukan aksi seperti disebutkan di atas. Padahal sesungguhnya karena sudah terlatih dan telah menyatu dengan dirinya, maka hanya butuh waktu dalam hitungan kurang dari satu detik konsentrasi dengan mudah terbentuk. Belakangan untuk mencapai tingkat kemampuan semacam ini telah dikembangkan secara ilmiah, tanpa menggunakan mantra, tapa-brata ataupun bacaan amalan, yang menggiring orang tersebut kepada kondisi trance dan mencapai titik konsentrasi yang super tinggi. Hanya diajarkan melalui teknik olah pernafasan, melatih konsentrasi, yang dilakukan secara kontinyu, sehingga mampu membangkitkan potensi pribadi yang ada dalam diri masing-masing orang.

Di Aceh seorang empu atau seorang yang kebal terhadap benda tajam, membentuk kekuatan itu melalui tahap pelatihan dan pengamalan. Konsentrasi yang dibangun ialah melalui sebuah proses peng-imajinasi-an hingga mampu menguraikan sesuatu benda kembali ke asal-usul terjadinya. Sepotong besi bisa dibengkokkan atau tidak bisa menembus kulit ketika ditusukkan ke badan, adalah lantara besi tersebut merupakan benda yang sejatinya padat yang kemudian melalui tahap ma’rifat diubah sifatnya secara berjenjang “seakan-akan” ibarat sebuah batu, kemudian ke bentuk pasir, menjadi berupa tanah, hingga akhirnya ketika menyentuh badannya sifatnya telah berubah menjadi benda benda cair. Atau sebaliknya kekuatan kulit pada badan seseorang secara ma’rifat telah dijelmakan dalam konsentrasi pikirannya sebagai sesuatu yang bahannya lebih kuat dari pada benda tajam yang akan menusuk dirinya. Menghilangkan atau “meniadakan” sifat besi yang keras dan tajam menjadi benda yang lunak dan bahkan lebih lunak dari kulit yang membungkus tubuhnya.

H. Maryanto, Guru Besar Seni Beladiri Pernafasan “Satria Nusantara”, Yogyakarta, menjelaskan fenomena ini secara ilmiah, tentang bagaimana seseorang bisa memukul batangan besi dengan tangan kosong hingga patah dan tanpa meningalkan rasa sakit. Hal itu hanya bisa terjadi lantaran ikatan molekul yang dikonsentrasikan pada  saat sisi tangan ataupun kepalan tangan menyentuh besi, lebih kuat daripada ikatan molekul besi yang akan dipatahkan. Menjadi pertanyaan, dapatkah hal ini dilakukan tanpa memiliki tingkat kemampuan untuk mengosentrasikan pikiran dalam kondisi yang sedemikian pekat? Tentu saja, hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah melalui suatu proses latihan yang rutin, bukan datang dengan sekonyong-konyong, lalu tiba-tiba mampu menghancurkan benda keras dengan hanya sedikit sentuhan.

Di Aceh, biasanya seseorang yang bisa melunakkan besi, juga juga memiliki ilmu kebal terhadap benda besi, —tdk termakan senjata tajam—, dan ini biasanya dipertandingkan setiap malam purnama dengan dihiasi gerakan-gerakan tertentu sambil diiringi rapa-i (semacam genderang) dan seurunè kalé (semacam seruling). Pertandingan antara dua atau tiga grup yang belainan kampung dilakukan dengan diawasi oleh seorang yang disebut khualifah. Khulifah dibantu beberapa orang, tujannya agar tidak terjadi berbagai kecurangan ketika pertandingan berlangsung. Eksotisnya apabila seluruh benda tajam sudah dicobakan kepada peserta, maka pertandingan terakhir adalah siapa yang bisa mengunyah-kunyah daun “jelatang” (nama latin: laportea stimulans, syn.; dendrocnide stimulans, syn.; urtica stimulans), kemudian sampai harus ditelan. Pihak yang paling banyak mengunyah jelatang tanpa mengalami luka, gatal ataupun “nyonyor’ di mulut dan bibirnya serta tidak timbul sakit di dalam perutnya, akan keluar sebagai pemenang.

Daun jelatang banyak terdapat di pinggiran hutan Aceh, daunnya berwarna hijau, countur daunnya agak kasardan berduri halus, jika terkena bagian badan akan menimbulkan gatal bercampur perih yang sangat luar biasa dan akan meninggalkan luka, hingga berhari-hari baru sembuh. Bagi kebanyakan masyarakat (terutama di kalangan ulama), keadaan ini merupakan sesuatu yang dilarang lantaran dikhawatirkan mengandung unsur “syirik”, karena si empunya “kelebihan” meminta kekekuatan sedemikian rupa tidak kepada Allah, melainkan kepada iblis dengan menyediakan media tertentu, semisal kembang setaman dan syarat sebilah rencong ataupun belati, serta seekor ayam jantan yang harus disembelih serta dengan menggunakan mantra-mantra tertentu. Tapi sebaliknya, dalam kenyataannya, pada umumnya sang guru ataupun khulifah, diakui sebagai figur yang rendah hati dan tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu.

Para pengawas yang disebut khulifah memiliki kemampuan di atas rata-rata kemampuan para peserta yang mengikuti pertandingan, ataupun sebagian dari penonton yang ikut menyaksikan pertandingan dari bawah panggung. Karena di samping mengawasi, khulifah dan pembantunya akan berperan untuk mengobati para peserta yang menjadi korban ataupun menangkal “ilmu kiriman”, bila ada di antara penonton yang mencoba-coba iseng mengganggu jalannya pertandingan dengan kemampuan yang dimilikinya. Sahabat kami, Radian, asal Kabupaten Singkil, Aceh, (kami sering memangil beliau dengan sebutan Bang Radian), selalu merasa bersalah setiap kali melakukan pertunjukan debus (dalam bahasa Aceh: top dabóh). Biasanya setiap ada acara pagelaran seni Aceh, selalu diselingi dengan acara “top dabóh”.

Suatu ketika, waktu itu di akhir tahun delapan puluhan, Gedung Graha Purna Budaya milik UGM, yang terletak di Kompleks Boulevard UGM, masih disewakan untuk umum. Maka tatkala diselenggarakan pagelaran seni dari Tanah Rencong, Bang Radian, ikut mengisi acara “top dabóh” yang dipersembahkan kepada seluruh tamu undangan. Para tetamu terhormat dimohonkan naik ke panggung dan diminta untuk berkenan mencoba menusukkan beberapa senjata tajam ke tubuhnya  sekuat-kuatnya dan bertubi-tubi secara bergantian oleh beberapa orang. Namun tetap saja atas ijin yang Maha Kuasa, tubuhnya tidak tergores sedikit pun. Namun setiap kali habis acara, Bang Radian menjadi gusar, terharu dan menangis serta merasa berdosa, karena apa yang dilakukan di atas panggung, merupakan sesuatu yang membuat dia seperti bersalah kepada Tuhannya. Karena menurutnya, ketika beratraksi di atas panggung, dia benar-benar sedang merasa jumawa, sangat perkasa, dan sombong, dan tidak boleh ada terbersit di dalam pikiran sedikit pun, ada kekuatan lain yang mampu menandinginya. Sementara di dalam kehidupan sehari-harinya, dia merupakan sosok pribadi yang santun, penyayang, baik hati dan sangat rajin menjalankan ibadah sholat setiap harinya.

Kembali ke kiprah ketok magic atau kenteng magic yang banyak terdapat di berbagai daerah di Pulau Jawa; tersebar mulai dari Jawa Timur hingga ke wilayah Jakarta, adalah sesuatu hal yang mungkin dan bisa terjadi. Karena memang ada kelebihan yang diperoleh seseorang untuk memiliki kemampuan melunakkan benda sejenis besi dan semacam itu. Akan tetapi tidak jarang, sebagian hanya ditulis ketok magic, tapi, dalam kenyataannya, perlakuan untuk memperbaiki kendaraan yang penyok, hanya dengan mengandalkan keterampilan teknik yang dia miliki. Tentu saja masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Bila kemampuan teknik reparasinya memang sudah unggul, maka tidak ada alasan merasa khawatir bagi pemilik kendaraan untuk menyerahkan tanggung jawab mereparasi mobilnya di tangan mereka. Yang dikhawatirkan adalah bila kemampuan, baik menggunakan skill ataupun kemampuan ketok magic, tidak memenuhi kualifikasi yang memadai, maka hasil reparasinya pun akan menimbulkan kekecewaan dari pemilik mobil. Akhirnya memang kembali kepada pemilik kendaraan untuk bijak memilih bengkel yang tepat untuk memperbaiki kerusakan “body” kendaraannya. Di samping banyak terdapat bengkel resmi dan yang dikelola perseorangan, banyak juga bengkel ketok magic atau kenteng magic yang memang pekerjanya sudah cukup mumpuni dan halus dalam menangani hasil pekerjaannya.…**

Aceh lon Sayang 0 comments on Sekelumit tentang kisah perjuangan GAM

Sekelumit tentang kisah perjuangan GAM

TNA, dalam masa konflik
TNA, dalam masa konflik yang berlangsung di Aceh

Orang yang tiba-tiba mengetahui tentang “aso-lhok” atau isi dalam, organisasi Gerakan Atjeh Merdeka (GAM) dan perjuangannya, akan berdecak kagum memahami taktik, siasat dan strategi yang mereka miliki. Sangat luar biasa untuk ukuran sebuah gerakan yang di lapangan di jalankan oleh orang-orang yang konon sebelumnya lebih banyak menghabiskan waktunya hidup di desa sebagai warga biasa. GAM yang memiliki basis perjuangan politik yang berpusat di Swedia, memiliki sistem perancangan organisasi yang terbilang modern untuk ukuran sebuah organisasi perjuangan.

Secara struktural, GAM dipimpin oleh seorang Wali Nanggrō yang berada di pengasingan dan dilengkapi dengan sebuah kabinet yang representatif meliputi segenap sektor, layaknya sebuah kabinet di dalam pemerintahan sebuah negara. Di daerah basis perjuangan bersenjata, di wilayah Aceh, GAM hanya menempatkan satu orang yang berkuasa penuh atas segala kiprah dan tindak tanduk serta operasional sistem ketentaraan GAM atau sering disebut dengan Tentara Nasional Aceh (TNA), yang berperan sebagai Panglima. Dalam kurun waktu pergerakan bersenjata, selama 5 tahun terakhir, antara tahun 1999 hingga 2004, terdapat dua orang Panglima yang pernah memimpim GAM di lapangan, selama perang berlangsung.

Setelah Panglima Teungku Abdullah Syafi’i, gugur pada 22 Januari 2002, dalam sebuah penyergapan di daerah Jiemjiem, Kabupaten Pidie. Tanpa menunggu lama, Markas Besar GAM, di Swedia, menunjuk seorang tentara muda yang bernama Muzakkir Manaf sebagai penggantinya. Teungku Abdullah Syafi’i yang dua kali pernah lolos dari usaha pembunuhan, akhirnya menemui ajal dalam sebuah penyergapan rahasia yang sangat singkat, oleh pasukan gabungan TNI. Teungku Lah —panggilan untuk Abdullah Syafi’i—, menghembuskan nafasnya yang terakhir bersama keluarga dan para pengawalnya. Dalam waktu singkat tongkat komando operasional GAM dipercayakan kepada seorang yang pernah mengenyam pelatihan tempur di Libya, yang sering disebut sebagai “Eks Libya”, dan kemudian menjadi sosok fenomenal. Mualem yang mirip-mirip bintang Bollywood ini sering menghiasi halaman depan surat kabar lokal selama masa konflik GAM-TNI/ Polri berlangsung. Lengkap dengan atribut ketentaraan, sebagai seorang komandan tertinggi pasukan GAM untuk seluruh wilayah Aceh. Penampilannya membuat bangga sebagian anak-anak muda Aceh, di kala itu; tampak ganteng, kalem dan gagah berani.

Organisasi para pejuang GAM menyebar dalam beberapa wilayah operasional, di antaranya, yaitu: Wilayah Manyak Paed; Wilayah Peureulak; Wilayah Pasè; Wilayah Batè-ieliek; Wilayah Linge; Wilayah Aceh Besar; dan Wilayah Meureuhom Daya. Masing-masing wilayah dipimpin oleh seorang Panglima Wilayah, yang berwenang memimpin para kombatan yang terdapat di beberapa sago yang di bawah pimpinan Panglima Sago. Para kombatan ini berada dalam sebuah organisasi ketentaraan yang masing-masing wilayah memiliki hubungan intens dan saling timbal balik. Pergeseran pasukan dan petukaran ataupun BKO sering diberlakukan dalam organisasi ini. Seperti berlaku dalam organisasi TNI/ Polri ketika darurat militer berlangsung. Demikian juga selain dalam satuan besar di bawah komando panglima wilayah, GAM juga memiliki unit pasukan kecil seperti misalnya, Pasukan Gajah Khèng dan Pasukan Ruengkhom, Pasukan Gurkha, dan Pasukan Singa Batè, yang kesemuanya terbilang sebagai pasukan elit di lingkungan TNA.

Mudah bagi GAM untuk berganti tempat karena wilayah Aceh tersambung satu sama lainnya melalui gugusan bukit barisan yang membentang dari utara ke selatan dan melalui pesisir dari barat ke timur atau sebaliknya. Uniknya lagi hubungan antara Wilayah Linge dan Wilaya Peureulak atau dengan Wilayah Pase. Sangat lazim pasukan yang terdesak di salah satu daerah akan begeser ke salah satu daerah lainnya. Sangat sering terjadi penyaluran senjata dari pesisir ke Wilayah Linge melalui jalur tikus menembus Bukit Barisan. Uniknya lagi tiap pucuk senjata, ditukar dengan seekor kerbau, yang ditransaksikan di perbatasan antara kedua wilayah di celah pegunungan yang sangat liar dan sulit dijangkau. Sehingga persenjataan kombatan wilayah Linge pun disebut-sebut sebagai yang paling lengkap dari seluruh wilayah dan tidak mengenal senjata rakitan.

Di samping bagus dalam pengembangan intelijen, spionase dan taktik perang gerilya, GAM juga piawai dalam mengemas informasi perang dan propaganda. Beberapa kali para kombatan ataupun juru bicaranya yang “berpangkat” tewas tertembak, GAM secara seketika menggantikan perannya dengan tetap menggunakan nama yang sama, tapi untuk orang yang berbeda. Strategi GAM ini ikut membuat masyarakat dan pers merasa bingung atas klaim yang terjadi di lapangan, entah pihak mana yang benar. Satu pihak menyatakan telah menembak si anu hingga tewas, dalam satu operasi militer, akan tetapi besoknya nama yang diklaim telah tewas, masih muncul di koran sebagai orang yang hidup dan memberikan pernyataan.

Konflik yang terjadi di Aceh tidak hanya dihiasi dengan pertikaian politik yang ingin berjuang untuk memisahkan diri dari NKRI. Konflik ini seringkali berbalut dendam kesumat yang sangat memuncak. Meskipun tentara GAM memiliki garis komando yang jelas, akan tetapi kerap terjadi, ada kombatan yag bertindak tanpa komando demi mengikuti naluri melepas dendam masing-masing. Banyak di antara kombatan adalah anak-anak yang masih kecil ketika Aceh dijadikan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) yang bersandikan “Operasi Jaring Merah”, yang digelar di seluruh Aceh. Operasi jaring merah telah memunculkan banyak pejuang GAM muda di kemudian hari, yang membawa dendam dari masa kecilnya. Tidak jarang terjadi penyanggongan yang dilakukan terhadap pasukan TNI/ Polri, tanpa mempertimbangkan keselamatan terhadap masyarakat umum di Aceh. Dan setiap pascapenyerangan, masyarakat menjadi korban dari kejadian yang baru berlangsung.

Kecamuk “perang Aceh”, seakan selalu berbungkus dengan keganasan demi keganasan; kekerasan dibalas dengan kekerasan. Antara TNI/ Polri dan GAM terus membuncahkan rasa ingin melampiasan setiap kesumat yang memuncak dan saling membayar atas setiap kematian anggotanya. Perang itu pun telah menimbulkan kelelahan luar biasa bagi kedua belah pihak dan korban sia-sia yang tak terhindarkan dari warga sipil. Namun demikian, waktu itu, sulit bagi masyarakat untuk membayangkan kapan pertikaian berdarah ini akan berakhir. Meskipun telah cukup lelah dan nyaris kehabisan “amunisi”, tanda-tanda perang berakhir, tidak juga kunjung datang; meskipun orang Aceh percaya kepada sebuah pepatah, “hana ujeun yang hana pirang; hana prang yang hana reuda”. Berbagai mediasi internasional pun seakan tak sanggup menghentikan permusuhan ini.

Akhir bulan desember tahun 2004, tepatnya tanggal 26 Desember 2004, Aceh dilanda gempa bumi dan disusul tsunami dahsyat yang memorakporandakan hampir seluruh pesisir daratan Aceh; hampir sepanjang 800 kilometer garis pantainya. Diperkirakan terdapat sekitar 150.000 hingga 200.000 jiwa menjadi korban meninggal dan hilang terbawa air bah yang datang dari laut. Tsunami juga menghempas pantai dalam radius yang cukup jauh hingga ke pesisir pantai Srilanka, Thailand dan Somalia. Seketika suasana perang menjadi senyap dan tidak ada tanda-tanda pergerakan militer yang siap tempur. Ibukota Provinsi Aceh, Banda Aceh menjadi kota mati yang hancur luluh lantak dengan puing-puing bekas bangunan yang berserakan. Suasana horor peperangan, berubah menjadi aksi simpati atas nama kemanusiaan. Tentara dan Polri yang dipersiapkan untuk operasi militer, disiagakan dan dialihfungsikan untuk misi kemanusiaan.

Sebuat petaka yang melodramatis, bercampur baur dengan sebuah harapan damai yang akan tercipta di bumi Aceh. Gempa bumi dan tsunami seakan menjadi momentum untuk mengintrospeksi diri bagi masing-masing pihak yang berperang. Masyarakat Aceh yang pernah berduka akibat tekanan dan kehilangan sanak keluarganya dalam kurun waktu sejak DOM digelar hingga Aceh ditetapkan sebagai daerah Operasi Darurat Militer, pada tahun 2002, —ketika masa pemerintahan Presiden Megawati—, sekonyong-konyong berubah menjadi luka yang lebih dalam, akibat gampa dan tsunami; kehilangan jiwa sanak dan keluarga hingga harta benda dan traumatis yang berkepanjangan.

Derita Aceh yang tak kunjung usai mendapat simpati dari masyarakat internasional untuk berkomitmen membantu mengurangi beban dan duka yang dirasakan. Hanya dalam kurun waktu sepekan, berbagai bantuan melalui angkatan bersenjata dari masing negara, telah datang melalui darat laut dan udara. Di antaranya diawali oleh Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Turki, Selandia Baru, Australia dan Pakistan. Begitupun berbagai LSM dari lokal dan mancanegara, terus berdatangan. Mereka datang dengan membawa berbagai fasilitas dan perlengkapan yang bisa digunakan untuk menangani permasalahan kemanusiaan yang terjadi di berbagai tempat di Aceh. GAM terpana; TNI/ Polri terkesima, keduanya sejenak diam seribu bahasa. Hingga muncul inisiatif untuk mengambil langkah-langkah diplomasi, dengan mediasi internasional oleh sebuah lembaga independen, Crisis Management Initiatives (CMI) yang dipimpin oleh mantan presiden Finlandia, Martti Ahtisaari.

Kini Aceh telah melewati masa rekoveri dan pemulihan yang intens. Perdamaian yang telah ditandatangani pada tanggal 15 Agustu 2005, di Helsinki, telah menyediakan ruang bagi GAM untuk berpartisipasi secara politis di Aceh. Ruang untuk membentuk partai lokal telah diwujudkan dalam undang-undang tentang Pemerintahan Aceh. Setahun pascatanda tangan perdamaian, dalam pemilu 2006, GAM yang membentuk sayap politik Partai Aceh (PA), menang mutlak hampir di seluruh daerah pemilihan yang melaksanakan pilkada untuk mengusung Bupati/ Walikota dan Gubernur Aceh. Kemudian dalam pemilu legislative tahun 2009, PA merebut 33 kursi DPRA dari total 69 kursi yang tersedia atau setara dengan 46,96 persen jumlah suara sah hasil pemilihan umum yang dikumpulkan. Demikian juga di seluruh kabupaten/ kota, PA banyak meraih kursi untuk mengungguli partai lokal lainnya dan partai nasional yang lebih dulu ada.

Peta politik Aceh yang sedianya berubah sejak kehadiran partai local, kini menjadi lebih berwarna ketika beberapa mantan panglima wilayah GAM menarik diri dari PA dan kemudian bersama mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, ikut mendirikan Partai Nasional Aceh (PNA). Hasil pemilihan legislatif 2014 juga memberikan distribusi yang lebih merata, apalagi dengan kehadiran partai lokal baru dan partai nasional baru, seperti, Gerindra dan Nasdem, misalnya. Dari 81 kursi di DPRA yang diperebutkan, PA, hanya bisa meraih 29 kursi, (35,35 persen suara). Mengalami penurunan sebesar 11,61 persen dari pemilu 2009. Semarak politik Aceh pun tidak lagi mampu didominasi oleh PA, meskipun dalam pilkada 2012, PA berhasil memenangkan pasangan Dr. Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf sebagai gubernur dan wakil gubernur, akan tetapi suara paremen Aceh tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh PA sebagaimana terjadi dalam parlemen periode sebelumnya.

Bagi masyarakat Aceh, barangkali, tidak terlalu penting, siapa yang menguasai perlemen dan siapa pula yang menguasai pemerintahan. Yang diharapkan adalah agar perdamaian yang telah dicapai bisa langgeng dan berjalan baik serta bisa memberikan jaminan rasa aman bagi seluruh masyarakat. Masyarakat ingin agar siapa pun yang memegang tampuk pemerintahan Aceh, mereka adalah yang mampu mewujudkan pembangunan di seluruh Aceh, memberikan kesejahteraan serta dapat menjadikan Aceh sebagai provinsi yang maju, setara dengan provinsi lainnya yang telah lebih dulu maju dalam segala bidang. Karena gubernur dan wakil gubernur yang ada saat ini berasal dari mantan “orang penting GAM”, maka sudah selayaknya keduanya harus membuktikan cita-cita dan perjuangan mereka dalam bentuk kesejahteraan dan kemajuan, bukan untuk sekelompok orang, melainkan bagi seluruh masyarakat Aceh secara adil dan merata….**

Aceh lon Sayang 0 comments on Nasib Tragis Warga Rohingya

Nasib Tragis Warga Rohingya

Ini bukan pertama kalinya muslim Rohingya, mengalami eksodus dari negerinya. Mereka harus meninggalkan harta benda dan apa saja yang tidak bisa dibawa, untuk melarikan diri mencari tempat yang aman bagi kehidupan. Birma yang sekarang bernama Myanmar adalah tanah lahir mereka sejak turun temurun; sejak sembilan abad yang lalu. Tanah ini berbatasan langsung dengan Bangladesh yang merupakan akar rumpun mereka. Di Myanmar mereka menjadi minoritas yang dari jaman ke jaman terus mengalami intimidasi dan pembunuhan tanpa prosedur.
Masyarakat dunia sangat prihatin dengan sikap masyarakat Myanmar yang keji dan tak berprikemanusiaan. Banyak siksaaan, penganiayaan, pemerkosaan dan penghilangan nyawa secara paksa dilakukan oleh penduduk Myanmar yang tak beradab. Masyarakat muslim dunia pun merasakan bahwa tindakan PBB dan negara adidaya seperti Amerika, sangatlah lambat dalam mengantisipasi kejadian yang menimpa warga Rohingya, padahal sudah berlangsung bertahun-tahun. Ditambah lagi sikap beberapa Negara Asean yang menutup diri dari kejadian ini.
Warga Aceh, pernah mengalami kepedihan akibat kehilangan, ketika daerah itu diporakporandakan oleh kekuatan gempa bumi dan tsunami yang dahsyat. Dengan uluran tangan bantuan dari berbagai bangsa di dunia, Aceh bisa menjalani sebuah proes untuk bangkit dari kesedihan dan trauma. Hari ini mereka secara spontan memberikan bantun untuk muslim Rohingya, yang sedang mengalami penderitaan luar biasa. Terombang ambing di laut lepas tanpa bahan makan dan tujuan yang jelas. Untunglah “Panglima Laot” Aceh dengan sangat sadar mencoba menggiring orang-orang Rohingya untuk mendarat di lepas pantai Aceh, karena mengingat kondisi mereka yang sangat menyedihkan. Maka tersebarlah para pengungsi tersebut mulai dari Aceh Tamiang hingga sampai ke Lhokseumawe. Tindakan Panglima Laot yang sangat dihormati masyarakat nelayan Aceh ini bukan tanpa tantangan. Tak kurang Pamnglima TNI memberikan komentar yang miring tentang langkah yang diambil oleh para nelayan Aceh.
Ada dua alasan yang menjadi pertimbangan Panglima Laot Aceh untuk membantu orang-orang Rohingya: “kalau bukan rasa kemanusiaan, maka rasa sesama muslim adalah alasan kita membantu mereka”. Jadi siapa pun dia, ras apapun mereka, agama apapun yang mereka anut, bila membutuhkan bantuan, wajib dibantu. Karena bagi nelayan Aceh, kejadian serupa sewaktu-waktu bisa terjadi pada diri mereka, tersesat di tengah lautan ataupun mengalami musibah ketika melaut di lautan lepas. Dan sebagian mereka sudah sering sekali dibantu oleh Angkatan Laut India ataupun oleh para nelayan dari negera tetangga lainnya yang berbaik hati. Jadi tidak ada salahnya membantu orang lain yang sedang membutuhkan bantuan.
PBB, Amerika dan Inggris yang selama ini hanya sibuk membela seorang Aung San Suu Kyi yang dipasung hak demokrasinya oleh junta militer Myanmar, mengabaikan pembantaian dan penghapusan muslim Rohongya dari bumi Myanmar. Bahkan tangan pasukan Inggris pernah berlumuran darah muslim Rohingya, yang merenggut lebih dari 20 ribu warga Rohingya, ketika Inggris menjajah daerah tersebut. Kini mereka pun menutup mata atas kekejaman yang menimpa warga Rakhine atau Rohingya tersebut. Bagi mereka, hak seorang Aung San Suu Kyi jauh lebih berharga dari pada nyawa jutaan orang Rohingya yang terancam. Aung San Suu Kyi yang dinobatkan untuk hadiah nobel untuk hak asasi manusia, tidak memedulikan sama sekali atas hak asasi warga Rohingya yang ditindas oleh warga dan pemerintahan Myanmar. Ironi ini tetap dipertontonkan hingga batas waktu yang tidak dimengerti. Warga Rohingya tetap mengalami penderitaan yang berkepanjangan. Meskipun ada desakan dari dunia internasional agar Myanmar bertanggung jawab, tapi keamanan bagi warga muslim Rionhingya tetap tidak terjamin. Ketika mereka kembali ke negerinya, mereka akan mendapatkan perlakukan yang sama, tindakan di luar batas kemanusiaan dari orang-orang Burma dan pemerintahnya.
Panglima Laot Aceh bersama para nelayan Aceh telah bertindak benar dengan langkah yang diambilnya. Dan langkah ini kemudian mendapatkan support dari berbagai elemen masyarakat Aceh. Dengan perhatian penuh dari berbagai saudara-saudara lainnya dari seluruh nusantara, rasanya bantuan untuk pengungsi Rohingya telah dapat mengurangi beban derita yang telah berlangsung barabad-abad menimpa mereka. Masih ada ratusan ribu warga Rohingya yang masih tinggal di Myanmar. Tidak ada satupun yang mengetahui kapan penderitaan mereka akan berakhir. Pemerintah sosialis Myanmar tidak mengakui masyarakat Rohingya yang beragama Islam. Warga Rohingya dianggap sebagai pendatang haram dinegeri ini dan tidak ada harapan untuk mendapatkan pengakuan yang sepantasnya. Seharusnya kebiadaban ini mengundang campur tangan masyarakat dunia, terutama PBB. Bila Amerika dan sekutunya berani menyerang Irak untuk suatu alasan tertentu, maka sebagai alasan kemanusiaan, memperingati Myanmar adalah sebuah langkah bijak untuk menghentikan tindakan penghilangan paksa etnis dari muka bumi yang dipertontonkan di Myanmar. Ini kejahatan kemanusaiaan, yang bertujuan untuk penghapusan etnis (genocide), namun dunia tetap bungkam. Populasi warga Rohingya, yang pada tahun 2002 mencapai hampir 3 juta jiwa, saat ini hanya tinggal seperempatnya saja. Tahun demi tahun jumlah mereka semakin berkurang. Sebagian berhasil melarikan diri ke luar negara untuk menghindari penindasan dan pembunuhan dan sebagian lagi dibantai secara kejam oleh induk negaranya sendiri dan orang-orang Myanmar yang tidak berperikemanusaiaan. Akankah dunia berpangku tangan…?**

Sumber: Antara News; Wikipedia, dan sumber lainnya.